“Jangan pernah kembali ke rumah ini sebelum membawa laki-laki itu, untuk bertanggung jawab.”
Diana Rosemery Falika merasa hidupnya runtuh: diusir dari rumah karena kehamilan, dikhianati oleh laki-laki yang mengambil kehormatannya lalu menghilang tanpa jejak.
Di tengah kesedihannya, Aksatama Dikara hadir sebagai penopang—membantunya bangkit, dan perlahan membuat hatinya kembali percaya pada cinta.
Namun saat ia mulai berdamai dengan masa lalu, sosok yang menghilang itu kembali… Tibra Janari Sajana muncul membawa sebuah fakta mengenai transaksi rahasia yang berpotensi mengubah segalanya—fakta yang bisa menyeret Diana kembali pada luka yang sama.
Kini Diana harus memilih: menyambut masa lalu yang kembali menuntut tempat, atau menjauh demi melindungi hatinya sendiri.
Spin-off Rush Wedding. Lanjutan kisah Diana dan Tibra—dua hati dari dua kasta berbeda. Sebagian kisah awal mereka bisa ditemukan di novel pertama, namun buku ini dapat dinikmati secara terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muffin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali?
.......
.......
...🍓🍓🍓🍓...
“KRIEEEKK”
Pintu ruang perawatan terbuka agak kasar. Aksa masuk lebih dulu. Langkahnya terhenti begitu melihat Diana duduk setengah bersandar di ranjang.
Lampu putih di atas kepala membuat wajahnya tampak pucat. Kedua tangan Diana menekan perutnya kuat-kuat, jemarinya bergetar, rahangnya mengeras menahan nyeri yang datang bertubi-tubi.
“Di…” panggil Aksa refleks.
Diana mendongak. Napasnya terputus-putus, dadanya naik turun cepat.
“Sa… perut gue…”
Ia meringis, tubuhnya sedikit membungkuk, telapak tangannya menekan perut seolah menahan sesuatu yang ingin pecah dari dalam.
“Gue udah panggil suster. Sabar,” gumam Aksa.
Ia berdiri di sisi ranjang. Tangannya terangkat, ragu, lalu jatuh mencengkeram besi ranjang yang dingin.
Pintu dibelakang kembali terbuka.
Kala dan Jevan masuk hampir bersamaan. Udara AC bercampur bau antiseptik langsung menyergap.
“Gimana?” tanya Jevan cepat.
“Ketubannya pecah.”
Kala menegakkan tubuh. “Udah dipanggil perawat?”
“Lagi OTW.”
Seakan menjawab ucapan itu, pintu terbuka lagi. Dua perawat masuk dengan langkah cepat, disusul dokter Riana dibelakang. Suara roda brankar bergesekan dengan lantai terdengar nyaring, memecah hening yang sejak tadi menekan.
“Bu Diana, kita pindahkan ke ruang bersalin ya,” ujar dokter Riana itu—tegas, tapi tetap tenang.
Diana mengangguk lemah.
Saat tubuhnya diangkat ke brankar, jemarinya refleks mencengkeram lengan Aksa. Pegangannya kuat, nyaris menyakitkan—terlalu kuat untuk seseorang yang sedang menahan sakit sendirian.
Aksa membeku satu detik. Dadanya naik turun, napasnya tertahan.
“Tenang,” ucapnya pendek, suaranya rendah namun tegas. “Lo aman sama gue.”
Brankar mulai didorong keluar. Roda beradu dengan lantai menghasilkan suara ritmis yang cepat, seirama dengan langkah perawat.
Kala dan Jevan otomatis mundur memberi jalan. Pandangan mereka mengikuti brankar itu sampai hampir menghilang di ujung lorong.
Aksa berjalan di sampingnya, langkahnya sejajar—hingga tepat di depan pintu ruang bersalin.
Ia berhenti.
“Maaf, Pak. Tunggu di luar dulu,” ujar salah satu perawat sambil memberi isyarat halus dengan tangan.
Aksa hanya mengangguk.
Pintu ruang bersalin tertutup perlahan, menyisakan bunyi klik yang terdengar terlalu keras di telinganya.
Untuk seorang mahasiswa yang bahkan belum siap menikah, melihat Diana kesakitan seperti itu sudah cukup membuat tubuhnya gemetar.
Di lorong terasa sunyi. Aksa berdiri tak jauh dari pintu, menarik napas berulang kali. Kala bersandar di dinding, tangan terlipat. Jevan duduk condong ke depan, diam.
Tak lama, seorang perawat menghampiri sambil membawa map cokelat.
“Suami atas nama pasien Diana Rosemary Falika?”
Suara itu membuat ketiganya menoleh bersamaan.
Mereka saling pandang—tegang. Karena di antara mereka, tak satu pun berstatus suami Diana.
Kala mengangkat dagu sedikit, memberi kode halus ke arah Aksa.
Aksa menelan ludah, sebelum akhirnya bersuara.
“Iya… Sus,”
Perawat itu membuka map. “Ketubannya hampir habis dan pembukaannya kurang baik. Jadi kami perlu melakukan operasi sesar. Mohon tanda tangan persetujuan di sini, Pak.”
Pandangan Aksa jatuh ke kertas itu.
Barisan kata di atas kertas itu tampak kabur. Rasa takut menekan dadanya. Tapi di balik itu, satu hal muncul jelas di kepalanya—Diana dan bayinya harus selamat.
Ia menarik napas, mengambil bolpoin dari tangan perawat, lalu menandatangani tepat di kotak bertuliskan:
Suami / Penanggung Jawab.
“Baik, Pak. Untuk administrasi lainnya nanti segera diurus, ya,” kata perawat itu sebelum kembali masuk ke ruang bersalin.
Lorong kembali hening.
“Kita perlu hubungi orang tuanya nggak sih?”
Aksa menggeleng.
“Gue nggak punya nomornya. Dan… setau gue hubungan mereka nggak baik-baik aja.”
Kala tidak menimpali. Hanya diam menatap pintu didepannya yang baru saja tertutup.
Sementara itu, di dalam lampu operasi menyala terang. Diana terbaring dengan kain hijau menutup tubuhnya dari dada ke bawah. Monitor berdetak pelan.
“Bu Diana, kita mulai, ya.”
Diana mengangguk. Jemarinya mencengkeram sisi ranjang.
“Napas pelan-pelan,” bisik perawat.
“Anak saya… selamat, kan?”
“Kami usahakan sebaik mungkin.”
Tirai hijau ditarik. Suara alat bergerak, instruksi pendek bersahutan.
Beberapa saat kemudian—
Tangisan itu terdengar. Pendek, nyaring, memecah hening ruang operasi.
“Bayinya lahir. Laki-laki,” ujar Dokter Riana sambil mendekatkan bayi mungil yang masih kemerahan ke arah Diana.
Wanita yang baru menyandang status sebagi ibu itu terisak tanpa sadar. Napasnya tersengal, dadanya naik turun.
“Selamat ya, Bu.”
Bayi itu diletakkan sebentar di dadanya. Hangat. Nyata.
Diana memejamkan mata. ‘Mama janji,’ ucapnya dalam hati, ‘Akan jaga kamu. Apa pun yang terjadi.’
“Kami observasi dulu ya, Bu,” lanjut perawat dengan lembut.
Diana mengangguk pelan, matanya tak lepas dari wajah kecil itu saat bayinya dibawa menjauh.
Tangisan itu bukan hanya membuat lega Diana.
Di luar, tiga laki-laki yang sejak tadi ikut waswas akhirnya bisa bernapas lega.
Bahu Aksa merosot seolah satu beban nya hilang.
Jevan menyeringai kecil.
“Akhirnya… anaknya lahir.”
Kala mengangguk pelan. Dadanya ikut terasa longgar. Ia melangkah mendekat dan menepuk pundak Aksa singkat.
“Gue ke kantin bentar,” ujarnya. “Cari minum.”
Tanpa menunggu jawaban, Kala berbalik menyusuri lorong rumah sakit. Suasana yang tadi mencekam perlahan melonggar—lebih hangat, lebih ringan.
Di sisi lain rumah sakit, pintu kaca terbuka.
Seorang lelaki melangkah masuk. Jaket gelap menutup tubuhnya, langkahnya tenang tapi tergesa, seperti orang yang sudah tahu ke mana harus pergi.
Ia berhenti di depan meja resepsionis.
“Ruang bayi di mana ya, Sus?”
“Lurus aja, Pak. Belok kiri, paling ujung.”
Ia mengangguk singkat, lalu melangkah cepat.
Kala yang hampir sampai pintu utama mendadak melambat. Matanya menangkap sosok itu di ujung koridor.
Tanpa sadar, langkahnya berbelok. Ia mengikuti dari belakang, melewati satu lorong, lalu lorong berikutnya—hingga lelaki itu berhenti di depan ruang bayi, berbicara singkat dengan perawat, lalu masuk.
Kala ikut mendekat.
Dari balik kaca ruang bayi, langkahnya terhenti. Tubuhnya membeku.
Seorang lelaki berdiri di sana, tepat di depan box transparan tempat bayi mungil itu terbaring. Kepalanya menunduk. Satu tangannya menyentuh kaca. Bibirnya bergerak pelan, melantunkan doa dengan suara rendah—tenang, khusyuk.
Hampir tak terdengar. Tapi cukup jelas.
Kala menelan ludah. Ia mengenali punggung itu. Posturnya. Cara ia berdiri.
Saat pintu itu akhirnya terbuka dan sosok itu melangkah keluar—
“Bughh.”
...Hay, ketemu lagi kitaa 🤍...
...Kayaknya udah pada nebak, ya… ...
...siapa yang barusan datang 👀...
...Stay tuned, ya....
...Jangan lupa jaga kesehatan 🤍...
...Like dan komen biar aku up kelanjutannya lebih cepat hehe ✨...