Namanya Sekar Senjani Paramitha-gadis berparas lembut yang tengah menapaki tahun terakhir kuliahnya di sebuah universitas ternama di ibu kota. Namun, menjelang akhir perjalanannya, hidup justru berbalik arah. Sang ayah terjerat mabuk dan judi, meninggalkan luka yang tak kasatmata, sementara sang ibu yang rapuh harus berbaring di rumah sakit akibat hipertensi yang kian memburuk.
Di tengah hari-hari yang penuh sesak dan nyaris tanpa cahaya, hadir seorang lelaki dengan tatapan teduh sekaligus menyimpan misteri-Althaf Arsakha Dirgantara. Ia menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan: pernikahan tanpa cinta, hanya ikatan di atas kertas, namun dengan konsekuensi yang tidak bisa Senja bayangkan.
Kegundahan pun menyeruak di hati Senja. Sebab lelaki itu bukan hanya orang asing... melainkan dosennya sendiri.
Akankah Senja menerima tawaran pernikahan yang bisa menyelamatkan keluarganya, meski harus mempertaruhkan masa depannya sendiri? Atau menolak, dan menyaksikan hidupnya runtuh perlahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB TIGA
Namaku Sekar Senjani Paramitha. Usiaku dua puluh empat tahun– Mahasiswi FKIP Bahasa Inggris di Universitas Negeri Jakarta—seharusnya tahun ini aku sudah menyandang gelar sarjana, jika saja setahun lalu aku tidak memilih berhenti sementara demi merawat Ibu yang sakit.
Beberapa minggu terakhir, hidupku seperti terjebak di dalam lorong gelap tanpa ujung. Ayah—lelaki yang dulu kusebut pahlawan masa kecil—telah lama tenggelam dalam kubangan perjudian. Hingga pada suatu pagi, ia menghilang begitu saja, meninggalkan tumpukan utang puluhan juta rupiah di belakangnya. Penagihnya memberiku waktu lima hari. Lima hari untuk mencari uang yang bahkan tak sanggup kubayangkan jumlahnya.
Belum sempat aku mengatur napas, dunia kembali merampas. Penyakit jantung Ibu kambuh. Rumah sakit menelannya, dan dalam sekejap, tabungan terakhirku ikut menguap. Hari-hariku berubah menjadi hitungan mundur—menuju titik di mana aku akan benar-benar kehilangan segalanya.
Dan di tengah pusaran itu... dia datang.
Althaf Arsakha Dirgantara. Pria berusia tiga puluh empat tahun, dosen sekaligus kepala program studiku. Seseorang yang selama ini hanya kulihat di balik podium kelas, dengan tatapan dingin dan kata-kata terukur. Sosok yang tak pernah kusangka akan menyeberang masuk ke dalam lingkar kehidupanku—apalagi mengacaukan isinya.
Pertemuan kami singkat, seperti hantaman badai yang datang tanpa peringatan. Dari balik ketenangan suaranya, ia mengucapkan sebuah tawaran... atau mungkin lebih tepat disebut ultimatum.
Pernikahan.
Tanpa cinta. Tanpa janji kebahagiaan. Hanya sebuah kesepakatan hitam di atas putih. Sebagai gantinya, ia berjanji akan menyelesaikan seluruh masalahku—membayar utang, menanggung biaya pengobatan Ibu—dengan satu syarat: aku harus menjadi istrinya.
Di saat normal, aku akan menertawakan kegilaan itu. Tapi di tengah kenyataan yang kian menghimpit, tawaran itu terdengar seperti satu-satunya tali yang bisa kutarik... meski aku tak tahu apakah ujungnya akan menyelamatkan, atau justru menjerumuskan.
Waktu terus berjalan, dan tanpa kusadari... hari itu telah tiba. Hari di mana aku berjanji akan melunasi utang ayah.
Namun, dari semua upaya dan uang yang kupungut dari serpihan harapan, jumlahnya masih jauh... bahkan terlalu jauh dari target yang harus kubayarkan.
Aku duduk di tepi ranjang rumah sakit, memandangi Ibu yang terlelap di bawah cahaya lampu putih pucat. Selimutnya tersusun rapi, napasnya teratur—tenang, seakan dunia tidak sedang runtuh di sekitarnya. Tanganku meraih tangan Ibu yang dingin dan rapuh, jemariku mengusap kulitnya yang penuh guratan usia.
Dadaku tiba-tiba terasa seperti diremas. Mataku mulai buram, dan sebelum sempat kutahan, setetes air mata jatuh membasahi punggung tangan Ibu.
Kudekatkan wajahku, kubisikkan dengan suara yang hampir pecah, "Bu... doakan Senja, ya. Biar Senja kuat menjalani semua ini. Ibu harus cepat sembuh, biar kita bisa pulang... dan melewati semuanya bersama-sama."
Aku mengecup tangannya dengan lembut, berharap sentuhan itu mampu mengirimkan sebagian kekuatanku padanya. Namun hatiku tetap berat.
"Bu... apa Senja harus terima tawaran Pak Althaf? Apa cuma itu satu-satunya jalan buat kita keluar dari semua ini?"
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku—pertanyaan yang tak mungkin dijawab oleh Ibu yang sedang tertidur lelap. Tapi di dalam hati, aku seakan menunggu sebuah isyarat... sesuatu yang akan menuntunku mengambil keputusan.
Air mataku kembali jatuh, membakar pipi yang dingin. Cepat-cepat kuusap, memaksa diriku kembali tegak. Aku mengecup kening Ibu sekali lagi, lalu berdiri dari kursi.
Begitu pintu kamar rawat Ibu kututup, udara di lorong rumah sakit terasa berbeda—lebih berat, seakan dunia di luar sana siap menelanku bulat-bulat. Dan aku tidak tahu... bahwa beberapa jam kemudian, di halaman kampus, tiga pria asing akan membawaku ke ujung napas.
Begitu pintu kamar rawat Ibu tertutup, aku melangkah menyusuri lorong rumah sakit. Setiap derap langkah terdengar seperti gema yang memantul di dinding hatiku—menghitung mundur waktu yang tersisa. Aku tak punya banyak pilihan.
Beberapa jam kemudian, aku tiba di kampus. Langit siang itu kelabu, seolah ikut menekan napasku. Aku baru saja keluar dari gerbang fakultas ketika telingaku menangkap suara berat dan kasar di belakang.
"Eh, itu dia perempuan yang kita cari!"
Tubuhku refleks menegang. Aku menoleh cepat—tiga pria berpakaian kasual, wajah mereka asing tapi sorot mata mereka menusuk, seperti predator yang menemukan mangsanya. Jantungku berdegup liar. Aku tahu siapa mereka. Penagih hutang itu.
Aku berbalik dan mempercepat langkah, mencoba berpura-pura tidak mendengar. Tapi suara langkah kaki mereka semakin dekat... dan berat.
"Hei, jangan lari lo!" teriak salah satu dari mereka, nada suaranya mengancam.
Aku mulai berlari. Nafasku memburu, derap sepatuku berpacu dengan detak jantung. Beberapa mahasiswa menoleh heran, tapi tak satu pun yang berani menghentikan mereka. Rasanya seperti seluruh dunia menyempit, hanya menyisakan lorong panjang di antara gedung-gedung kampus.
Tiba-tiba, lenganku terhentak keras. Salah satu dari mereka berhasil meraihku.
"Aduh! Lepasin!" teriakku, mencoba melepaskan diri.
Belum sempat aku panik lebih jauh, sebuah suara dalam dan tegas memotong udara.
"Let her go."
Aku menoleh cepat. Di ujung tangga fakultas, berdiri Althaf. Tubuhnya tegak, sorot matanya menusuk tajam, seperti panah yang siap dilepaskan. Satu tangannya terselip di saku celana, tapi ketegangan yang terpancar dari rahangnya membuat udara di sekitarnya terasa lebih dingin.
"Nggak usah ikut campur deh, Pak. Perempuan ini punya tanggungan yang harus diselesaikan," ujar pria berjaket kulit, suaranya sinis.
Pak Althaf melangkah maju, tatapannya tidak bergeser sedikit pun.
"Tanggungan siapa?"
"Ayahnya. Laki-laki brengsek itu udah utang puluhan juta ke bos kami, dan dia ini—" pria itu menunjuk ke arahku "—sekarang yang harus bayar. Dia janji bakal ngelunasi hari ini, tapi tiba-tiba ngilang saja nggak ada kabar."
Aku merasakan darahku mengalir dingin. Napasku tercekat.
Namun Althaf justru tersenyum tipis, dingin. "Lucu. Kalian menagih pada anak perempuan yang bahkan tidak ikut berjudi. Apa pantas kalian menindas perumpuan seperti ini? Memalukan."
"Jaga omongan, Pak. Kami cuma menjalankan perintah," balas pria lain, suaranya mulai meninggi.
"Perintah untuk mengintimidasi mahasiswi di lingkungan kampus?" Althaf mengangkat alisnya. "Kalian pikir saya akan diam? Saya bisa saja melapor ke pihak berwenang... atau membuat kalian tidak bisa berkeliaran di sini lagi."
Pria berjaket kulit itu mendengus, tapi aku melihat keraguan di matanya.
"Kalau dia nggak bayar, kami akan terus datang. Itu perjanjian."
"Perjanjian dengan ayahnya, bukan dengan dia," Althaf membalas tegas. "Mulai sekarang, kalian berurusan dengan saya. Satu langkah saja kalian mendekatinya lagi, saya pastikan kalian menyesal."
Keheningan tegang menggantung. Mereka saling pandang, lalu perlahan melepaskan cengkeraman di lenganku. Aku segera mundur, tanpa sadar berdiri lebih dekat di belakang Althaf. Aroma parfum maskulinnya samar-samar tercium, menenangkan, meski jantungku masih berdegup tak karuan.
Akhirnya, ketiga pria itu mundur sambil melemparkan tatapan tajam.
"Masalah ini belum selesai, Pak," ucap salah satu dari mereka sebelum berbalik pergi.
Althaf hanya berdiri diam, matanya mengikuti hingga mereka menghilang dari pandangannya. Lalu ia menoleh sedikit padaku, suaranya rendah namun tegas,
"Ikut saya. Kita perlu bicara."
Aku menelan ludah dan hanya bisa mengangguk, mengikuti langkahnya... dengan pikiran yang berkecamuk.