Sabrina Delina Arnabella yang lahir dengan nama belakang Alvarendra sejak sepuluh tahun yang lalu memutuskan hubungan antar dirinya dengan ayahnya Winata Alvarendra karena ayahnya memutuskan hubungan dan menikahi wanita yang memiliki satu anak bernama Renata Wijaya.
Besar tanpa sosok ayah dan harus menghadapi kenyataan kalau ibunya meninggal karena kecelakaan mobil semakin memperburuk mental Sabrina.
Namun sebuah kabar kalau ayahnya meninggal membalikkan seluruh kondisinya, tanpa diduga seluruh aset milik Alvarendra jatuh ketangan Sabrina.
Ancaman dan teror serta kelicikan dari Renata yang ingin merebut segalanya semakin membuat Sabrina waspada.
Bagaimanakah cara Sabrina mengatasi semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Rofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Di kediaman Alvarendra, Renata dan Elena nampak dengan santainya menikmati sarapan pagi ini. Kalau dilihat-lihat mereka bukan seperti orang yang baru saja kehilangan orang tercintanya.
" Pelayaannn!!! " teriak Elena sangat nyaring.
Satu orang pelayan datang tergopoh-gopoh setelah mendengar teriak Elena itu.
" Iya nona ada apa? " tanya pelayan itu.
" Buatkan aku sereal aku sedang tidak berselera " jawab Elena.
" Baik nyonya " jawab pelayan itu dan dia langsung saja melaksanakan perintah itu.
Pelayan itupun langsung berlari ke dapur dimana pelayan yang lain juga tengah berada disana.
" Segera buatkan Nona Elena sereal " kata pelayan tadi.
" Masakan segitu banyaknya tapi nona masih meminta sereal? " timpal yang lain.
" Nona sedang tidak berselera " kata pelayan itu.
" Dari tadi juga udah makan banyak, kenapa baru sekarang bilang tidak berselera " sahut yang lainnya.
" Sudah-sudah cepat buatkan sebelum nona marah " Kata yang lain.
" Aku rasa mereka tidak merasa kehilangan tuan sama sekali " celetuk salah satu pelayan.
" Memang apa yang mau diharapkan dari mereka, bahkan saat tuan sakit pun mereka masih sempat-sempatnya bersenang-senang " balas yang lain.
" Andai Nona Sabrina masih disini, mungkin tuan masih ada sekarang ''
" Kita doakan saja yang terbaik untuk Nona Sabrina, dan semoga dia juga secepatnya bisa kembali lagi kesini karena walau bagaimanapun dia tetap putri tuan " sahut yang lain.
" Sudah-sudah jangan sampai nyonya mendengar atau kalian akan mendapat masalah nanti, aku akan antarkan sereal ini dulu " para pelayan lantas melanjutkan lagi pekerjaan mereka.
" Ma, sepertinya orang-orang mama bergerak sangat cepat " kata Elena.
" Nona ini sereal anda " pelayan itu meletakkan semangkuk sereal dihadapan Elena.
Tanpa mengucapkan terima kasih Elena dengan gerakan tangannya menyuruh pelayan itu untuk segara pergi.
" Maksud kamu? " tanya Renata.
" Lihatlah ini, berita mengenai Sabrina yang datang ke pemakaman menjadi trending topik. Dan seperti biasa seluruh komentarnya menghujat apa yang dilakukan oleh anak itu " ucap Elena seraya memberikan handphonenya.
" Tak salah mama selalu mengandalkan mereka, dengan begini citranya akan semakin buruk. Dan kita semakin mendapatkan kepercayaan dari mereka " kata Renata.
" Tapi ma, ini tak akan mempengaruhi Sabrina sedikitpun. Mama tahu bahkan perusahaannya sedang begitu pesat, berita ini tak akan mempengaruhinya " ucap Elena.
" Kamu tenang aja sayang, bahkan kalau perlu perusahaannya juga akan jatuh ketangan kita. Setelah Alvarendra berada digenggaman kita tak menutup kemungkinan kita bisa menguasai perusahaan anak itu " Renata berucap dengan senyum liciknya.
" Dan aku sangat menantikan itu, aku sangat menunggu saat-saat dia hancur bahkan untuk mati pun dia harus memohon padaku " balas Elena.
" Tidak akan lama lagi sayang " sahut Renata.
Sementara itu, saat ini Sabrina baru saja tiba di perusahaan miliknya. Dengan langkah tegasnya dia memasuki gedung yang sangat tinggi itu.
Begitu dia masuk para karyawan yang berpapasan dengannya mulai menyapa, dan satu pun dari mereka yang Sabrina hiraukan.
Sabrina terus berjalan hingga dia sampai di depan lift yang akan membawanya ke lantai tepat dimana ruang kerjanya berada.
Sepuluh tahun saat dia diusir oleh ayahnya Winata Alvarendra, Sabrina hanya hidup dengan Ibunya namun tiga tahun kemudian ibunya meninggal karena kecelakaan mobil saat akan mengantarnya ke sekolah. Sabrina juga ada disana namun beruntung luka yang dia dapat tak separah ibunya.
Dan semenjak itu pula Sabrina mulai hidup mandiri, berbekal sedikit harta yang ibunya miliki Sabrina mulai membangun sebuah bisnis. Bisnis yang dia mulai sejak kelas menengah itupun berkembang sangat pesat berkat kepiawaian yang Sabrina miliki.
Amortage group adalah nama perusahaan yang Sabrina dirikan, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Fashion, beauty, and jewelry. Tak jarang Sabrina melakukan pameran, fashion show maupun seminar untuk menunjukkan produk-produk yang di buat oleh perusahaannya.
Sabrina keluar dari lift, lantai yang tempatnya berada memang khusus untuk dirinya saja. Hanya ada beberapa orang yang bekerja dilantai itu bisa dibilang hanya orang-orang yang telah Sabrina percayai yang dapat bekerja disisinya.
" Selamat pagi nona " sapa Thania, resepsionis khusus yang berada di tempat itu.
Sabrina hanya melewatinya begitu saja tanpa berniat untuk sekedar berhenti membalas sapaan itu. Thania dan yang bekerja di lantai itu sangat memaklumi sikap Sabrina dan tak mempermasalahkan hal itu karena bagi mereka Sabrina tetap orang baik yang sudah mau mempercayakan pekerjaan ini pada mereka.
" Thania aku boleh minta tolong? " tanya Kinara yang baru saja sampai disana.
" Iya silahkan " jawab Thania.
" Sarapan yang aku pesan untuk nona sebentar lagi tiba, aku tidak ada waktu untuk mengambilnya. Bolehkan aku minta kamu mengambilnya karena hanya kamu yang bisa kupercaya " ucap Kinara.
" Baiklah tak masalah, aku akan pergi mengambilnya " balas Thania yang tak merasa keberatan sedikit pun.
" Baiklah terima kasih, hubungi aku jika kamu sudah mengambilnya " timpal Kinara yang langsung berlalu darisana.
Di ruangannya Sabrina sedang membaca sesuatu lewat handphonenya, di depannya Zayn berdiri sambil mengamati nona mudanya itu.
" Bagaimana nona? Apa perlu aku membereskannya? " tanya Zayn meminta pendapat.
Sabrina tak merespon apapun, hanya senyum kecil yang nampak diwajahnya.
Ceklek
Kinara masuk dan langsung saja berdiri di samping Zayn. Sabrina lalu meletakkan handphone itu lalu menatap dua asistennya dan juga sekretarisnya itu.
" Bukankah hal ini sudah sering terjadi, dan kita tahu siapa pelakunya. Biarkan saja itu sama sekali tak ada pengaruhnya untukku " kata Sabrina.
Rupanya Sabrina telah membaca berbagai artikel yang santer memberitakan dirinya saat menghadiri pemakaman kemarin.
" Apa jadwalku hari ini? " tanya Sabrina.
" Seharusnya hari anda ada kunjungan kebeberapa butik juga memantau perkembangan beberapa cabang klinik kecantikan kita " Ucap Kinara yang melihat jadwal Sabrina melalui tab ditangannya.
" Tapi kalau anda mau, saya akan mengatur ulang jadwal hari ini untuk anda " lanjutnya.
" Apa ada meeting penting hari ini? " tanya Sabrina lagi.
" Ada nona, pukul sepuluh anda memiliki jadwal meeting dengan perusahaan Trijaya salah satu perusahaan yang menawarkan kerjasama pembukaan store jewelry kita di berbagai cabang mall yang perusahaan itu miliki" jawab Kinara.
" Tetap lakukan semua jadwal hari ini, dan untuk kunjungan ke beberapa butik dan klinik kecantikan kita lakukan setelah jam makan siang " kata Sabrina memberi perintah.
Zayn dan Kinara saling pandang namun tak lama mereka berdua menganggukkan kepalanya.
" Beritahu kami jika nona ingin melakukan perubahan " ujar Kinara.
" Kami permisi keluar dulu '' Kata Zayn yang langsung diangguki oleh Sabrina.
" Nona, saya akan bawakan sarapannya sebentar lagi '' tutur Kinara.
Sepeninggal Zayn dan Kinara, Sabrina langsung mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang.
" Bagaimana? " tanya Sabrina.
" .................. " balas orang yang Sabrina hubungi.
" Pastikan mereka tidak mendapat surat itu, lakukan apapun caranya agar surat itu tak akan pernah mereka dapatkan " setelah mengatakan itu Sabrina menutup sambungan teleponnya.
" Renata Maheswara, sudah saatnya aku membalas penderitaan yang sepuluh tahun ini kau berikan padaku " Gimana Sabrina.
" Rasa kehilangan, kehancuran, dan penghinaan yang selama ini kau berikan padaku akan berbalik berkali-kali lipat sakitnya padamu " lanjutnya.
" Tunggu saja, saat waktunya tiba kehancuranmu akan segera datang '' ucapnya pelan.
Tok...tok...tok....
Kinara masuk dengan nampan yang berisi Sarapan untuk Sabrina.
" Nona ini sarapan anda " Ucap Kinara sambil meletakkan nampan itu di meja yang biasanya Sabrina gunakan jika tidak sempat sarapan di rumahnya.
" Hmmm " balas Sabrina singkat.
Kinara langsung undur diri dari sana, Sabrina hanya melihat nampan berisi makanan itu dan tak berniat untuk memakannya.
next semngt sukses selalu