NovelToon NovelToon
Suamiku Bujang Lapuk

Suamiku Bujang Lapuk

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Keluarga & Kasih Sayang / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:860.5k
Nilai: 4.8
Nama Author: dtyas

Kaluna Zena, gadis yang menerima perjodohan dengan pria yang cukup matang dan dewasa. Berharap kisah cintanya akan berakhir romantis dengan saling mencintai tanpa harus ada drama kontrak pernikahan bagai drama novel. Namun, Luna harus gigit jari kalau pria itu rela membujang karena masih menunggu cintanya datang.

Sebuah dilema besar, ketika ada seorang pria datang mengulurkan tangan atas nama cinta. Haruskah Luna melepaskan si bujang lapuk atau tetap setia mendampingi si bujang lapuk menunggu cintanya?

====

IG : dtyas_dtyas
fb : Dtyas Auliah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 ~ Kenapa Belum Menikah

 

Kabar baik bahwa Eyang Surya sudah bisa pulang membuat Luna lebih tenang. Bagaimanapun perawatan terbaik adalah di rumah. Luna yang menerima perjodohan mungkin saja menjadi imun tersendiri bagi Surya.

Saat ini Luna sudah berada di kubikelnya, mengejar ketertinggalan pekerjaan yang sempat tertunda. Ditambah persiapan project baru yang akan ditangani.

“Luna, kabar eyang kamu gimana?” tanya Astri yang sudah berdiri di samping kubikel Luna.

“Sudah lebih baik, kayaknya sore ini sudah boleh pulang.”

“Hm, semoga beliau cepat sehat lagi ya,” seru Astri yang diaminkan oleh Luna. “Eh iya, kamu sudah tahu belum kalau ada karyawan baru?”

“Belum. Bagus dong, karena kita memang kekurangan senior.”

“Bisa jadi orang itu akan jadi senior kamu,” seru Astri lagi.

Luna tidak mempermasalahkan siapapun senior yang harus didampingi, asalkan bisa diajak kerja bareng. Tidak semena-mena apalagi sok tahu seperti senior yang ada. Telepon di meja Luna berdering, ternyata telpon dari Pak Arta agar Luna menemuinya.

“Permisi, Pak!”

“Masuklah!” titah Arta.

Baru saja Luna duduk, Pak Arta sudah merepet menjelaskan project baru yang diterima termasuk project sebelumnya yang harus ditangani oleh Luna.

“Bagaimanapun caranya, orang ini harus puas dengan hasil pekerjaan kita. Karena dia akan menanamkan modal di perusahaan ini,” ungkap Pak Arta. “Kabar baiknya beliau mengundur pertemuan karena sedang sibuk, jadi kamu masih ada waktu mempersiapkan dan besok ada senior pendamping. Walaupun dia orang baru, tapi urusan desain interior sudah pengalaman.”

“Baik Pak Arta, saya paham.”

...***...

“Kamu lembur?” tanya Astri yang sudah siap pulang, sedangkan Luna masih menatap layar komputernya.

“Nggak, habis ini aku pulang,” sahut Luna lalu mematikan perangkat elektroniknya juga memastikan dompet dan ponsel ke dalam tas. Kalau Astri tidak menegurnya mungkin Luna masih asyik dalam lamunan.

Bukan melamun memikirkan calon suami atau bagaimana pernikahannya nanti, tapi memikirkan bagaimana dia akan beritahu Bunda kalau dia akan menikah dalam waktu dekat. Meskipun sejak kecil hidup bersama Eyang Surya, Luna paham ada tanggung jawab Bundanya mengenai doa restu dan hal remeh lainnya.

Luna menghubungi Nuri -- Bunda, mengatakan akan mampir besok pagi. Tentu saja Nuri menyambut baik keinginan Luna, bahkan menanyakan ingin dibuatkan apa untuk sarapan. Hubungan mereka tidak ada dendam dan kebencian, sama-sama mengerti keadaan dan situasi. Surya benar-benar mendidik Luna dengan baik.

“Café X, kok malah deg-degan,” gumam Luna yang sudah beranjak dengan menyampirkan tali tas di bahunya. Ia akan bertemu lagi dengan calon suaminya, Teja Dewangga.

Tidak sampai dua puluh menit, motor Luna sudah tiba di café tujuan, Luna sempat memperbaiki tatanan rambutnya setelah melepas helm dan membuka sweaternya. Gadis itu melayangkan pandangan ketika memasuki café dan mencari sosok Teja.

“Yaelah mojok amat,” gumam Luna melihat sosok yang dia cari berada di meja agak sudut dan pria itu membelakangi arah pintu masuk.

“Sorry telat,” ujar Luna lalu duduk bersebrangan dengan Teja yang mengalihkan tatapannya dari layar tablet pada wajah Luna. Pria itu mengernyitkan dahinya, membandingkan penampilan Luna kemarin dan sekarang. Penampilan Luna kemarin seakan mengenaskan, berbeda dengan sekarang yang lebih rapi dan … cantik.

Teja berdehem dan mengalihkan pandangannya, tidak ingin ketahuan sedang memperhatikan gadis itu.

“Pak, saya pesan dulu ya. Haus,” ujar Luna dan sukses membuat Teja yang sedang meneguk minumnya tersedak.

“Apa dia bilang? Pak! Dia panggil aku bapak,” ujar Teja dalam hati.

Setelah memesan minum, Luna menatap pria di hadapannya bahkan dengan melihat kedua tangan di atas meja.

“Bapak mau bicara apa?”

“Kamu panggil saya apa? Bapak?”

“Iya, salah gitu? Bos saya kayaknya udah seumuran dengan,” tunjuk Luna pada Teja. “Saya panggil Bapak.”

Teja hanya menggelengkan kepalanya.

“Terserah kamu. Terserah mau panggil apa. Pernikahan kita akan dilaksanakan minggu depan dan ….”

“Pak Teja  berubah pikiran dan mau menolak perjodohan ini? Jujur ya pak, saya juga tidak setuju dengan perjodohan tapi demi Eyang saya bersedia. Lagi pula Bapak lumayan ganteng kok dan saya nggak jelek-jelek amat, cenderung cantik malah. Yaa, walaupun sering jomblo.” Luna menyela ucapan Teja dan bicara mengoceh membuat Teja menghela nafas, bahkan sampai bersedekap mendengarkan ocehan gadis itu.

“Lah kok diem, Bapak mau bilang apa?” tanya Luna tanpa merasa bersalah.

Teja tidak langsung bicara karena ada pelayan yang mengantarkan pesanan Luna, gadis itu bukan hanya memesan minum tapi juga makanan. Beralasan sebentar lagi waktunya makan malam.

“Saya sudah boleh bicara atau kamu mau habiskan makananmu dulu.”

“Bicara aja pak, saya multitasking kok. Bisa fokus mendengar apa yang Bapak sampaikan sambil makan,” sahut Luna.

Lagi-lagi Teja hanya bisa menghela nafas dan berharap perempuan di hadapannya tidak membuatnya sakit kepala setelah mereka menikah.  

“Berapa umurmu?” tanya Teja.

“Dua empat, beberapa bulan lagi dua lima. Karena yang bertanya Bapak jadi saya jawab, kalau orang lain sudah pasti saya ajak ribut karena tidak sopan bertanya umur sama perempuan.”

“Apa kamu yakin pernikahan kita nanti akan bahagia, perbedaan umur kita cukup jauh.”

Luna meletakan sendoknya dan segera menelan makanan yang sedang ia kunyah dan meneguk air minum di hadapannya.

“Pak Teja, saya belum pernah menikah sebelumnya jadi tidak bisa jawab pertanyaan Bapak. Pak Teja pernah menikah?”

Teja menggelengkan kepalanya.

“Jadi serius Pak Teja bujang lapuk, eh maksud saya bujangan. Kok bisa pak? Kalau saya lihat Bapak ganteng dan pekerjaan kayaknya oke,” tutur Luna menebak sesuai penampilan Teja dengan setelan jas, bisa dipastikan pria itu bukan laki-laki pengangguran.

“Kenapa Bapak belum menikah juga, saya harus tahu nih. Jangan sampai tahunya setelah kita menikah dan jadi penyesalan?”

1
Dewi Lestari
karya bgs
Nur Wakidah
Doddy mantannya Juli kah ini , , ,
Maya Mawardi
ceritanya apik
Maya Mawardi
seperti biasa aku suka ceritanya....bravo MBK author yg baik
Maya Mawardi
ya ampun jahat banget, mengerikan
Maya Mawardi
aduh selamatkan luna
Maya Mawardi
bagus
Maya Mawardi
bolehlah pak teja
Maya Mawardi
dah kan jebol....tapi apa passwordnya ya
Maya Mawardi
kocak.banget
Maya Mawardi
pesona bujang...blm lapuk
Maya Mawardi
ketemu lagi MBK author sayang....
Hearty 💕
Mantap
Hearty 💕
oh ternyata yang melecehkan Andin
Hearty 💕
Gitu dong....... eh ternyata sudah pernah baca yaaaa
Hearty 💕
Jangan patah semangat.... walaupun ngeselin sih. Perbanyak usaha bikin bucin ajaaaa
Hearty 💕
Nyebelin banget ya nih paksu
istri darmayanty
nama kama dan Kalila sama dengan cerita yg lain kan ya. maaf kalau keliru
Erna Suryani
Luar biasa
Erna Suryani
Lumayan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!