Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.
Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?
Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?
Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?
Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Malam di Tiankeng turun perlahan. Gemerisik dedaunan menderu lirih tersapu lembut udara pegunungan, menggoyangkan lampion linen yang menggantung dilangit-langit beranda rumah.
keramaian dihunian keluarga Bai cabang kedua kembali dimulai, setelah sempat terjeda istirahat makan malam.
Para karyawan yang akan bekerja lembur membuat sabun sudah berdatangan.
Selain mereka, ada keluarga utama Bai yang tak pernah absen memerah tenaga untuk menyelesaikan semua pekerjaan.
Tiga sepupu lelaki Chen juga ambil bagian, mereka sengaja tidak pulang kedesa Qingshan sebab mengejar target orderan Serikat Dagang Dao.
"Adik kedua, usiamu sebentar lagi genap delapan tahun, sudah waktunya pergi mendaftar keakademi." kata Bai Anshu, seraya memberi stempel merk dan aroma pada kotak kertas packaging, lalu merakitnya.
"Tidak mau..!" jawab tegas Hanzi, menata sabun kedalam keranjang kemas.
Bai Anshu mendelik.
Bai Dashan dan Chen Muwan, memandang datar.
Kakek nenek Bai, terkekeh ringan.
Bai Sanlang, bibi Mei, para sepupu, mengernyitkan dahi, memicingkan netra.
Bai Hanzi mendengus "aku sudah bisa membaca, menulis, berhitung, untuk apa lagi pergi keakademi..?"
"Supaya mendapatkan gelar sarjana, lalu ikut ujian negara kemudian menjadi pejabat. Selain itu kau akan memiliki banyak teman." sahut Bai Anshu.
"Aku tidak mau menjadi pejabat, aku ingin membantu bisnis keluarga saja. Teman-temanku didesa sudah cukup banyak, untuk apa mencari sahabat diakademi..?" tegas Hanzi.
"Kakak perempuan, aku saja yang pergi keakademi dan menjadi sarjana." sela Bai Jinyu mengajungkan tangan.
Semua orang terkekeh.
"Ya, lebih baik adik bungsu saja." sambar Bai Hanzi.
"Lagi pula dimasa depan kakak perempuan akan sibuk dengan bisnis pernak pernik dan perhiasaan, lalu siapa yang akan mengurus bengkel sabun..?" sambar Hanzi.
Bai Hanshu menghela nafas, kedua adiknya ini sungguh sangat bijaksana sekali.
Kehidupan didesa yang serba kekurangan, memaksa anak-anak tumbuh dewasa sebelum waktunya.
"Baiklah, dimasa depan bisnis sabun ini milikmu. Adik bungsu akan pergi belajar keakademi, menjadi sarjana, lalu berdiri gagah sebagai pejabat agung."
"Ya, itu baru benar..!" sahut kompak Hanzi dan Jinyu.
Gelak tawa membahana, memecah kesunyian, mengagetkan binatang malam.
"Ayah, ibu, aku berencana menyewa toko untuk menjual aneka camilan yang diproduksi oleh penduduk-----
Bai Anshu menjabarkan visi misi bisnis baru yang tadi sore dibahas bersama para ibu-ibu.
"Selama itu baik, lakukan apa pun yang kau ingini. Ayah dan ibu akan selalu mendukungmu." jawab Bai Dashan.
Bai Anshu tersenyum ranum, ia mengucapkan terimakasih seraya memeluk sang ibu penuh sayang.
"Kakek, bagaimana dengan pembelian ladang tambahan..?"
"Sudah beres, sesuai keinginanmu kakek membeli lahan bagus sepuluh hektare disebelah timur desa." jawab kakek Bai, sembari sedang mencetak sabun.
"Kakek mau memperkerjakan penduduk desa sekitar, atau membeli budak untuk menggarap ladang..?" tanya Anshu lagi.
"Kalau membeli budak kita harus menyiapkan tempat tinggal, lebih baik mempekerjakan orang-orang dari berbagai desa terdekat saja."
Bai Anshu manggut-manggut.
"Oya, bibimu ingin meniru ide dalam pembuatan jamban, apa boleh..?" tanya Bai Sanlang.
"Tentu saja boleh paman..!" jawab cepat Anshu.
"Untuk saluran pembuangan juga air pancuran, lebih baik paman memesan pipa tembikar. Nanti yang dikubur ketanah baru dilapisi batu kemudian plester agar lebih kuat." sambung Anshu.
"Baik, saat pembangunan dimulai paman akan pergi kepengerajin tembikar." balas Sanlang.
Pukul sebelas malam, aktifitas dihentikan.
Bai Dashan membayar gaji karyawan selama dua minggu plus uang lemburan sebanyak tujuh ratus lima puluh koin.
Semua bersuka cita, senyuman merekah haru dengan netra memanas bahagia.
Jumlah uang itu jelas sangat besar bagi mereka yang terbiasa mendapat lima puluh wen dalam satu minggu dari hasil menjual hewan buruan atau bekerja serabutan.
Pagi menyapa, kicauan burung berisik mengudara.
Jadwal rutin dan wajib ditunaikan setiap dua hari sekali, pergi kekota guna mengantarkan sabun kemenara Guangdong.
Kali ini Bai Anshu dan Meng-Meng menaiki gerobak sapi kepala desa Qingshan yang mengantarkan keluarga Chen.
"Shu-ya, apa menara Guangdong bisa menambah pesanan..?" tanya kakek Guang.
Netra Bai Anshu berkedip cepat "sebanyak ini masih belum cukup..? kakek, dua hari sekali dua ribu batang sabun." ucapnya melongo.
Kakek Guang terkekeh "menara Guangdong juga menjual sabun-sabun ini keprefektur Luoyang, kota Chengdu dan distrik Gangshan."
"Ah, pantas saja..!" gumam Anshu "kakek, aku bisa menambah kuota untuk menara Guangdong, tapi nanti setelah bengkel sabun selesai."
Kakek Guang mendesah tak berdaya "baiklah kalau begitu..!"
Transaksi beres, saatnya untuk mencari toko yang dikontrakkan atau dijual.
"Lokasinya bagus, tapi bangunannya terlalu sempit." ujar Anshu, merotasi sebuah ruko yang terpampang papan pengumumam DISEWAKAN.
"Selain itu, butuh banyak perbaikan, catnya saja sudah kusam sekali." Meng-Meng menimpali.
Bai Anshu membenarkan.
"Nona Bai..!"
Anshu dan Meng-Meng, sigap menoleh kearah sumber suara.
"Tuan muda kedua Murong...!" balas Anshu menunduk, begitu tahu siapa pelakon yang memanggil namanya.
"Tuan Yan, tuan muda-----
"Hongli, panggil saja seperti itu."
Bai Anshu tersenyum "salam tuan muda Hongli..!"
"Ck, terlalu kaku...!" keluh Liu Hongli.
Anshu dan Meng-Meng terkekeh.
"Sedang apa kalian disini..?" tanya Murong Canfeng, seusai melirik sengit sahabatnya.
"Kami sedang melihat toko yang disewakan ini." jawab Anshu.
"Kau mencari toko..? untuk disewa atau membeli..?" selidik Murong Canfeng.
"Tergantung keadaan." Bai Anshu menyengir kuda.
Liu Hongli tersenyum lebar "nona Bai menginginkan yang seperti apa..? kebetulan ada dua toko kosong didistrik barat dan pusat kota."
Bai Anshu berseru riang "yang lebih besar dari kios ini, bisa langsung ditempati tanpa ada renovasi."
"Tenang saja, semua properti milik keluarga Liu tidak ada yang bobrok." balas Hongli.
Kelompok itu beriringan menuju kepusat kota untuk mensurvei ruko yang dimaksud.
"Memangnya bisnis apa yang ingin nona Bai jalankan..?" tanya Murong Canfeng.
"Aneka camilan dan permen."
"Apa bisnis ini yang kau maksud tempo lalu..?"
Bai Anshu menggeleng "camilan dan permen ini buatan penduduk Huanshan-----
Bai Anshu menjabarkan konsep usaha barunya bersama penduduk tanpa ada yang ditutupi.
"Berapa lama ketahanan prodak makanan itu..?" cecar Murong Canfeng.
"Satu tahun, ada juga yang bisa awet hingga dua tahun."
Murong Canfeng tersenyum lebar "kalau memang prodak makanan itu belum ada dipasaran, bawakan contohnya padaku. Jika bagus, kita bisa menandatangani kontrak."
"Ah, sungguh..?" seru senang Bai Anshu,
"Ya...!"
"Baik, saat mengantarkan pesanan sabun nanti, aku akan membawakan contohnya." kata Anshu bersemangat.
Setelah berjalan selama lima belas menit, mereka tiba juga diruko milik Marquis Liu.
Terletak dilokasi strategis, luasnya 100 x 100 meter, lengkap toilet, gudang dan office.
Kondisi bangunan sangat bagus, bersih dan sejuk.
"Jika boleh tahu, berapa sewa toko ini tuan muda Hongli...?" Anshu bertanya.
"Bagaimana kalau membicarakannya sembari makan siang..?"
mksh ka udah double up di hari minggu,,🤭🤭moga sehat sllu,💪