NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Zaman Kuno Di Tolong Pemburu Tampan

Terlempar Ke Zaman Kuno Di Tolong Pemburu Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Isekai
Popularitas:52.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

"Bujur buset!"

​Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.

​Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.

​"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.

​Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.

​Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.

​Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Dinda perlahan melepaskan pagutan ciuman mereka. Dengan napas yang masih sedikit tersengal, ia meloloskan lengannya untuk mengalungkan diri dengan lemas pada leher kekar Wira, memeluk dada bidang pria itu dengan erat untuk meredakan gemuruh di dadanya.

​"Kanda... Kapan kita akan pergi ke pasa'?" tanya Dinda setelah suaranya kembali tenang.

​"Sebentar sore," jawab Wira berat, sepasang netra tajamnya memandang lekat wajah Dinda yang masih merona pasca ciuman panas mereka.

​"Baiklah, kalau begitu aku naik ke atas dulu, ya? Aku mau menyiapkan barang-barang yang mau kujual nanti," kata Dinda ringan. Ia perlahan bergerak bangkit, menggeser tubuh rampingnya dari atas pangkuan hangat Wirandu.

​"Tunggu, Dinda... Sebenarnya, barang apa yang ingin kau jual di sana?" tanya Wira menahan pergelangan tangan Dinda, rasa penasarannya mulai terusik.

​Dinda hanya menyunggingkan senyuman misterius yang manis. "Nanti sore Kanda juga bisa melihatnya sendiri," jawab Dinda jenaka, lantas dengan gerakan lincah ia melangkah cepat meninggalkan Wira yang masih termangu sendiri di bawah pohon sengon.

​Sesampainya di dalam kamar rumah pohon yang sepi, Dinda langsung memastikan situasi aman. Ia segera mengusap permukaan cincin di jarinya, dan dalam satu kedipan mata, tubuhnya sudah berpindah masuk ke dalam dimensi ruang ajaib miliknya.

​Dengan langkah lebar dan terburu-buru karena dikejar waktu sistem, Dinda memasuki area rumah modern di dalam ruang gaib tersebut. Ia mengambil 10 bungkus sabun mandi batangan beraroma bunga yang sangat wangi dari tumpukan stok.

​Saat kembali melangkah ke luar halaman rumah ajaibnya, pandangan Dinda mendadak terhenti pada hamparan tanaman yang berbuah lebat. Di sana, sebuah buah semangka berukuran besar tampak sangat menggoda dengan kulit hijaunya yang segar. Tanpa berpikir panjang lagi tentang bagaimana cara menjelaskannya nanti, Dinda segera memetik buah besar berair tersebut.

​Setelah semua barang siap di dekapannya, Dinda memejamkan mata.

​Wuuush!

​Dalam sekejap mata, Dinda sudah kembali berpijak di dalam kamar rumah pohon milik Wira. Dengan gerakan sepelan mungkin, ia menaruh kantong berisi sepuluh sabun mandi itu di sudut kamar yang agak tersembunyi. Sementara itu, kedua tangannya beralih memeluk buah semangka yang besar dan berat, lalu membawanya melangkah keluar menuju area dapur panggung.

​"Mbok...!" panggil Dinda setengah berseru.

​"Ya, Nduk. Mbok di sini, di depan tungku," jawab Mbok Ginem menyahut dari dalam dapur.

​Dinda melangkah mendekati amben dapur lalu meletakkan buah besar itu di atas bilah bambu. "Mbok, aku punya ini..." tunjuk Dinda pamer dengan binar mata ceria.

​"Walah, benda apa itu, Nduk? Besar sekali, kulitnya hijau belang-belang begitu," tanya Mbok Ginem bingung, baru pertama kali seumur hidup melihat buah seperti itu.

​"Ini buah yang sangat enak, Mbok... Segar sekali kalau dimakan siang-siang begini," ucap Dinda tersenyum lebar.

​Dengan telaten dan hati-hati, Dinda mengambil parang dapur yang biasa digunakan Mbok Ginem. Prak! Dengan satu hentakan, ia membelah buah semangka itu menjadi dua bagian besar, memamerkan daging buahnya yang berwarna merah merekah dan sarat akan kandungan air. Dinda kemudian memotong-motongnya menjadi beberapa irisan kecil.

​"Cobalah, Mbok," sodor Dinda menyajikan seiris daging buah merah itu pada Mbok Ginem, sementara ia sendiri langsung mengambil sepotong untuk dimakan.

​Kress!

​Suara renyah terdengar saat gigitan pertama Dinda mendarat di daging buah. Rasa manis yang kaya dan air semangka yang melimpah langsung lumer memenuhi mulutnya, seketika membasuh dahaga di tenggorokan.

​Mbok Ginem yang melihat cara makan Dinda tampak begitu menikmati dan lahap, seketika menelan ludahnya sendiri. Karena tidak tahan menahan selera, wanita tua itu akhirnya mengambil seiris dan mulai mencobanya.

​Kress!

​"Eumm... Nduk! Enak banget ini! Manis, berair... Segar sekali rasanya, Nduk!" seru Mbok Ginem kegirangan, buru-buru menyeka lelehan air semangka yang sempat menetes di pinggiran dagunya yang keriput.

​"Iya kan, Mbok? Enak banget. Di tempatku, ini namanya buah semangka," ucap Dinda terkekeh geli melihat respons antusias Mbok Ginem.

​"Semangka... Walah, enak sekali ya seumur-umur baru Si Mbok rasakan buah senikmat ini," jawab Mbok Ginem sembari terus mengunyah irisan kedua.

​Tak lama setelah itu, suara langkah kaki berat yang konstan terdengar mendekat dari arah tangga luar. Rupanya Wira baru saja menyelesaikan pekerjaan membelah kayunya dan berjalan naik ke dapur.

​"Eh, Wir! Kemari, Le! Cobalah buah ini," panggil Mbok Ginem melambaikan tangan pada anaknya yang baru muncul di ambang pintu dapur.

​Pemuda tegap itu melangkah mendekat. Ia terdiam sejenak, menghentikan langkahnya tepat di sisi amben sembari menatap datar pada buah merah berair yang ditunjuk oleh Mbok Ginem.

​"Ini namanya buah semangka, Kanda. Ya kan, Mbok?" ucap Dinda mengenalkan, mendadak merasa agak gugup di bawah tatapan Wira.

​Dinda hanya bisa mengangguk-angguk kecil menahan malu. "Cobalah, Kanda," lanjut Dinda lagi, tangannya menyodorkan seiris semangka segar ke hadapan Wira.

​Wira tetap bergeming dalam diamnya. Tanpa bersuara, tangan besarnya yang kasar terulur menerima irisan buah tersebut lalu memasukkannya ke dalam mulut. Namun, meski mulutnya sibuk mengunyah kesegaran buah semangka, sepasang mata elangnya yang tajam sama sekali tidak lepas dari wajah Dinda.

​Sorot mata Wira tampak begitu dalam dan penuh selidik, seolah-olah ada sebuah pemikiran besar dan teka-teki rumit yang tengah ia analisis di dalam kepalanya mengenai asal-usul buah ajaib ini.

​Ditatap dengan cara seintens itu, Dinda seketika menjadi salah tingkah. Jantungnya berdegup cemas takut rahasia ruang ajaibnya terbongkar, sementara Mbok Ginem yang tidak menyadari ketegangan itu justru tersenyum-senyum lucu, mengira Wira menatap Dinda karena sisa-sisa kemesraan mereka tadi siang.

1
Siti Naimah
cuma bisa membayangkan saja.. Dinda masuk di kehidupan jaman dulu kala..entah di jaman Majapahit atau apa.dimana rakyat pedesaan pada heran melihat minuman kopi teh sachet an.. minuman instan..juga makanan biscuit.. apalagi kompor gas🤭...tentu penduduk desa tersebut cuma bisa bengong.



😄😄😄😄
Tasyacysya: Izin Zaman dulu, Tapi bukan majapahit, semacam dunia lain..😄
total 1 replies
Siti Naimah
Gauri..sadar diri dong🤭
masak pengen merebut Wira dari Dinda...kan masih banyak cowok2 yg laen
Siti Naimah
gak habis pikir dengan apa yg lagi dialami oleh Dinda... betul2 sesuatu yg gak masuk akal🤭...tapi aku suka banget.. mestinya banyak hal aneh2 yg lain... ditunggu kelanjutannya 😄
Siti Naimah
semoga kakak author sehat selalu..
ditunggu karyanya🙏
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
istirahat saja kak... jangan terlalu memaksa diri
Siti Naimah
walah namanya minta sumbangan..dan ngantri gitu aja kok coba2 berniat genit sama Wira...ya tentu aja bikin Dinda jadi sewot 🤭
Siti Naimah
semangat berkarya 💪
Sri rahayu
lumayan jauh Thor 😁😁😁
Siti Naimah
ceritanya Dinda sama Wira bakal menjadi pedagang sembako nih👍
Siti Naimah
kasihan banget prajurit penjaga perbatasan sampai susah untuk mencari makanan.sampai singkong pun tidak dapat.semoga bisa segera mendapat makanan dari Dinda..gak kebayang jika lihat Indomie..tentu pada heran dan bingung.ada makanan aneh tapi enak banget 🤭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
belum terlalu jauh kok aman
Dewiendahsetiowati
lanjut Thor
Siti Naimah
semoga mpu Barata lekas sembuh..
dan bisa bekerja kembali
Siti Naimah
mpu Barata seperti nya mulai berangsur sembuh dan keadaannya membaik.makanya jadi lapar dan doyan makan
Siti Naimah
ini si lawe juga baru mengenal barang aneh dan asing.tisu basah...itu model barang jaman modern ya lawe..he..he😄
Siti Naimah
bisa membayangkan... betapa senangnya panji menjumpai makanan yang asing..tapi lezat banget🤭
Siti Naimah
Dinda punya jiwa sosial yang tinggi😍👍
Siti Naimah
biscuit merupakan makanan aneh dan mewah di tempat nya panji😄
Siti Naimah
wah membayangkan system nya Dinda kok gak bisa ya🤭jadi bingung sendiri.tapi ya sudahlah yang penting Dinda berhasil 💪
Siti Naimah
rasain lho Lilis..makanya jangan sombong.berusaha supaya bisa menerima hal2 baru dan mengakui kelebihan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!