Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.
Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.
Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.
Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.
Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.
Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.
Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27_Penyesalan yang terlambat
"Brak!"
Suara itu menggema di seluruh ruangan.
seolah menjadi penutup terakhir dari seluruh kehidupan Arsenio.
"Celine... jangan pergi..." bisik Arsenio lirih. Bibirnya bergetar hebat, sementara kedua matanya terus menatap ke arah pintu yang sudah tertutup rapat. Tangannya terulur lemah, seakan masih berharap wanita itu akan berbalik.
Namun yang terdengar hanyalah langkah kaki Celine yang semakin menjauh. Harapan itu pun ikut menghilang.
Arsenio menundukkan kepalanya. Dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas. Air matanya menetes tanpa henti, membasahi kedua tangannya yang kini dipenuhi bekas luka dan kapalan akibat kehidupan di balik jeruji besi.
"Pak Arsenio... waktu kunjungan sudah selesai." ucap seorang sipir dengan nada datar. Wajahnya tetap dingin, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa iba.
Arsenio tidak langsung menjawab. Ia masih terpaku menatap map penyitaan aset yang berada di hadapannya. Tangannya yang gemetar perlahan membuka kembali lembar demi lembar surat itu.
Rumah utama... disita. Dua apartemen... disita. Gudang perusahaan... disita. Tanah investasi... disita. Rekening pribadi... diblokir. Saham perusahaan... diambil alih. Mobil-mobil mewah... dilelang. Bahkan koleksi jam tangan yang selama ini selalu ia banggakan juga ikut masuk dalam daftar barang sitaan.
Tidak ada satu pun yang tersisa.
"Habis... semuanya benar-benar habis..." gumam Arsenio. Wajahnya dipenuhi keputusasaan, sementara bahunya bergetar hebat menahan tangis yang tak lagi mampu ia bendung.
Seorang sipir mengambil map itu lalu menutupnya perlahan.
"Ayo kembali ke sel." ucap Sipit itu datar.
Arsenio mengangguk pelan.
Langkahnya terasa berat. Setiap derap kaki menuju lorong penjara seolah menjadi pengingat bahwa dirinya bukan lagi seorang direktur yang disegani.
Kini ia hanyalah seorang narapidana.
Saat melewati lorong panjang, beberapa narapidana lain memandangnya sambil berbisik.
"Itu dia mantan pengusaha yang katanya punya perusahaan besar." bisik penghuni penjara
"Sekarang jatuh miskin." sahut lainnya.
"Dulu sombong, sekarang menangis setiap hari." balas lainnya.
Ucapan-ucapan itu menusuk hati Arsenio seperti ribuan jarum. Ia hanya menunduk. Tak ada lagi harga diri yang bisa ia pertahankan.
Sesampainya di dalam sel, Arsenio terduduk lemas di sudut ruangan. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding yang dingin. Matanya menatap langit-langit penjara yang kusam.
Pikirannya melayang jauh.
Ia teringat hari ketika pertama kali mendirikan perusahaan dengan penuh semangat.
Ia masih ingat bagaimana Elvara selalu berada di sampingnya.
"Kalau kamu lelah, kita hadapi semuanya bersama." ucap Elvara saat itu. Senyumnya hangat, matanya penuh keyakinan.
Dulu...
Elvara selalu mendukungnya.
Saat perusahaan hampir bangkrut, Elvara diam-diam menjual perhiasannya untuk membantu keuangan perusahaan.
Saat Arsenio jatuh sakit karena bekerja tanpa henti, Elvara yang menemaninya sepanjang malam di rumah sakit.
Saat semua orang meragukan kemampuannya, hanya Elvara yang tetap percaya.
Namun... Apa yang ia lakukan sebagai balasan?
Ia mengkhianati wanita itu.
Ia memilih Celine dan menceraikan Elvara tanpa rasa bersalah. Bahkan setelah itu, ia masih berusaha menghancurkan perusahaan yang dibangun Elvara dengan susah payah.
"Aku... benar-benar manusia yang paling bodoh..." isak Arsenio. Air matanya mengalir semakin deras. Wajahnya dipenuhi penyesalan yang datang terlambat. Ia memukul dadanya sendiri berkali-kali.
"Kenapa aku begitu buta... kenapa?" teriaknya. Suaranya serak, penuh kepedihan, sementara tubuhnya bergetar hebat.
Suara tangisnya memenuhi seluruh blok penjara. Beberapa narapidana hanya melirik sekilas sebelum kembali diam.
Tak ada seorang pun yang menghiburnya. Tak ada seorang pun yang peduli.
Karena semua orang tahu... Penyesalan selalu datang setelah semuanya terlambat.
Malam mulai turun. Hujan deras mengguyur atap penjara. Suara rintiknya terdengar seperti irama duka yang mengiringi kehancuran hidup Arsenio.
Ia memejamkan mata.
Bayangan Elvara kembali muncul. Namun kali ini, Elvara tidak menangis. Wanita itu tersenyum bahagia.
Di sekelilingnya ada keluarga yang mencintainya, perusahaan yang kembali berjaya, dan masa depan yang berhasil ia bangun tanpa Arsenio.
Pemandangan itu membuat dada Arsenio semakin sesak.
"Aku yang menghancurkan kebahagiaanku sendiri..." bisiknya lirih. Bibirnya gemetar, sementara air mata terus mengalir tanpa henti.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa dari luar sel.
"Pak Arsenio!" panggil seorang sipir dengan nada serius. Ekspresinya tegang sambil membawa sebuah amplop resmi.
Arsenio mengangkat kepalanya perlahan.
"Ada apa lagi?" tanyanya lemah. Wajahnya pucat pasi, seolah sudah tidak memiliki tenaga untuk menerima kabar buruk berikutnya.
Sipir itu mengembuskan napas panjang sebelum menyerahkan amplop tersebut melalui celah jeruji.
"Barusan kami menerima pemberitahuan resmi dari pengadilan." lanjutnya.
Jantung Arsenio berdetak semakin kencang.
Dengan tangan yang gemetar, ia membuka amplop itu.
Matanya bergerak membaca setiap baris tulisan di dalamnya.
Semakin lama ia membaca, wajahnya semakin kehilangan warna. Tangannya mendadak lemas.
Lembar surat itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai.
"Tidak... tidak mungkin..." ucap Arsenio terbata-bata. Matanya membelalak penuh ketakutan, sementara napasnya memburu.
Sipir itu menatapnya dengan wajah datar.
"Mulai minggu depan, seluruh sisa aset yang masih berada atas nama pribadi Anda juga akan dilelang untuk membayar kewajiban kepada para kreditur. Setelah proses itu selesai, secara hukum Anda dinyatakan tidak lagi memiliki harta apa pun." jelas Sipir itu.
Kalimat itu menjadi pukulan terakhir.
Arsenio menatap kosong ke depan. Bahkan secarik harapan untuk memulai kembali kehidupannya kini terasa ikut direnggut.
Ia perlahan berlutut di lantai sel.
Tangisnya kembali pecah, kali ini jauh lebih pilu.
"Aku kalah..." isaknya. Bahunya terguncang hebat, wajahnya basah oleh air mata. "Aku kalah oleh keserakahanku sendiri... dan aku harus menanggung semuanya seorang diri."
Di balik jeruji besi yang dingin, Arsenio akhirnya memahami satu kenyataan yang paling menyakitkan.
Bukan penjara yang menjadi hukuman terberat baginya.
Melainkan kenyataan bahwa ia masih hidup untuk menyaksikan, satu demi satu, semua yang pernah ia banggakan hancur di depan matanya—tanpa mampu menghentikannya sedikit pun.
nunggu karma pelakor celline gimana karma nya.