Pernikahan Yang tidak diinginkan, akhirnya terjawab sudah, jalan terakhir adalah perpisahan.
Siapa sangka jika kenyataannya telah ternoda sebelum nikah dengan lelaki lain. Hancur sudah harapan suaminya ketika istrinya mengatakan hal yang jujur saat malam dimana sang suami meminta haknya.
Sungguh sangat terkejut saat Devan mengetahui kebenaran soal pengakuan istrinya telah direnggut mahkotanya, dan saat malam itu juga Liyan diceraikan.
Sungguh terluka hatinya, dan dikembalikan kepada orang tuanya.
Kedua orang tuanya murka, itu sudah pasti. Dengan tekad serta keputusan yang diambil, yakni mengasingkan putrinya jauh dari kota.
Siapa sangka, jika kenyataannya telah hamil.
Siapa dia? Lianva.
Penasaran? yuk ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak ada pilihan
Vando diam membisu, ia langsung bersujud di kaki ibunya Liyan untuk meminta maaf atas perbuatannya.
"Maafkan kesalahan saya, Nyonya, maafkan saya. Janji, saya akan bertanggung jawab atas Liyan, putri Nyonya." Ucap Vando bersimpuh di kaki ibunya Liyan.
Tuan Boni yang juga tengah dikuasai emosinya, Vando langsung ditarik paksa untuk berdiri dan di hajar habis-habisan, Vando sendiri pasrah ketika mendapat perlakuan kasar dari Tuan Boni hingga babak belur, dan wajahnya yang terlihat memar.
"Pa! sudah, Pa. Jangan di pukul lagi, Pa. Pa, ini salah Liyan, salah Liyan karena kabur dari rumah. Pa, Liyan mohon, kasihan Vando, Pa." Rengek Liyan yang tengah memohon kepada ayahnya.
Devan yang sudah malas berurusan dengan keluarga Tuan Boni, pun memilih untuk pulang.
"Mulai detik ini juga, Liyan bukan istriku. Secepatnya, urusan soal perceraian akan saya proses secepatnya, permisi." Ucap Devan atas keputusan yang diambil, dan langsung bergegas pergi meninggalkan kediaman keluarga Tuan Boni.
Sedangkan Vando sendiri, ia masih manahan sakit atas perlakuan kasar dari Tuan Boni yang merasa murka atas perbuatan dari putrinya. Malu, itu sudah pasti.
"Sekarang juga, enyah lah dari tempat ini. Aku tidak sudi mempunyai menantu sepertimu." Ucap Tuan Boni yang langsung mengusir Vando dengan amarahnya.
"Saya siap untuk menikahi Nona Liyan, Tuan." Jawab Vando sambil menunduk.
"Aku tidak sudi menikahkan putriku denganmu, sekalipun kamu sudah menghancurkan masa depannya. Lelaki seperti kamu tidak pantas menikahi putriku. Pergi! sekarang juga."
Tuan Boni yang sudah tidak dapat membendung amarahnya, pun langsung mengusir Vando. Juga, meminta penjaga rumah untuk menarik paksa.
Sedangkan Tuan Boni sendiri, juga manarik paksa putrinya untuk dimasukkannya didalam kamar yang terkunci dari luar.
"Kasihan Liyan, Pa. Mama mohon, jangan hukum Liyan. Dia putri kita satu-satunya." Ucap istrinya Tuan Boni memohon, merasa kasihan kepada putrinya.
"Terus kenapa kalau Liyan putri kita satu-satunya, Ma? Dia sudah mengcoreng nama baik keluarga kita. Liyan sudah membuat Papa menjadi sangat malu." Jawab Tuan Boni yang masih emosi.
"Tapi, Pa."
"Tidak ada tapi tapian. Setelah proses perceraian, Liyan akan Papa buang jauh dari kota ini. Papa juga akan mengasingkan dia dari kota, biar tidak membuat Papa malu." Ucap Tuan Boni dengan tegas.
"Pa. Papa serius?" tanya sang istri benar-benar sangat terkejut mendengarnya.
"Ya. Keputusan Papa sudah bulat. Bahwa Liyan akan Papa kirim ke kampung halaman mu dulu, biar dia jera dan tidak mengulangi kesalahan yang kedua kalinya." Jawab Tuan Boni dan langsung bergegas kembali ke kamar untuk istirahat.
"Pa. Kasihan Liyan, Pa. Liyan mana mengerti tinggal di kampung? Mama gak setuju. Kenapa gak Papa kirim saja ke luar negri, kan bisa, Pa."
Tuan Boni langsung memutarbalikkan badan, dan menatap serius pada istrinya.
"Terlalu manja jika Papa mengirimnya ke luar negri. Bukannya jera, dia akan menjadi-jadi. Pokoknya keputusan Papa tidak bisa di rubah lagi, Liyan akan tetap Papa kirimkan ke kampung halaman mu. Titik." Ucap Tuan Boni yang tidak lagi bisa untuk ditawar.
Ibunya Liyan yang tidak bisa membujuk atau memberi saran, akhirnya pasrah dengan keputusan suaminya yang diambil. Kasihan, sedih, tapi mau bagaimana lagi, sama sekali tidak mempunyai jalan keluar.
Sedangkan Liyan sendiri tengah menangis karena rasa bersalahnya ketika dirinya harus menerima kenyataan pahit. Begitu juga dengan Vando, dirinya merasa seperti lelaki yang tiada guna, dan terus menyalahkan dirinya sendiri.
Setelah sekian lama mencari sosok ibunya, dan sudah dipertemukan, kini justru harus mendapat masalah besar.
namanya juga novel ya...
suami selingkuh dengan saudaramu, suami menghamili saudaramu, dan akhir kalian pisah, dan suami hidup dengan dikejar banyak ma wanita dia hidup normal saja setelah berpisah dan akhir dia menikah dengan saudaramu sedangkan author terpuruk, tapi malah author dibuat bucin yang terus berharap pada mantan suami, author dibuat mengejar dan berjuang untuk mantan suami, apakah adil jika author diperlakukan seperti itu, renungkan lah, karena jawaban author menentukan karakter author
jika author tidak masalah jika diperlakukan seperti itu, tidak masalah berati author sportif
tapi kalau author merasa tidak adil, maka itu lah yang author lakukan pada devan
kalau novel pemeran utama pria, dan pemeran wanita korban ini yang terjadi
*pemeran utama pria menyesal dan dia yang berjuang dapat kesempatan
*kalian hadirkan lelaki lain pahlawan bagi pemeran utama wanita
sekarang ini novelnya pemran utama wanita melakukan kesalahan pada pemran utama pria tapi apa yang terjadi
*tetap saja pemeran utama pria yang dibuat salah dan menyesal dan berjuang
*tetap saja dihadirkan lelaki lain jadi pahlawan, kalian tidak berani hadirkan wanita lain yang jadi pahlawan bagi devan
author coba kau bayang diposisi devan adil tidak author untuk dia
*calon istrinya selingkuh dan sesudah menikah dia tau istri hamil anak saudaranya sendiri tapi kalian buat dia seolah2 salah dan menyesal, dia yang author buat berjuang dan mengejar cinta,
adil tidak kalau author diposisi devan????
lihat dari segala sudut pandang jangan hanya melihat dari sudut pemeran utama wanita karena itu sangat membuat kalian jadi egois
sedihnya 😢