"Jika tolak ukurmu mengenai cinta adalah pengorbanan seorang yang rela mati demi cinta. Maka itu bukan cinta, tapi obsesi, nafsu."
Prince mengucapkan kata itu dengan tegas. Dia ingin Isma membuka pikirannya. Dia ingin Isma lebih rasional dalam mengartikan cinta.
"Kamu sendiri yang bilang, kamu sangat mencintaiku. Kamu bahkan mengatakan akan menikahiku." Ucap Isma terisak. Tangisnya masih belum usai.
"Aku belum siap pindah keyakinan, Isma. Aku masih sangat percaya pada Tuhanku, sama halnya dengan kamu yang sangat yakin akan Allah Tuhan-mu."
"Kalau begitu, aku saja yang..." Ucapan Isma terhenti. Prince menghempaskan HP-nya tepat di hadapan Isma, bahkan hampir mengenai Isma.
"Pergilah, menikahlah dengan pria sholeh pilihan Orangtua mu. Aku tidak mau menikahi perempuan yang mudah goyah dengan keyakinannya." Bentak Prince dengan amarah yang menggebu namun masih ditahannya. Dan tanpa memperdulikan Tangis Isma, Prince pun pergi meninggalkan Isma yang masih menangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersenyum
Kini Isma berdiri di depan ruangan Bos, amplop putih berisi surat pengunduran diri digenggamnya erat. Sesekali Isma menghantukkan pelan kepalanya ke tembok. Dia tidak berani masuk, terlebih banyak orang di dalam sana. Memalukan jika harus memberikan surat pengunduran diri dihadapan mereka.
Prince yang melihat sekilas gerak-gerik Isma dari balik dinding kaca pun, melangkah mendekat untuk membuka pintu ruangannya. Begitu pintu di buka, Isma yang tadinya mondar-mandir, kini terdiam mematung.
"Masuk." Pinta Prince dengan nada suaranya yang cool.
Isma pun melangkah masuk, dan saat melihat Bimo, Isma tersenyum padanya. Begitu juga sebaliknya. Keduanya memang dekat, bahkan mereka di gosipkan memiliki hubungan lebih dari sekedar rekan kerja.
"Mulai hari ini, kamu menjadi bagian dari tim pengembangan." Ucap Prince yang membuat seisi ruangan terbungkam dan bertanya-tanya.
Mereka saling bertatapan untuk menemukan jawaban dari pertanyaan yang sepertinya sama dalam pikiran mereka. Hanya Isma yang tertunduk lesu, tangannya menggenggam amplop putih itu semakin erat.
"Karena kamu banyak membantuk mereka, maka saya percayakan kamu untuk membantu mereka dan bertanggung jawab pada projek ini sampai selesai."
"Hhaa??" Isma terperangah mendengar ucapan Bos, kemudian mulai mencoba mencerna makna tersirat dari ucapan barusan.
"Tapi ingat, kamu tidak boleh lalai mengerjakan semua perkerjaan utama dan juga jangan sampai salah dalam mengatur my schedule. Paham?" Tegasnya.
"Maksudnya?" Tanya Isma yang masih kebingungan. Apakah dia diturunkan jabatan menjadi bagian dari tim pengembangan, ataukah malah di beri hukuman lagi.
"Ini bukan hukuman. Tapi kehormatan buat kamu." Ucap Prince yang seakan bisa membaca isi pikiran Isma.
"Ba…bba…baik, Bos."
"Ok, kalian boleh pergi," Meminta Bimo dan timnya untuk meninggalkan ruangan. "Kecuali Isma." Sambungnya.
Isma yang tadinya sudah mulai melangkah terpaksa menghentikan langkahnya. Bimo tersenyum kearahnya sambil mengucapkan kata penyemangat untuk Isma.
Isma tersenyum senang. Dia pun sedikit melambaikan tangannya sebentar kearah Bimo.
"Come here!" Perintah Prince yang mengubah senyum diwajah Isma menjadi datar kembali.
Isma berdiri di depan Prince. Dan Prince duduk sambil menatap kearah Isma.
"Ada yang ingin kamu sampaikan?" Tanya Prince dan matanya menatap amplop putih dalam genggaman tangan Isma.
"Aaa… ini surat pengunduran diri saya, Bos." Meletakkan di atas meja tepat di depan Prince.
"Good, ternyata kamu benar-benar bertanggung jawab dengan apa yang kamu ucapkan." Meraih surat tersebut, lalu memasukkannya kedalam laci kecil meja.
"Surat ini saya simpan. Jika saatnya kamu benar-benar sudah tidak mau lagi bekerja di sini, kamu bisa langsung angkat kaki dari perusahaan." Tegasnya.
"Baik, Bos." Jawab Isma tegas tanpa ragu dan cemas.
Sejenak suasana hening. 'Dia benar-benar tidak kenal takut!', Ucap Prince dalam hati.
"Ada lagi yang mau Bos sampaikan?" Tanya Isma memecah kesunyian.
"No. Get out."
Isma pun langsung meninggalkan ruagan Prince. Begitu pintu ruangan tertutup, "Yes, yes, yes," ucapnya senang karena tidak benar-benar di pecat. "Aaggrrhh…" Teriaknya kemudian.
Prince kaget mendengar teriakan itu, hingga membuatnya mengintip dari balik dinding kaca.
"Ini bukan hukuman, tapi kehormatan. Kehormatan untuk lembur kali…" Rutuknya mengulangi ucapan Prince.
Dari dalam, Prince hanya menggeleng dan tersenyum mendengar gerutuk Isma.
"Isma… Isma, bukannya meminta maaf atau berterimakasih, eh malah kembali memberi cacian padaku." Ucap Prince sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Bibirnya masih tersenyum, wajah Prince semakin mempesona saat tersenyum. Andai semua staf melihat senyum ini, mereka akan terpesona pada Bos Arogant itu. Bahkan saat tak tersenyumpun mereka sudah tergila-gila pada ketampanannya.
Bersambung…
Alhamdulillah kami skrg sdh menikah dan dikaruniai anak2 yg lucu.