NovelToon NovelToon
A Thousand Flowers

A Thousand Flowers

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / TimeTravel / Chicklit / Tamat
Popularitas:179.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lathifah Nur

Terlahir dari keluarga sederhana tanpa ayah, Izzah tumbuh menjadi gadis tomboy, cerdas, mandiri dan multitalenta.

Sayangnya, karena trauma masa lalu, ia tak percaya cinta meski hidup dikelilingi banyak pria kaya yang diam-diam jatuh hati padanya.

Suatu hari, setelah tak sengaja ia memperoleh kemampuan khusus dan terdampar di negeri asing, ia bertemu dengan ayah kandungnya yang terkurung selama puluhan tahun. Ia pun bertekad untuk membebaskannya.

Namun, ketika ia berhasil keluar dari tempat itu dan bekerja sebagai dokter magang di Korea Selatan, ia malah dijodohkan dengan lelaki yang tak diketahui identitasnya.

Bagaimanakah kehidupan rumah tangganya setelah menikah?
Akankah pandangannya tentang cinta berubah?
Dan bagaimana pula dengan usahanya untuk menyatukan ayah dan ibunya?

Ikuti kisahnya sampai tamat ya ...
Jangan lupa dukung penulis dengan vote dan klik iklan ya 😊

Selamat membaca!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lathifah Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4. Persinggahan 2

Riris tampak sangat kesal. Akhirnya ia menyerah dan meletakkan potato chips itu di atas ranselnya setelah berulang kali gagal membukanya. Mungkin tangannya licin karena basah. Johny berinisiatif membantu Riris.

Setelah menerima potato chips yang terbuka dan mengucapkan terima kasih pada Johny, Riris mencibir ke arah Yudha. Yudha tak peduli. Ia membuka cemilan yang dibawanya dan bermaksud memberikannya pada Izzah yang berdiri membelakanginya.

Namun, niat itu diurungkannya begitu melihat Ihsan telah berdiri di hadapan Izzah dan menyerahkan sebotol air mineral dengan tutup yang sudah terbuka. Diam-diam Yudha mundur dan menghempaskan pantatnya di atas sebuah batu tidak jauh dari Izzah.

Setelah melepas dahaga, Izzah mengeluarkan tisu dari kantong jaketnya. Mengambil beberapa lembar lalu mencelupkannya ke dalam sungai dan sedikit memerasnya. Pelan-pelan ia mulai membersihkan sepatu tanpa melepasnya.

“Benar-benar kotor. Tapi paling tidak, ini bisa membuatnya sedikit lebih bersih,” pikir Izzah.

“Yaelah Zah, percuma saja kali dibersihkan. Entar juga kotor lagi,” goda Yudha sambil terus mengunyah cemilannya.

Nada suaranya terdengar agak sumbang. Saking sibuknya membersihkan sepatu, Izzah tidak menyadari keberadaan Yudha.

“Percuma saja kamu makan, Yud, entar juga lapar lagi,” jawab Izzah melihat sekilas ke arah Yudha, lalu kembali melanjutkan kegiatannya.

Serangan balik. Skakmat. Yudha terbatuk mendengar ucapan Izzah. Untung tidak tersedak. Kaki kirinya langsung nyemplung ke sungai.

“Ya … basah juga deh!” keluh Yudha dengan nada kecewa.

Dari tadi ia menghindari menginjak air dan memilih duduk di atas sebuah batu besar dekat Izzah sambil menaikkan kedua kakinya.

“Syukurin!” ejek Riris kesal melihat Yudha sibuk memeras kaki celananya yang basah.

Selesai membersihkan sepatu, Izzah mengamati sekeliling sungai, mencari posisi duduk yang nyaman.

Ia tersenyum tipis begitu matanya menemukan dua buah batu yang saling berdekatan dengan ukuran yang berbeda, menghadap ke sungai. Tanpa buang waktu, Izzah duduk di atas batu yang lebih besar dan menjadikan batu dengan ukuran yang lebih kecil sebagai tempat tumpuan kaki.

Sesaat Izzah hanya duduk diam. Matanya berkelana menyusuri aliran dan tepian sungai. Di bagian hulu tampak undakan batu membentang di sepanjang sungai. Aliran sungai yang mengalir melewatinya membentuk sebuah tirai air terjun yang sangat Indah.

Tepat di sebelah utara undakan itu, beberapa kuntum bunga kamboja sedang mekar. Warna pink-nya terlihat mencolok di tengah hijaunya tumbuhan lain.

"What? Kamboja?" batin Izzah.

"Itu benaran kamboja? Bagaimana bisa dia tumbuh di situ? Bukannya tuh bunga biasa tumbuh di pemakaman ya?" tanya Izzah pada diri sendiri, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Ah, mungkin cuma mirip." Izzah mendebat pikirannya sendiri.

Tepat di bawah aliran air terjun buatan itu, sekelompok anak lelaki usia sekolah dasar terlihat asyik mandi-mandi. Kedalaman kolam kecil di sepanjang undakan itu hampir mencapai dada mereka. Izzah tidak tahu sejak kapan gerombolan anak lelaki itu menemani mereka.

Tidak jauh dari anak-anak itu, Riris nampak sibuk ber-selfie ria. Cekrak-cekrek ke sana kemari berganti posisi dan pose. Terlihat konyol, menurut Izzah. Tanpa sadar Izzah pun tersenyum. Puas klik sana klik sini dan tebar pesona, Riris memberikan sisa potato chips-nya kepada anak-anak itu, lalu duduk berselonjor kaki di samping Johny.

Johny sama sekali tak menggubris Riris, seakan terhipnotis oleh lagu-lagu yang mengaliri gendang telinganya melalui headset. Kepalanya ikut bergoyang seirama lagu, sementara tangannya tetap aktif memasukkan cemilan ke dalam mulut.

Izzah menyingkap lengan bajunya untuk melihat jam. Lima belas menit sudah mereka rehat di sana. Itu sudah cukup untuk mengisi kembali energi yang tadi terkuras.

Izzah segera berdiri, lalu menggerakkan pinggangnya ke kiri dan ke kanan layaknya orang melakukan pemanasan. Ihsan yang memperhatikan gerak-gerik Izzah menghentikan obrolannya dengan Fadhil dan Yudha. Ikut berdiri dan segera menyandang kembali ranselnya.

“Saatnya melanjutkan perjalanan, Guys!” teriaknya mengambil alih komando dari Yudha.

“Yaah … sebentar lagi dong. Masih betah nih,” rengek Riris.

Yudha menghela napas dan geleng-geleng kepala. "Ini anak benar-benar sumber masalah," gumamnya.

“Memangnya tadi kamu rencananya mau kemana sih, Ris?” tanya Izzah datar.

Ihsan dan Yudha senyum dikulum mendengar pertanyaan Izzah. Mereka sudah bisa menebak kelanjutannya.

“Air terjun,” jawab Riris polos. Sepertinya ia tidak mengerti maksud sesungguhnya dari pertanyaan Izzah.

“Tetap fokus pada tujuan, oke?” Izzah memberi peringatan.

Ia segera beranjak meninggalkan tepian sungai diikuti yang lain. Riris mencekal tangan Izzah begitu Izzah akan melewatinya.

“Sebentaaar saja ....  ya, ya, ya …,” bujuk Riris, sengaja memasang tampang memelas.

Izzah menghela napas panjang dan menghempaskannya kuat-kuat sebelum berujar.

“Riris … persinggahan memang membuat nyaman. Ketika merasa lelah dalam mencapai tujuan, maka rehatlah. Tapi cukup sejenak, sekedar melepas kelelahan itu dan kembali mengumpulkan tenaga. Kalau kamu terlena dengan kenyamanan itu dan menghabiskan waktu di tempat persinggahanmu, maka kamu tidak akan pernah mencapai tujuanmu. Paham?” petuah Izzah dengan nada tegas dan bergegas pergi.

“Lagian dari awal kan memang enggak ada yang ngajak kamu, Ris," lanjut Izzah, tetapi cuma dalam hati.

“Hahahahaha .…”

Keempat cowok itu kompak tertawa melihat Riris berusaha menyandang kembali ranselnya dengan wajah cemberut. Bibir monyongnya terlihat lucu.

Daripada ditinggal sendiri, mending manut saja sama ucapan Izzah. Izzah mah memang begitu orangnya. Kalau sudah bilang A, tak akan berubah B dan tak ada yang bisa memengaruhinya. Bravo, Izzah! The Strict Commander!

***

Seiring mentari yang makin meninggi. Rombongan Izzah pun kian dekat ke tujuan. Di depan mereka terbentang sebuah aliran sungai dangkal memotong  jalan setapak yang dilalui. Tak ada jembatan penghubung antara kedua tepi sungai. Hanya barisan batu-batu tak beraturan.

Jejak sepatu terpatri jelas di atas bebatuan itu. Pertanda bahwa Yudha, Johny dan Riris telah melewatinya. Fadhil melepas sepatu dan menggulung celananya hingga lutut, lalu berjalan mendahului Izzah. Siap menuntunnya melewati bebatuan itu.

“Kak, gimana kalau kita mengikuti aliran sungai ini saja. Lebih cepat loh sampainya,” saran Izzah begitu Fadhil berdiri di sampingnya.

“Ah, yang benar? Tahu dari mana?” tanya Fadhil penuh selidik.

“Ya tahulah, Kak. Kan Izzah sudah pernah ke sini waktu SMP. Nah, pas pulang dari air terjun, Izzah ngikutin aliran sungai saja. Ternyata lebih hemat waktu. Terus jalannya juga nggak terlalu menanjak,” jelas Izzah.

Fadhil cuma manggut-manggut, serius mendengar penjelasan Izzah. Ini nih yang paling Izzah suka dari kakaknya, ia selalu mendengarkan setiap omongan Izzah dengan penuh perhatian. Berasa dihargai banget.

“Yakin?” lanjut Fadhil mengonfirmasi.

“Haqqul yakin,” balas Izzah mantap sambil menganggukkan kepala.

“Dan satu hal lagi, pemandangannya juga bagus loh,” bisik Izzah di telinga Fadhil seraya tangan kanannya menggandeng lengan kiri Fadhil.

Fadhil hanya membelalakkan matanya menatap Izzah, tanda penasaran dan ingin membuktikan kebenaran ucapan Izzah. Sementara di belakang mereka, Ihsan hanya berdiri mematung menyaksikan semua itu. Nada bicara Izzah sungguh berbeda.

***

1
Knight
Ceritanya menarik. Alurnya yang tak bisa ditebak selalu memberikan banyak kejutan. Saya tidak pernah bosan mengulang membaca cerita ini. Karya pertama May Ersa yang telah berganti nama pena menjadi Lathifah Nur. Coba karya lainnya jg tayang di sini, bukan di sebelah 😁
Mus Limah
sudah ku baca berkali2 tp nda ada bosennya,ku tunggu karya selanjutnya thor
Knight: Hehe. Sama. Aku jg suka sama karya author ini. Tp authornya udah gak nulis di sini lagi. Pindah ke sebelah dgn nama pena yg beda. Jd Lathifah Nur authornya setelah kabur dr sini
total 1 replies
Dessy Laela
suka dgn ceritanya👍, semangat thor u cerita selanjutnya💪
May Ersa: Makasih, Kak Dessy 🥰 Yuk baca cerita May lainnya di aplikasi N0v3lm3 atau N0v3laku. Cari aja nama pena Lathifah Nur. Bisa jg follow IG @lathifahnur117 dan cek di link bio. Tinggal pilih mau baca cerita yg mn dl. Sdh ada 2 cerita lain yg tamat lho 😊
total 1 replies
Susi Ana
jempol hadir, mampir yuk
Susi Ana
jempol hadir, mampir ya
Susi Ana
jempol hadir, mampir yuk
Susi Ana
jempol hadir, mampir ya
~Nessa
Hadir
jangan lupa selalu mampir di karyaku ya!
makasih.
May Ersa: Mksh, Kak Nessa. Cerita Kk apa?
total 1 replies
Susi Ana
jempol hadir, mampir ya
May Ersa: Mksh, Kak Susi 🥰
total 1 replies
Imah Muslimah
kok baca d sini aq mlh bingung ya thor..nda kayak d noveltoon yak..padahal sama dr mangatoon juga..tp setiap kluar dr bacaan trus masuk lagi..ada aja episode yg tau2 brubah
May Ersa: Mksh, Kk. Kalo Kk punya aplikasi N0v3lM3 atau N0v3l4ku, silakan cari nama pena Lathifah Nur, Kak. udah ada bukuku yg udah tamat jg di sana. Judulnya Lelaki Penakluk Nona Muda. Yg ongoing jg ada 😊. Ditunggu kehadirannya ya, Kak 😊💞
total 3 replies
Ahmad Nur
Mantap jiwa
May Ersa: Terima Kasih, Kk. Klo Kk jg baca di apk sebelah (N*velMe), monggo mampir jg baca novel terbaruku "LELAKI PENAKLUK NONA MUDA" 😊
total 1 replies
May Ersa
Hai semua...
Maaf ya. udah lama gak up cerita di sini. Bukan berhenti nulis sih, tapi aku hijrah ke lapak sebelah (N*velMe) dengan nama pena yg berbeda (Lathifah Nur).

Udah ada cerita baru di sana, judulnya LELAKI PENAKLUK NONA MUDA. Kalo sobat readers jg punya aplikasinya, kutunggu komen sobat readers di cerita terbaruku 😊
Adining Wuri Kartika
Hai kak,.mampir juga yuk keceritaku.kisah Alia
Blue
syuukkaaa thoor
May Ersa: Makasih, Kk. Klo kk jg suka baca di apk N*velMe, boleh jg baca karya terbaruku "LELAKI PENAKLUK NONA MUDA" dgn nama pena Lathifah Nur 😊🙏
total 1 replies
Yunita_Ratsa
Hai baca *DUA RANJANG* yuuuk

Ceritanya siap mengaduk-aduk emosimu

❤❤❤❤❤❤❤
Harlindah Mdf
keren.. kyk negri dongeng.. sy syukaa
May Ersa: Makasih, Kk. Klo Kk jg punya Apk Nov*lMe boleh jg baca novel terbaruku "LELAKI PENAKLUK NONA MUDA" dgn nama pena Lathifah Nur 😊🙏
total 1 replies
Ema Lubis
wauwww
May Ersa: Makasih, Kak 😘
total 1 replies
Ema Lubis
nnti aku mampir thor
May Ersa: Sip! Mksh, Kak. Ditunggu loh... 😊
total 1 replies
TiansePrln🌷
Keren😻😻 kalimat2 nya suka sekali. Terus semangat berkarya 💌💌
May Ersa: Mksh, Kak. Senang Kak Tian merasa terhibur dgn ceritaku. Baca jg novelku yg lain ya, Kak. Boleh jg intip apk sebelah, N*velme, dan nikmati cerita terbaruku "LELAKI PENAKLUK NONA MUDA" (dgn nama pena yg berbeda) 😊
total 1 replies
Sugiatini
kereennn...
May Ersa: Makasih, Kak. Baca jg novelku lainny ya... klo kk punya apk N*velMe, bisa baca karya terbaruku berjudul "Lelaki Penakluk Nona Muda" (dgn nama pena yg berbeda) 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!