Cinta pada pandangan pertama? Sepertinya sudah biasa ya. Tapi bagaimana kalau sampe deja vu setelahnya? 😯😊
SINOPSIS
Nindy dan Hasan dipertemukan di sebuah event Paskibra. Dari pertemuan pertama mereka, Hasan sangat terkesima pada Nindy. Demikian juga dengan Nindy, dia penasaran siapa Hasan, yang bisa memandangnya sedemikian intensnya.
Dari kejadian itu juga yang membuat Nindy sampai mengalami mimpi selama 3 minggu berturut-turut secara berkelanjutan, yang membuat dia insomnia dan sempat mengalami gangguan belajar. Semua mimpinya tentang Hasan, lengkap seperti alur cerita, dan seperti kejadian nyata.
Ketika mereka bertemu kembali, Nindy seperti mengalami deja vu ketika bersama dengan Hasan. Dan ketika diingat-ingat, ternyata kejadian itu semua ada di dalam mimpinya.
Penasaran gak kira-kira bagaimana jalan cerita mereka? Apakah hubungan mereka berdua akan berakhir bahagia? Ataukah hanya sekadar bertemu, menjadi teman, dan berakhir disitu saja?
Simak terus kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intertwine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pandangan Itu Kembali Ada
“Selamat yaa... SMA Karunia bagus banget penampilannya. Sumpah!!” Kata salah satu temanku dari SMAN 2 Kota. SMA yang menyelenggarakan acara ini.
“Iya, makasih banyak ya Evi.” Kataku sesaat setelah naik kembali ke tribun dan disambut oleh dia di tangga.
“Gimana Mas penampilan kami?” Tanya kami ke Mas Faris, saat kami sudah duduk kembali di tempat duduk kami di tribun peserta nomer 3.
“Lumayan bagus. Sekarang jangan terlalu berbesar hati dulu. Peserta lain masih banyak yang mungkin lebih baik dari kita. Sebaiknya kita banyak berdoa saja.”
“Oke Mas.”
Dan kami pun segera kembali ke tempat duduk kami sendiri sambil melihat penampilan peserta lain.
Sesaat kemudian pasukan SMA Prapanca menempati tribunnya.
Aku perhatikan sesaat si Hasan. Dan dia juga memperhatikanku. Aku beranikan diri untuk bertahan lama memandangnya. Mungkin dengan itu aku bisa mencari arti dari pandangan misteriusnya tersebut.
Tapi apa yang aku temukan dari pandangan tersebut??
Hanya sebuah senyuman.
Dan aku makin penasaran ada apa sebenarnya dengan dia? Kesalahan apa yang aku perbuat sehingga dia tak mau sedikitpun meninggalkan pandangannya dariku? Aku harus mencari tahu hal ini…
Waktu terus berjalan. Jam pun sudah menunjukkan pukul 11.30. Ternyata sudah siang. Perut kami sudah keroncongan.
Adi, teman kami yang menjadi Official Team pun segera ke sekretariat untuk mengambil konsumsi.
“Eh, ini dia makanannya. Akhirnya datang juga...” Seru si Hasan.
Agaknya OT dari SMA-nya sudah mengambil jatah konsumsi. Dan dia segera membagikan konsumsi itu ke teman-temannya.
Selang beberapa lama, setelah banyak sekali hal-hal ribet yang tak perlu terjadi, si Hasan akhirnya duduk tepat di sebelahku.
Aku pun sebenarnya tidak tahu. Kalau bukan karena temannya yang berbicara seakan ke arahku dan memang ternyata tepat di sebelahku si suara merdu itu berkata.
“Nggak usah cemburu, Sayang… Aku hanya sebatas duduk kok. Jangan khawatir!" Katanya kepada salah seorang teman ceweknya.
Dan serentak teman-temannya tertawa terpingkal-pingkal mendengarkan Hasan berbicara seperti itu. Padahal tak ada yang lucu menurutku.
“Eh, hati-hati ya. Tanya dulu dia udah punya pacar apa belum. Jangan tiba-tiba PDKT aja!!” Kata salah satu teman cowoknya yang ada di sebelahnya.
“Tenang aja, aku yakin dia belum punya kok.”
Aku tak tahan mendengar pembicaraan mereka. Akhirnya aku pun menoleh.
Dan memang benar, mereka juga seketika memandangku ketika aku juga menoleh.
Aku tak tahan melihat tawa mereka yang seakan mengejekku. Dan tanpa ba-bi-bu, aku pun pindah tempat duduk.
Hampir ashar ketika pengumuman itu segera dibacakan. Aku turun dengan 4 orang temanku untuk upacara penutupan.
Dalam upacara yang tak lebih dari 10 menit tersebut, kakiku sudah kaku. Entah karena memang sudah capek atau karena tekanan batin.
Kami menunggu hasil perjuangan kami yang akan diumumkan pada akhir upacara ini. Tapi kami sudah tidak sabar rasanya…
“Sebentar lagi akan kami bacakan pemenang-pemenang dari setiap kategori.” Kata Kepala Sekolah SMAN 2 yang menjadi pembina upacara penutupan ini.
“Best Mading 3D Photograph diraih oleh… SMK Negeri 3!!!”
Serentak seluruh GOR bergemuruh. Aku sudah kecil harapan akan madingnya. Hasil kerja keras teman-temanku seakan tak bermakna. Tapi... Sepertinya juri berkata lain.
“Mading Terfavorit, diraih oleh… SMA Negeri 1 Karunia!!!”
Sekali lagi satu GOR bergemuruh. Aku tak menyangka jika ternyata madingnya juga dapat salah satu juara. Aku jingkrak-jingkrak tak karuan. Teman-teman di tribun juga spontan melakukan hal yang sama.
Tapi karena aku ingat posisiku tadi istirahat di tempat, jadi aku pun segera memperbaikinya lagi. Dan hanya mesam-mesem tak jelas.
Walaupun itu hasil kerja keras teman-teman bagian mading di luar tribun sana, tapi aku juga bangga pada mereka. Paling tidak, nama SMAN Karunia sempat berjaya disini.
“Selanjutnya adalah pemenang-pemenang Best. Diantaranya adalah Best Formasi, Best PBB, dan Best Danton."
"Yang pertama adalah Best Formasi. Jatuh kepada… SMA Negeri 2 Kota M!!”
Satu GOR kembali bergemuruh. Satu harapan hilang untuk juara Best.
“Best PBB, diraih oleh… SMA Negeri 5 Kota K!!”
Satu harapan kembali hilang. Sorak sorai dari suporter maupun pemenang sudah tak terbendung lagi.
Aku mendadak berkeringat dingin memikirkan apa jadinya jika semua ini gagal. Apa jadinya jika memang usaha kerasku selama ini, latihan di tengah terik matahari, guyuran hujan, ataupun lelehan air mata, serta nilai-nilai ulangan yang merosot tajam dan banyak waktu yang tersita, harus jatuh berkeping-keping disini. Di pusat lapangan GOR ini.
Dan apa pula kata orang-orang yang sudah menitipkan amanat padaku??
“Best Danton diraih oleh… SMA Negeri 1 Prapanca!!!”
“Hasan…” Kataku dalam hati.
Dan dia pun segera turun ke bawah menuju perwakilan-perwakilan dari setiap pemenang di depan tempat juri utama.
Aku sudah hilang harapan meraih juara Best Danton. Harapan untuk pulang ke rumah membawa piala sendiri pupus sudah karena harapan itu sudah dibawa oleh Hasan. Seseorang yang kini tengah tersenyum bangga pada dirinya sendiri.
Inikah yang dimaksud oleh dia sebagai suatu cara untuk mengalahkanku dan teman-temanku? Aku tak terima jika harus seperti ini!!
Tapi entahlah, aku juga tak punya alasan yang jelas kenapa aku tak terima.
Padahal menurut alam bawah sadarku, dia sehat melawanku, melawanku sendiri sebagai danton. Karena memang dia lebih unggul dalam segala hal untuk jadi danton.
Tapi sekali lagi… Oohh… Aku juga ingin membawa piala membanggakan itu disaat aku sendiri sudah kecil harapan pletonku akan memperoleh juara umum.
Bagaimana jadinya dengan orang-orang yang harusnya aku dan teman-temanku banggakan?
Hasan… Semua ini gara-gara dia!! Darahku bergejolak.
“Juara 3 Gelegarr 2011 diraih oleh... SMA Negeri 1 Kota J!!”
Gegap gempita memenuhi seluruh GOR. Aku sudah tak merasakan darahku lagi. Semuanya dipenuhi oleh keringat dingin.
“Juara 2 Gelegarr 2011 diraih oleh... SMA Negeri 1 Kota B.”
Tinggal 1 kesempatan lagi. Dan harapan itu tak memenuhi seluruh hatiku. Karena kesempatan itu masih banyak kemungkinannya diraih oleh SMA-SMK lain yang lebih mempunyai reputasi.
“Dan… Inilah… Juara 1 Gelegarr 2011… Diraih oleh…”
Lama.
Atau aku sendiri yang merasa lama.
Entahlah…
Pandangan di depanku seakan melambat. Keringat-keringat sebutir jagung meleleh dari keningku melewati bagian dalam jilbabku.
Padahal aku sendiri tahu kalau tak ada lagi kesempatan pletonku memenangkan semua ini.
Masih ada sekolah-sekolah lain yang lebih layak menang, masih banyak SMA/SMK lain yang layak disebut kuda hitam. Tapi… Suara itu berkata…
“SMA NEGERI 1 KARUNIA!!!”
Dan dunia seakan hilang.
Semuanya dipenuhi oleh jeritan bangga teman-temanku.
Aku sendiri baru sadar jika aku menang ketika temanku Ana yang kali itu barisannya tepat di belakangku, memelukku dan mengguncangku.
Sontak aku sadar jika aku menang, dan aku baru bisa menangis. Lelehan air mata yang sampai tiba di rumah pun masih belum mau berhenti.
“Kamu disuruh mewakili Nin untuk penerimaan pialanya.” Kata Ana masih dengan sesenggukan.
Maka aku segera ke depan tempat juri utama bersama dengan juara-juara lain.
Ketika aku menerima pialanya, dengan bangga aku mengangkatnya dan teman-temanku meneriakkan yel-yel andalan kami.
Darahku berdesir. Kulihat senyum bangga dan tak percaya dari orang-orang yang menggugah semangatku.
Mulai dari kakak-kakak seniorku yang berada di tribun penonton, Mas Faris pelatihku, Bang Jaya pendiri paskibra sekolahku, dan teman-teman yang tidak ikut turun ke lapangan.
Kubuktikan pada mereka semua bahwa kami bisa. Terutama aku bisa mengemban amanat dari Bang Jaya, dan kepada satu Jawa Timur, bahwa paskibra SMAN 1 Karunia adalah yang terbaik.