NovelToon NovelToon
Wening

Wening

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Supernatural / Roh Supernatural / Mata Batin / Tamat
Popularitas:202.7k
Nilai: 5
Nama Author: Komalasari

Wening adalah gadis pendiam dan tertutup. Dia berprofesi sebagai perawat home care. Wening harus merawat seorang gadis belia bernama Raline, yang memiliki masalah kesehatan sejak kecil. Kesamaan karakter keduanya, membuat mereka menjadi dekat dan akrab. Hanya kepada Wening lah Raline bercerita, bahwa dirinya kerap mengalami hal-hal ganjil di luar nalar. Termasuk, saat dia didatangi bayangan hitam yang mulai meresahkan, bahkan mengancam nyawanya. Tak ingin Raline terluka, Wening berusaha melindungi. Dari sana, dia menyadari bahwa ada kekuatan besar yang tersembunyi dalam dirinya, untuk menguak segala rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tarian Pembawa Obor

"Ya, aku tahu kau Paundra. Maksudku ...." Wening menatap lekat dan terus memperhatikan pria yang masih terlihat tenang itu.

Paundra menghela napas pelan seraya memasukan tangan kanan ke dalam saku celana panjangnya. "Sudah terlalu malam. Sebaiknya kau segera tidur. Jangan khawatir, Wening. Esok semuanya akan baik-baik saja. Tak ada seorang pun yang akan menyadari kejadian malam ini," terangnya.

"Bagaimana kau bisa begitu yakin?" Wening kembali mengernyitkan kening. "Dengar! Jika mereka tak pernah menyadari semua yang Raline alami, maka bagaimana dengan nasib gadis itu nantinya?" Wening terlihat begitu khawatir.

Sementara Paundra hanya tersenyum kecil melihat kepanikan yang terpancar dari wajah Wening. Dia seperti sengaja bersikap seperti itu. Hal tersebut membuat Wening tampak jauh lebih hidup, jika dibandingkan dengan saat pertama kali Paundra bertemu dengannya. "Salurkanlah emosi dalam dirimu, Wening. Dengan begitu, kekuatan yang selama ini tersembunyi bisa segera kau sadari. Belajarlah untuk mengendalikannya dengan baik," saran Paundra membuat Wening merasa semakin tak mengerti.

"Apa maksudmu? Kekuatan apa? Memangnya seberapa banyak kau mengetahui hal yang bahkan tidak kusadari sama sekali?" desak Wening.

Paundra tertawa renyah. Sikap dan mimik wajah yang dia tunjukan masih sama seperti sebelumnya. Namun, kini pria itu melangkah dan semakin mendekat kepada Wening, hingga pria jangkung tersebut berada tepat di hadapan gadis berkuncir kuda tadi. Tanpa perasaan canggung sama sekali, Paundra menempelkan ujung telunjuk di antara kedua alis Wening. Dia pun memejamkan matanya perlahan.

Makin lama, gadis itu semakin terpejam dengan dalam. Tiba-tiba, dia berada pada sebuah jalanan sepi di antara lautan pepohonan rindang. Wening mengedarkan pandangan pada sisi kiri dan kanan. Gadis itu terus melangkah dan menembus pekatnya malam seorang diri.

Samar-samar dari kejauhan Wening melihat cahaya terang yang cukup banyak dan memanjang ke belakang, layaknya seekor ular dari api. Wening merasa begitu penasaran sedang berada di mana dia saat itu. Gadis cantik tersebut mempercepat langkah, hingga jaraknya pada cahaya tersebut semakin mendekat. Namun, seketika langkahnya terhenti. Wening terpaku ketika dia melihat segerombolan orang yang membawa obor di tangan mereka.

Beberapa dari orang itu yang merupakan perempuan, mengenakan kemben dengan selendang di pinggangnya. Mereka berjalan sambil menggerakan tubuh seperti melakukan sebuah tarian, mengikuti alunan gamelan dengan ritme yang cukup lambat. Sementara, pria-pria yang membawa obor semuanya bertelanjang dada. Namun, satu hal yang membuat Wening merasa aneh dengan bulu kuduk yang mulai meremang, ialah sorot mata dan ekspresi mereka semua yang terlihat begitu dingin dan seakan tak bernyawa.

Perlahan gadis itu bergerak mundur ketika rombongan pembawa obor tersebut semakin mendekat. Akan tetapi, tak ada waktu baginya untuk lari ataupun bersembunyi, meskipun dia terus bergerak mundur. Semakin lama, suara gamelan yang mengiringi tarian para wanita itu terdengar semakin cepat, dan mereka pun bergerak dengan semakin cepat.

Wening terpaku ketika rombongan orang-orang tadi melewatinya begitu saja. Rasanya begitu mengerikan ketika dia berada di antara mereka yang terlihat aneh. Satu hal yang membuat Wening ingin segera menggerakan kakinya dan berlari dari sana, ialah ketika dia melihat empat orang pria bertubuh tambun membawa tandu tanpa atap. Di atas tandu tadi terbaring seorang gadis tanpa busana, dengan tangan dan kaki terikat pada setiap sudut tandu.

Rasa gugup itu kian menjadi, ketika tandu tersebut melintas di dekat Wening. Gadis tersebut memaksakan diri untuk menoleh ke samping. Seketika, matanya bersitatap langsung dengan mata wanita di atas tandu tadi. Wening tersentak. Namun, dia tak mampu bergerak atau mengucapkan sepatah kata pun, terlebih ketika melihat kondisi wanita tersebut yang sepertinya tengah meregang nyawa. Kedua mata wanita tadi terus mendelik ke atas. Dia seperti begitu tersiksa. Sementara darah segar terus mengucur dari lehernya yang tersayat cukup dalam.

Wening yang seorang perawat, tentu sudah terbiasa melihat hal seperti itu. Namun, kali ini rasanya tetap berbeda. Tubuh gadis tersebut bergetar seperti menahan sesuatu yang hendak keluar dari dalam dirinya. Wening kemudian memejamkan mata, ketika rombongan orang-orang aneh tadi telah berlalu hingga cukup jauh. Sesaat kemudian, gadis itu merasakan tubuhnya begitu lemas. Dia pun ambruk dan terduduk di atas jalanan berbatu, yang menjadi tempat dirinya berpijak.

Tubuh Wening seakan tembus pandang. Tak satu pun dari orang-orang itu yang melihatnya. Sementara tenaga semakin terhisap entah oleh apa. Wening merasakan dirinya semakin lemah hingga tak sanggup berdiri.

Sayup-sayup, terdengar seseorang memanggil namanya. Akan tetapi, dia sama sekali tak kuasa membuka kelopak mata. Wening pun tak dapat mengetahui secara pasti, sudah berapa lama dia tergeletak seperti itu.

“Sus. Suster Wening!" Lambat laun, suara yang samar kini terdengar semakin jelas disertai tepukan pelan di pipi. Susah payah dia membuka mata. Pandangannya masih terasa kabur. Butuh beberapa saat sampai semuanya kembali normal. Dengan seketika Wening terduduk, saat dia menyadari bahwa sedari tadi dirinya tengah berbaring di depan kamar Raline.

Wening mendapati Gandhi dengan posisi setengah berjongkok di dekatnya sambil menatap keheranan. “Sedang apa saudari di sini?” tanyanya pelan.

“Ja-jam berapa ini?” Wening malah balik bertanya.

“Pukul setengah lima pagi,” jawab Gandhi. Pria itu mengulurkan tangannya untuk membantu Wening berdiri.

Ragu-ragu, Wening menerima uluran tangan itu, lalu bangkit. Seketika, dia teringat akan gadis remaja yang semalam tengah berjuang melawan sesuatu yang masih misterius. “Raline! Raline, Pak. Ia dalam bahaya! Saya harus segera menyelamatkannya!" racau Wening.

“Saudari ini bicara apa?” Gandhi semakin terheran-heran. Dibukanya pintu kamar putri semata wayangnya itu dan menunjukkan pada Wening bahwa Raline sedang tertidur pulas.

“Jika saudari panik seperti tadi, maka putri saya bisa terbangun. Sementara dia harus banyak istirahat untuk mempercepat proses penyembuhannya,” ucap Gandhi setengah berbisik.

Wening menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan. Segala kekacauan yang terjadi malam tadi, sama sekali tak ada bekasnya. Raline terlihat pulas, seakan tak pernah mengalami apapun. Semua yang Paundra katakan memang benar adanya.

Segera, Wening berinisiatif untuk meraba denyut nadi gadis itu. Dengan teliti dan saksama, dia merasakan bahwa denyut nadi Raline sangatlah normal. Itu artinya gadis remaja tersebut memang tengah tertidur.

“Ta-tapi,” Wening tergagap.

“Sudahlah. Saya tahu saudari lelah. Bi Lastri tadi malam mendapati saudari tidur di sisi ranjang Raline sembari memegangi telapak tangannya. Saya ucapkan banyak terima kasih untuk Suster Wening yang telah menjaga putri saya dengan baik,” tutur Gandhi tulus. Sorot matanya terlihat teduh, sekaligus sendu.

Wening mendengarkan itu semua tanpa berkedip. Bingung dan takut, sekarang berbaur di dadanya. Tak pernah sekalipun dia mengalami hal aneh semacam itu. “Kalau begitu, saya pamit dulu. Saya harus ke kamar,” ucapnya. Tanpa menunggu jawaban Gandhi, Wening langsung berbalik meninggalkan pria itu.

Tujuannya kini adalah paviliun yang dia tempati. Paundra adalah satu-satunya orang yang mungkin bisa ia mintai penjelasan.

Setengah berlari, Wening melintasi kolam renang. Dia berpapasan dengan wanita yang Gandhi panggil dengan sebutan Bi Lastri.

“Bi, apa Paundra ada di kamarnya?” tanya Wening dengan terengah-engah.

“Siapa, Neng?” tanya si bibi sambil mengerutkan keningnya.

“Paundra. Pria yang tinggal bersebelahan dengan kamar paviliun saya,” jelas Wening.

“Apakah saudara pak Gandhi?” tebak bi Lastri.

Wening mengangguk cepat. Tak sabar rasanya ia mendengar jawaban wanita paruh baya itu.

“Anu, Neng. Kalau saudara pak Gandhi, tidak pernah tidur di paviliun. Mereka biasanya menginap di kamar utama,” terang bi Lastri lagi.

“Paundra mengatakan dia tidur di paviliun. Sebelah kamar saya,” tutur Wening.

Bi Lastri hanya menggeleng pelan. Tatapan matanya terlihat kebingungan. Wening berniat untuk bertanya kembali, tetapi sosok yang ia cari sudah berdiri di depan pintu kamar paviliun. Paundra melambaikan tangan padanya, membuat Wening berlari meninggalkan bi Lastri yang berdiri membeku sambil memandangnya, dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.

1
Shanty Yang
baru kali ini baca novel horor sampe tamat 😅 krna dr awal uda bikin penasaran dan seru, ga muter" jdnya lanjut terus. emang terbaik deh author satu ini ❤ semua novelnya da ku baca dan novel prtama yg dibaca dr karya author ini adalah edinburgh 👍👍 skrg lanjut yg masih on going si maman 🤭🤭 tetap sehat teteh author, biar bisa tetap membuat karya yg keren" 🤗🥰😘
Shanty Yang: ok otw 😁
total 2 replies
Nur Bahagia
jujur jadi agak males bacanya, kalo begini.. maaf ya 🙏
Nur Bahagia
kenapa pake meluk.. agak aneh nih cerita nya
Nur Bahagia
jangan2 yg bermasalah sebenarnya adalah gandhi.. dia punya pemikat kali
Nur Bahagia
lhoo kok jadi begini.. semoga alurnya ga semakin menyimpang 😏
Nur Bahagia
kayaknya paundra sakti.. tp kenapa dia ga mau bantuin raline
Nur Bahagia
bolehkan aku curiga sama paundra 🤭
Nur Bahagia
wow wening sakti ternyata 😱
Nur Bahagia
kayaknya raline di rasuki roh halus
Nur Bahagia
aku juga berfikir begitu Ning
Nur Bahagia
kann bener
Nur Bahagia
kayaknya wening bisa sekilas melihat masa depan
Dea Semilikiti Dea Semilikiti
udh curiga sm bilastri prtama baca...tp tk taulah
ren rene
sumpah...q takut. sempet berhenti baca krn kebawa sampe dlm mimpi
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅ: 𝚆𝚊𝚍𝚞𝚑, 𝙺𝚊𝚔. 𝚃𝚎𝚛𝚕𝚊𝚕𝚞 𝚍𝚒𝚑𝚊𝚢𝚊𝚝𝚒 𝚋𝚊𝚌𝚊𝚗𝚢𝚊, 𝚢𝚊
total 1 replies
ren rene
paundra apakah sosok kasat mata ya
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅ: 𝙻𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝, 𝙺𝚊𝚔
total 1 replies
Mariana Frutty
Siti Arbainah
yg melakukan perjanjian itu dr buyut" terdahulu ya trus mereka yg sekarang hrus bisa melapas perjanjian itu
Siti Arbainah: selama bnyak orang" sesat si kalajanggi gak bakal pernah musnah kan thor
total 2 replies
Nur Setyowanti
Luar biasa
dewi andarini
suka dengan ceritanya
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅ: Terima kasih
total 1 replies
dewi andarini
baru mulai baca... sudah menarik
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅ: Terima kasih, kak. Lanjut
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!