Arya Mahendra, seorang Kaisar Immortal dari Alam Semesta Atas, dikhianati saat melewati Kesengsaraan Surgaw. Alih-alih mati, jiwanya terlempar kembali ke masa lalu, masuk ke dalam tubuhnya sendiri saat ia masih menjadi mahasiswa miskin berusia 19 tahun di Bumi yang sering ditindas dan kehilangan keluarganya karena konspirasi konglomerat lokal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fondasi Surgawi Terbentuk, Turunnya Tiga Bencana
Di kedalaman ruang bawah tanah Aula Naga Emas, suhu berfluktuasi antara neraka beku dan kawah gunung berapi.
Arya Mahendra duduk bersila melayang beberapa sentimeter di atas lantai. Di dadanya, Akar Naga Es-Api Berusia Seribu Tahun kini telah menyusut menjadi seukuran ibu jari, sari pati energi spiritualnya terkuras habis dan mengalir deras ke dalam meridian Sang Kaisar.
BUM! BUM! BUM!
Suara detak jantung Arya menggema layaknya tabuh genderang perang surgawi. Di dalam lautan Dantian-nya, pusaran Qi keemasan berputar gila-gilaan, menyatukan esensi biru es yang membekukan jiwa dan api merah yang melelehkan karma. Keduanya perlahan membentuk sebuah diagram Taiji sempurna yang terus memadat.
"Di kehidupan masa laluku, aku membangun Fondasi Emas. Namun di kehidupan ini, dengan Teknik Pernapasan Menelan Surga, aku akan menempa Pilar Fondasi Surgawi Kekacauan!" batin Arya.
KRAAAK!
Sebuah ledakan energi nirsuara terjadi di dalam tubuhnya. Gas Qi murni di Dantian-nya mengkristal dengan sukses, membentuk sebuah pilar bercahaya yang memancarkan dominasi absolut atas hukum alam. Matanya terbuka, memancarkan kilatan petir keemasan yang menembus kegelapan gudang bawah tanah.
"Ranah Pembangunan Fondasi Lapis Awal."
Arya menghembuskan napas panjang. Napas itu melesat layaknya anak panah, melubangi dinding batu padat di depannya hingga sedalam sepuluh meter.
Dengan tercapainya Ranah Pembangunan Fondasi, ia akhirnya benar-benar melangkah keluar dari batas manusia fana dan resmi menjadi seorang Kultivator Sejati. Kini, ia bisa menggunakan seni terbang tanpa pedang, memanipulasi elemen dasar, dan memperluas Indra Surgawi-nya hingga mencakup radius puluhan kilometer.
"Kekuatan fisikku melonjak seratus kali lipat. Bahkan jika militer fana menjatuhkan misil balistik tepat di atas kepalaku, itu tidak akan meninggalkan goresan di kulitku," gumam Arya puas. Baju usangnya kini memancarkan cahaya giok yang redup, kebal terhadap api dan air.
Namun, senyum kepuasan itu hanya bertahan sesaat.
Indra Surgawi-nya yang baru saja diperluas tiba-tiba menangkap tiga fluktuasi energi pembunuh yang melesat membelah langit malam dari arah barat laut, menuju tepat ke puncak Gunung Taihang. Kecepatan mereka menembus penghalang suara, menciptakan dentuman sonik yang memekakkan telinga.
"Tiga semut di Ranah Pembangunan Fondasi Lapis Akhir," mata Arya menyipit tajam. "Anjing peliharaan Lin Chen rupanya bergerak lebih cepat dari dugaanku."
Di luar pelataran Aula Naga Emas, fajar baru saja menyingsing.
Patriark Shen dan pasukan elit Keluarga Shen sedang berjaga dalam keheningan saat tiba-tiba, langit di atas mereka mendadak gelap. Awan-awan tersibak secara paksa oleh tekanan spiritual yang turun dari atas bak gunung yang dijatuhkan dari kahyangan.
WUSSS!
Tiga berkas cahaya melesat dari balik awan dan melayang tepat di atas pelataran.
Patriark Shen mendongak, dan pupil matanya menyusut seukuran jarum. Mulutnya terbuka tanpa suara. Di atas sana, tiga pria berjubah abu-abu sedang berdiri dengan tangan bersedekap di atas sebilah pedang yang melayang di udara!
Terbang di atas pedang! Ini bukanlah mitos dari drama televisi, melainkan kenyataan yang membuat lutut para ahli bela diri fana itu seketika lemas.
"K-Kultivator Sejati... Dewa dari Alam Tersembunyi..." ratap salah satu komandan Keluarga Shen, menjatuhkan senjatanya dan bersujud dengan tubuh bergetar hebat.
Hanya dari aura yang dipancarkan secara tidak sengaja oleh ketiga pria itu, ratusan anggota Keluarga Shen merasa paru-paru mereka diremas. Mereka memuntahkan darah, terpaksa berlutut mencium lantai marmer karena tidak mampu menahan tekanan spiritual yang seribu kali lebih berat dari gravitasi bumi.
Ketiga pria itu adalah Tiga Pedang Gerhana dari Sekte Gerhana Langit.
Pria yang berdiri di tengah, Pedang Pertama, menunduk menatap pelataran yang masih berbau amis darah dan dipenuhi ribuan mayat tanpa kepala. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa kasihan, hanya rasa jijik yang mendalam, layaknya manusia melihat tumpukan semut yang mati.
"Tikus fana Jin Wudi memang mati di sini. Sisa aura Teknik Kegelapan masih menguar dari tempat ini," ucap Pedang Pertama dingin.
Matanya kemudian tertuju pada Patriark Shen, satu-satunya orang yang masih berusaha keras menahan lututnya agar tidak menyentuh tanah, meski darah segar sudah mengalir dari hidung dan sudut bibirnya.
"Manusia fana," suara Pedang Pertama menggema langsung di dalam tengkorak Patriark Shen, mengancam akan menghancurkan jiwanya. "Katakan padaku. Siapa yang berani menghancurkan utusan Sekte Gerhana Langit kami? Sebutkan namanya, dan aku mungkin akan berbaik hati meninggalkan mayatmu utuh."
Tekanan spiritual itu ditingkatkan. Tulang selangka Patriark Shen retak dengan suara mengerikan.
Di saat seperti itu, insting terkuat manusia adalah bertahan hidup dan mengkhianati siapa saja. Namun, di dalam benak Patriark Shen, bayangan pemuda yang meratakan gunung dengan satu tamparan jauh lebih mengerikan dan agung daripada tiga orang yang melayang di udara ini.
Patriark Shen menggertakkan giginya yang berlumuran darah, mengangkat wajahnya dengan tawa parau.
"Tuan Besar kami... sedang beristirahat! Serangga Kunlun seperti kalian... tidak pantas mengetahui namanya!" teriak Patriark Shen dengan sisa tenaganya.
Mendengar seorang fana berani menghina mereka, wajah Pedang Pertama seketika menjadi buas.
"Berani mencari mati! Karena kau sangat setia, pergilah ke neraka untuk menyiapkan jalan bagi majikanmu!"
Pedang Pertama mengangkat dua jarinya dan menebas udara ke bawah. Seketika, sebuah bilah pedang Qi raksasa berwarna hitam sepanjang belasan meter terbentuk di udara, melesat turun dengan kecepatan kilat untuk membelah Patriark Shen beserta seluruh pasukan di sekitarnya menjadi debu.
Patriark Shen memejamkan matanya, siap menyambut kematian.
Namun, tepat pada jarak setengah meter dari kepalanya...
TRINGGGG!
Sebuah suara merdu bagaikan dentingan kristal bergema.
Bilah pedang hitam raksasa itu membeku di udara, seolah menabrak dinding absolut yang tak tertembus. Detik berikutnya, serangan dari kultivator Pembangunan Fondasi Lapis Akhir itu hancur berkeping-keping menjadi pecahan cahaya, hancur bagaikan kaca yang dilempar batu!
"Siapa?!" Pedang Pertama tersentak mundur, matanya terbelalak ngeri melihat serangan penuh tenaga miliknya dihancurkan dengan begitu mudah.
Dari arah belakang reruntuhan Aula Naga Emas, terdengar suara langkah kaki yang pelan. Setiap kali kaki itu menyentuh tanah, seluruh energi spiritual di puncak Gunung Taihang bergetar seolah menyambut kedatangan sang raja sejati.
"Sekte Gerhana Langit Kunlun..."
Suara dingin tanpa emosi itu terdengar seperti vonis dewa kematian. Arya Mahendra melangkah keluar dari balik debu. Jaket usangnya sedikit berkibar tertiup angin pagi. Ia mendongak, menatap ketiga kultivator yang melayang di udara dengan sepasang mata emas yang memancarkan dominasi murni.
"Mewarisi sebagian kecil dari seni sampah yang dicuri Lin Chen dariku, dan kalian berani menggonggong di halamanku?"
Arya perlahan mengangkat tangan kanannya.
"Turunlah."
BUMMM!
Hukum gravitasi di sekitar Tiga Pedang Gerhana tiba-tiba melonjak sepuluh ribu kali lipat. Pedang terbang mereka kehilangan seluruh energinya secara instan. Ketiga kultivator angkuh yang sedetik lalu menganggap diri mereka dewa itu menjerit histeris, jatuh menghantam lantai marmer pelataran seperti meteorit rongsokan!
KRAAAAK!
Lantai marmer itu amblas sedalam satu meter. Ketiga Pedang Gerhana memuntahkan darah segar, organ dalam mereka nyaris hancur karena hantaman tersebut.
Hanya dengan satu kata, Sang Kaisar telah menarik mereka dari langit dan memaksa mereka mencium tanah.