Sekuel dari istri kedua tuan Alex...
Kisah berlanjut disini, dimana para putra putri pun jadi korban jebakan perjodohan Tuan Alex dan Sandi asisten nya....
Bagaimana kisah mereka? apakah mereka bisa bahagia setelah menikah dengan pasangan pilihan dari mak comblang super sukses seperti Tuan Alex dan Sandi...
Jangan lupa tinggalkan like vote dan komentar jika suka dengan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apri Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Setelah inti dari pesta itu selesai, ucapan selamat kepada Ander atas kelulusan S2 nya dan juga penyerahan semua perusahaan Alex pada Ander , Kini semua orang menikmati sisa pesta itu.
Ada yang asyik mengobrol sambil menikmati hidangan pesta, ada yang berdansa dan ada pula yang berciuman di tempat sepi dan gelap.
Eliya yang tadinya ingin menyendiri, melihat pemandangan malam dari atas bukit harus Ia urungkan karena tak sengaja melihat sepasang kekasih yang sedang asyik bercumbu di balik batu besar membuatnya bergidik ngeri dan segera meninggalkan tempat itu.
"Sial, mengapa mereka tak menyewa kamar hotel saja sih!" gerutu Eliya.
Dan kini Eliya duduk disebuah taman yang tak jauh dari tempat pesta, sebelum duduk Ia melirik ke kanan dan ke kiri takut ada lagi orang bercumbu ditempat ini. Hingga Ia dikejutkan oleh seseorang yang menyodorkan sebuah gelas padanya.
"Kenapa malah di sini?" tanya seseorang, suara yang tak asing yang sebenarnya malas untuk Ia dengar.
Eliya menerima minuman dari Ander meskipun sebenarnya Ia tak haus namun Ia merasa tak enak karena Ander sudah mengambilkan untuknya.
Ander tersenyum melihat gelas ditangan nya sudah diambil oleh Eliya, tanpa menunggu diminta Ander kini duduk disamping Eliya.
"Kau bosan dengan acara pesta nya?" tanya Ander yang langsung di angguki oleh Eliya.
Sejujurnya Eliya merasa tak nyaman terlalu dekat dengan Ander apalagi Ander dan Eliya dulu saling membenci jadi dirinya tak bisa berprasangka baik pada Ander.
"Aku melihatmu berjalan dari bukit sana, apa yang kau lakukan disana?"
Entah mengapa Eliya merasa Ander sedikit bawel, Ia sudah bersikap cuek namun masih saja bertanya terus.
"Tadinya aku ingin melihat pemandangan malam dari atas bukit pasti sangat indah, namun tidak jadi karena ada-" seketika Eliya menghentikan ucapan nya.
"Ada apa disana?" Ander terlihat penasaran.
"Lupakan saja!"
Untung saja Eliya masih bisa mengontrol ucapannya jika tidak bisa malu Eliya.
"Kau melihat sepasang kekasih bercumbu dibalik batu?" tanya Ander yang membuat mata Eliya melotot.
"Kau melihatnya juga?"
Ander mengangguk, "Mereka temanku sewaktu masih kuliah di luar, fantasi mereka memang gila. melakukan **** di tempat tempat seperti itu." jelas Ander membuat Eliya membegap mulutnya dengan mata yang sedikit melotot.
"Gila..." gumam Eliya.
Tadinya Eliya pikir sepasang kekasih itu tak memiliki uang untuk menyewa kamar hotel namun nyatanya mereka berfantasi sangat liar. Ohh Eliya stop it, jangan pikirkan ini lagi, belum waktunya untukmu.
"Kau pasti tadi sempat me-"
"Stopp!" Tanpa Eliya sadari Ia membegap mulut Ander dan buru buru melepaskan tangannya.
"Maaf," gumam Eliya.
Sementara Ander terlihat melonggo tak percaya dengan apa yang baru saja Eliya lakukan, kulii halus dari telapak tangan Eliya menyentuh bibir Ander dan rasanya.. ahh sialan.
"Jangan bahas itu lagu oke. aku tak ingin mendengar apapun." kata Eliya membuat Ander tersenyum geli.
"Kenapa?" Ander mendekatkan wajahnya dan sangat dekat sekali membuat nafasnya yang berbau mint bisa tercium oleh Eliya.
Seketika Eliya menggeser dirinya agar tak terlalu dekat dan Ia merasa sedikit gugup.
"Bu-bukankah itu sesuatu yang tidak baik untuk dibahas ki-kita kan masi-masih, ah sudahlah yang penting jangan bahas itu lagi." kata Eliya gugup membuat Ander terkekeh.
Ander menyandarkan punggungnya di kursi taman, "Lalu sebaiknya apa yang kita bahas?" tanya Ander membuat Eliya mengerutkan keningnya heran.
"Bukankah kita tidak terlalu dekat untuk membahas masalah apapun?"
"Jadi apa kita harus dekat dulu untuk bisa menceritakan segala hal bersama?" tanya Ander kembali mendekatkan wajahnya membuat Eliya bergindik takut.
Ekhemm...
Namun suara deheman seseorang mengejutkan keduanya. Baik Eliya dan Ander sama sama berbalik dan melihat siapa yang datang.
"Ayah,..." Eliya terlihat pucat saat melihat Ayahnya berada dibelakang mereka. Eliya takut jika Ayahnya salah paham dan berpikiran buruk padanya.
"Jadi kalian di sini? pestanya belum selesai mengapa kalian berdua menyendiri di sini?" tanya Sandi menatap keduanya curiga.
"Kami hanya mencari udara segar, lagipula pesta intinya juga sudah selesai." balas Ander acuh.
"Benarkah hanya mencari udara segar? tak ada hal lain yang kalian lakukan?" tuduh Sandi membuat Ander dan Eliya melotot tak percaya.
"Sudahlah Ayah, ayo kita masuk saja." Eliya mendekat ke arah Sandi berdiri dan mengajaknya masuk.
"Dasar pria menyebalkan." gerutu Ander melihat Sandi dan Eliya yang kembali memasuki pesta.
Dari kejauhan, seorang gadis yang seumuran dengan Ander menatap ke arah Ander dengan tatapan kosong.
"Apa gadis itu yang selalu dibahas saat sedang berkumpul?" gumam Gadis yang tak lain adalah Rania.
Sebenarnya Ander tak mengundang Rania namun karena mulut ember Revan membuat Ander harus mengundang Rania.
"Lo ngeliatin apa sih?" tanya Revan yang kini sudah ada disamping Rania.
Tanpa menunggu jawaban, Revan menatap dimana nata Rania memandang ke arah luar.
"Oh tuh cewek namanya Eliya." jelas Revan meskipun Rania tidak bertanya.
"Dia yang sering dipanggil ugly kalau pas lagi ngumpul, Ander memang sengaja buat-"
"Stop! gue nggak tanya ngapain Lo cerocos aja!" sentak Rania yang sebenarnya tak ingin mendengar lebih jauh.
"Gue tau Lo penasaran sama tuh cewek," balas Revan santai sementara Rania hanya memutar bola matanya malas.
"Kalau Lo suka kenapa nggak langsung tembak aja? nunggu doi peka?" kekeh Revan.
"Nggak usah sok tau deh Lo!" sentak Rania lagi dengan nada kesal.
"Gue emang tahu sih, hmm gue bilangin ya... mau lo tunggu sampai lebaran jamur juga nggak bakal ditembak sama Ander." kata Revan dengan nada mengejek membuat Rania semakin kesal lalu memukul lengan Revan dan meninggallan Revan yang tertawa.
"Dih cantik cantik kasar amat!"
...
Ander kembali memasuki pesta, matanya tak henti hentinya memandang ke arah Eliya yang sedang tertawa mengobrol bersama Mom nya.
Malam semakin larut, orang orang yang berada dipesta semakin sedikit bahkan bisa dibilang sudah hampir habis.
Ander yang kelelahan hendak ke kamar yang ada diresort ini. sudah menjadi kebiasaan Alex jika seusai pesta mereka akan menginap di kamar yang ada diresort.
Saat hendak membuka pintu, matanya tak sengaja menatap ke arah samping kamar dimana ada Eliya tengah kesusahan membuka pintu kamar.
"Dasar norak, pasti dia nggak tau cara buka nya gimana." gumam Ander berjalan mendekati Eliya.
"Nggak bisa?" tanya Ander membuat Eliya terkejut lalu menunduk malu.
"Sini biar gue aja." Segera Ander mengambil alih dan klik... pintu terbuka.
"Makasih."
Ander hanya mengangguk lalu Ia mengintip kamar Eliya.
"Gue masuk dulu." kata Eliya namun Ander terlanjur memasuki kamarnya.
...
Paginya, Eliya terbangun karena suara kicau burung. Ia menyamping dan hendak memeluk gulingnya namun Ia merasa sangat aneh saat melihat guling nya terasa keras dan sepertinya Ia sedang memegang dada bidang seseorang.
Segera Eliya mengumpulkan kesadarannya dan bangun lalu melihat ke arah samping yang tadi Ia pikir guling ternyata....
Aaaaa..... Eliya menjerit sekeras mungkin melihat Ander terlelap disampingnya dan bertelanjang dada.
Oh My God...
Bersambung...
Pasti penasaran kan ngapain Ander masuk ke kamar Eliya, tunggu part selanjutnya yaaa wwkwkw...
Jangan lupa like vote dan komen....
di awal kan ayahnya minjam uang untuk adik nya berobat
sukses selalu y thor