Cinta Kirana, hidup dengan masa lalu yang tragis ditinggalkan orangtua. Menyisakan trauma sampai dengan ia dewasa. Siapa sangka, seorang datang mengganti luka dengan suka cita. Perbedaan usia, status sosial dan keterkaitan di masa lalu membuatnya Cinta terpuruk dan kembali terluka. Akankah Cinta bisa menerima kenyataan yang menghampiri?
===
“Namaku Cinta, banyak yang cinta udah pasti. Yakin masih mau sama aku?”
“I love you, Cinta. Sekarang, nanti dan selamanya.”
“Masa?”
“Mahameru pantang ingkar janji.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Romeo Juliet VS Cinta Mahameru
Bab 35
Cinta berlari keluar dari lift dengan tangis masih menganak sungai, mengabaikan panggilan orang di sekitarnya. Tujuannya adalah parkiran, dengan tubuh gemetar membayangkan tangan Eru terluka dan berdar4h. Ia masih mengingat kendaraanya, karena gugup ia tidak menemukan kunci motor.
Dengan sisa kekuatan yang ada, ia berhasil pulang ke kosannya dengan kendaraan umum. Tidak ada yang melihat ia pulang, termasuk penjaga kosan. Begitu pintu kamar tertutup rapat, Cinta langsung ambruk di balik pintu.
“Kenapa kamu, Ru? Kenapa harus kita?”
Kondisinya benar-benar memburuk. Kamar kos yang biasanya nyaman terasa begitu sempit, menjepit dada hingga ia kesulitan bernapas. Cinta meringkuk di lantai yang dingin, memeluk kedua lututnya erat-erat dengan tubuh yang bergetar hebat. Bayangan darah di lengan Eru, wajah mendiang kedua orangtuanya, dan rasa dikhianati berputar-putar di kepalanya. Dendam amarah yang selama ini terpatri harus ditujukan untuk orang yang dia sayang.
Di sudut kamar yang sepi itu, Cinta hanya bisa menangis sendirian, berjuang melawan sesak dan trauma yang kembali menguasai seluruh kesadarannya.
***
“Bangs4t,” umpat Asep tidak berhasil mengejar Cinta. Lift sudah turun dan lift-lift lain sedang ke atas. Yang turun pun masih beberapa lantai di atasnya. “Mereka kenapa ya,” gumam Asep. Padahal semalam masih baik-baik saja, sambil mengusap dagu mengingat perdebatan tadi.
Korban, kecelakaan, papi, keluarga Eru
Apa mungkin kecelakaan keluarga Cinta ada hubungannya dengan keluarga Eru, batin Asep lalu kembali mengump4t dan berlari ke pintu darurat. Sambil berlari menuruni anak tangga ia menghubungi Cinta, tapi tidak ada jawaban. Dengan nafas terengah keluar dari pintu darurat menatap area lobby mencari rekan sekaligus sahabat dan adiknya itu.
“Kemana dia?" tidak jauh dari gate melihat petugas yang ia kenal. "Jo, Tarjo,” teriak Asep menscan id card agar bisa keluar gate. “Lihat CInta?”
Tarjo menunjuk pintu basement. “Bidadari saya kenapa nangis bang?”
Asep mengabaikan pertanyaan Tarjo, ada hal yang lebih penting. Di basement ia kembali menatap sekitar, ada petugas bergumam sambil memunguti berkas serta makanan.
“In this economy, bisa-bisanya buang makanan. Mana dokumen dibuang sembarangan begini. Ngerjain gue aja.”
Dengan langkah besar masih menatap sekitar, Asep melewati pria itu. Pandangannya sempat melihat salah satu lembar dan langsung notice. “Lihat mas!” mengambil alih lembaran dokumen. “Ini si Eru. Saya pinjam dulu, mas,” ucap Asep lalu berlari ke arah parkiran motor tidak menemukan Cinta di sana.
Kembali menghubungi kontak CInta, tidak ada jawaban. Urung mencari dengan tujuan tidak pasti, Cinta butuh waktu untuk sendiri. Pikirnya saat ini Cinta masih waras karena Tarjo hanya melihat dia menangis, bukan meraung atau mengamuk di lobby. Pandangan Asep tertuju pada lembaran dokumen di tangannya. Dahinya mengernyit setelah menyimpulkan isi dokumen itu.
“Mahameru Arkatama.” Bukan hanya status Eru yang terungkap, kemarahan Cinta rupanya karena dokumen itu. Hubungan mereka di masa lalu. “Ya ampun, ini lebih tragis dari kisah cinta romeo juliet.”
***
Ruangan kerja Langit yang kedap suara di gedung Yess TV, suasana terasa begitu dingin dan mencekam. Di atas meja besar, lembaran berkas yang dibawa oleh Asep kini sudah tergeletak.
Langit berdiri di dekat jendela besar, menatap luar gedung dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Di sudut lain ruangan, Eru duduk dengan kemeja yang masih ternoda darah, tangannya sudah dibalut menutupi luka dengan beberapa jahitan. Jangan tanya perasaannya, tentu saja hancur. Pikirannya penuh dan berisik.
“Kamu yakin, tadi pagi Cinta masih bersikap biasa?”
Eru berdecak lalu mengeluarkan ponsel dan membaca pesan yang dikirim Cinta. “Kalau dia udah tahu, nggak mungkin ngajak aku sarapan bareng Om.”
Langit mengangguk, lalu menghubungi seseorang. “Coba cek cctv di basement. Nggak jauh dari pintu lobby. Sekitar jam 7 sampai jam 8!”
“Om, aku cari Cinta.”
“No! diam di situ!”
Langit berbalik, menatap adik sepupunya dengan tatapan tajam namun tersirat rasa kasihan. Sebagai pria nomor satu di Yess TV, terbiasa mengendalikan masalah dengan solusi terbaik, tapi masalah keluarga mereka kali ini melibatkan nyawa dan masa depan seorang gadis tak bersalah. Dibalik nama besar Arkatama dan Digital Corp ada puing-puing kehancuran hidup Cinta.
Eru memejamkan mata dan bersandar. Tangan kirinya memijat dahi. Rasa bersalahnya kini jauh lebih besar daripada rasa cintanya. Ia tahu, kehadirannya sekarang justru menjadi pemicu trauma terbesar bagi Cinta.
“Saat ini posisi Cinta sedang krisis. Melihat kamu, bukan hanya melihat laki-laki yang dia sayang, dia akan lihat Artha Arkatama dan kondisi na4s orang tuanya.”
Tangan Eru kini mencengkram rambut menahan desakan tangis yang ingin keluar.
“Lalu aku harus apa?”
“Sabar. Kita tunggu info dari mana Cinta dapatkan informasi ini. Siapa rekan kamu tadi?”
“Asep,” sahut Eru tidak semangat.
“Biar dia yang urus Cinta untuk sementara. Jangan dulu munculkan wajah kamu di depan gadis itu.”
Brak.
“Eru, kamu kenapa?” tanya Maura, panik saat memasuki ruangan mendapati putranya terlihat berantakan.
“Maaf pak!” ucap sekretaris Langit dan hanya dijawab dengan anggukan.
“Ya ampun, ini kenapa? Siapa yang melukai kamu?” cecar Maura sudah duduk di samping Eru, meneliti bagian tubuh lainnya.
“Mih, cuma tangan aku yang luka."
“Langit, siapa yang melakukan ini?” tanya Maura.
“Kecelakaan mih, nggak sengaja bentur kaca,” jelas Eru.
“Tante ada masalah lain yang lebih rumit,” tutur Langit sambil melangkah ikut bergabung di sofa, menatap ibu dan anak itu. “Cinta sudah tahu kebenarannya.”
“Benarkah? Di mana dia sekarang, biar aku temui. Aku harus minta maaf, ini bukan salah Eru bukan pula salahnya. Di gedung ini ‘kan?” Bahkan Maura sudah berdiri.
“Mih!”
akhirnya kau merasakan sakitnya di hantam truk, harusnya tadi tronton sekalian biar langsung end🤣🤣
mereka masih waras dan bisa berpikir yang bener.
tutup mulut mbah mu😤