Yura, gadis kesepian yang tiba-tiba harus pulang ke desa tempat nenek nya tinggal selama ini. Sang ibu yang akan menikah lagi menjadi salah satu alasan untuk kepindahannya.
Ia tidak banyak bicara, hanya menurut dan mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.
Namun siapa sangka, kepindahannya ke desa membuatnya memiliki kehidupan baru yang lebih berwarna. Ia bahkan bertemu dengan gadis yang memiliki nama yang persis sama dengan namanya.
Lantas, akankah Yura berhasil menemukan kebahagiaan walaupun harus hidup berdampingan dengan gadis yang seolah memiliki ikatan dengannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona yeppo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesombongan Yang Tidak Abadi
Dibabak kali ini, Yura seolah dihadapkan dengan seorang maniak matematika. Lindsey tidak memberi nya waktu untuk berpikir.
Tak hanya itu, para juri pun seolah tidak mendengar bunyi bel yang mereka tekan. Fokus juri hanya tertuju pada tim Lindsey saja.
Hingga babak kedua berakhir, tim Yura hanya memiliki kesempatan untuk menjawab sebanyak tiga kali. Sisanya Lindsey yang menguasai panggung.
Yura duduk sambil menutup wajahnya dengan bertopangkan tangannya ke meja. Rasa sakit menjalar mengelilingi kepalanya.
Rasanya sangat mustahil untuk melawan Lindsey karena dapat dipastikan jika gadis itu sedang memegang kartu as.
"Ra, makan dulu yuk,, " Ucap bu Cindy sambil mengusap bahu nya dengan hangat.
"Kamu perlu mengisi tenagamu sambil berharap keajaiban terjadi.. "
Liam yang sejak tadi memperhatikan gadis itu segera mendekat. Ia juga ikut meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Kamu mau dikalahkan oleh seorang pecundang? Anak itu bahkan tidak memegang pena dengan benar.. " ucapnya sangat kesal.
"Kita bisa membuat laporan jika seseorang berbuat curang... " tambah nya lagi.
Yura tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia segera bangkit dan berjalan menuju ruangan Lindsey diikuti oleh bu Cindy dan Liam.
Ia mendobrak meja didepan Lindsey lalu menatap tajam gadis itu.
"Aku sangat penasaran, sampai dimana kekuasaanmu bertahan... ! " ucapnya dengan wajah penuh emosi.
Ia lalu meraba laci dan mengeluarkan kertas yang sebelumnya diberikan oleh ibu Lindsey.
"Lihat saja, apapun akan aku lakukan untuk menjatuhkan mu.. " tantang Lindsey.
Ia sama sekali tidak takut akan kemarahan Yura. Karena baginya, uang yang dimiliki oleh orang tuanya dapat membeli apapun yang ia inginkan termasuk hukum.
Yura segera pergi menuju kantin untuk makan. Ia sangat sedih karena guru-guru yang dulu sangat mendukungnya seolah tidak lagi mengenal nya.
Meski tak selera, ia tetap memaksakan mulutnya untuk menerima makanan yang ada di hadapan. Ia melakukan itu demi tim nya supaya tidak menghawatirkan nya.
...
Waktu berputar dengan sangat cepat, membuat Yura dan lainnya hanya bisa bernafas dengan sangat berat.
Mereka berjalan dengan tidak semangat sama sekali. Semua nya hanya terlihat seperti formalitas saja. Kekecewaan lebih menguasai perasaan mereka untuk saat ini
"Padahal rekan-rekan guru kita sudah sangat berharap besar pada keberhasilan kita,,, " ucap bu Cindy dengan lemas.
..
Sebelum memulai babak ketiga, terlebih dahulu para juri mengumumkan skor para tim lomba. Tim Lindsey masih memimpin diikuti oleh tim Yura dan sisa sekolah satu nya lagi.
Para penonton bertepuk tangan untuk memberi semangat.
Ditengah riuh nya pada penonton yang memberi dukungan, terlebih dahulu seorang wanita tua berdiri di podium dengan anggun nya.
Liam yang sedang duduk diantara barisan para penonton tersenyum lega saat melihat nenek nya berdiri didepan sana.
"Rasakan kau.. " ucapnya sambil melihat kearah Lindsey.
"Para hadirin yang saya hormati, ijinkan saya berpartisipasi pada lomba ini sebagai kenangan terakhir saya. "
Ternyata nenek Shella akan pensiun dari jabatan sebagai penasihat istana. Ia juga nanti nya yang akan memberi piala pada tim pemenang lomba.
"Karena peraturan lomba selalu berjalan seperti yang sudah lalu-laku, maka saya ingin lomba kali ini berjalan dengan sedikit berbeda dari prosedur yang telah berjalan sebelumnya. "
"Ini tentu memiliki tujuan yang sangat baik serta sangat adil bagi para peserta kita. "
Yura yang mendengar itu seketika mendapat semangat baru lagi. Otak cerdas nya segera bekerja, mata nya dengan sigap menyapu segala gerak-gerik yang mempunyai kemungkinan tertinggi.
Tak salah lagi, seseorang pasti sedang melakukan sesuatu. Seseorang yang memiliki kartu akses teratas hingga mampu membuat seorang petinggi negara turun tangan.
Ia tersenyum tipis sambil menatap tajam pada Lindsey yang sudah dapat dipastikan sedang panik.
Wajahnya memang dapat ia kondisikan dengan sangat baik, tapi lihatlah tangan itu. Tangan yang tak akan pernah bisa membohongi perasaanya.
Ia mulai menggaruk disana, apalagi didepannya terlihat sang ibu yang sama paniknya. Berulang kali sang ibu memberi isyarat pada para reporter bawaanya untuk segera berhenti merekam kekalahan putrinya itu.
Babak ketiga ini akan dibuat sedikit berbeda seperti apa yang disarankan oleh penasehat istana kepresidenan tersebut.
Dimana soal yang diberikan adalah soal yang sangat baru. Dan Soal yang telah dipersiapkan oleh penyelenggara lomba akan diganti.
Lalu jawaban nya akan dijawab oleh peserta dengan menuliskan nya dipapan tulis berikut cara penyelesaian nya.
Secercah harapan mulai terlihat diwajah tim Yura dan yang lainnya. Begitu juga dengan para penonton yang dapat menerima usulan itu tanpa banyak sanggahan.
Begitu soal pertama ditunjukkan, Yura dengan begitu lihai nya maju kedepan dan mampu menyelesaikan nya dengan sangat mudah.
Babak terakhir ini terlihat lebih hidup dibandingkan dengan babak sebelum nya.
Dan bel kali tidak hanya di kuasai oleh satu tim saja. melainkan Hampir semua peserta mendapat kesempatan untuk membuktikan diri.
Para juri yang sebelumnya selalu berpihak pada tim Lindsey kini hanya bisa pasrah seolah kekuasaannya tak dibutuhkan lagi.
Lomba berlangsung menegangkan tapi juga seru. para penonton juga ada yang sampai berdiri seolah ikut merasakan ketegangan yang lebih nyata.
Lindsey terlihat berusaha menguasai dirinya, walau kepanikan itu mulai menutupi hampir seluruh wajahnya.
Tidak ada lagi hafalan yang bisa ia sombongkan, kini yang tersisa hanya kekalahan. Atmosfir kepanikan di dirinya seolah menular pada kedua rekan tim nya, yang membuat keduanya juga tak mampu lagi untuk berpikir jernih. Tim mereka akhirnya harus menerima kekalahan telak bhkan sebelum bertanding.
Siapa yang akan menyangka jika kesombongan nya langsung dibayar telak oleh keadilan. Kini Lindsey hanya terduduk dengan lunglai.
Ia tak berani mengangkat kepalanya bahkan saat lomba sudah berakhir. Dapat dipastikan jika tim nya telah kalah.
Para penonton bersorak gembira saat pemenang lomba diumumkan. Namun sebelum berlanjut pada penyerahan hadiah, terlebih dahulu penasehat istana memberikan wejangan terkait ketidakadilan yang mungkin terjadi.
Lindsey tidak hanya akan menerima amukan dari sang ibu, ia juga harus memikul kekecewaan sekolahnya karena telah gagal untuk mempertahankan marwah nya sebagai tuan rumah diselenggarakan nya lomba.
Kini tiba lah pemberian piala penghargaan sekaligus masing-masing peserta juara satu akan mendapat beasiswa gratis di sebuah universitas yang secara langsung berada dibawah naungan istana negara.
Para lulusan dari Universitas itu sudah dapat dipastikan akan mendapat pendidikan serta jaminan hidup yang layak.
...
Orang-orang sudah mulai bepergian menyisakan Yura dan timnya yang kini berdiskusi tentang kepulangan mereka.
Kedua teman Yura izin pulang sendiri bersama ibu mereka yang turut datang sebagai penonton. Kini tertinggal Yura dan Liam.
"Saya juga akan pulang sendiri saja bu, " ucap Yura.
Bu Cindy sangat mengerti karena kota ini adalah kota yang sebelumnya memberi kehidupan pada Yura.
"Lalu saya juga akan tinggal sebentar disini, " ucap Liam.
"Lah, kamu memang diluar kelompok kita,, " ucap pak Don sambil tertawa.
Akhirnya pak Don dan bu cindy pamit berangkat terlebih dahulu. Sang wali kelas juga tak lupa untuk menyampaikan rasa bangga nya pada Yura.
"Ra, sebenarnya perjalananmu ini adalah tanggung jawab sekolah. Maka dari itu, pastikan dirimu sudah harus masuk sekolah pada hari senin, oke? " Ia kemudian memeluk Yura dengan hangat sambil menepuk-nepuk bahu gadis itu.
Yura dan Liam melambaikan tangannya saat taksi yang membawa kedua guru itu sudah melaju.
.
.
.
Note,
Novel ini masih nemiliki hubungan cerita dengan dua novel ku yang telah tamat.
Jangan lupa like ya jika suka... ☺
Terima kasih,,, 😊
.
.
.
Bersambung...