NovelToon NovelToon
Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Naura

Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.

Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:

"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."

Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?

Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7 - Hak Milik

Kepanikan di koridor IGD berangsur-angsur mereda seiring berjalannya waktu. Setelah kondisi Ibu Max benar-benar dinyatakan stabil dan dipindahkan ke ruang ICU, atmosfer di sekitar mereka kembali mendingin.

Max, yang beberapa menit lalu sempat terlihat hancur dan gemetar, perlahan mulai menguasai dirinya kembali. Pria itu menegakkan bahu, merapikan kemejanya yang kusut, dan dalam sekejap, topeng esnya yang datar kembali terpasang sempurna.

Nami yang berdiri di sebelahnya hanya bisa menghela napas pendek. Ia sempat ingin memprotes habis-habisan keputusan sepihak Max yang memajukan jadwal pernikahan mereka menjadi minggu depan.

Namun, begitu matanya melirik ke balik kaca ruang ICU—melihat tubuh ringkih Ibu Max yang dipasangi berbagai alat bantu medis. Kata-kata protes itu tertahan di tenggorokan.

Sebagai seorang dokter, Nami tahu betul arti dari ekspresi dokter spesialis tadi. Wanita tua itu memang tidak punya banyak waktu.

"Aku tidak menerima penolakan, Dokter Namira," ucap Max memutus keheningan, suaranya kembali datar dan mutlak.

Nami memalingkan wajah, menatap sepatu putih khas rumah sakitnya yang sedikit kotor. "Aku tahu. Aku tidak akan lari dari kesepakatan."

Max hanya memberikan anggukan kecil yang kaku sebelum akhirnya berbalik, meninggalkan koridor ICU dengan langkah tegap, seolah kerapuhan yang ia tunjukkan tadi hanyalah ilusi optik belaka.

Siang harinya, setelah menyelesaikan operan dinas dan sisa laporan residennya, Nami langsung bergegas menuju kantor cabang bank yang berada tidak jauh dari area rumah sakit. Langkah kakinya terasa jauh lebih ringan, bahkan rasa kantuk luar biasa akibat jaga malam seolah sirna begitu saja.

Di depan meja customer service, Nami menyerahkan seluruh dokumen dan memproses pelunasan utang yang selama bertahun-tahun ini mencekik lehernya.

Ketika petugas bank mencap dokumennya dengan tulisan besar berwarna merah 'LUNAS'. Dan menyerahkan surat pembebasan tanggungan, dada Nami rasanya seperti meledak.

Begitu keluar dari gedung bank, Nami berdiri di bawah terik matahari Jakarta sambil memeluk map berisi surat pelunasan itu erat-erat. Ia tertawa kecil sendirian, mengabaikan beberapa orang yang berlalu-lalang menatapnya heran. Matanya terasa panas, tapi kali ini bukan karena sedih atau lelah.

Selesai. Utang empat ratus juta lebih yang membuatnya tidak bisa tidur tenang setiap malam, utang yang membuatnya terus-menerus dikejar rasa takut, hari ini resmi menguap jadi abu.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, Nami merasa bisa bernapas dengan lega. Ia merdeka dari jeratan finansial, meskipun ia tahu, kemerdekaan ini dibayar dengan menggadaikan satu tahun hidupnya pada seorang pria asing bernama Max.

"Persetan," gumam Nami riang, menghapus sudut matanya yang sedikit basah. "Yang penting malam ini aku bisa tidur tanpa perlu takut ada debt collector menelepon."

Kebahagiaan Nami ternyata tidak berumur panjang. Sore harinya, saat ia baru saja duduk di kursi ruang istirahat residen sambil menikmati secangkir kopi instan hangat, pintu ruangan terbuka tanpa diketuk.

Nami hampir tersedak saat melihat sosok tinggi tegap berjas mahal melangkah masuk. Max Ezra Tanuwijaya berdiri di sana, membuat ruang istirahat yang sempit itu mendadak terasa semakin sesak dan intimidatif.

Nami meletakkan cup kopinya dengan hentakan pelan, langsung memasang wajah sinis. "Ada apa lagi? Jadwal pernikahannya mau dimajukan lagi menjadi besok subuh?"

Max tidak tertarik dengan sarkasme Nami. Ia berjalan mendekat, berhenti tepat di depan meja Nami sambil memasukkan sebelah tangannya ke saku celana. "Aku tidak se-terburu-buru itu. Tapi aku butuh efisiensi waktu. Urusan legalitas pernikahan sudah diurus oleh asisten pribadiku. Kau hanya perlu datang membawa tubuhmu minggu depan."

Nami menyilangkan tangan di dada, bersandar pada kursinya dengan senyum kecut. "Hebat ya menjadi orang kaya. Segalanya tinggal tunjuk."

"Itu fungsi uang, Dokter. Memotong birokrasi yang tidak penting," balas Max tegas, menatap Nami datar dari balik kacamata tipisnya.

Nami mendengus, memutar bola matanya kesal. "Lalu kenapa kau repot-repot datang ke ruang istirahat ini hanya untuk mengatakan hal yang bisa dikirim lewat pesan singkat?"

Max tidak langsung menjawab. Ia menarik tangan dari sakunya, lalu menjatuhkan sebuah benda kecil di atas meja, tepat di hadapan Nami.

Sebuah keycard hitam berkilau dengan logo apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan mendarat di atas meja.

Nami mengernyitkan dahi, menatap kartu itu lalu beralih menatap wajah Max. "Apa ini?"

"Kunci apartemenku," jawab Max tanpa ekspresi. "Mulai besok kosongkan kosmu yang di Tebet. Sesuai Pasal 1 dalam kontrak yang sudah kita tanda tangani, kita wajib tinggal satu atap. Aku tidak mau membuang waktu menjemputmu di gang sempit itu lagi setiap kali Ibuku meminta kita datang."

Nami langsung menegakkan tubuhnya, emosinya kembali tersulut. "Tunggu sebentar! Pernikahannya minggu depan. Kenapa aku harus pindah besok? Aku butuh waktu untuk beres-beres, dan lagipula, aku belum resmi jadi istrimu!"

Max mencondongkan tubuhnya sedikit, menumpukan kedua tangannya di atas meja Nami, mengunci pandangan gadis itu dengan tatapan logisnya yang dingin.

"Uang muka sudah cair, utangmu sudah bersih, dan pemeriksaan medismu menyatakan asetku dalam kondisi siap," ucap Max dengan suara rendah yang tegas, tidak menyisakan celah untuk didebat.

"Secara bisnis, transaksi ini sudah berjalan sejak kau menerima uang itu. Jadi, patuhi pasalnya."

Max menegakkan kembali tubuhnya, berbalik memunggungi Nami dan berjalan menuju pintu keluar. Tepat sebelum membuka pintu, ia menoleh sedikit tanpa perasaan bersalah.

"Asistenku akan datang membawa mobil boks besok jam sembilan pagi ke kosmu. Jangan terlambat."

Brak. Pintu tertutup rapat.

Nami mematung di kursinya, menatap keycard hitam di atas meja dengan napas yang memburu menahan kesal. Kalimat Max terus terngiang, menusuk ego dan kebebasannya yang baru saja ia rayakan siang tadi.

Nami meraih kartu mewah itu, menggenggamnya erat dengan perasaan campur aduk.

Selesai sudah hidup mandirinya di gang sempit Tebet. Kini, sangkar emas milik Max telah resmi terbuka lebar untuk mengurungnya.

1
Linzyasila Linzyasila
lanjut dong thor
Aksara Naura: tungguin yahh
total 1 replies
Linzyasila Linzyasila
aku selalu menunggumu up lak😍
Aksara Naura: makasih yaaa kak🥺🫶🏻 ak jdi semangat wk
total 1 replies
Aksara Naura
Gimana bab ini???🤭
Risma Arsita
Max udah mulai suka sama dokter Nami🤭
Risma Arsita
Dokter Nami panik🤣
Risma Arsita
Nyimak, sepertinya cerita ini seru
Aksara Naura: makasihh! dan selamat kamu komentar pertama 🤭😭 makasih yaa, tunggu terus kelanjutannya!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!