Jalan takdir seseorang tidak ada yang tau, kita selalu berdo'a meminta yang terbaik tapi takdir Allah yang menentukan.
Dua hati yang memiliki rasa namun tidak bisa bersatu. Salah satu hati selau menolak untuk membalas perasaan itu. Ada alasan dibalik penolakannya, namun ia tak mau mengatakan alasan itu dan memilih memendamnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei_Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia tetap orang yang gue cinta
Haidar dan Aisyah terlibat pembicaraan serius, tepat saat itu Gibran masuk dan berjalan mendekat.
"Gibran," panggil Haidar lirih dengan melambai pelan.
"Pa, Gibran udah suruh Affan ngurus perpindahan Papa ke rumah sakit di luar negeri," terang pemuda yang yang berdiri di samping kanan Haidar.
"Papa di sini saja," tolak Haidar.
"Enggak, Papa harus pindah ke rumah sakit yang lebih besar."
"Gibran, Papa ingin bahas permintaan Papa kemarin."
"Permintaan apa?!" Gibran mulai curiga, melirik Aisyah yang juga sedang melirik ke arahnya.
"Permintaan Papa yang ingin melihat kamu menikah dengan Aisyah."
"Pa, Gibran udah bilang itu permintaan mustahil! Gak mungkin Gibran menikahi dia," tolak Gibran tegas memandang Aisyah yang juga memandangnya tak suka.
"Gibran, ini permintaan Papa yang terakhir, Nak. Tolong pertimbangkan."
"Pa,"
"Tolong, Nak."
•
"Apa lu udah bilang setuju sama bokap gue?"
"Saya belum menyetujui."
Pria dengan raut muram mendengus dan mengalihkan pandangan pada hilir mudik pengunjung kantin yang ada di sekitaran rumah sakit.
"Terus gimana?"
"Saya juga gak tau, Mas. Sebenarnya saya keberatan jika menikah dengan Mas, saya punya mimpi menikah dengan pria shalih yang bisa menjadi imam buat saya," ujar Aisyah seraya memainkan pipet yang ada di gelas jusnya.
Gibran melirik sinis. "Lu kira gue fine aja? Enggak! Ogah gue nikah sama cewek sok suci kek lu," sentaknya.
Keduanya diam. Aisyah maupun Gibran menyelami pikirannya masing-masing.
"Tapi demi Papa, apa lu mau kalau kita nikah pura-pura?"
"Astagfirullah, Mas, nikah itu sakral, gak boleh asal, apalagi untuk mainan. Nikah salah satu ibadah yang terlibat langsung dengan Allah. Jangan sampek Allah marah karna kita melangsungkan pernikahan pura-pura!" Aisyah berbicara sedikit keras. Menahan geram dengan pria di depannya yang nampak biasa saja meski telah mencetus ide gila.
"Ya terus gimana? Walau gue beja d, urakan, tapi gak tega kalo nolak permintaan papa. Apalagi inget kondisi papa yang gak ada perubahan, takut benar-benar ...." Gibran terhenti, ia tak sanggup meneruskan kalimatnya.
Aisyah diam, namun lekat menatap pemuda itu. Wajah yang tadi mengesalkan kini berubah sendu. Aisyah pun heran, pemuda itu mudah merubah suasana.
"Saya juga gak tega, tapi permintaan papa Mas sangat sulit untuk dikabulkan. Kita bagaikan dua pribadi yang berbeda."
"Kita memang punya dunia berbeda, tapi nikah bukan hal yang bisa merubah semuanya. Toh, sesudah menikah pun gak akan ada yang berbeda. Gue tetep gue, dan elu tetep elu."
"Mas, menikah itu bukan hanya ijab qabul gitu aja udah selesai. Tetapi setelah menikah banyak syariat yang harus kita jalani. Tentang kewajiban, hak dan lainnya. Jadi menikah itu gak segampang mengucap ijab qabul."
"Alah ribet! Pokoknya kita nikah pura-pura aja. Titik."
"Mas ...!!!" Aisyah ingin menyanggah namun Gibran mengarahkan tangan di depan Aisyah supaya ia diam.
Mereka fokus membahas permintaan Haidar, namun Gibran tak tahu jika Haidar menjanjikan pengobatan untuk Aisyah. Bahkan pemuda itu juga tidak tahu jika Aisyah mengidap penyakit berbahaya.
"Misal kita menikah, tapi gue tetep sama Raina. Dia tetep orang yang gue cinta."
Aisyah mendengus menanggapi ucapan Gibran. Belum apa-apa pemuda itu sudah mengatakan hal yang demikian. Secara terang-terangan masih ingin mempertahankan hubungannya dengan kekasihnya. Lalu apa gunanya mereka terikat janji suci.
•
Suasana malam ini terlibat keheningan, Aisyah, Abi Muhsin dan Umi Siti duduk bersama di ruang tamu.
"Abi," panggil Aisyah lirih. Manik mata telah berkaca-kaca.
Abi Muhsin dan Umi Siti bersamaan memandang ke arah puterinya. Kedua orang tua itu telah mengetahui alasan yang membuat Aisyah dirundung kesedihan.
"Nak, Abi gak maksa. Semua keputusan ada di tanganmu. Papanya Nak Gibran juga gak maksa," ujar Abi Muhsin, telah mengetahui pokok pembahasan malam ini yang membuat pekatnya malam makin terlihat mencekam.
Pokok permasalahan yang dianggap sangat serius karena menyangkut masa depan Aisyah.
"Justru karna itu, di sini Aisyah yang harus memberi keputusan, Ais jadi bingung." Aisyah mengusap pipinya yang terdapat lelehan air mata.
"Yang utama turuti kata hatimu. Abi gak maksa, tapi kalau boleh Abi mau bicara." Abi Muhsin mengembus napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya, "jodoh telah diatur oleh Allah, kita gak tau dengan siapa kita saling menghabiskan waktu. Bisa saja Nak Gibran memang jodoh yang disiapkan Allah untuk mendampingimu. Ingat, Allah Maha Benar, jadi, segala yang digariskan tetaplah ada manfatnya. Selama ini kelakukan Nak Gibran gak terlalu brutal, menurut Abi masih tahap wajar. Dia hanya butuh bimbingan untuk mengajarkan mana yang dosa dan mana yang pahala. Abi setuju aja kalau kamu mau menerima Nak Gibran."
"Tapi Abi gak tau gimana sikap aslinya Mas Gibran. Aisyah punya keinginan menikah dengan lelaki salih, tapi Mas Gibran jauh dari bayangan Ais, bagaimana Ais mau nerima dia?"
"Menurut Abi, jangan merasa bahwa hanya kita hamba Allah yang paling benar tanpa kesalahan. Terkadang kita pun gak sengaja berbuat dosa, mungkin dosa kita juga seimbang dengan dosa yang pernah dilakuan Nak Gibran. Abi sangat yakin, Nak Gibran hanya salah bergaul dan butuh bimbingan. Insyaallah, kamu bisa merubah sikapnya. Kita gak ada hak buat menolak sesuatu yang Allah siapkan."
Aisyah menunduk dalam, menafsirkan kalimat demi kalimat. Benar. Ia tak bisa merasa paling berhak mendapatkan jodoh pria yang salih. Menyadari bahwa selama ini masih banyak kesalahan yang lakukan. Ia mengucap istigfar dalam hati.
"Selain itu, Pak Haidar juga telah mengatakan ingin membiayai pengobatanmu. Siapa tau dengan lantaran itu penyakitmu bisa sembuh, Nak. Umi sangat ingin melihat kamu ceria tanpa kesakitan seperti dulu." Umi Siti ikut menyahut.
"Umi, untuk penyakit, Ais udah berpasrah. Hidup dan mati seseorang sama halnya dengan jodoh, Ais gak tau kapan Allah mencabut napas Ais. Banyak orang sehat tiba-tiba meninggal, bukankah seperti itu juga kita gak bisa memilih? Meski kemungkinan besar Ais bisa sembuh lantaran biaya dari Om Idar, tapi Ais gak mau terjadinya pernikahan ini hanya karna alasan itu. Jikapun Ais menerima Mas Gibran, itu karna Om Idar. Ais gak tega buat mengabaikan keinginan terakhirnya. Itu saja. Bukan semata-mata karna ingin sembuh."
"MasyaAllah, kamu benar, Nak. Maafin Umi yang terlalu menginginkan kesembuhanmu sampai berpikir seperti itu."
"Kalau kamu memang peduli dengan permintaan terakhirnya Idar, apa kamu mau menerima Nak Gibran?" tanya Abi Muhsin.
"Nanti malam Ais ingin bertanya pada Allah lewat shalat istiqarah, mudah-mudahan Ais dapet petunjuk yang tepat dari Allah."
Abi Muhsin mengangguk. "Aamin," ia mengaminkan doa Aisyah.