NovelToon NovelToon
Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Anak Genius / Pengasuh / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26: Sayap Barat

Keira tidak pernah menanyakan siapa pemilik jejak sepatu di depan kamar bermain Jayden.

Di Kediaman Ciu, ada banyak hal yang lebih aman dibiarkan sebagai tanda tanya. Orang-orang di rumah itu berjalan dengan suara pelan, menyimpan rahasia di balik pintu mahal, dan pura-pura tidak melihat sesuatu selama sesuatu itu belum menyentuh nama mereka.

Keira belajar cepat.

Ia hanya membersihkan bekas tanah di lantai, menata lagi kardus bekas popok yang berubah menjadi sudut belajar Jayden, lalu memasukkan kejadian itu ke bagian pikirannya yang selalu berjaga.

Namun sejak hari itu, ia lebih sering menoleh saat melewati koridor panjang.

Pada akhir minggu keenam, Jayden mendapat hadiah dari salah satu sepupu jauhnya yang baru pulang dari luar kota. Hadiah itu bukan mobil remote, bukan Lego mahal, bukan robot yang bisa bicara dengan suara aneh.

Seekor hamster kecil berwarna cokelat muda.

Jayden langsung jatuh cinta.

"Ci Keira, dia kecil sekali!" Jayden menempelkan hidungnya ke dinding kandang bening. Matanya bulat, napasnya sampai berembun di plastik. "Dia bisa dengar aku?"

"Bisa," jawab Keira sambil mengecek tempat minum khusus hamster yang menempel di sisi kandang. "Tapi kalau Adik Jay teriak terlalu keras, dia bisa kaget."

Jayden segera menutup mulut dengan dua tangan.

Keira hampir tersenyum. Anak itu yang dulu bisa berteriak hanya karena brokoli menyentuh nasi, sekarang menahan suara demi makhluk kecil yang baru ia kenal lima menit lalu.

"Namanya apa?" tanya Keira.

Jayden berpikir serius. Terlalu serius untuk ukuran anak lima tahun yang biasanya menamai mobil-mobilannya dengan warna.

"Bola."

Keira menatap hamster itu. Tubuhnya bulat, pipinya bergerak cepat saat mengendus potongan wortel.

"Cocok," katanya.

Seharian itu, Jayden tidak mau jauh dari kandang. Ia membawa bangku kecil, duduk di depan meja rendah, dan bicara pelan kepada Bola tentang pameran daun, mobil merah, serta bagaimana semut kemarin tidak menyerah membawa remah roti.

Keira mengawasinya sambil membereskan kartu-kartu kata. Ia sengaja tidak terlalu banyak ikut campur. Untuk Jayden, merawat sesuatu yang lebih kecil dari dirinya bisa menjadi pelajaran yang tidak bisa diajarkan dengan ceramah.

Masalah muncul menjelang sore.

Keira sedang mengambil kain lap dari lemari kecil ketika Jayden menjerit tertahan.

"Ci Keira!"

Suara itu bukan tantrum. Bukan marah. Itu panik.

Keira langsung berbalik.

Kandang hamster di atas meja terbuka. Pintu kecilnya menggantung, belum terkunci sempurna. Di bawah meja, sebuah gulungan kertas bekas jatuh miring, dan di dekat kaki kursi ada jejak serbuk makanan.

Jayden berdiri kaku dengan wajah hampir menangis.

"Bola hilang."

Keira menahan napas satu detik, lalu berjongkok.

"Adik Jay, dengar Ci Keira. Jangan lari. Jangan injak apa pun. Hamster kecil, kalau kita panik, dia bisa makin masuk ke tempat sempit."

Bibir Jayden bergetar. "Aku salah?"

"Pintunya belum terkunci rapat. Sekarang kita cari dulu."

Ia tidak mengatakan tidak salah. Ia juga tidak menyalahkan. Untuk anak sekecil Jayden, yang paling penting saat itu bukan mencari siapa penyebabnya, tapi mencegah tangan kecilnya mengambil keputusan panik yang bisa melukai hamster.

Keira mematikan kipas angin, menutup pintu kaca ke taman, lalu meminta Jayden duduk di karpet.

"Kalau Adik Jay lihat Bola, panggil pelan. Jangan tangkap sendiri."

Jayden mengangguk cepat, matanya basah.

Keira mulai mencari dari bawah sofa, balik tirai, sela kaki meja, sampai rak mainan bagian bawah. Tidak ada. Hanya ada beberapa butir makanan yang tercecer mengarah ke pintu samping kamar bermain.

Pintu itu biasanya tertutup.

Hari itu, mungkin karena pengasuh tua yang tadi mengantar susu untuk Jayden terburu-buru, pintunya tidak rapat. Celahnya cukup untuk seekor hamster.

Keira mengikuti jejak kecil itu.

Koridor samping di luar kamar bermain lebih sepi daripada lorong utama. Lampu dindingnya menyala kuning pucat. Di bagian ujung, ada belokan yang selama ini hampir tidak pernah ia lewati.

Ia pernah melihat Bi Sari berdiri di sana, menghentikan seorang ART muda hanya dengan satu kalimat pendek.

Jangan dekat-dekat sayap barat.

Saat itu Keira tidak bertanya.

Sekarang, di lantai marmer dekat belokan, ia melihat sesuatu bergerak cepat seperti bayangan kecil. Bola.

"Bola," panggilnya lirih.

Hamster itu berhenti sekejap, lalu berlari lagi.

Keira tidak punya pilihan. Ia melepas sandal rumahnya agar langkahnya tidak berbunyi keras, lalu mengikuti dengan perlahan.

Udara berubah begitu ia melewati belokan.

Rumah yang sama, tetapi rasanya tidak lagi sama.

Koridor sayap barat lebih redup. Beberapa lampu dinding mati, menyisakan lingkaran cahaya yang terputus-putus di lantai. Di dinding, bekas lukisan yang dilepas masih tampak seperti kotak-kotak pucat. Ada lubang paku kecil berbaris tidak rata, sebagian menghitam oleh debu. Lantai kayunya berbeda dari bagian utama rumah, lebih tua, dengan goresan panjang seperti bekas sesuatu yang pernah diseret keras.

Keira berhenti.

Naluri pertamanya menyuruhnya mundur.

Namun dari sudut matanya, ia melihat ekor kecil Bola masuk lebih jauh ke lorong.

Jayden masih menunggu di kamar bermain dengan mata hampir menangis. Kalau hamster itu masuk ke lubang pipa atau sela lemari tua, mencarinya akan jauh lebih sulit.

Keira menarik napas pelan.

Ia tidak berlari. Ia hanya melangkah satu per satu, menghitung pintu, mengingat arah pulang.

Satu pintu terkunci.

Pintu kedua tertutup rapat dan tidak ada suara.

Di ujung koridor, ada pintu yang terbuka setengah.

Dari celahnya keluar musik rendah, bukan lagu yang biasa terdengar dari ruang keluarga Ciu. Nadanya berat, berulang, seperti sesuatu yang sengaja diputar untuk menutup suara lain. Lalu terdengar bunyi gelas beradu dengan botol.

Keira berhenti di jarak beberapa langkah.

Aroma alkohol samar bercampur asap rokok merayap keluar dari celah pintu.

Ini bukan tempatnya.

Kalimat itu muncul jelas di kepalanya.

Ia menunduk, mencari gerakan kecil di lantai. Tidak ada. Bola mungkin masuk ke sekitar pintu itu, tetapi Keira tidak boleh mengetuk. Tidak boleh memanggil. Tidak boleh membuat suara yang mengundang orang di dalam keluar.

Ia memutuskan kembali dulu, panggil Bi Sari, lalu cari cara yang lebih aman.

Keira berbalik.

Saat itulah sebuah tangan keluar dari sisi gelap koridor dan mencengkeram pergelangan tangannya.

Cengkeramannya keras, dingin, dan tepat di tulang.

Tubuh Keira berhenti seketika.

Ia tidak menjerit.

Orang yang benar-benar ingin menyerang dari belakang biasanya tidak memberi ruang bagi korban untuk melihat wajahnya. Orang yang mau menakut-nakuti justru ingin korban melihat, ingin korban tahu siapa yang memegang kendali.

Keira pernah belajar hal itu bukan dari buku, melainkan dari gang sempit, dari utang orang-orang dewasa, dari pintu kontrakan yang diketuk tengah malam.

Jadi ia tidak menarik tangannya.

Ia hanya memutar kepala perlahan.

Pria itu berdiri setengah tertutup bayangan. Rambutnya agak panjang, jatuh menutupi sebagian wajah. Kemejanya hitam, kerahnya berantakan, lengan bajunya digulung asal. Matanya tampak merah di bawah cahaya koridor yang buruk, tetapi sorotnya terlalu sadar untuk disebut mabuk sepenuhnya.

Alkohol dan asap rokok melekat di tubuhnya.

Keira tahu namanya bahkan sebelum ia memperkenalkan diri.

Darren Ciu.

Ko Darren, kata staf kalau terpaksa menyebutnya. Tuan Muda Ketiga, kata dokumen keluarga. Penghuni sayap barat, kata bisik-bisik yang selalu berhenti ketika ada langkah mendekat.

"Siapa yang menyuruhmu masuk ke sini?"

Suaranya serak, rendah, seperti sudah lama tidak dipakai untuk berbicara baik-baik.

Keira menatap cengkeraman di pergelangan tangannya, lalu kembali ke wajahnya.

"Tidak ada," jawabnya. "Saya mengejar hamster Adik Jay."

Untuk pertama kalinya, ekspresi pria itu berubah.

Bukan banyak. Hanya ujung matanya bergerak, seolah jawaban itu tidak masuk ke daftar kemungkinan yang sudah ia siapkan.

"Hamster?"

"Iya."

"Kamu masuk sayap barat karena hamster?"

"Iya."

Darren menatapnya lebih lama.

Keira tahu tatapan seperti itu. Tatapan orang yang sedang mencari rasa takut di wajah orang lain, mencari celah untuk menekan lebih dalam. Ia tidak memberinya.

Bukan karena ia tidak takut.

Detak jantungnya sudah naik sejak aroma alkohol itu menyentuh hidungnya. Telapak tangannya dingin. Kulit di belakang lehernya seperti ditarik tipis. Tetapi ketakutan yang ditunjukkan terlalu cepat sering berubah menjadi undangan bagi orang yang suka mengejar.

Darren menyipitkan mata.

"Kamu pengasuh baru itu."

"Keira Lo," jawab Keira. "Pengasuh bayi Nyonya Stephanie dan pendamping belajar Adik Jay."

"Aku tidak tanya CV."

"Saya menjawab supaya Ko Darren tahu saya tidak datang diam-diam untuk urusan lain."

Senyum tipis muncul di bibirnya. Tidak ada hangat sedikit pun.

"Jangan pakai Ko seolah kamu kenal aku."

Keira diam.

Cengkeramannya menguat.

"Orang-orang biasanya mundur kalau sampai sini," katanya. "Kamu tuli atau bodoh?"

"Saya dengar," jawab Keira. "Dan saya sedang berusaha mundur sebelum Ko Darren memegang tangan saya."

Kali ini senyum itu hilang.

Keira tidak menantang. Nada suaranya tetap rata. Tetapi justru kerataan itulah yang membuat udara di antara mereka menegang.

Darren terbiasa melihat dua jenis wajah. Takut, atau kasihan. Yang pertama membuatnya muak. Yang kedua membuatnya ingin menghancurkan sesuatu.

Keira tidak memberi keduanya.

Ia hanya berdiri di sana, dengan pergelangan tangan yang masih berada dalam cengkeramannya, dan mata yang terlalu tenang untuk seorang pengasuh yang salah masuk ke tempat terlarang.

"Kamu pikir aku nggak akan apa-apakan kamu?"

"Saya tidak tahu."

"Tapi kamu tidak lari."

"Kalau saya lari, Ko Darren akan mengejar."

Hening turun tajam.

Musik dari kamar setengah terbuka terdengar semakin berat. Di suatu tempat dekat pintu, ada bunyi goresan kecil. Mungkin Bola. Mungkin sesuatu yang lain.

Darren mencondongkan tubuh sedikit.

"Kamu sok pintar."

"Saya cuma ingin membawa hamster Adik Jay kembali."

"Di rumah ini," katanya pelan, "orang yang masuk ke tempat yang salah biasanya tidak keluar dengan utuh."

Keira merasakan jari-jarinya sendiri menegang. Ia bisa saja berteriak. Mungkin ada staf di lorong lain. Mungkin tidak. Di Kediaman Ciu, suara dari sayap barat belum tentu membuat orang datang.

Jadi ia tetap menatap Darren.

"Kalau Ko Darren benar-benar mau melukai saya," katanya, "Ko Darren tidak perlu bicara selama ini."

Mata Darren berubah gelap.

Detik berikutnya, tangannya yang bebas terangkat.

Gerakannya lambat. Terlalu lambat untuk serangan sungguhan, terlalu sengaja untuk disebut kebetulan. Jari-jarinya bergerak melewati ruang di antara mereka, mendekati leher Keira inci demi inci.

Napas Keira turun ke perut.

Ia menghitung.

Satu.

Dua.

Tiga.

Tangan Darren berhenti kurang dari lima sentimeter dari lehernya.

Keira tidak mundur.

1
!m_mah
maaf kk thor, kno JD "Lo gue" 🙄
sunaryati jarum
Langsung 200 bab dan end, langsung delete
sunaryati jarum
Ko Kevin sepertinya tertarik pada Keira Lo
sunaryati jarum
Suami istri ko seperti orang asing,pada sudah melahirkan
sunaryati jarum
Semoga kakakmu sembuh,Keira
sunaryati jarum
Ko Ethan kaku tapi teliti
sunaryati jarum
Baru mampir, penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!