Dhanil anak yatim piatu yang mencoba untuk menggapai cita cita, selesai SMA bersama dengan beberapa teman akrabnya, Dhanil juga meneruskan studinya di salahsatu perguruan tinggi swasta di Ibukota Sumatera Utara. Dhanil punya pacar bernama Yani, yang sudah memiliki hubungan spesial sejak dari SMA, akan tetapi hubungan mereka ditantang oleh orang tua Yani, karena Dhanil dipandang bukan orang yang tepat karena alasan harta dan kedudukan, akan tetapi keduanya dengan segala konsekuensinya tetap menikah setelah meraih gelar Sarjana, dan memutuskan kembali ke kampung halaman mereka, Kota Sibolga.
Hubungan yang baru sebentar dirasakan manisnya akhirnya bubar, mereka kalah oleh trik yang dilakukan Ibu Yani. Disinilah kisah Dhanil bergulir dan mengalir berubah ubah, mulai dari keputusannya meninggalkan kota tempat dia dibesarkan menuju tanah peninggalan almarhum ayahnya, kehidupan berliku membuat Dhanil menemukan saudara kandung ayahnya dan kakak kandungnya yang sudah lama terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syamsuddahri Pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Terkini Sahabat Lama
Fadli akhirnya membuka cerita. Saat ia ingin memancing di pantai kalangan, ia melihat Tika sedang duduk sendirian dipondasi yang ada disana. Fadli mendekat dan tentu saja Tika merasa tak masalah, justru gembira dengan tawa karena Fadli adalah teman SMA nya yang sudah hampir enam tahun tak bertemu. Mereka cerita ngalor ngidul, hingga sampai ke pacar, Tika mengaku tak punya, sedang Fadli memang lagi kosong.
Fadli dengan berani menawarkan diri, Tika menantang Fadli kalau memang serius datang aja kerumah lamar langsung, tak perlu pacaran pacaran. Fadli menyanggupi, dan jadilah sore itu perjanjian antara Fadli dan Tika, akhirnya saat itu Fadli tak jadi mancing, umpan udangnya mati semua.
“Jadi betul kau datang melamar ?”.
“Iya lah.. aku memang serius”.
Dhanil dan Fadli sama tertawa. “Jadi, jodoh karena mancing nih”.
“Itu kan jalannya aja Dan”. Kilah Fadli.
“Korbannya udang hidup ya...”.
Dhanil, Fadli dan Tika sama tertawa. Dhanil geleng kepala, kadang jodoh memang begitu, ada yang mendatangkan jalan lucu, sedih, dan ada juga yang mendatangkan jalan seram. Ada yang berakhir bahagia, ada juga yang kurang beruntung, liku liku hidup yang selalu tak bisa ditebak oleh siapapun, banyak orang yang dipaksa hanya bisa menjalani saja tanpa bisa punya kemampuan untuk mengaturnya sesuai dengan selera sendiri. Seperti apa yang dialami oleh Dhanil, cerita panjangnya terus seakan bergerak dan terus merangkak berjalan, ada yang baru ada yang cukup lama, ada yang menyakitkan ada pula yang cukup menggembirakan.
Tika memilih berdiri meninggalkan Dhanil dan Fadli yang terus mengumbar cerita bergantian, Tika mengambil pakan ikan dan memberikannya pada ikan ikan Dhanil yang lumayan banyak. Tika cukup senang tampaknya melihat Ikan ikan berebut pakan yang dilemparnya, Tika bahkan tampak larut, duduk ditanah dan melempar pakannya sedikit demi sedikit.
“Sebenarnya Yani nggak lama di Medan, hanya sekitar empat bulan dia pulang lagi ke Sibolga”.
Dhanil menatap Fadli. “Tahu darimana Fad ?”.
“Aku ketemu di pasar Dan”.
“Pasar Nauli ?”.
Fadli mengangguk. “Yani mungkin mau pergi atau mau pulang dari toko ibunya. Dia juga nanya kau Dan”.
“Kau jawab apa ?”.
“Aku cerita kalau kau udah pindah dari Sibolga dan aku mengaku tak tahu kalau kau kemana“.
“Baguslah kalau begitu”.
Cerita Fadli seakan membuka luka lama Dhanil yang sebenarnya sudah cukup berhasil ia pendam beberapa tahun belakangan ini, Dhanil bahkan baru tahu kalau Yani dulu perginya ke Medan. Tapi Dhanil juga tak merasa ada masalah jika Fadli cerita soal Yani lagi.
“Ia dipaksa menikah oleh ibunya”.
Dhanil buang nafas berat. “Yani setuju ?”.
“Setuju nggak setuju, tapi pernikahan itu terjadi”.
Dhanil buang nafas berat. Pandangan Dhanil jauh kearah Tika, setidaknya menurut Dhanil Fadli jauh lebih bahagia dibanding dia, paling tidak Fadli bisa melihat perut Tika yang terus berkembang dan Fadli juga bakal bisa melihat anaknya lahir dengan selamat, tidak seperti Dhanil.
“Kau pasti terkejut jika tahu siapa yang menikahi Yani”.
Dhanil masih dengan senyum memandang Fadli. “Emang siapa ?”.
“Anggi”.
“Anggi... yang..”.
“Anggi Sugandi”.
“Anggi ...ah, entahlah”. Dhanil tampak bingung.
“Memang agak aneh juga”.
Dhanil angguk angguk kepala. “Entahlah Fad”.
Dhanil memang cukup terkejut persis seperti tebakan Fadli. Dhanil juga tak menyangka jika yang menjadi suami Yani sekarang adalah teman sekelas mereka waktu SMA dulu. Bahkan Dhanil dua tahun duduk satu meja dengan Anggi, tentu menjadi kejutan yang cukup hebat.
“Hebat kan ?”.
Dhanil menggeleng. “Hebat apanya ?”.
“Yani menikah dengan dua lelaki yang dua tahun pernah duduk satu kelas, satu ruang, bahkan satu meja”.
Dhanil hanya mampu senyum lagi. “Iya juga ya”.
“Itu termasuk sejarah hebat”.
Dhanil dan Fadli kembali sama sama tertawa. Dhanil memang ikut tertawa, tapi sejujurnya tawa Dhanil merupakan tertawa yang bertenden sportifitas semata, nyaris ketawa yang dipaksa paksa. Dhanil lebih banyak menujukan matanya pada Tika yang terus melempar sedikit sedikit pakan ikan ketengah kolam dan memperhatikan ikan yang menyambar pakan, air ikut bersuara besar, tapi tak butuh lama, ikan kembali menghilang.
“Irfan juga sudah menikah Dan”.
“Dengan Lilis ?”.
Fadli geleng kepala. “Bukan”.
“Bukan gimana ?”.
Fadli geleng kepala. “Mana kutahu. Yang jelas Irfan menikah bukan dengan Lilis, tapi dengan cinta lamanya,
Nadia”.
“Nadia ?”.
Fadli anggukkan kepala. “Nadia, mereka menikah tiga bulan lebih dulu dari aku Dan”.
“Lilis gimana ?”.
“Kalau cerita yang kudengar, Lilis yang lebih dulu menikah. Lilis menikah dengan dosen mereka”.
“Dosen mereka, udah tua ?”.
Fadli geleng kepala. “Nggak lah, masih muda, hanya beda tujuh tahun dari Lilis katanya. Masih lajang juga”.
.... BERSAMBUNG ...
kebaikab selalu menemukan jalan untuk meraih bahagia.. syukurlah Anggi akhirnya terbuka hatinya