Cinta hadir menjadi orang ketiga diantara cakra dan tasya.
Cinta awalnya adalah gadis tangguh namun kehilangan seorang sandaran hidup mampu melemahkannya.
kisah antara cakra dan cinta yang menjalani hari-hari bersama dan menumbuhkan cinta antara mereka, namun tak mendapat restu dari keluarga.
Cakra berniat untuk membawa cinta pergi jauh meninggalkan keluarga untuk menjalani hidup berdua.
Apa yang ada di fikiranmu?Kenapa kamu bilang akan meninggalkan segalanya demi hidup bersamaku?Apakah kau juga akan meninggalkan keluargamu?Dan perusahaanmu, bagaimana?Apakah kita bisa hidup bersama? Aku memang akan pergi tapi tak akan mungkin untuk mengajakmu bersamaku.
Jangan lupa sediakan tissu yah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diana Tasmin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Tunangan
“Ayo, kita nonton di kamarku saja!" Cintyapun mengajak cinta ke kamarnya. Namun saat hendak berdiri cakra menggenggam tangan cinta, “mau kemana?”
“Aku mau tidur di kamar cintya," Cinta "Kamu kan mengajak kesini agar aku bisa melupakan kesedihanku,” Cinta tertunduk lesu, seperti anak kecil yang dilarang makan permen oleh ayahnya.
Tapi sebenarnya Cakra hanya ingin memegang tangan cinta, mencoba menikmati getaran yang tumbuh setelah tadi duduk dengan jarak yang sangat dekat dengan gadis cantik itu.
Apakah cakra memang benar-benar mencintainya? Bahkan dia sendiri tak menyadari perasaannya. Yang dia tahu bahwa dia hanya ingin bersama gadis itu. Sangat nyaman ketika berinteraksi dengannya.
“Baiklah, asalakan kamu tidak bersedih lagi.” Cakra akhirnya melepaskan genggaman tangannya yang telah membuatnya nyaman. Cinta segera berlari menuju kamar yang di tuju cintya. Dan mereka menghabiskan malam
minggu dengan menonton drama kesukaan mereka entah sampai jam berapa.
Kesokan paginya.
Kedua gadis itu baru terlihat batang hidungnya setelah matahari hampir berada pada puncak tertingginya. Merekapun telah bersiap menghabiskan hari ini dengan berjalan-jalan.
Sementara di ruang keluarga terlihat cakra yang sedang menonton berita di temani kopi hitam kesukaannya. “Kalian mau kemana?” Tanya cakra menghentikan langkah kedua gadis itu.
“Kami mau jalan-jalan ke mall kak,” Cintya menjawab pertanyaan kakaknya.
“Berdua? Aku ikut,” Cakra.
“Masa kakak mau ikut kita, ga malu nanti dibilang bodyguard kita?” Cintya.
“Gak papa, aku memang mau jagain kalian berdua. Kalian tunggu, kakak ganti baju dulu!” Cakrapun berlalu. Meskipun cintya kurang setuju jika cakra akan ikut karena pasti mereka merasa tidak bebas.
Merekapun sampai di mall yang mereka tuju. Cakra memanjakan kedua gadis itu, memberikan apa yang mereka inginkan. Cakra memberikan beberapa lembar pakaian untuk cintya dan cinta.
Cintya adalah gadis yang tak terlalu memperhatikan penampilannya. Dia hanya sibuk berlatih karat* dan sering mengikuti pertandingan, sama halnya dengan cinta. Bahkan mereka beberapa kali bertemu saat pertandingan karate.
Meskipun usia cinta lebih tua dari cintya namun kenyataannya cinta tak pernah menang ketika berhadapan dengan
cintya. Penampilan mereka tak jauh berbeda. Hanya beda di harga dan kualitas dalam memilih barang, jika cintya mampu membeli barang dengan merk No.1, maka cinta hanya mampu membeli dengan kualitas KW10 dari barang itu. Namun kali ini Cakra bersikap adil pada kedua gadis ini.
Karena lambung mereka telah bersorak-sorak minta diisi, mereka bertigapun memutuskan untuk makan siang disalah satu resto di mall tersebut.
Terlihat sosok wanita cantik dengan senyum diwajahnya Menghampiri mereka bertiga, “Cintya, ” gadis itu menyapa cintya.
Yang disapapun langsung melayangkan pandangannya pada sumber suara itu. “ Kak tasya, apa kabar? Duduk aja kak.” Cintya.
Dan gadis itupun tak segan-segan duduk di samping cakra dan memeluk lengannyanya, “hai mas, apa kabar?” Sapa gadis cantik itu.
“Mas? Ah aku lupa kalo bu tasyakan tunangannya kak cakra. Tapi kok sakit banget melihat ini yah?Aduh perihnya, mataku serasa kemasukan debu. Pengen nangis, tapi malu. Nangisnya di tahan dulu yah, nanti sampai rumah aja.”
“Aku baik, kamu?” Cakra sedikit canggung.
“Kak tasya, mau pesan apa? Kami udah pesan. Oh iya hampir lupa kak, kenalin ini cinta temanku, cin ini kak Natasya tunangannya kak cakra.”
“Oh ya. Apakah kita pernah bertemu?” Tanya tasya pada cinta.
“Saya karyawan di PT TAMA bu,” jawab cinta.
“Benarkah? Pantas kayak pernah ketemu." Tasya, "aku samain aja sama mas.”
“Pantas saja kakak terlihat bersemangat mau mengikuti kita, ternyata kalian janjian disini. Alasannya mo jagain kita. Hah dasar modus,” cintya mencoba menyindir kakaknya.
“Duh pake dikenalin segala lagi. Oh iya, ternyata mereka janjian disini.Duh, tambah gak tahan deh. Debunya makin banyak masuk ke mataku, pake g disaring lagi.”
“Aku ke toilet dulu yah,” Cintapun beranjak dari tempat duduknya.
Ketika sampai di dalam toilet cairan bening itupun lolos membasahi pipinya. Cinta menutup wajahnya dengan kedua tangannya kemudian satu tangan menepuk-nepuk pelan dadanya berusaha mengendalikan perasaan yang tak ia sadari.
Yang dia tahu hanya rasa sakit ketika melihat cakra telah memiliki kekasih meskipun kabar tersebut telah dia ketahui sejak lama, namun ketika melihat langsung mengapa sakitnya semakin mendalam. Apakah benar cinta telah mencintai cakra, meskipun dia sadar itu sebuah kesalahan.
"Ngak ini bukan cinta. Aku hanya terbiasa di dekatnya."
Sementara di luar sana, Cakra merasa gerah meskipun ruangan itu ber AC. Terlihat gelisah, entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Mencoba menyingkirkan tangan tasya yang sejak tadi menggenggamnya. Mencoba menjauhkan tubuhnya dari tasya namun sebaliknya tasya selalu mendekatkan dirinya pada cakra.
“Aku juga mau ke toilet dulu yah,” Tasyapun meninggalkan cintya dan cakra berdua.
Sampai di dalam toilet tasya mendapati cinta yang sedang mencuci wajahnya, terlihat wajah cinta sedikit sembab seperti orang yang habis menangis.
Tasya menyapa Cinta,“ kamu gak papa?”
“Gak papa bu, cuma sedikit ngantuk soalnya semalam begadang sama cintya nonton drama. Dramanya sedih lagi, jadi kepikiran sama pemerannya.” Cinta mencoba mengalihkan perhatian tasya dengan celotehnya.
“Aku kira kamu kenapa, eh taunya malah ngomongin drama. Ya udah aku masuk dulu.” Tasya tersenyum melihat tingkah Cinta yang katanya baper karena drama, Belum tau saja dia?
Makanan merekapun telah di habiskan.
“Kak, kami pulang duluan aja yah. Kakak pulang sama kak tasya!” cintya
“Gak apa, aku pulang sama kalian saja,” Cakra ingin menolak usulan cintya namun gadis itu telah merogoh saku celananya lalu mengeluarkan kunci mobilnya.
“Yuk cin kita pulang. Gak enak tau jadi penolak nyamuk,” Cintya langsung menarik tangan cinta tanpa harus menunggu persetujuan dari yang lainnya.
“Kamu hati-hati cin!" Tasya melambaikan tangan sambil tersenyum pada kedua gadis itu.
Senyuman yang sangat awet terpancar di wajah tasya bertemu dengan Cakra. Ada rasa rindu yang terpatrih di dadanya, rindu pada sang kekasih. Meskipun berada satu atap dalam bekerja, mereka jarang bertemu.
Setelah Tasya resmi bertunangan dengn cakra, Tasya sangat menjaga sikapnya di depan cakra. Dia tidak lagi manja, dan mencoba bersikap dewasa. Tasya juga tak pernah mengekang cakra dengan pertunangannya, dia sangat mempercayai lelaki itu.
Mereka memang telah bersama sejak kecil. Tasya sering meminta cakra membantunya untuk mengerjakan tugasnya, hingga kedekatan mereka membuat orang tua mereka merencenakan perjodohan ini.
Sedangkan Cakra hanya diam seribu bahasa menatap sampai kedua gadis itu tak terjangkau oleh pandangannya. Tasya mulai merasakan perubahan sikap Cakra, jika biasanya cakra hanya diam ketika tasya bergelayut manja di lengannya, kini Cakra seolah menghindarinya. Seakan menjaga perasaan seseorang?
"Ada apa dengan Cakra?"
\========
Ada yang bisa bantu author menjelaskan keadaan ini pada cakra dan cinta???
semangat thor,,, ceritanya bagus bgt,,, aku tunggu karya baru mu thor,,,
klo kisah ku malah mencintai dan d cintai tp nggk bs saling memliki,,,😥
semoga kebahagiaan menantimu cinta