Sejak dihianati oleh Ayah dan Kekasihnya. Justin tidak percaya lagi pada sesuatu yang dinamakan cinta. Justin menganggap bila cinta adalah hal yang tabuh dan memuakkan. Menganggap semua wanita itu sama saja, penghianat dan tidak bisa di percaya. Namun pertemuan singkatnya dengan seorang gadis di sebuah bar yang akhirnya merubah pandangannya tentang cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Justin membawa Jia untuk bertemu teman-temannya, karna ia fikir gadis itu akan merasa lebih baik setelah bertemu mereka dan Felix terutama. Pasti bocah itu memiliki banyak sekali ide untuk menghibur Jia yang saat ini dalam keadaan buruk.
Dan ternyata Sgilla juga sedang berada di sana. Sungguh sulit di percaya jika gadis itu kini malah dekat dengan Seon, padahal yang sebelumnya memperebutkannya adalah Leon dan Xion.
"Nunna, aku lihat kau dan, Justin hyung semakin dekat saja. Apa kalian berkencan?"
Byurrr!!
Jia menyemburkan air yang berada dalam mulutnya karna pertanyaan Felix yang sangat tiba-tiba. "Berhentilah bertanya yang tidak-tidak, Felix Nam. Aku dan dia tidak mungkin berkencan." Justin bangkit dari dudunya dan menghampiri Jia sambil membawa beberapa lembar tisu. "Kami hanya berkencan, tidak lebih." imbuhnya menambahkan.
Jia mencerutkan bibirnya, sambil terus menggerutu... gadis itu membersihkan pakaiannya yang basah karna terkena semburan air di mulutnya. Bibirnya terus saja berkomat-kamit membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa gemas, Justi salah satunya.
"Dasar bocah, kalau ingin bertanya yang kira-kira."
"Nunna, memangnya apa yang salah dengan pertanyaanku? Aku bertanya sebuah pertanyaan yang wajar, kau saja yang menyikapinya secara berlebihan." ujar Felix membela diri.
"Jadi maksudmu aku yang salah, begitu? Apa karna kami dekat maka kami berkencan? Asal kau tau, Lee Felix. Sebuah persahabatan itu lebih kental dari pada hubungan percintaan, aku dan manusia kutub itu hanya berteman, tidak lebih. Jadi jangan berfikir yang tidak-tidak."
"Aisshh!! Kenapa kesannya malah aku aku yang salah? Padahal aku kan hanya bertanya? Memangnya di mana sih letak kesalahanku?" ujar Felix sambil menggaruk tengkuknya.
"Kesalahnmu cuma satu, kau itu terlalu berisik jadi orang." Sahut Justin menimpali.
Felix langsung menekuk wajahnya dan mencerutkan bibirnya mendengar ucapan Justin. Ia tidak habis fikir dengan hyungnya yang satu itu. Kadang dia berfikir, memangnya saat hamil dulu ibunya ngidam apa sampai-sampai melahirkan seorang putra yang bermulut tajam seperti Justin.
Perhatian Justin teralihkan karna ponsel dalam saku jins-nya yang tiba-tiba bergetar. Satu pesan masuk, Justin membuka dan segera membacanya. "Aku ada urusan mendadak, kau ingin pulang sekarang atau nanti?"
"Nanti saja, jika kau tidak keberatan setelah urusanmu selesai kembalilah kemari dan jemput aku." Justin tidak memberikan jawaban apa-apa, sebagai gantinya pemuda itu mengangguk.
Melihat perhatian yang Justin berikan untuk Jia membuat Felix semakin yakin jika diantara mereka berdua memang ada sebuah ikatan khusus, mungkin saat ini mereka memang masih belum mau mengakuinya. Tapi Felix sangat yakin jika suatu saat nanti mereka pasti akan menunjukkan perasaannya secara terang-terangan. Dan saat hari itu tiba, maka hari itu akan menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupnya.
Akan ada sebuah pertunjukkan spektakuler yang melibatkan Sean, Leon dan Xion. Dan rasanya Felix sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba.
'Heheheh!! Sudah dapat di pastikan jika akulah pemenangnya. Hyung, sebaiknya kalian bertiga bersiap-siap untuk menerima hukumannya.'
"Jia, kau mau kemana?" seru Shilla yang baru saja kembali dari taman dan mendapati gadis itu berjalan keluar dengan langkah sedikit terburu.
"Ada urusan mendadak." jawabnya tanpa menghentikan langkahnya.
Shilla menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mengangkat bahunya acuh, Shilla berbalik dan menghampiri Sean.
Shilla tidak tau kemana Jia akan pergi, tapi dia tidak mau ambil pusing dan memikirkannya. Karna Jia memiliki urusan sendiri.
.
.
.
Justi menghentikan mobilnya di sebuah cafe yang berada di pusat kota. Ia berencana untuk menemui seseorang yang baru saja menghubunginya.
Dari arah pintu, Justin melihat seorang wanita yang sangat dia kenal duduk seorang diri sambil menikmati segelas kopi.
Dengan langkah tenang, Justin menghampiri perempuan itu.
"Untuk apa kau ingin bertemu denganku?"
Sontak saja wanita itu mengangkat wajahnya dan mendapati seorang pemuda tampan berdiri di depannya. "Justin," serunya dengan sudut bibir sedikit terangkat "Sudah lama sekali ya? Duduklah, nak."
"Tidak usah berbasa basi, langsung saja pada intinya."
"Beginikah sikapmu pada Ibu yang telah melahirkanmu? Apakah tidak ada pelukkan hangat dan ciuman kerinduan untukku?" tanya wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Ibu kandung Justin. "Mama sangat merindukanmu, Nak. Setelah 20 tahun, Mama bisa bertemu kembali denganmu dan begini caramu menyambutku? Apakah sebenci itu kau padaku?"
"Masih perlukah aku menjawab? Tanpa bertanya pun pasti kau sudah tau jawabannya."
"Justin, Mama sungguh-sungguh merindukanmu. Sekali saja, biarkan mama memelukmu." mohon wanita itu dengan nada parau. "Sekali saja, hanya sekali saja. Mama mohon."
Juatin menyentak tangan wanita itu saat ingin memeluknya. "Sudah sangat terlambat jika kau datang sekarang, bahkan aku sudah tidak ingin lagi mengakuimu sebagai ibuku. Karna bagiku kau sudah lama mati." wanita itu menutup matanya mendengar kata-kata tajam yang terucap dari bibir Justi .
Ia tidak bisa menyalahkan Justin jika kini dia sangat membencinya. Ia merasa tidak berguna sebagai seorang ibu karna meninggalkan putra-putranya saat mereka masih sangat-sangat membutuhkan kasih sayangnya. Jadi tidak salah bila kini Justin sangat membencinya.
"Justin," seru wanita itu dan berusaha untuk mengejar Justin yang sudah semakin menjauh tapi seseorang menghentikannya "Qian, tidak usah di kejar. Berikan dia waktu, dia membutuhkan waktu untuk bisa menerimamu kembali. Sebaiknya sekarang kita pulang saja." Qian menatap suaminya kemudian mengangguk
"Baiklah."
Brakkkk!!!
Justin meninju pohon besar yang ada di depannya dengan kepalan tangannya, bau anyir darah yang berasal dari kulitnya yang terkelupas tidak ia hiraukan sama sekali. Berkali-kali Justin meninju pohon itu sambil sesekali berteriak untuk meluapkan semua perasaannya
"AARRRKKKHHH!!"
Amarah Justin benar-benar membuncah, semua perasaan yang selama bertahun-tahun tertahan di hatinya ia luapkan semuanya. Justin mengangkat kembali kepalan tangannya namun gerakan tangannya tertahan di udara karna kemunculan seseorang yang kini berdiri tepat di hadapannya. "Cukup, berhenti menyakiti dirimu sendiri." ucap orang itu sambil mengunci manik abu-abu milik Justin.
"Memangnya apa pedulimu?" tanya Justin dingin.
"Tentu saja aku peduli padamu, karna kita adalah teman."
Justin beranjak dan meninggalkan gadis itu begitu saja. Merasa tidak terima di abaikan oleh Justin, gadis itu yang tak lain adalah Jia segera menyusul Justi . Berjalan sedikit cepat dan mensejajarkan langkahnya dengan pemuda itu
"Berhentilah mengikutiku, Min Jia." geram Juatin seraya melirik Jia tajam. Seakan tuli, Jia menghiraukan bentakkan Justin dan tetap berjalan di sampingnya.
"Ck, dasar patung es berjalan. Beginikah sikapmu pada seseorang yang peduli padamu? Dan apa kau tau? Aku hampir kesemutan menunggumu di sini." ujar Jia dan berusaha mengimbangi langkah Justin.
"Memangnya siapa yang memintanya." jawab Justin sedikit ketus.
Lagi-lagi Jia mencerutkan bibirnya. Jika saat yang saat ini bersama Justin adalah orang lain pasti akan meninggalkannya begitu saja karna tidak tahan dengan sikap es-nya. Untungnya orang itu adalah Jia yang sudah mengenal betul bagaimana sifat dan watak Justin.
Setelah perdebatan singkat itu. Tidak ada lagi pembicaraan antara mereka berdua. Mereka berjalan beriringan dalam diam, Jia juga tidak sebawel sebelummya.
Sesekali Justin melirik gadis yang berjalan di sampingnya kemudian pandannya turun pada tangannya. Sontak saja Jia mengangkat wajahnya saat merasakan genggaman lembut pada jari-jarinya. Detik berikutnya senyum lembut terurai di bibirnya, gadis itu membiarkan tangannya di genggam oleh Justin.
.
.
.
BERSAMBUNG.
aku kira walaupun Jia meninggal.
setidaknya bayinya bisa disela dan menemani Justin di sisa hidupnya. walaupun Justin tidak akan pernah menikah lagi.
hadeeh
keren banget ceritanya thor👍🏻🥰
Justin knp setiap ketemu Jia pasti lg butuh pertolongan.... ckckck...
semangattsss....