Alya Rahmadhani, anak kedua dari keluarga Hasan dan Rahma, menerima perjodohan pilihan Ayahnya. Menggantikan Kakaknya yang bernama Tyas, Karena Ia sudah memiliki calon lebih dulu.
Dimas yang baru menyadari ternyata Anak ke-2 pak Hasan yang akan ia nikahi. Menjadi dilema karena Raka adiknya sudah menyukai lebih dulu sejak awal masuk kuliah. Tetapi Dimas juga sudah mulai suka kepada Alya.
Kini pria yang pernah Alya jumpai saat berada di Jogja beberapa tahun lalu akan menjadi pendampingnya, dan tanpa Alya sadari perlahan ia mulai menyukai Dimas.
Karena belum bisa menerima perjodohan tersebut, Raka lebih memilih ke Kalimantan sesuai permintaan Ayahnya. Mengubur jauh rasa sayang untuk memiliki Alya.
Tetapi takdir berkata lain, ada banyak polemik yang menerjang hubungan mereka.
Akankah Alya menikah dengan Dimas atau Raka akan kembali ke Jakarta menghentikan pernikahan Alya dan Dimas ?
Ikuti novelnya sampai tuntas ya readers, untuk dapat klimaks nya !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adhel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"No Carlo, but Carla."
Keduanya saling memandang dan tersenyum. Haydar yang berada diantara mereka segera paham, pamit meninggalkan mereka sebentar kedalam.
"Alya."
"Kak Dimas."
Sapa Mereka berdua secara bersamaan.
"Kamu saja dulu, ada apa Al?" Tanya Dimas.
"Hari ini langsung saja kita pulang ke Jakarta kak." Jawab Alya.
"Saya juga setuju dengan kamu, niatnya itu yang mau saya sampaikan. Baiklah Saya atur pesanan untuk pesawat malam ini ke Jakarta." Jelas Dimas.
"Terserah kak Dimas saja." Jawab Alya.
"Sebentar, Saya tinggal dulu untuk menghubungi seseorang." Pamit Dimas segera berdiri menjauh dari Alya.
Setelah beberapa menit Dimas sudah kembali dengan membawa paper bag ditangan kanannya.
"Ini makanlah untuk Mu." Ucap Dimas menyerahkan paper bag berisi hamburger.
"Terimakasih kak." Jawab Alya.
"Kita Naik penerbangan jam 8 malam, sekarang masih siang. sambil menunggu Kita berjalan-jalan dulu di kota Malang." Ucap Dimas
"Jalan kemana kak?" Tanya Alya.
"Sudah ikut saja, Kamu pasti suka. Sebentar lagi jemputan datang." Jawab Dimas.
Lalu merekapun berpamitan kepada Haydar dan teman-teman Jeep lainnya. Lalu menghubungi Tyas bahwa mereka tidak bisa mampir ketempatnya karena Hari ini mereka langsung bertolak ke Jakarta. Tak lupa juga Alya mengabari Ayah Bunda dirumah.
Tak lama kemudian datanglah sebuah mobil Jeep Rubicon hitam berhenti, segera turun pria yang berada dikemudi lalu menyapa Dimas dengan membungkukan sedikit tubuhnya kedepan.
"Semuanya Kami pamit pulang, terimakasih banyak atas bantuannya." ucap Dimas sambil tersenyum.
"Makasih banyak ya, mas Haydar jangan bosan aku repotkan jika berkunjung kesini lagi." Pamit Alya.
Pria yang mengemudi tadi langsung membawa carriel keduanya ke bagasi mobil. Mempersilahkan tuan dan nonanya untuk masuk. Sepanjang perjalanan Alya hanya merebahkan tubuhnya di sandaran kursi, sedangkan Dimas sibuk melihat dan membalas pesan pada ponsel pintarnya.
Tibalah di pusat kota Malang, mobil berhenti diparkiran Spa. Mata Alya langsung memicing.
"Ayo Al masuk, pasti Kita membutuhkan ini sekarang." ucap Dimas tersenyum.
Lalu keduanya turun dan berjalan masuk kedalam, disana mereka disambut dengan hangat oleh pelayan spa.
"Hai tuan muda kemana aja deh, udah lama gak ke Malang." Sapa lelaki agak melambai.
"Sorry Carlo sibuk di Jakarta. kenalkan ini Alya. Alya ini Carlo."
"No Carlo, but Carla. Just call me Carla. Hai Alya cantiknya." sanggah lelaki melambai.
Dimas hanya menggelengkan kepalanya, Alya menanggapinya dengan senyuman. Lalu mereka dibawa kedalam ruangan khusus yang berbeda. Melakukan beberapa rangkaian treatment dan pijatan. Setelah lelah mendaki di Semeru.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Hari ini Subadiyo sudah diperbolehkan pulang oleh pihak Rumah Sakit setelah beberapa Hari dirawat secara intensive. Raka menjemput bersama Lestari, menyiapkan kursi roda untuk mempermudah gerak Subadiyo.
Tibalah di kediaman mereka didaerah Menteng. Mobil Alphard memasuki pekarangan rumah yang cukup luas dengan tertata penghijauan yang Indah.
"Papah langsung kekamar atau mau ke halaman belakang dulu bersantai?" tanya Lestari sambil mendorong kursi roda kedalam rumah.
"Kehalaman belakang saja, aku rindu melihat ikan-ikan koi yang sudah lama kutinggalkan." ucap Subadiyo.
"Raka tinggal masuk ya pah mah." Ucap Raka.
"Iya nak, makasih ya." Jawab Subadiyo.
Asisten rumah tangga Mbok Yem yang bekerja cukup lama dikeluarga Subadiyo, sudah menyiapkan menu makan siang untuk majikannya.
"Siang tuan besar." Sapa Mbok Yem.
"Siang mbok, bawakan saya cemilan dan siapkan makanan Koi kebelakang ya." Jawab Subadiyo.
Tiba dihalaman belakang, Lestari duduk disamping Subadiyo memandangi Koi merekà yang berbondong menghampiri majikannya untuk diberi makan.
"Mah, bagaimana Dimas sudah kembali ke Jakarta?" Tanya Subadiyo.
"Malam ini katanya pulang pah. Sudah papah jangan banyak fikiran." Jawab Lestari.
"Iya mah. Lalu Raka bagaimana sudah menerima keputusan ku?" Tanya Sudabadiyo.
"Sudah Pah. Besok lagi kita bicarakan dengannya ya. Papah mau makan siang sekarang?" Ucap Lestari.
"Nanti saja mah. Papah masih rindu dengan Koi - Koi ini."Jawab Subadiyo.
"Permisi tuan nyonya, ini cemilannya. Dan makanan ikannya." ucap mbok yem.
"Makasih ya mbok." Jawab Lestari.
Keduanya cukup lama menghabiskan waktu siang itu dihalaman belakang. Bersunda gurau bercerita santai, Lestari tidak ingin suaminya terlalu banyak berfikir berat. Belakangan ini juga Raka sudah kembali ke perusahaan untuk menghandle selama Subadiyo sakit.
Didalam kamar Raka merebahkan dirinya diranjang. Ia masih berfikir kepergiannya minggu depan nanti ke Kalimantan apakah sudah tepat. Setelah bercerita perasaannya kepada Siska setidaknya ia merasa sedikit lega. Raka masih belum sepenuhnya melupakan Alya.
Drrttt ...
Suara getar ponselnya diatas nakas. Ia melihat dilayar nama Harun. Segera menggeser tombol hijau.
📞 Harun
"Bro seriusan Lo mau pindah ke Kalimantan?"
📞 Raka
"Woi sapa dulu, ini langsung to the point banget."
📞 Harun
"Maaf, hehe. gimana beneran berita nya?"
📞 Raka
Iya bener. Udah ya lagi males bicara Gue. Besok dikampus aja bahasnya.
📞 Harun
Oke oke. Bye.
Setelah sambungan telfon terputus Ia merasakan bosan, lalu mengambil kunci motor sport nya didalam laci. Meraih jaket dan keluar menuju bawah.
Raka melihat kedua orang tuanya sedang asik mengobrol sekilas lalu berjalan kembali menuju garasi. Membuka penutup Motor yang jarang Ia gunakan. Setelah memanaskan motor sebentar ia langsung tancap gas keluar, mengitari komplek dan menuju kearah Kemang bertemu teman - teman motornya saat SMA.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Setelah 2 jam berada didalam tempat Spa, Dimas sudah selesai lebih dulu. Ia menunggu Alya diruang tunggu sambil membuka beberapa email masuk, banyak pekerjaan yang ia tinggalkan.
Tiba-tiba dilayar ponselnya ada panggilan masuk dengan nomer tak dikenal. Lalu ia menggeser tombol hijau.
📞 +628139090.....
"Hallo Dimas, kamu lagi dimana? Aku kekantor mu jawab sekretaris kamu diluar kota."
📞 Dimas
"Maaf dengan siapa ini?"
📞 +628139090.....
"What? suara Ku tidak kamu kenali. Aku Renata."
📞 Dimas
"Untuk apa Kamu menghubungi saya?"
📞 +628139090.....
"Hei boy jangan bertanya seperti itu. Aku ada urusan penting denganmu."
📞 Dimas
"Saya sudah tidak ingin berurusan apapun lagi dengan mu."
📞 +628139090.....
"Galak sekali kamu, oke besok Aku datang lagi kekantor. Bye! Muach!"
Dimas langsung menutup sambungan telfonnya. Malas sekali Ia mendengar celotehan Renata. Ia memejamkan matanya sejenak untuk menstabilkan suasana hatinya yang berubah setelah telfon dari Renata tadi.
"Sudah selesai dari tadi kak?" Tanya Alya yang baru keluar dari ruangan Spanya.
"Eh enggak juga Al. Kamu udah selesai?" Tanya balik Dimas.
"Sudah kak. Enak banget semua pegel-pegel langsung rontok heheh." Ucap Alya.
"Ayok kita jalan lagi. Kamu duluan lah ke Mobil. Saya mengahampiri Carlo sebentar, nanti saya menyusul." Jelas Dimas.
"Carla kak. oke Aku tunggu dimobil." Jawab Alya.
Alya berjalan kearah mobil lebih dulu, Dimas berjalan kearah ruangan Carlo. Sudah biasa ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Aduh Dim, bisa enggak sih ketuk dulu itu pintu. Kalau aku lagi nerima client plus plus gimana?" Ucap Carlo sedikit manja.
"Ya ampun apa sih kamu. Saya pamit ya. Makasih untuk tempatnya." Ucap Dimas.
"Buru-buru banget sih, sini dulu dong ngobrol. Udah lama kita enggak nongki seperti saat dikampus dulu." Ucap Carlo.
"Apaan sih Lo, jangan lebai Kamu. Udah ya Saya sama Alya pamit." Jelas Dimas.
"Eh eh itu si Alya nya mana? bukanya dibawa kesini sekalian." Tanya Carlo.
"Saya tidak mau kamu banyak melihat Dia kalau dibawa kesini." Jawab Dimas.
"Ya ampun Dim, enggak nafsu aku tuh ama wanita. kecuali kamu bawa cowok kekar Kaya kamu." Jelas Carlo.
"Udahlah yah kelamaan disini makin ngaco aja bicara mu. Kalau ke Jakarta kabari. Bye Carlo." Pamit Dimas
"Iihhh sebel deh, Carla bukan Carlo. Gemes deh aku Sama kamu Dim. Hati-hati ya. Salam buat Alya. Selamat bersenang - senang." Jawab Carlo.
.
.
.
Renata nya Thor