NovelToon NovelToon
Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Contest / Tamat
Popularitas:147k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ratih mirna sari

Sheerin dan Nindi bak pinang dibelah dua, mereka adalah dua perempuan dengan wajah yang sama. Di awal pertemuan, mereka tak percaya kalau didunia ini ada orang yang mirip dengan diri mereka. Namun setelah pertemuan antara keduanya, akhirnya mereka percaya jika didunia ini ada 7 orang yang mirip dengan mereka.

Tanpa mereka ketahui jika sebenarnya mereka adalah saudara kembar yang terpisah oleh jarak dan waktu.

Dengan penuh ancaman, karena kesalahan yang Nindi lakukan, Sheerin meminta Nindi untuk menggantikan posisinya untuk menikah dengan laki-laki asing yang akan dijodohkan dengannya.

Kebenaran demi kebenaran mulai terkuak saat mereka bertukar peran, rahasia, masa lalu dan penyebab kedua saudara kembar itu terpisah akhirnya perlahan mulai terbongkar.

Lalu bagaimana kehidupan keduanya setelah bertukar peran dengan karakter keduanya yang bertolak belakang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratih mirna sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lebih sayang ponsel

Nindi terlihat seperti orang linglung saat Bima menyuruhnya untuk membawa Lukman ke lobi, dia begitu bingung dengan situasi yang sedang dia hadapi sekarang.

"Bertahanlah ayah!" Bima memegang bahu Lukman kuat, memberinya kekuatan. Namun tiba-tiba saja Lukman tidak sadarkan diri dalam pangkuannya, mungkin karena sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya.

"Sadar ayah!" Bima menepuk pipi Lukman, tapi kesadarannya benar-benar sudah tidak ada. Bima memeriksa denyut nadi Lukman, terasa normal, desah nafasnya juga masih bisa Bima rasakan tapi sangat pendek.

Sedangkan Nindi, dia dengan bodohnya hanya diam dengan kaki yang gemetar menyaksikan peristiwa tragis itu terjadi di hadapan matanya.

Dia baru tersadar ketika segerombolan petugas datang, salah satunya membawa tandu. Bima dan beberapa petugas apartemen membopong tubuh lemah Lukman keatas tandu, kemudian para petugas membawa Lukman kelantai dasar untuk selanjutnya di bawa ke rumah sakit menggunakan ambulance agar segera mendapat pertolongan.

Nindi tidak tau asalnya mereka dari mana, dia juga melihat polisi datang dengan membawa peralatan untuk mengevakuasi jasad om Arya. Tentu saja kamu tidak tau Nindi, Bima dalam keadaan panik sekalipun masih bisa berpikir dengan baik, tidak seperti kamu yang bisanya hanya melongo saja.

"Silahkan ikut kami kekantor untuk dimintai keterangan!" Ucap salah satu polisi, beberapa polisi langsung melakukan evakuasi terhadap jasad, sedangkan polisi lain sedang memberi tanda garis police line di sekitar kamar apartemen om Arya.

Nindi semakin ketakutan saat dirinya dan Bima digiring untuk ikut dengan polisi, apa mereka akan dipenjara?

"Aku bersumpah jika aku tidak tau apa-apa soal kematian om Arya, tolong jangan penjarakan kami!" Nindi menghiba pada polisi.

"Kita hanya akan dimintai keterangan saja." Ucap Bima.

"Hah? Benarkah? Lalu ayah bagaimana?" Setelah bisa bernafas lega karena tidak akan dipenjara, dia jadi cemas lagi memikirkan keadaan Lukman.

"Ayah sudah berada di tangan orang yang tepat. Dia akan mendapat penanganan terbaik." Jawab Bima. Nindi mengangguk mengerti.

***

Akhirnya setelah lebih dari 3 jam dimintai keterangan ini itu, Bima dan Nindi di perbolehkan pulang karena polisi merasa jika mereka tidak ada sangkut pautnya dengan kematian Arya, disana Bima yang paling direpotkan dengan pertanyaan dari polisi karena Nindi hanya menjawab tidak tau dan tidak tau saja. Dan dari hasil pemeriksaan sementara, polisi menyatakan kalau om Arya meregang nyawa akibat bunuh diri.

Dugaan itu akan diperkuat dengan hasil otopsi yang akan keluar beberapa hari kedepan.

Sepulangnya dari polres, Bima dan Nindi memutuskan untuk pergi ke rumah sakit tempat Lukman dirawat, dari ujung koridor, Nindi sudah bisa mengenali sosok yang sedang duduk di kursi tunggu sambil memainkan ponselnya.

Bisa bisanya dia terlihat setenang itu sedangkan suaminya didalam sana sedang berjuang melawan maut. Saat melihat ponsel yang digenggam mama Anya, tiba-tiba saja Nindi kembali teringat kepada ponselnya yang ditahan oleh perempuan paruh baya itu.

Ah, kamu sama saja dengan mama Anya Nindi, lebih memikirkan ponsel dari pada kesehatannya Lukman.

Nindi dan Bima semakin mempercepat langkahnya agar segera tiba di hadapan mama Anya.

"Ma, bagaimana keadaan ayah?" Setibanya di sana, Nindi langsung bertanya.

"Dia sedang menjalani operasi pemasangan cincin pada jantungnya." Ucap mama Anya tanpa memalingkan pandangannya dari ponsel, ucapannya terdengar tanpa beban.

Nindi mulai naik pitam melihat kelakuan ibu tirinya Sheerin itu, dia tidak bisa untuk tetap diam saja. Sikap mama Anya yang seperti ini menunjukkan jika dirinya tidak perduli terhadap Lukman.

"Ma, ayah didalam sedang berjuang antara hidup dan mati, sedangkan mama disini dengan tenangnya cuma main hp?" Tanya Nindi dengan nada sedikit meninggi.

Mama Anya sontak menoleh kearah Nindi, tatapan matanya terlihat tidak suka, berani sekali anak itu meninggikan nada bicaranya, tidak seperti biasanya.

"Pelan kan nada bicaramu!" Ucap mama Anya mempertegas.

"Kenapa? Mama terlihat nggak seperti orang yang lagi berduka." Ucap Nindi mengungkapkan isi di hatinya. Ya, dia sangat geram melihat mama Anya yang terlihat santai menghadapi masalah ini, sedangkan dirinya saja yang bukan siapa-siapa Lukman merasa sangat panik saat Lukman terkena serangan jantung.

"Dasar anak bodoh, kalau mama tidak perduli dengan ayahmu, mungkin mama tidak akan datang kemari dan menandatangani surat izin operasi itu." Ucap mama Anya.

Nindi mendadak bungkam, ya dirinya memang bodoh, ucapan mama Anya memang benar adanya, tapi kenapa Nindi tetap saja tidak suka dengan sikap tentangnya mama Anya.

"Sudahlah She, kita do'akan yang terbaik untuk ayah." Ucap Bima, Nindi mengangguk setuju, memilih mengakhiri perdebatan yang akan membuatnya terlihat semakin bodoh.

Bima kemudian duduk dikursi tunggu lainnya, mencoba untuk merilekskan tubuhnya yang terasa kaku. Hah, dia baru merasa tubuhnya kaku sekarang, padahal Nindi sejak awal bertemu dengannya sudah merasa pegal dengan sikap kaku Bima.

Nindi lagi-lagi teringat pada ponselnya saat mama Anya mengalihkan fokusnya pada ponsel, sekarang dia tidak bisa menahan diri untuk meminta ponselnya kembali.

"Ma, tolong kembalikan hp aku." Ucap Nindi.

"Hah, ternyata kamu juga lebih sayang pada ponsel dari pada ayahmu." Seringai kecil tampak dibibir mama Anya saat melontarkan sindiran keras itu.

"Ma, pliiis." Akhirnya Nindi memohon dengan wajah memelas, mengatupkan kedua tangannya di depan dagu, lebih baik mengalah saja dulu, demi ponselnya, demi bisa bertemu dengan Sheerin, orang yang telah menjebaknya dalam situasi rumit seperti ini. Berdebat lagi ?pun tidak ada gunanya karena dari segi manapun dia tidak akan pernah menang melawan kata-katanya mama Anya.

"Nah!" Mama Anya melempar kunci laci ke kursi yang kosong.

Nindi melompat kegirangan sambil berlari kecil untuk mengambil kunci, matanya berbinar-binar, baginya kunci itu melebihi berlian sekarang, seperti kunci kebebasan untuk Nindi agar bisa terlepas dari jeratan masalah ini.

Mungkin dengan pergi dari kehidupannya Sheerin, perasaan empati, bersalah dan kasihan dalam diri Nindi untuk musibah yang menimpa Lukman juga akan ikut pergi.

Tapi, bagaimana dengan kak Bima? Ahh, Nindi jadi galau kalau memikirkan tentang dia.

Nindi kemudian bergegas untuk segera pulang dan mengambil ponselnya.

"She, mau kemana?" Bima menahan lengan Nindi, Nindi menoleh ke arahnya.

"Aku mau pulang sebentar kak." Jawab Nindi.

"Ayo aku antar." Bima berjalan mendahului Nindi.

"Ehh, jangan kak, aku nggak akan lama kok." Mati kalau sampai Bima mengantarkannya, Nindi kan berencana untuk menemui Sheerin dan akan menceritakan semua yang telah terjadi.

"Tidak apa-apa." Bima bersikeras.

"Kak Bima, pliis, aku cuma ambil hp sebentar udah itu balik lagi kesini, nanti sekalian aku beli makanan dijalan." Nindi meyakinkan Bima agar tetap tinggal disana. Bima nampak menimang.

"...tolong jaga ayah buat aku!" Ucap Nindi kemudian.

"Ya sudah." Bima akhirnya pasrah juga.

Nindi tersenyum penuh kemenangan, diapun melangkah pergi menjauhi Bima dan mama Anya yang nampak tidak perduli dengan sekitar, hanya sibuk dengan dunia maya nya.

Baru beberapa langkah Nindi berjalan, dia kembali membalikkan badan, baru ingat jika dirinya tidak mempunyai uang sepeserpun. Dia kembali berjalan mendekati Bima.

"Kak Bima!" Ucap Nindi.

"Ada apa?" Tanya Bima, biasa dengan wajah datarnya.

"Boleh minjem uang nggak? Buat beli makan sama ongkos ojek. Hehe." Nindi cengengesan, bicara tanpa rasa malu sedikitpun.

Bima menghembuskan nafas, baru sadar jika dia tidak memberi istrinya itu nafkah semenjak mengucapkan ijab qobul. Perasaan bersalah pun mulai menyeruak di hatinya. Dia merogoh saku jaket dan mengambil dompetnya, menghitung jumlah uang cash yang ada disana. Kemudian dia memberikan semua isinya kepada Nindi.

"Waah." Nindi menganga tidak percaya melihat banyak sekali uang merah bergambarkan Soekarno Hatta ada di tangannya sekarang, dia baru saja mendapat pinjaman uang yang sangat banyak, dia memperkirakan ada lebih dari 30 lembar.

"Kak, ini banyak banget, aku gimana mengembalikannya nanti." Ucap Nindi.

"Tidak usah dikembalikan, beli juga keperluan rumah dengan uang itu. Bukan kah ayah sudah mempercayakan urusan rumah kepadamu?" Jawab Bima. Perkataannya itu seolah menyadarkan Nindi kalau dirinya tidak sepadan dengan mereka.

Ya, Nindi sadar dirinya memang orang miskin, sudah miskin bodoh lagi. Tidak pantas dibandingkan dengan mereka para orang kaya, baiklah, Nindi paham sekarang, dia dinikahkan dengan Bima hanya untuk dijadikan tukang bebersih rumah.

Nindi tidak keberatan, dia perempuan yang kuat, suka bekerja keras (bohong tuh), dia akan berusaha untuk bisa melakukan apa saja termasuk pekerjaan rumah. Hanya saja dia merasa kasihan terhadap Sheerin, bagaimana kalau dia benar-benar yang menikah dengan Bima, apa anak orang kaya seperti dia akan sanggup dijadikan pembantu dirumah mertuanya?

Nindi tidak tau kalau di rumahnya sendiripun Sheerin sudah dijadikan pembantu oleh ibu tirinya.

***

Hari senin besok adalah hari pertama ujian nasional berbasis komputer di adakan, ternyata Nindi dan Vena tidak satu ruangan, kekecewaan tampak jelas diwajah sahabatnya Nindi itu.

"Yah, kita nggak sekelas. Gue nggak bisa nyontek ke loe deh." Ucap Vena tidak bersemangat.

Sheerin auto ngakak melihat wajah Vena yang putus asa, belum bertarung sudah menyerah duluan, se-dangkal itu pemikiran Vena, Sheerin bisa membayangkan bagaimana wajah Nindi jika dirinyalah yang akan menghadapi ujian ini, pasti sebelas dua belaslah dengan si Vena ini. Hihi.

Tid tiddddddd...

Tiba-tiba saja suara klakson panjang di bunyikan tepat di belakang Sheerin dan Vena yang sedang berjalan beriringan. Sontak Sheerin menepi takut terserempet seperti kejadian dia diserempet Nindi waktu itu.

"Jangan kelayapan aja loe! Pulang sana belajar."

Hah, lagi-lagi dia. Sheerin mendengus sebal, untung saja dia langsung kembali menancap gas, hanya berteriak sambil lewat, kalau tidak, pasti akan panjang urusannya.

"Nyebelin banget ya itu orang." Ucap Sheerin setelah motor Levin melesat menjauh.

"Dari dulu kali, tapi gue heran deh sama loe, sekarang loe bisa lebih tenang menghadapi dia. Jadi dia keliatan kaya orang gila gitu ngomel-ngomel sendiri gara-gara nggak loe gubris." Ucap Vena.

"Ya, orang yang waras harus ngalah, kan?" kemudian keduanya cekikikan membayangkan Levin yang kesal karena tidak ada teman bertengkar.

Ting!

Bunyi notifikasi ponsel Sheerin, Sheerin segera meraih ponselnya didalam saku seragam.

"Siapa?" Tanya Vena.

"Nggak tau." Jawab Sheerin, dia kemudian membuka pesan WhatsApp yang baru saja masuk.

'Sheerin, ayo kita ketemu, ada banyak hal yang mau gue ceritain sama loe!'

Itu adalah pesan dari nomor ponsel miliknya, berarti mama Anya sudah mengembalikan ponselnya pada Nindi. Jantung Sheerin berdebar lebih cepat, akhirnya kabar yang dia tunggu-tunggu datang juga, untuk pertama kalinya setelah bertukar peran dia akan bertemu dengan Nindi lagi, pertemuan yang sangat dia nanti-nantikan.

'Oke Nindi, kita ketemu di kedai kopi ******* yang deket gerbang komplek rumah gue sekarang juga!' Sheerin dengan antusiasnya membalas pesan dari Nindi.

Tidak butuh waktu lama untuk Nindi membalasnya.

'Oke, gue otw sekarang.' Pesan balasan dari Nindi.

'Oke, jangan lupa penyamaran!'

Nindi hanya membalas dengan emoticon ok.

"Kenapa sih Nin? Serius amat?" Tanya Vena.

"Gue mendadak sakit perut nih, mau cari wc umum dulu." Ucap Sheerin berbohong agar bisa terlepas dari Vena.

"Oh, ya udah gue temenin. Yuk!" Vena merangkul lengan Sheerin, Sheerin buru-buru melepaskannya.

"Nggak usah, gue suka lama kalau buang air. Mendingan sekarang loe pulang deh, belajar sana biar nanti bisa jawab soal ujiannya. Gih!" Mengusir secara halus, mendorong tubuh Vena agar cepat pergi.

Vena memegangi bahunya yang didorong Sheerin, selalu saja dia diusir Nindi dengan cara seperti ini.

"Loe kenapa sih? Aneh banget. Tanpa loe usir juga mau pergi kalee." Vena kemudian dengan ragu melangkah pergi, tapi wajahnya masih mengarah ke belakang, kearah Sheerin.

"By, jangan kelayapan, jangan nongkrong juga, pulang terus belajar ya!" Sheerin melambaikan tangannya kearah Vena yang semakin menjauh.

____________

Budayakan tinggalkan jejak, like, corat coter di kolom komentar juga...

1
🌷💚SITI.R💚🌷
sprtiy di bunuh luis sm anya ini
🌷💚SITI.R💚🌷
lanjuuut
🌷💚SITI.R💚🌷
lama² mereka jatuh cinta de..skrng ribut trs tr sdh berpisah br rindu de
🌷💚SITI.R💚🌷
urakan tp kamu suka kan....🤣🤣
🌷💚SITI.R💚🌷
nyimak dl..lanjuut
Asrinda 24
Aku mampir
Imelda Nurrahmah
next
TiiehAtieh: udah habis kak, lanjut baca THE SECRET yuk, masih on going, banyak misterinya disana 🙏
total 1 replies
Imelda Nurrahmah
kejrm banget si bima
Imelda Nurrahmah
keren
anthy haryanti
kasihan banget sih loe levin,,,hampir nggak jadi nikah,,,hehehehe
anthy haryanti
wahhh nindi udah hamidun nih
abimasta
akhirnya nindi punya anak,happy ending selamat ya thor sudah memberikan bacaan yg menarik
anthy haryanti
rumah kosong itu bener2 bakal jadi angker,,,
TiiehAtieh: baca juga ekstra partnya ya kak 😊
total 1 replies
anthy haryanti
waduhhh siapa lagi tuh yg kena
anthy haryanti
siapa tuh yg kena
anthy haryanti
waduhhhh
anthy haryanti
kok aku yg deg degan yah
anthy haryanti
makin seru nihhh
abimasta
aku sudah selesai bacanya..makasih ya thor meskipun saya telat mampir disini
abimasta: menurut ku ceritanya bagus,cm kasian nindi blm punya momongan
total 3 replies
anthy haryanti
wahh kebiasaan si nindi,,kasihankan si tengil,,,hehehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!