Kembali dari perantauan dan berhasil meraih impiannya menjadi Dokter. Aldo begitu bahagia, dia akan segera melamar kekasih hatinya.
Namun bukan kebahagiaan yang ia dapat, justru sang kekasih telah menjadi istri kakak kandungnya.
Rasa tidak terima membuatnya berniat merebut kembali kekasihnya, namun siapa sangka ia justru bertemu masa lalu ketika berada diperantauan. Apa yang sebenarnya Takdir mainkan pada mereka?
Bagaimana kelanjutan kisah Mereka?
Ini karya pertamaku, mohon maaf apabila banyak kesalahan dan membosankan.
Cover : By Instagram
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AfkaRista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebahagian Aldi
Aldi masuk ke dalam kamarnya, ia melihat sang istri tengah menyiapkan baju untuknya. Aira selalu melakukan kewajibannya dengan baik, ia hafal jam pulang suaminya, ia segera menyiapkan keperluan Aldi 30 menit sebelum Aldi datang. Aldi memeluk Aira dari belakang.
"By, kamu sudah pulang?, mau mandi sekarang?".
"Mandikan ya?"
Aira hanya kerkekeh, suaminya itu memang sangat manja padanya.
"Bayi besarku, manja sekali ya, ucap Aira sembari mengubah wajah Aldi. Aldi memejamkan mata menikmati sentuhan lembut istrinya itu.
"By, tadi Kak Angga datang kemari".
"Aku tahu kok".
Aira sedikit terkejut,
"Bagaimana bisa Aby tahu?".
"Sebenarnya tadi aku sudah datang, tapi aku melihat Aldo dan kamu bicara jadi aku diam di balik pintu". Ucap Aldo santai
"Astaga, kenapa tidak masuk saja sih, menyebalkan, apa Aby tahu bagaimana aku khawatir menjelaskan semuanya sendiri, seharusnya Aby juga ikut menjelaskan ini pada kak Angga", Ucap Aira gemas.
"Tadi maunya begitu My, tapi saat melihat wajah Aldo aku yakin dia akan semakin marah jika melihatku makanya aku tadi tidak jadi menghampiri kalian, dan aku lihat Amy juga bisa menjelaskan padanya, buktinya dia pergi setelah menerima penjelasan darimu".
"Astaga orang ini ya, bisa bisanya dia, ucap Aira pergi meninggalkan Aldi. Namun segera ia memeluk lagi istrinya itu.
"My, tadi Aldo sudah menemuiku dirumah sakit, dan saat aku tahu dia menemuimu aku hanya berfikir kalian butuh waktu menyelesaikan masalah kalian berdua. Setidaknya dengan penjelasanmu aku harap dia sedikit mengerti dan mau menerima semua ini".
Aira berbalik dan menatap suaminya
"Aku hanya khawatir dia tidak bisa menerima penjelasanku By, tapi aku rasa ia menerimanya meskipun terpaksa, namun ada kata katanya yang mengganjal dihatiku, dia bilang suatu saat nanti dia akan datang lagi dan mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya, aku takut dia akan nekat".
"Dia juga mengatakan hal itu padaku My, tapi kamu tenang saja aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, aku akan menjaga kalian dengan sepenuh jiwaku, tolong jangan banyak berfikir karena akan memengaruhi kondisi anak kita".
Aira memeluk erat suaminya, hanya dia yang mampu menenangkan Aira dalam kondisi apapun.
"Iya By, kita akan menjaga anak kita bersama, mungkin semua sudah ditakdirkan oleh Tuhan memang harus begini jalannya"
"Hmmm, baiklah sekarang Mandikan aku ya, ucap Aldi sembari menaikturunkan alisnya.
"Astaga bayi besarku ini memang sangat manja sekali ya, baiklah mari kita mandi, Aira dan Aldi menuju kamar mandi, dan tentu saja sambil olahraga tentunya. Satu jam berlalu mereka keluar kamar dan bersiap makan malam.
"Makanannya pasti sudah dingin, huh..., bayi besarku selain manja juga sangat menyebalkan".
Aldi hanya terkekeh mendengar dengusan sang istri
"Tapi Amy suka kan, buktinya Amy selalu menyebut namaku tadi, goda Aldi. Wajah Aira sudah memerah. Aira akui ia selalu suka dengan semua perlakuan suaminya itu. Aldi sangat bisa memanjakannya dalam segala hal.
"Hmmm, baiklah pak dokterku yang tampan, ucap Aira sembari tersenyum manis pada Aldi, Aldi yang gemas langsung mengecup bibir Aira sekilas.
"Aish, jika begini terus kapan makannya, padahal kami sudah lapar".
Aldi langsung menghentikan kegiatan menghangatkan makanannya, ia berjongkok menghadap perut Aira lalu menciumnya berkali-kali.
"Maaf ya, anak papa pasti lapar ya, papa sampai lupa, habis ini kita makan ya sayang, ucap Aldi sambil terus mencium perut Aira yang sudah mulai buncit.
"Baiklah papa mari kita makan, ucap Aira menirukan suara anak kecil. Merekapun makan setelah menghangatkan masakan Aira tadi.