NovelToon NovelToon
Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30

Vania Minta Maaf di Pinggir Jalan

Keesokan pagi, suara bor dan langkah pekerja terdengar dari ruang kosong di lantai satu.

Senja turun bersama Bintang dan menemukan sebuah piano digital, gitar akustik, rak partitur, serta panel peredam suara sedang dipasang. Keyboard kecil milik Bintang diletakkan di tengah ruangan seperti mainan lama yang tiba-tiba mendapat rumah baru.

"Ini punya siapa?" tanya Senja.

Bintang berlari mengelilingi piano. "Punya kita!"

Bayu menyerahkan daftar barang. "Pak Damar memesan setelah mendengar Bintang mau tampil bulan depan. Katanya Bu Senja bisa memilih tambahan alat kalau perlu."

Senja melihat Damar di meja makan. Lelaki itu tetap membaca berita di tablet seolah tidak tahu rumahnya sedang dibongkar.

"Mas beli semua ini?"

"Untuk Bintang."

"Dia baru belajar satu lagu."

"Berarti punya tempat untuk belajar lagu kedua."

Senja membaca daftar harga yang terselip di lembar pengiriman, lalu cepat menutupnya. Jumlah satu piano saja lebih besar daripada gaji tahunannya saat magang.

"Mas bisa beli alat yang lebih sederhana. Anak seusia Bintang belum tahu akan serius atau cuma bosan setelah seminggu."

"Kalau bosan, ruangannya tetap bisa kamu pakai."

Senja menoleh. "Katanya untuk Bintang."

Damar minum kopi, terjebak oleh kalimatnya sendiri. "Kamu yang mengajar. Tentu perlu alat."

Bayu berpura-pura memeriksa pesan agar tidak ikut tersenyum. Bintang sudah duduk di bangku piano dan menekan beberapa tuts sekaligus. Bunyi kacau memenuhi ruangan.

"Bagus?" tanyanya.

"Sangat modern," jawab Damar datar.

Senja duduk di samping anak itu, menunjukkan posisi tangan tanpa memaksa jari kecilnya. Ia memainkan melodi pendek dari lagu kemarin. Bintang mengenali nadanya dan ikut bernyanyi, meski masuk terlambat.

Damar berdiri di pintu. Kali ini ia tidak bersembunyi di tangga. Senja melihatnya dan sengaja mengulang bagian awal agar ia dapat mendengar sampai selesai.

Saat lagu berhenti, Bintang bertepuk tangan untuk dirinya sendiri. "Nanti Papa sama Mama duduk depan kalau Bintang tampil. Nggak boleh telat."

Damar menjawab lebih dulu, "Papa datang."

Senja mengangguk. "Mama juga."

Janji itu sederhana, tetapi keduanya tahu mereka sedang memperbaiki kegagalan di pertemuan orang tua.

Bintang memeluk kaki ayahnya. "Papa paling baik!"

Damar mengusap kepalanya, lalu melirik Senja. "Kamu tidak perlu memuji. Pastikan barangnya dipakai."

"Terima kasih," kata Senja. "Ruangan ini bagus."

Hanya dua kalimat, tetapi Damar membaca kalimat yang sama di tablet hampir satu menit tanpa memahami isinya.

Siang itu Senja menjemput Bintang sendiri. Mereka baru keluar dari gerbang sekolah ketika sebuah mobil berhenti terlalu dekat ke trotoar. Vania turun dengan kacamata hitam dan wajah tidak sabar.

"Kita selesaikan sekarang," katanya.

Senja menarik Bintang ke sisi dalam. "Jangan dekati anak ini."

"Aku datang untuk minta maaf, sesuai maunya Om Damar."

"Permintaan maaf tidak perlu dilakukan sambil menghadang jalan."

Vania melepas kacamata. "Aku nggak punya waktu ikut drama kalian. Anak ini juga cuma anak om-om yang dapat ibu tiri karena ibunya kabur."

Bintang langsung berdiri di depan Senja. "Papa bukan om-om! Papa ganteng!"

"Iya, iya. Papa kamu paling ganteng." Vania menunduk dengan senyum mengejek. "Sekarang bilang sama Om Damar kalau Tante sudah minta maaf."

"Belum," kata Senja. "Kamu bahkan baru menghina dia lagi."

Vania mendecakkan lidah. "Mau apa lagi? Aku berlutut?"

"Tatap Bintang. Sebut kesalahanmu. Minta maaf tanpa alasan."

Beberapa orang tua mulai memperhatikan. Vania jelas tidak ingin membuat keributan baru yang bisa direkam. Ia berjongkok dengan enggan.

"Maaf Tante pernah menampar kamu. Tante waktu itu emosi."

"Tanpa alasan," ingat Senja.

Rahang Vania mengeras. "Maaf Tante menampar kamu. Tante salah. Puas?"

Bintang memandang Senja, lalu kembali menatap Vania. "Mama bilang kalau salah harus tanggung jawab."

"Aku sudah transfer lima puluh juta."

"Uang itu bukan maaf," kata Bintang, meniru kalimat Damar.

Vania berdiri. "Anak kecil jangan sok pintar. Kalau perlu, tampar Tante sekali supaya impas. Ayo."

Ia mengulurkan pipi dengan yakin Bintang tidak berani. Tangan kecil itu justru bergerak cepat.

Plak.

Suara tamparannya tidak keras, tetapi cukup membuat semua orang diam. Vania memegang pipi dengan mata membesar.

"Kamu benar-benar menampar aku?"

Bintang mundur ke belakang Senja. Keberaniannya langsung hilang setelah melihat wajah Vania. "Tante sendiri yang suruh."

Vania mengangkat tangan. Senja menangkap pergelangannya sebelum bergerak lebih jauh.

"Jangan sentuh anak saya lagi."

"Dia kurang ajar karena kamu ajari!"

"Saya tidak mengajarinya menampar. Kamu yang menawarkan kekerasan sebagai penyelesaian di depan anak lima tahun."

Ponsel seorang ibu sudah terangkat. Vania menyadarinya, menurunkan tangan, lalu membuka aplikasi bank.

"Lihat. Aku transfer lima puluh juta ke rekeningmu. Anggap selesai."

Notifikasi masuk ke ponsel Senja. Jumlahnya benar, dari rekening Vania, dengan keterangan permintaan maaf.

"Uang ini tidak membeli hakmu menyakiti Bintang," kata Senja.

"Terserah. Yang penting kalau Om Damar tanya, jawab jujur aku sudah minta maaf dan bayar. Jangan tambah cerita."

"Saya tidak berjanji menutup apa pun."

Vania memasang kacamata dan masuk ke mobil. Sebelum pintu tertutup, ia menatap Bintang.

"Lain kali jangan ikut urusan orang dewasa."

Setelah mobil pergi, Senja berlutut di depan Bintang. "Tangan mana yang dipakai?"

Bintang menunjukkan tangan kanan dengan ragu.

Senja memeriksa telapak kecil itu. "Sakit?"

"Sedikit. Mama marah?"

"Mama sedih. Menampar orang tetap salah, meskipun orang itu menyuruh. Kalau ada yang bikin Bintang marah, menjauh dan panggil orang dewasa. Jangan pakai tangan untuk membalas."

"Tapi Tante pernah tampar Bintang."

"Karena itu Bintang tahu rasanya menyakitkan. Kita jangan jadi sama."

Mata anak itu berkaca-kaca. "Maaf, Mama."

"Mama maafkan. Nanti di rumah kita juga cerita jujur ke Papa."

"Papa bakal marah?"

"Mungkin. Tapi marah bukan berarti berhenti sayang."

Senja meminta tisu basah dari petugas keamanan sekolah dan membersihkan telapak Bintang. Tidak ada luka, hanya sedikit kemerahan. Ia juga mencatat nama dua orang tua yang menyaksikan kejadian serta memastikan kamera gerbang mengarah ke tempat mereka berdiri.

"Kenapa Mama tanya kamera?"

"Supaya kalau orang dewasa punya cerita berbeda, kita bisa lihat apa yang benar-benar terjadi."

"Kayak waktu di taman hiburan?"

"Iya. Tapi Bintang jangan takut. Kali ini Mama ada di sini."

Sebelum pergi, Senja melapor singkat kepada petugas sekolah bahwa ada anggota keluarga menghadang mereka. Ia tidak meminta sekolah menghukum siapa pun, hanya meminta keamanan tidak mengizinkan Vania mendekati Bintang tanpa konfirmasi orang tua.

Bintang mengangguk, lalu menggenggam tangan Senja erat.

Dalam perjalanan pulang, Senja menatap notifikasi Rp 50 juta. Uang sebesar itu dapat membantu banyak hal, tetapi terasa kotor jika dibiarkan menjadi harga sebuah tamparan.

Ia memindahkannya ke rekening terpisah dan menulis catatan: dana Bintang, tidak digunakan tanpa persetujuan Damar.

Pesan Vania masuk beberapa detik kemudian.

`Kalau Om Damar tanya, jawab yang jujur. Aku sudah minta maaf. Jangan cari gara-gara lagi.`

Senja menutup layar. Ancaman itu terdengar seperti seseorang yang sudah menyiapkan versi ceritanya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!