Rekaila Amanda tidak menyangka setelah dua tahun berpisah akan kembali dipertemukan dengan mantan suaminya. Reka, begitu ia akrab di sapa, memutuskan menjauhi kehidupan mantan suami dengan alasan yang hingga detik ini tidak diketahui oleh sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25.
"Mommy....." Georgina kalang kabut menyusul langkah mommy-nya, namun usahanya itu berujung sia-sia. Sebuah tamparan keras menimbulkan suara yang cukup nyaring hingga mengejutkan ibunya Ibnu serta teman-temannya.
"Ada apa ini jeng Tika? Kenapa jeng Tika tiba-tiba menampar anak saya?." Bukannya membela putranya, hanya saja ibunya Ibnu merasa perlu penjelasan atas tamparan keras tersebut. Lagipula, mana ada seorang ibu yang bisa diam saja melihat putranya ditampar tepat didepan mata kepalanya sendiri.
"Sebaiknya jeng Ira tanya langsung pada anaknya jeng Ira, mengapa saya sampai menamparnya!." Mommy-nya Georgina memang tengah dikuasai amarah dan semua itu diakibatkan oleh kebohongan yang diciptakan oleh putrinya sendiri. Namun begitu, Mommy-nya Georgina tak mengungkapkan alasan mengapa ia sampai menampar Ibnu, karena menurutnya alasannya justru akan mempermalukan kedua belah pihak.
Ibnu tidak marah, hanya sedikit bingung saja. Pria itu menoleh pada Georgina, berharap gadis itu bisa memberi sedikit penjelasan. Bukannya menjelaskan, Georgina malah menghindari tatapanya dengan menunduk.
"Saya tunggu kedatangan jeng Ira dan keluarga di kediaman kami!." Setelah mengatakan kalimat tersebut mommy-nya Georgina langsung pergi begitu saja dengan membawa seribu kecewa dihati.
Melihat kebingungan di wajah ibunya, Ibnu lantas berkata pada wanita itu. "Nanti Ibnu jelaskan semuanya di rumah, mah. Sekarang Ibnu akan mengantarkan Georgina dulu." Kata Ibnu walaupun ia sendiri belum tahu penjelasan seperti apa yang ingin disampaikannya nanti pada sang ibu, sebab ia sendiri pun bingung mengapa sampai mommy-nya Georgina menamparnya.
"Baiklah."
"Jeng Ira tidak perlu terlalu khawatir, mungkin ini hanya sebuah kesalahpahaman kecil yang biasa terjadi pada anak muda. Mungkin jeng Tika saja yang terlalu melebih-lebihkan!." Salah seorang temannya mencoba menenangkan ibunya Ibnu.
Wanita itu mengangguk. Mungkin saja apa yang dikatakan oleh salah seorang teman arisannya tersebut benar. Bisa jadi ini hanyalah kesalahpahaman saja.
Ibnu menuntun Georgina menuju mobilnya.
"Masuk!." Tidak kasar, tidak juga membentak, hanya suara tegas yang ingin turuti perkataannya.
Setelah Georgina duduk di bangku samping kemudi, Ibnu lantas berjalan cepat mengitari mobil dan menyusul masuk ke mobil. Kini pria itu telah duduk di bangku kemudi.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa mommy kamu tiba-tiba menamparku?." Pertanyaan yang sejak tadi membuat kepalanya berdenyut akhirnya terucap dari mulut Ibnu.
"Mommy berniat menghubungi mommy-nya Leon untuk meminta rencana pernikahan kami dipercepat, karena beliau berpikir aku benar-benar menjalin hubungan denganmu."
Ibnu menghela napas berat, namun tak menyela karena yakin Georgina masih ingin melanjutkan ceritanya.
"Jika mommy sampai menghubungi mommy-nya Leon, bisa jadi semua rencanaku mempersatukan Leon dan Reka akan sia-sia. Hingga akhirnya aku terpaksa _."
"Terpaksa apa?." Desak Ibnu tak sabar.
"Aku terpaksa berbohong, dengan mengatakan bahwa saat ini aku sedang mengandung anak kamu."
Duar....
Pengakuan Georgina laksana petir yang menyambar tubuh Ibnu di siang bolong, begitu mengejutkan.
"Kamu mengaku sedang mengandung anakku?."Ulang Ibnu.
Georgina mengangguk dengan perasaan bersalah.
"Maafkan aku...." Hanya kata maaf yang terucap dari mulut Georgina karena telah menyeret Ibnu sejauh itu.
"Sepertinya kamu sudah benar-benar kehilangan akal sehatmu, Geo...Pantas saja mommy kamu sampai menamparku tadi." Ibnu jadi stress sendiri, bingung memikirkan solusi atas kebohongan yang diciptakan oleh wanita itu.
"Ini salah kamu juga. Coba saja kalau kamu tidak mengajak aku bertemu dengan mamah kamu di saat beliau sedang berkumpul dengan teman-teman arisannya, mungkin mommy aku tidak akan ada di sana tadi. Dan kalau saja_."
"Sebaiknya kamu diam dulu, sebelum aku benar-benar membuatmu mengandung!." Ibnu menyela dengan nada rendah namun kata-katanya mampu membuat Georgina mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
Georgina melirik kesal pada pria itu.
"Kalau seperti ini, keluargaku pasti akan menganggap tujuanku sejak awal meninggalkan rumah bukan untuk berusaha berdiri di atas kakiku sendiri, melainkan ingin hidup bebas diluar sana. Bila sampai papah tahu, aku pasti akan dihajar habis-habisan oleh papah."
Mendengar itu, Georgina semakin merasa bersalah atas kebohongannya yang telah menyeret pria itu.
Ibnu menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku kemudi, memejamkan mata sejenak untuk memutar otak mencari solusi.
"Jika tidak ada pilihan lain, apa kamu bersedia menikah denganku?."
Ibnu langsung memandang Georgina saat wanita itu bertanya tentang hal seserius itu kepadanya.
"Hanya setahun. Setelah setahun, kamu boleh menceraikan aku!." Rasa sayangnya terhadap Reka dan ingin mempersatukan wanita itu dengan pria yang dicintainya, membuat Georgina mengambil keputusan yang bahkan belum dipikirkannya konsekuensinya.
Ibnu tersenyum. Bukan senyuman bahagia, melainkan senyum seringai.
"Mudah sekali kamu bicara seperti itu. Apa kamu pikir aku ini tidak punya perasaan, sehingga kamu mengajakku memainkan peran nikah-nikahan?."
"Pernikahan adalah hal yang sakral Georgina, di mana dua orang insan menghalalkan hubungan untuk mendapatkan ridho dari sang maha pencipta, serta mengharapkan zuriat dari hubungan tersebut." Tak ada ucapan kasar yang terucap dari mulut Ibnu. Pria itu hanya mencoba memberi pengertian pada Wanita yang mengajaknya memulai hubungan konyol.
"Kalau dalam pernikahan nanti aku bersedia memberikan seorang anak untukmu, apa kamu bersedia menikah denganku?." Georgina sangat mengenal sifat dan watak kedua orang tuanya, jika ia telah memberikan pengakuan demikian, maka tidak ada solusi lain selain pernikahan. Biarlah saat ini ia terlihat memalukan dihadapan Ibnu, asalkan masalah ini mendapatkan solusi.
"Kamu benar-benar wanita terkontrol yang pernah aku temui di muka bumi ini, Geo."
"Aku akan memberikan uang berapapun jumlah yang kamu inginkan, jika kamu bersedia menikah denganku untuk sementara waktu."
Ibnu kembali menarik sudut bibirnya.
"Apa kamu pikir aku akan menerima uangmu hanya demi sebuah pernikahan konyol, jika kenyataannya selama ini aku bahkan meninggalkan fasilitas mewah dari orang tuaku hanya demi mendapatkan wanita yang tulus mencintaiku?."
Georgina terdiam mendengar kata-kata Ibnu. Ya, iya baru tahu kalau ternyata Ibnu juga berasal dari keluarga berada. Jadi, tidak mungkin bersedia menerima tawarannya.
Di saat tubuhnya lesu tak memiliki tenaga lagi akibat berpikir terlalu banyak, tiba-tiba ucapan Ibnu kembali memecah keheningan.
"Aku akan mengajak orang tuaku untuk menemui orang tuamu. Aku tidak mungkin membiarkanmu menghadapi semua ini sendirian."
Tanpa sadar Georgina memeluk Ibnu saking leganya.
"Thank you...."
Menyadari kelancangannya, Georgina langsung menarik diri. "Maaf, aku kelepasan." Kata gadis itu dengan polosnya. Ibnu sampai tak bisa berkata-kata atas sikap random nya itu.
Sungguh, Ibnu tak pernah membayangkan akan merencanakan hal serius bersama wanita yang dulunya dikenal sebagai calon istri bosnya tersebut. Wanita yang banyak dikagumi oleh kaum adam bukan hanya karena kecantikannya namun juga karena sifatnya yang baik hati.
Ibnu lebih gila lagi...
ngakak aku nya...