NovelToon NovelToon
I Love You, Kak

I Love You, Kak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Basket / Cintamanis / Teen
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anggun Kartika Mundikasih

Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CEMBURU (1)

Selama 18 tahun hidup Nara, tidak pernah menganggap dirinya sebagai seseorang yang mudah cemburu. Setidaknya, itulah yang selama ini selalu ia katakan kepada dirinya sendiri. Tak ada hal perlu dicemburui olehnya terhadap orang lain sementara banyak hal yang dirinya miliki melebihi dari orang lain. Ia terbiasa menjadi pusat perhatian. Sebagai kapten tim basket sekolah, namanya hampir selalu diteriakkan dari bangku penonton setiap kali pertandingan berlangsung. Wajahnya terpampang pada poster-poster kompetisi antar sekolah dan sebagai pelajar, ia selalu masuk ke dalam peringkat tiga besar seangkatannya. Selain itu akun media sosial sekolah berkali-kali mengunggah foto dirinya saat mencetak poin kemenangan dan akun media sosial pribadinya tak kalah ramainya. Sekali posting, Like dan Direct Message bertubi-tubi diterimanya.

Banyak orang menganggap Nara terlalu percaya diri. Sebagian bahkan menyebutnya narsis. Nara tidak pernah benar-benar peduli terhadap penilaian itu, hingga Naya datang dan memandangnya seolah seluruh ketenaran tersebut tidak berarti apa-apa.

Gadis itu berbeda dari para penggemarnya. Naya tidak pernah meminta foto bersama, tidak pernah berteriak memanggil namanya di lapangan, dan tidak pernah sengaja berdiri di dekat ruang ganti pemain hanya untuk mendapatkan sapaan. Sebaliknya, setiap kali bertemu Nara, Naya justru berusaha mencari jalan lain untuk kabur menghindar.

Awalnya, sikap itu membuat Nara kesal.

Namun, semakin sering Naya menghindar, semakin besar keinginannya untuk mendekat. Pertemuan-pertemuan mereka di perpustakaan sekolah perlahan mengubah segalanya. Nara yang sebelumnya hampir tidak pernah menginjakkan kaki ke perpustakaan sekarang menjadi sering datang ke perpustakaan. Ia bahkan hafal tempat duduk kesukaan Naya, rak buku yang sering dikunjunginya, serta kebiasaan gadis itu menggembungkan sebelah pipinya ketika sedang berkonsentrasi.

Naya memang belum sepenuhnya bersikap ramah kepadanya. Namun, setidaknya gadis itu tidak lagi pergi setiap kali Nara duduk di hadapannya. Bahkan ia merasa akhir-akhir ini hubungan mereka semakin akrab, terakhir mereka pulang bersama setelah menemani Naya berlatih renang, hingga parkiran tentunya. Ia masih menghargai boundary diantara mereka.

Bagi Nara, itu sudah merupakan kemajuan besar. Hari itu, sepulang latihan basket, Nara berjalan menuju gedung perpustakaan dengan tas olahraga tersampir di bahunya. Rambutnya masih sedikit basah oleh keringat, dan kaus hijau mint yang dikenakannya menempel pada tubuh karena latihan yang melelahkan.

Ia sebenarnya tidak memiliki alasan penting untuk pergi ke perpustakaan. Buku yang dipinjamnya masih memiliki waktu pengembalian satu minggu lagi. Tugas sekolahnya pun sudah selesai. Namun, sejak pagi ia belum melihat Naya. Gadis itu tidak muncul di kantin dan tidak terlihat melewati lorong kelasnya bersama sahabatnya, Kimi. Kini ia tahu siapakah yang menjadi tumbal alasan gadis itu bisa masuk ke gedung olahraga tempat klub basket berlatih. Rupanya karena Kimi, salah satu anggota tim basket putri. Hal yang dulu tak pernah diperdulikannya namun sekarang menjadi perhatiannya sejak ia mengenal sosok Naya.

Nara merasakan cemas karena tidak melihat Naya di hari ini. Ia hanya ingin memastikan Naya baik-baik saja. Atau setidaknya, begitu alasan yang ia berikan kepada dirinya sendiri. Langkahnya terhenti ketika melewati taman kecil di sisi gedung olahraga.

Di bawah pohon trembesi yang tumbuh dekat gerbang samping sekolah, ia melihat sosok yang sejak tadi dicarinya.

Naya berdiri membelakanginya. Rambut panjang sebahu dengan sedikit layer gadis itu dibiarkan terurai, bergerak perlahan diterpa angin sore. Di hadapannya berdiri seorang lelaki tinggi mengenakan jaket olahraga berwarna merah gelap.

Nara hampir memanggil nama Naya ketika lelaki itu berbalik sedikit.

Sekujur tubuh Nara seketika menegang.

Ia mengenal wajah itu. Adinata Reksa Jayadi, atau biasa dipanggil Reksa. Pemain basket dari SMA Garuda, sekolah yang selama dua tahun terakhir menjadi saingan terbesar sekolah mereka untuk melangkah menuju final. Reksa merupakan kapten tim lawan sekaligus salah satu dari sedikit pemain yang mampu menandingi Nara di lapangan.

Hubungan mereka tidak pernah bisa disebut baik.

Pertemuan pertama mereka dalam kompetisi basket berakhir dengan perdebatan panjang setelah Reksa menuduh Nara sengaja melakukan pelanggaran keras. Pada pertandingan berikutnya, Nara membalas dengan mencetak poin kemenangan tepat di depan Reksa. Sejak saat itu, setiap pertandingan antara sekolah mereka selalu dipenuhi ketegangan. Keduanya saling menghormati kemampuan masing-masing, tetapi tidak pernah mau mengakuinya.

Dan sekarang, Reksa berdiri di hadapan Naya.

Nara berusaha berpikir jernih. Mungkin mereka hanya saling mengenal. Mungkin ada urusan sekolah. Mungkin Naya sedang menanyakan sesuatu.

Namun, semua kemungkinan itu runtuh ketika Naya tiba-tiba mendekat dan memeluk lengan kiri Reksa seolah merajuk. Gerakan itu terlihat begitu alami. Begitu akrab.

Naya menyandarkan kepalanya sesaat pada bahu lelaki itu sambil mengatakan sesuatu. Reksa tertawa, kemudian mengangkat tangan kanannya dan mengacak rambut Naya.

Dada Nara terasa sesak. Ia tidak tahu bagian mana yang lebih menyakitkan, melihat kedekatan Naya dengan lelaki lain atau mengetahui bahwa lelaki tersebut adalah Reksa.

Selama ini, Naya selalu menjaga jarak darinya. Bahkan ketika mereka duduk di meja yang sama di perpustakaan, gadis itu selalu memastikan ada tumpukan buku di antara mereka. Ketika Nara berjalan terlalu dekat, Naya akan segera bergeser. Saat Nara berusaha mengacak rambutnya, Naya hampir melemparkan buku ke wajahnya.

Namun, bersama Reksa, Naya terlihat begitu nyaman. Tidak ada penolakan. Tidak ada tatapan kesal. Tidak ada usaha menghindar.

Nara mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.

Ia ingin menghampiri mereka dan meminta penjelasan. Namun, harga dirinya menahannya. Naya bukan siapa-siapa baginya. Mereka tidak memiliki hubungan apa pun. Nara tidak berhak bertanya dengan siapa Naya bertemu atau lengan siapa yang dipeluknya.

Kesadaran itu justru membuat perasaannya semakin buruk. Tanpa mengatakan apa pun, Nara berbalik dan meninggalkan taman. Sejak hari itu, sikap Nara berubah.

Ia tidak lagi datang ke perpustakaan pada jam-jam ketika Naya biasa berada di sana. Jika mereka berpapasan di lorong, Nara hanya melewatinya tanpa sapaan. Bahkan ketika Naya tanpa sengaja menjatuhkan buku di dekatnya, Nara memilih terus berjalan seolah tidak melihat apa-apa. Naya menyadari perubahan itu sejak hari pertama.

Awalnya, ia menganggap Nara sedang sibuk mempersiapkan pertandingan. Namun, setelah hampir satu minggu, ia mulai merasa ada sesuatu yang salah.

Nara tidak sekadar menjauh. Lelaki itu bersikap seolah keberadaannya tidak terlihat. Hal tersebut seharusnya membuat Naya lega.

Bukankah sejak awal ia ingin Nara berhenti mengganggunya? Bukankah ia pernah berharap seniornya itu tidak lagi muncul tiba-tiba di perpustakaan, mengambil kursi di hadapannya, lalu mengajaknya berdebat mengenai buku yang bahkan tidak benar-benar dibaca?

Namun, saat keinginannya terkabul, Naya justru merasa kehilangan.

Perpustakaan menjadi terlalu sepi tanpa suara Nara yang berbisik seenaknya. Lorong sekolah terasa berbeda tanpa lelaki itu yang sengaja berjalan mundur di depannya. Bahkan latihan renang menjadi membosankan karena tidak ada seseorang yang diam-diam masuk ke gedung kolam renang hanya untuk diam-diam memperhatikan dirinya berenang.

Naya tidak menyukai perasaan tersebut. Ia lebih tidak menyukai kenyataan bahwa Nara terlihat baik-baik saja tanpa dirinya. Pada Jumat menjelang sore, sekolah mereka mengadakan pertandingan persahabatan melawan SMA Garuda. Meski hanya pertandingan uji coba, tribun dipenuhi siswa dari kedua sekolah. Mungkin banyak yang bertanya mengapa pertandingan persahabatan dilakukan di hari Jumat atau Sabtu siang menjelang sore. Hal itu dikarenakan hari berikutnya masih ada waktu untuk mereka beristirahat di akhir pekan sehingga pada hari Seninnya para siswa itu bisa kembali fokus di jam pelajaran.

Naya sebenarnya tidak berniat menonton karena ingin menikmati waktu berenang yang lebih lama di dalam air. Namun, pelatih renangnya meminta seluruh anggota klub hadir untuk memberikan dukungan. Mau tidak mau, sekarang disinilah ia duduk di tribun bersama teman-temannya tim klub renangnya. Tentu saja Kimi juga ikut.

Sejak memasuki lapangan, Nara bahkan tidak sekalipun melihat ke arahnya. Lelaki itu berdiri di tengah lapangan dengan wajah serius. Tatapannya hanya tertuju kepada Reksa yang berada di sisi berlawanan.

Peluit dibunyikan. Pertandingan berlangsung jauh lebih keras daripada biasanya. Nara bermain agresif. Setiap kali Reksa membawa bola, ia menghadangnya dengan tatapan tajam. Beberapa kali bahu mereka bertabrakan. Meski tidak melakukan pelanggaran, ketegangan di antara keduanya terlihat jelas.

“Kenapa Kak Nara mainnya seperti sedang marah Nay?” bisik Kimi.

Naya tidak menjawab. Ia juga ingin mengetahui jawabannya. Pada kuarter ketiga, Reksa berhasil melewati pertahanan Nara dan mencetak dua poin. Saat berlari kembali, ia mengatakan sesuatu kepada Nara yang tidak dapat didengar dari tribun. Nara langsung menarik bahu Reksa.

Peluit wasit berbunyi nyaring.

Keduanya berdiri berhadapan. Reksa terlihat kebingungan, sedangkan Nara memandangnya dengan kemarahan yang selama ini belum pernah Naya lihat.

“Apa masalahmu?” tanya Reksa.

Nara tertawa pendek tanpa humor. “Kau tahu apa masalahku.”

“Aku tidak tahu.”

“Tidak perlu berpura-pura.”

Reksa mengernyit. “Kau bicara soal pertandingan?”

“Bukan hanya pertandingan.”

Wasit dan beberapa pemain segera memisahkan mereka sebelum pertengkaran menjadi lebih besar. Nara mendapatkan peringatan, sementara pelatih memintanya duduk di bangku cadangan selama beberapa menit.

Naya memperhatikan dari tribun dengan jantung berdebar. Ia mengenal Nara sebagai seseorang yang sering bertindak sesuka hati, tetapi lelaki itu bukan pemain yang mudah kehilangan kendali saat pertandingan. Basket terlalu penting baginya. Nara tidak akan membahayakan tim hanya karena persoalan kecil seperti persaingan dengan Reksa.

***

1
Wawan
Salam kenal untuk Naya 💪✍️
Ayunda Permata
Sukses Selalu Thor 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!