Awal Judul Ada & Tiada
Berawal dari kesurupan massal di malam puncak penerimaan mahasiswa/i baru menjadi titik awal temu mereka. Saling menyadari bahwa mereka sama, sama-sama hidup diantara mereka yang tiada namun sebenarnya ada.
Kisah tentang perjalanan sekelompok anak muda yang memiliki kemampuan sixth sense, melihat apa yang semestinya tidak terlihat, dan merasakan kehadiran mereka yang tak tersentuh.
Akankah mereka bisa menjalani hidup normal seperti orang lain?
Kisah mereka akan hadir setiap hari pukul tujuh malam. Jangan baca sendiri, siapa tahu kau sedang tak sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Arin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan!
"Kenapa makanan mu tidak kau habiskan?" tanya Dewa sambil mengusap wajah nya untuk menghilangkan jejak sisa makanan yang tertinggal di wajah tampan nya itu.
"Makan sambil menatap wajah pria yang begitu manis ternyata sukses membuat ku merasa kenyang lebih cepat ya." ledek Arindita, Dewa yang sedang minum pun tersedak mendengar ucapan sang kekasih. Melihat Dewa yang tersedak minuman karena ulah nya, Arindita pun memberikan sehelai tissue untuk Dewa.
"Ck, siapa yang mengajari mu menggombal?" tanya Dewa penasaran, Dewa tidak menyangka seorang Arindita yang begitu pendiam dan irit bicara apalagi terlihat galak jika ia dekati kini berubah menjadi gadis yang manis dan selalu tersenyum, bahkan menghujani nya dengan sikap dan ucapan-ucapan manis yang membuat Dewa luluh.
"Siapa lagi jika bukan dirimu!" balas Arindita sambil terkekeh, ia tidak menyangka bahwa sikap Dewa saat mendekatinya membuat Arindita belajar sedikit cara untuk menyenangkan lawan bicara nya, apalagi jika lawan bicara nya adalah orang yang kita sukai. Dewa hanya bisa tersenyum mendengar balasan Arindita.
"Habiskan, tidak baik membuang makanan begitu saja." ujar Dewa sambil tesenyum dan mengelus pucuk kepala kekasih nya. Arindita hanya mengangguk dan mulai menghabiskan makanan yang ada di hadapan nya.
Sambil menatap sang kekasih, ada sosok sepasang pria dan wanita yang tengah berdiri di depan pintu masuk terlihat begitu tidak asing di mata Dewa. Dewa menyipitkan matanya agar bisa melihat dengan jelas, dan betull adanya bahwa kedua orang itu adalah Keenan dan Ocha.
"Ya Tuhan, sudah jauh-jauh pergi kesini ternyata masih juga bertemu, pupus sudah! Aku pasti tidak bisa mengantarkan Arindita pulang." ujar Dewa dalam hati, ia menyenderkan tubuh nya perlahan ke kursi. Sikap dan tatapan Dewa yang tiba-tiba lesu pun tertangkap oleh Arindita.
Arindita yang menatap Dewa sambil melahap spagheti di mulutnya, kini menoleh ke arah tatapan Dewa, dan kembali menatap ke arah Dewa sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Arindita yakin pasti Dewa takut ia tidak bisa mengantarkan Arindita pulang karena sang kakak tengah berada di satu tempat makan yang sama dengan mereka.
Arindita meraih tangan Dewa dan menepuk-nepuk nya pelan sambil lanjut makan, Dewa yang mendapatkan perlakuan tersebut menatap ke arah tangan Arindita dan beralih menatap wajah sang kekasih. Arindita membersihkan mulut nya dan tersenyum menatap Dewa.
Arindita menoleh ke belakang dan melambaikan tangan nya ke arah Keenan. Keenan yang tengah mencari kursi kosong pun melihat lambaian tangan sang adik namun tak membalas nya. Sama seperti Dewa, Keenan pun merasakan ke khawatiran yang Dewa rasakan, Keenan baru saja ingin menghabiskan makan malam berdua dengan Ocha namun kini harus bertemu dengan sang adik.
"Kenapa mereka harus datang ke tempat ini juga si! Gagal sudah rencana ku." fikir Keenan. Ocha yang menyadari kehadiran Arindita dan Dewa pun membalas lambaian tangan sahabatnya itu, dan berjalan menghampiri mereka. Baru juga selangkah, Keenan sudah menahan tangan Ocha untuk berhenti. Ocha pun mau tak mau menatap Keenan dengan penuh tanda tanya.
"Kita pindah saja, tempatnya penuh." ujar Keenan sambil menarik tangan Ocha untuk ikut pergi keluar dari tempat makan tersebut tanpa berbicara apapun pada sang adik.
"Ck, kenapa Kakak mengabaikan ku?" tanya Arindita ke Dewa, Dewa hanya tersenyum lega melihat Keenan memilih pergi mencari tempat lain alih-alih bergabung dengan nya.
"Kenapa tersenyum?" tanya Arindita pura-pura tidak mengerti. Dewa yang ditanya pun tidak menjawab dan hanya terus saja tersenyum.
"Tidak apa-apa, lanjutkan makan mu, habis itu kita pergi dari sini." ujar Dewa, Arindita pun memilih untuk mengalah dan memilih untuk makan.
DI lain tempat, Ocha yang patuh saja dengan Keenan kini sudah kembali duduk di dalam mobil bersama Keenan dan pergi jauh dari tempat makan itu.
"Kenapa kita pergi? Apa Kakak tidak lihat tadi ada Arindita dan Dewa di sana?" tanya Ocha penasaran, Ocha sangat yakin Keenan pun melihat Arindita dan Dewa juga ada disana apalagi Arindita melambaikan tangan nya ke arah Keenan dan dirinya.
"Aku hanya ingin makan berdua dengan mu tanpa gangguan orang lain." balas Keenan dengan santainya. Entah Keenan sadar atau tidak bahwa ucapan pria itu lagi-lagi membuat jantung nya berdetak tak karuan.
"Ck, modus!" umpat Ocha pelan namun masih bisa terdengar jelas di telinga Keenan. Keenan tidak membalas umpatan Ocha, pria itu hanya tersenyum senang melihat sikap Ocha yang tersipu malu.
"Kita mau kemana Kak? Ini sudah sangat jauh dari basecamp." ujar Ocha mengingatkan bahwa arah yang Keenan ambil semakin jauh dari basecamp.
"Nanti juga kau tahu." jawab Keenan, Ocha yang kesal selalu diberi jawaban yang tidak jelas pun memilih untuk memejamkan matanya dan tak lama ia pun tertidur.
Keenan yang fokus menyetir tidak menyadari bahwa gadis yang sedang duduk disamping nya sudha tertidur, hingga pria itu baru menyadari saat mereka sudah tiba di restoran yang direkomendasikan oleh salah satu teman tongkrongan nya dulu. Restoran itu berada di daerah dataran tinggi dengan pemandangan malam yang begitu indah, masih di sekitaran Dago Bandung yaitu The Valley Cafe.
Keenan menatap Ocha yang tengah tertidur pulas di mobil, ia menyingkirkan rambut halus yang menutup sedikit area wajah cantik gadis itu. Sadar ada sentuhan orangg lain di wajahnya Ocha pun menggerak kan tubuhnya bangun dari tidur lelap nya. Keenan pun menarik tangan nya menjauh dari wajah Ocha kikuk.
"Kita dimana Kak?" tanya Ocha sambil mennyenderkan kepalanya ke kursi mobil, mencoba mengumpulkan nyawa nya yang masih bertebaran sana-sini.
"Ayo turun, aku sudah sangat lapar." uajr Keenan tanpa mau menjawab pertanyaan Ocha. Keenan pun turun lebih dulu sambil melihat-lihat sekitar area restoran tersebut.
"Haish, kenapa aku bisa menyukai pria menyebalkan seperti Kak Keenan!" rutuk Ocha pelan di dalam mobil, ia mendongak kan kepalanya sambil memejam kan mata, hingga ketukan di kaca membuyarkan ketenangan nya. Ternyata Keenan lah yang mengetuk kaca mobil. Pria itu melongok dan berkata turun.
"Iya, iya. Aku turun." ucap Ocha sambil membuka pintu mobil. Ocha yang walnya sudah tidak bergairah untuk makan dan lebih memilih pulang untuk berisitirahat tak menyangka akan melihat pemandangan Bandung malam itu yang sungguh memanjakan mata bagi siapa pun yang melihat nya.
"Ayo, melihat pemandangan saja tidak akan membuat perut mu kenyang!" ujar Keenan, pria itu berjalan lebih dulu dan memilih kursi yang akan mereka tempati. Ocha yang masih terpana hanya mengikuti langkah Keenan begitu saja.
Kini mereka duduk saling berhadap-hadapan. baik Ocha maupun Keenan bisa saling menatap wajah masing-masing dengan leluasa.
"Apa Kakak sering kesini?" tanya Ocha penasaran, tempat yang indah dan terlihat seperti tempat yang pas untuk berkencan membuat tersirat di fikiran Ocha apa mungkin Keenan pernah kesini dengan sang kekash.
"Tidak." jawab Keenan singkat sambil menatap lekat-lekat wajah Ocha. Ocha pun kembali melayangkan pertanyaan lain ke Keenan.
"Pasti kau tahu tempat ini dari kekasih mu ya? Apa kekasih mu tidak akan marah jika tahu Kakak kesini dengan wanita lain?" tanya Ocha tanpa jeda. Namun Keenan hanya menjawab pertanyaan Ocha dengan singkat seperti sebelumnya.
"Tidak." jawab Keenan. Ocha yang sadar Keenan menatap nya tajam membuat Ocha risih dan mengalihkan pandangan nya ke arah lain. Sang pelayan restoran pun datang dan memberikan menu makanan yang sudah Keenan pesan sebelumnya. Ocha yang merasa belum memesan makanan terlihat bingung kenapa sudah ada makanan yang disuguhkan.
"Kapan Kakak memesan nya?" tanya Ocha saat pelayan restoran itu pergi menjauh.
"Saat kau sedang bermimpi dan ngiler." ucap Keenan sambil membereskan menu makanan yang akan mereka makan, Ocha yang mendengar balasan Keenan mengerutkan kening nya kesal.
Mereka berdua pun makan dengan tenang tanpa harus merasa terganggu oleh kehadiran orang yang mereka kenal.
Bersambung ...
Ya ampun bang Keenan bisa ae kelakuannya ya, cubit nih ginjal nya wkwkwkw ....
Apa kabar yang di bascamp ya? Kira-kira Ochi dan Haura sudah tahu belum ya kalau Ocha yang mereka khawatirkan sekarang lagi berduaan?
See you on next chapter ya gengs
semangat Kaka Arin...lanjuttt yaaa
kalo Ari suka Haura Krn sbg adik saja kan
TPI aku terharu Aldi bisa juga mengikhlaskan Anita dan TDK menganggap Haura bayangan nya Anita...