Apakah tidak ada pilihan lain?
kenapa sakalinya bertransmigrasi malah ke tubuh Antagonis,lucu sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon okolele, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak bisa menghindar.
Bel berbunyi nyaring,suaranya mengema dan memekakan ke penjuru ruangan memberi sinyal bahwa sudah saatnya untuk rehat.
"Istirahat!." seru seseorang dari bangku belakang.
Guru yang tadinya sedang mengajar langsung menatap penjuru ruangan melihat para murid yang sangat antusiasme ingin segera keluar.
"Baiklah anak-anak cukup sekian yang bisa ibu sampaikan, selanjutnya kita bertemu di minggu depan. Selamat siang. " Setelah berucap guru itu langsung keluar.
Malika meregangkan tubuhnya pelan. Pundaknya terasa pegal setelah dua jam berkutat dengan rumus yang seolah enggan bersahabat dengannya. Ia menutup buku, memasukkannya ke dalam tas, lalu mengembuskan napas panjang.
"Lo ke kantin, kan?" tanya Aira sambil merapikan rambutnya.
"Iya. Laper banget, gue belum sempat sarapan tadi."
"Gue juga. Buruan, nanti keburu penuh."
Keduanya keluar yang langsung di sambut dengan kedatangan Ruka ketiganya langsung berjalan keluar kelas mengikuti arus siswa lain.
Angin siang berembus lembut, menggoyangkan dedaunan pohon ketapang yang berjajar di halaman sekolah.
Cahaya matahari menembus sela-sela ranting, menciptakan bayangan pada sekitarnya.
"Eh, tunggu bentar."
Malika menghentikan langkahnya ketika tali sepatunya terlepas. Ia berjongkok, mengikatnya kembali dengan cepat.
"Kalau jatuh gara-gara tali sepatu, malu seumur hidup," gumamnya.
Aira terkekeh. "Lebay."
"Namanya juga jaga-jaga."
Sesampainya di kantin, aroma aneka olahan makanan langsung memenuhi udara. Suasananya riuh, tetapi justru terasa hangat.
Suara sendok beradu dengan piring, gelak tawa siswa, hingga ibu kantin yang sibuk melayani pesanan berpadu menjadi satu.
"Gue pesen mi ayam. Lo bedua?" tanya Aira.
"Nasi goreng aja."
"Seblak."
Setelah mendapatkan makanan, mereka memilih duduk di meja paling pojok yang masih kosong.
Mereka menikmati makanan mereka dengan khusyuk.
Lama mereka menikmati makanan mereka sampai akhirnya piring mereka tandas, ludes tanpa sedikitpun sisa.
Ruka memegangi perutnya yang terasa kenyang.
"Duh." Malika memegangi perutnya.
"Gue ke toilet bentar, mau buang air kecil, duluan aja ke kelas tar gue nyusul! . "
Aira dan Ruka menatap Malika lalu menganggukan kepala mereka serempak.
Malika pergi meninggalkan kantin sekolah, ia berjalan menuju toilet wanita.
Malika memasuki toilet dan buang air kecil di sana setelah selesai langsung di basuhnya tangan serta wajahnya.
Di tatapnya pantulan wajahnya pada kaca.
"Cakep amat, syukak. "Girangnya mengagumi paras cantiknya.
Setelah memberi liblam pada bibirnya dan puas menatap parasnya di kaca,ia mendorong pintu toilet dan hendak melangkah keluar.
Namun, langkahnya terhenti.
Beberapa meter di depan,berdiri seorang laki-laki dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana.
Bahunya bersandar santai pada dinding. Kepalanya sedikit menunduk, seolah sedang menunggu seseorang.
Ke dua netra obsidian mereka bertemu.
Hening.
Malika sempat mengernyit.
"Ngapain lo di sini?" tanyanya datar.
Soren mengangkat bahu.
"Nunggu."
"Nunggu siapa?"
"Bukannya jelas?"
Malika mengedarkan pandangan ke sekitar lorong yang kosong.
"Lo ngapain sampe masuk, ini toilet cewe nunggu di depan kan bisa. "
"Gue tahu."
"Terus?"
"Gue emang mau nunggu di sini."
Jawaban itu justru membuat Malika semakin bingung.
"Lo jangan bilang... nungguin gue."
Soren tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Malika beberapa detik sebelum mengembuskan napas pendek.
"Kenapa lo ngindarin gue?"
"Gue gak ngehindarin lo."
"Jangan bohong."
"Gue serius."
"Serius?"
"Iya."
Soren menatapnya beberapa detik, seolah sedang memastikan apakah Malika berkata jujur atau tidak.
"Dari tadi di kelas lo bahkan nggak sekali pun ngelihat ke arah gue, ralat lo sempat ngeliat tapi langsung buang muka, ngehindar? ."
Malika terkekeh pelan, lebih karena gugup daripada merasa lucu.
"Emang harus?"
"Harus."
Setelah mendengan penuturan absolut dari Soren Malika menatap netra Soren dengan rasa tidak percayanya.
"Lo gak sepenting itu. " Balas Malika tungkainya hendak melangkah pergi.
Namun tiba-tiba, Soren menangkap pinggang Malika.
Kedua tangannya yang besar melingkar erat, melilit bak ular piton di perut ramping Malika.
Merasakan itu Malika hendak menarik tubuhnya, menjauh dari dekapan erat yang terasa menyesakan itu tapi nihil.
Posisi itu begitu dekat sehingga tubuh bagian bawah mereka menempel rapat.
Tubuh tinggi Soren yang menjulang membuat Malika harus mendongak penuh.
Malika terkejut. Terkejut melihat tatapan Soren.
Soren rapatkan tubuh keduanya, sampai pada punggung Malika yang sudah mentok pada dinding di sana.
Soren mengurung akses Malika untuk bergerak bebas . satu tangnya ia tumpukan pada dinding, di sebelah kepala Malika.
Posisi itu mengunci pergerakan Malika.
"Lo malu hm?. "
Malika masih saja membisu.
"Lo terus terbayang kejadian kemaren benar?. "
Malika tetap saja membisu sembari berusaha mendorong dada bidang Soren.
Soren lepas kekangan tanganya pada perut ramping Malika.
Dorongan itu tak ada atrinya bagi Soren, bahkan tubuhnya tak bergeser sedikitpun.
Sekarang tangan itu beralih pada kedua tangan Malika yang langsung ia hentakan ke arah kepala.
Ia memaku kedua lengan gadis itu pada dinding, lalu Mendempetkan tubuhnya lebih dekat.
"Bicaralah!. "
"Percaya diri amat lo,tau gak sih kejadian semalam itu udah gue lupain.Gue anggap kejadian kemaren itu cuman musibah puas!. "
Soren tatap gadis itu, di lihatnya dadanya yang bergemuruh penuh emosi dan wajah memerah.
Tangan soren yang besar menyentuh lembut pipi Malika, jemari besar nan kekar pria itu menyusuri inci wajah Malika.
Di elusnya pipi itu lembut seakan takut sedikit saja ia ia elus kasar maka pipi itu akan luka.
Malika terpaku akan sentuhan itu, nafasnya sempat tercekat, ini jelas salah.... Tapi Malika tidak dapat menggerakan tangannya.
"Jangan sentuh sialan, jijik.
Bukanya marah akan penolakan itu Soren justru menatap Malika dengan tatapan memuja yang memurut malika sangan konyol.
Soren tidak menjawab, di selipkannya anak rambut Malika yang mengganggu rupa cantik itu.
Sedari lama Soren mencoba Danial, mengelak akan ketertarikannya pada gadis ajaib yang ada di depannya ini.
Semakin ia mencoba Denial, semakin besar rasa itu bertumbuh.
Ia mulai tertarik pada saat gadis itu menghindar darinya, ia tak rela. Tak rela Malika menyukai yang lain.
Mata abu-abu itu terkunci pada bibir ranum yang telah ia icip kemaren.
Bibir yang membuatnya susah tidur dan selalu terbayang-bayang.
Bibir yang ingin selalu ia rasakan.
"Enyahlah sialan. " Tutur Malika sembari mencoba membebaskan diri, kakinya yang bebas hendak menendang selangkangan Soren.
Soren menangkap apa yang akan Malika lakukan selanjutnya, maka dari itu ditangkapnya kaki itu lalu meremasnya pelan."
"Bangsat, mesum.Lepas." Malika semakin menjadi-jadi amarahnya, nafasnya kembang-kempis.
Soren menatapnya geli,menahan rasa gemas yang menggelitik,ia tahan rasa gemas itu dengan menggigit pipi bagian dalamnya.
Di cengkramnya dagu Malika,ia menunduk menyatukan bibir keduanya. Di rasanya bibir kenyal nan manis itu.
"Mphhh!."
Itu bukan sekedar kecupan, tapi lumatan, lumatan panas nan agresif.
Soren melumat Bibir Malika dengan kasar dan lapar, seolah ia ingin menelan nafas malika bulat-bulat sampai ke ruh nya.
Lidahnya memaksa, menerobos masuk ke dalam lalu melilitkan lidahnya pada lidah Malika.
Malika yang di serang mendadak itu langsung kaku, adrenaline terpacu, jantungnya berdetak cepat dan liar.
Malika terus meronta, sialnya Soren tak perduli.
Malika lemas, kakinya terasa seperti jely.
Malika yang di lumat bibirnya itu menggigit kencang bibir Soren.
Karena hal itu tautan keduanya terlepas.
Soren tatap Malika dengan seringai di sudut bibirnya sembari memegangi bibirnya yang berdarah dengan ibu jari.
"Lo suka Banget gigit sayang. "
Malika layangkan telapak tanganya,di tamparnya pipi Soren hingga tertoleh ke samping.
Soren terdiam, tak menunjukan reaksi.
Malika yang merasa Itu kesempatan bagus pun langsung mengambi kesempatan itu untuk lari meninggalkan Soren yang tengah menatap punggungnya yang menjauh dengan tatapan nanar yang sirat akan damba.
"Jangan harap lo bisa ngehindar, karena udah berhasil narik perhatian gue!. "
__________
For u🌺
And Thank you so much bey-bey.
Cerita ini Herem di mana 1 wanita bisa berpasangan dengan beberapa pria.