NovelToon NovelToon
Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Pelakor jahat / Rebirth For Love
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16

Jovian Loe.

Nama itu masih terbayang di kepala Kiana ketika mobil Navara Tech berhenti di depan Galeri Cahaya pada tanggal tiga puluh Juni.

Galeri itu berdiri di jalan tenang di Kemang, bangunan putih rendah dengan kaca lebar dan halaman batu alam. Di dalam, lukisan kontemporer tergantung di dinding seperti saksi mahal. Aroma kayu, kopi hitam, dan parfum orang-orang kaya bercampur tipis di udara.

Fang turun lebih dulu, membawa map presentasi dan tablet cadangan.

"Bu Kiana, urutan tetap. Loe Group sebelum kita."

Kiana merapikan blazer putihnya. "Bagus."

"Saya mulai curiga kata bagus dari Ibu artinya perang."

"Hari ini memang perang."

Mereka masuk ke aula utama. Beberapa perwakilan perusahaan besar sudah duduk di kursi berlabel nama. Ketika Kiana lewat, bisik-bisik mengecil.

"Itu Navara?"

"Katanya hampir tutup."

"Kiana Lim sendiri yang datang?"

Kiana duduk tanpa menoleh. Bisikan lebih baik dibiarkan hidup sampai waktunya dicekik dengan hasil.

Lima menit kemudian, Jovian masuk dengan setelan abu-abu gelap. Di sampingnya, Vanya Pai memakai gaun krem dan senyum lembut yang terlalu terlatih.

Pandangan Jovian menemukan Kiana hampir seketika.

Vanya mendekat lebih dulu. "Kiana, aku dengar Navara juga masuk final. Hebat sekali. Semoga nanti tidak terlalu tegang, ya. Galeri Cahaya biasanya cukup berat untuk perusahaan kecil."

Fang hampir membuka mulut.

Kiana tersenyum tipis. "Kalau ruangan ini terasa berat, mungkin karena sebagian orang masuk membawa beban yang bukan miliknya."

Senyum Vanya membeku.

Jovian menatap Kiana. "Kiana, jangan mulai."

"Saya belum mulai, Pak Jovian. Nanti giliran saya setelah Loe Group."

Sebelum suasana makin tajam, staf acara meminta peserta duduk. Lampu aula meredup. Di meja panel, kursi tengah ditempati seorang pria berjas hitam tanpa dasi.

Erlan Kei.

Dalam daftar resmi acara, ia ditulis sebagai Pak Linson.

Kiana pernah melihat wajah itu sebelumnya. Terlalu mirip Hans untuk disebut kebetulan, tetapi terlalu dingin untuk disamakan begitu saja. Tatapannya menyapu ruangan tanpa singgah pada siapa pun terlalu lama.

Satu per satu perusahaan naik. Ada yang menjual lampu pintar, ada yang menjual dashboard energi, ada yang menjual layanan concierge. Rapi, mahal, dan mudah dilupakan.

Lalu giliran Loe Group.

Jovian tahu cara menguasai ruangan. Ia bicara tentang modal kuat, pengalaman proyek besar, jaringan vendor internasional, dan kemampuan menanggung risiko di banyak kota sekaligus.

Slide-nya bersih. Angkanya besar. Nama mitranya kuat.

"Vista Home tidak membutuhkan eksperimen," katanya di akhir. "Vista Home membutuhkan mitra yang bisa memastikan layanan berjalan sejak hari pertama. Loe Group tidak menawarkan janji. Kami menawarkan kapasitas."

Tepuk tangan terdengar.

Kiana ikut bertepuk tangan pelan. Ia menghargai lawan yang meletakkan semua senjatanya di meja.

Setelah itu, pembawa acara memanggil Navara Tech.

Kiana berjalan ke depan sendirian. Di layar besar, tidak muncul apartemen mewah atau keluarga tersenyum. Yang muncul adalah dapur biasa.

Kompor menyala.

Anak kecil masuk mengambil botol minum.

Di sudut layar, tanda risiko berubah dari hijau menjadi kuning.

"Kebanyakan rumah pintar menunggu perintah," kata Kiana. "Nyalakan lampu. Kunci pintu. Turunkan suhu. Tapi bahaya tidak menunggu perintah."

Ruangan mulai diam.

"Api sering dimulai dari hal kecil. Kabel panas, minyak yang tertinggal, stop kontak murah. Proposal Navara Tech membuat rumah tidak hanya nyaman, tapi juga waspada. Saat pola risiko naik, sistem memberi peringatan bertahap kepada penghuni, keluarga, pengelola gedung, dan jika perlu, petugas darurat."

Slide berubah menjadi denah unit apartemen. Jalur evakuasi hijau berpindah ketika koridor utama tertutup asap.

"Untuk anak kecil, lansia, dan penghuni dengan mobilitas terbatas, instruksi tidak boleh sama. Keselamatan harus mengenal orang yang sedang diselamatkan."

Di meja juri, Pak Linson akhirnya mengangkat mata.

Kiana melihat gerakan kecil itu, tetapi suaranya tetap stabil.

"Kami tidak menjual rumah yang terlihat pintar. Kami menjual rumah yang tahu kapan harus menyelamatkan orang di dalamnya."

Tepuk tangan kali ini tidak meledak, tetapi panjang. Cukup panjang untuk membuat warna wajah Vanya berubah.

Di sisi kiri aula, seorang perwakilan properti yang sejak tadi sibuk dengan ponsel akhirnya menaruh gawainya. Di baris belakang, dua staf Vista Home saling berbisik sambil menunjuk denah evakuasi. Bahkan beberapa peserta yang tadi meremehkan Navara kini menatap layar seperti baru sadar bahwa perusahaan kecil itu membawa masalah yang tidak bisa dijawab hanya dengan uang.

Jovian tidak bertepuk tangan.

Ia duduk tegak, jari-jarinya saling mengunci di atas meja. Kiana mengenal ekspresi itu. Dulu, wajah seperti itu muncul ketika ada orang yang tidak mengikuti skenario Jovian.

Vanya menunduk, tetapi Kiana melihat tangannya mencengkeram clutch terlalu keras.

Pak Linson menatap layar beberapa detik. "Sumber inspirasinya?"

Kiana menggenggam remote lebih erat.

"Saya mengenal seorang pemadam kebakaran."

Tangan Pak Linson berhenti mengetuk meja satu kali.

"Dia memberi masukan teknis?"

"Sebagian berasal dari obrolan dengannya. Sisanya dari pengalaman Navara dan data proyek."

"Hm."

Tidak ada pujian. Tetapi ia menulis catatan sendiri, bukan menyerahkannya kepada asisten.

Gerakan kecil itu membuat suasana aula berubah lagi. Beberapa panelis ikut melihat kertas di depan Pak Linson, seolah catatan pribadi darinya lebih berat daripada tepuk tangan seluruh ruangan.

Kiana menurunkan remote. Ia tidak tahu mengapa dada kirinya bergetar. Mungkin karena wajah Pak Linson terlalu mirip Hans. Mungkin karena pertanyaan tentang pemadam kebakaran itu terdengar terlalu dekat dengan rahasia yang belum ia pahami.

Sesi tanya jawab hampir selesai ketika Jovian berdiri.

"Saya menghargai idenya," katanya. "Tapi Navara Tech perusahaan kecil dengan kondisi finansial tidak stabil. Bagaimana Vista Home bisa mempercayakan sistem keselamatan pada perusahaan yang belum tentu bertahan enam bulan?"

Ruangan langsung hidup.

Itu bukan pertanyaan. Itu serangan.

Kiana menatapnya, lalu menoleh ke panel.

"Pertanyaan Pak Jovian valid."

Beberapa orang tampak terkejut.

"Karena itu implementasi kami dibagi bertahap: pilot kecil, perluasan terbatas, lalu integrasi penuh setelah hasilnya memenuhi batas yang disepakati. Pembayaran juga berbasis milestone. Vendor hardware memakai mitra lokal tersertifikasi. Jika Navara gagal memenuhi SLA, modul keselamatan tahap awal masuk mekanisme escrow terbatas."

Fang menampilkan satu slide ringkas berisi fase, biaya, dan risiko.

Tidak banyak istilah. Tidak banyak angka yang membuat mata lelah. Cukup jelas untuk menunjukkan bahwa Kiana tidak datang membawa mimpi kosong.

Jovian menyipit. "Kedengarannya seperti kamu sudah menyiapkan jawaban untuk menyerang Loe Group."

"Tidak," jawab Kiana. "Saya menyiapkan jawaban untuk klien yang serius."

Ada suara kecil seperti orang menahan tawa.

Wajah Jovian mengeras.

"Loe Group menawarkan kapasitas. Navara menawarkan fokus. Dalam proyek keselamatan, kapasitas tanpa fokus hanya membuat kesalahan terjadi lebih mahal."

Hening satu detik.

Lalu seseorang di belakang batuk, terlalu sengaja untuk menutupi tawa. Wajah Jovian mengeras sepenuhnya. Kiana tahu ia marah, tetapi ia juga tahu Jovian tidak bisa membantah tanpa terlihat mengabaikan kata keselamatan.

Itu cukup.

Pembawa acara segera menutup sesi.

Panel berdiskusi hampir dua puluh menit. Para peserta pindah ke area lounge, tetapi tidak ada yang benar-benar santai.

Vanya menghampiri Kiana di dekat instalasi kaca. "Bisnis bukan cuma ide. Orang seperti Jovian bisa memberi Vista Home rasa aman."

Kiana menatap pantulan Vanya. "Kalau rasa aman hanya datang dari nama keluarga, buat apa ada pitching?"

Sebelum Vanya sempat membalas, staf memanggil semua peserta kembali.

Pak Linson mengambil mikrofon.

"Panel memutuskan dua kandidat final untuk negosiasi terakhir Vista Home."

Kiana merasakan telapak tangannya dingin, tetapi punggungnya tetap lurus.

"Loe Group."

Tepuk tangan terdengar. Jovian mengangguk seolah hasil itu haknya.

"Dan Navara Tech."

Fang lupa bernapas.

Tepuk tangan kedua terdengar lebih ramai karena ada unsur terkejut di dalamnya. Beberapa orang menatap Kiana dengan wajah berbeda. Bukan lagi kasihan. Mereka sedang menghitung ulang.

Kiana tidak langsung tersenyum. Ia hanya berdiri di tempatnya, merasakan semua bisik-bisik pagi tadi jatuh satu per satu dari punggungnya. Hampir tutup. Perusahaan kecil. Anak yang dibuang Bintang Grup. Semua label itu belum hilang, tetapi sekarang orang-orang harus menelannya bersama fakta bahwa Navara masuk dua besar.

Ia teringat ruang rapat kecil Navara, nasi kotak dingin, dan mata timnya yang menunggu keputusan. Kemenangan ini belum menyelamatkan semuanya, tetapi untuk pertama kalinya, jalan keluar tidak lagi tampak seperti garis tipis di kejauhan. Jalan itu ada di bawah kakinya.

Dan kali ini, ia tidak berjalan sendirian.

Navara berdiri kuat di belakangnya.

Di barisan depan, Vanya menunduk terlalu cepat.

Jovian tetap diam, tetapi garis rahangnya mengeras. Kiana tahu ekspresi itu. Ia tidak suka kalah, apalagi kalah di ruangan yang sudah ia anggap miliknya.

Sesi resmi selesai. Jovian berjalan melewati Kiana tanpa berhenti, bahunya tegang. Vanya mengikutinya tanpa senyum.

Fang berbisik, "Bu Kiana, kita masuk final dua besar."

"Saya dengar."

"Saya hampir menangis."

"Di mobil saja."

Kiana hampir tersenyum.

Ia baru hendak keluar ketika suara rendah memanggil dari belakang.

"Bu Kiana Lim."

Kiana berbalik.

Pak Linson berdiri beberapa langkah dari meja panel. Dari dekat, kemiripannya dengan Hans semakin mengganggu. Tetapi auranya berbeda, terlalu terukur, terlalu dingin.

"Pak Linson," jawab Kiana formal.

Tatapannya turun sebentar ke map presentasi di tangan Kiana, lalu kembali ke wajahnya.

"Pemadam kebakaran itu," katanya, "siapa namanya?"

1
Ray
apakah Hans punya kembaran?
Ray
misteri 💪
Lili Inggrid
ceritanya bagus...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!