NovelToon NovelToon
Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Naura

Menikahi pria kaya demi melunasi utang ratusan juta? Nami sanggup.

Melahirkan anak pewaris Tanuwijaya sesuai dengan kontrak di Pasal 7? Nami setuju.

Namun, bagaimana jika pria yang menghamilinya ternyata terlibat dalam kecelakaan maut orang tuanya?

Namira Calista kira, menikahi Maxwell Ezra Tanuwijaya hanyalah transaksi bisnis selama satu tahun. Namun, di balik dinginnya tatapan Max dan hangatnya sentuhan pria itu, ada rahasia kelam masa lalu yang pelan-pelan terkuak.

Ketika rasa cinta mulai tumbuh dan janin mulai bernyawa, Nami menemukan bukti bahwa Max terlibat dalam tragedi 5 tahun lalu.

Akankah Nami bertahan demi anak di rahimnya, atau memilih pergi dan menghancurkan Max dengan tangannya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27 - Tuduhan Sialan

Begitu tubuh Nami limbung, Max dengan cekatan menangkapnya, mendekap tubuh ringkih yang sudah kehilangan kesadaran itu ke dadanya.

"Nami? Nami! Buka matamu!" panggil Max dengan nada suara yang tak pernah ia gunakan sebelumnya. Panik yang tak terkontrol.

Wajah Nami menyapu pandangannya, bibirnya pucat pasi, matanya terpejam rapat, dan kulitnya dingin seperti es.

Ada rasa cemas yang mendadak memenuhi rongga dada Max hingga napasnya terasa tertahan.

Tanpa membuang waktu, ia mengangkat tubuh ringkih Nami ke dalam gendongannya dan melangkah selebar mungkin menuju ranjang.

Sambil membaringkan Nami pelan-pelan, tangan Max bergetar saat meraba saku celananya untuk mengambil ponsel. Ia langsung menghubungi dokter pribadi keluarganya.

"Dokter Edward, ke rumah saya sekarang! Jangan banyak tanya, cepat datang!" serunya setengah membentak lewat telepon, suaranya bergetar menahan ketakutan yang tak mampu ia sembunyikan.

Selama menunggu dokter datang, Max tak bisa duduk tenang.

Ia berjalan bolak-balik di sisi ranjang, sesekali merapikan rambut halus Nami yang menempel di dahi basahnya karena keringat dingin.

Jemari Max sempat mengusap pipi pucat itu, memandangi wajah Nami dengan tatapan kalut yang sarat akan kekhawatiran.

Kenapa aku sekhawatir ini? batin Max diikuti helaan napas pelan.

Ia tersentak, mengepalkan tangannya sendiri dan buru-buru menarik jemarinya dari wajah Nami.

Pria itu menggeleng kecil, berusaha keras menepis perasaan asing yang menggelitik dadanya.

Tidak. Ini bukan karena aku peduli padanya secara pribadi.

Dia adalah bagian dari perjanjian. Jika terjadi apa-apa padanya, investasi dan kontrak ini bisa kacau. Ya, ini semata-mata demi kontrak. Tidak lebih.

Namun, sangkalan dingin itu seolah runtuh setiap kali ia mendengar rintihan halus dari bibir Nami yang terpejam.

Saat dokter Edward akhirnya tiba dan memeriksa Nami, Max berdiri tak jauh di ujung ranjang dengan kedua tangan terselip kaku di saku celana.

Meski mencoba bersikap acuh, matanya tak pernah lepas memantau setiap gerakan sang dokter.

"Bagaimana keadaannya? Apa yang terjadi padanya?" potong Max cepat bahkan sebelum dokter selesai mengemas alat medisnya.

Ada nada desakan yang sangat jelas di suaranya.

Satu jam berlalu dengan ketegangan yang merayap. Dokter Edward baru saja keluar setelah memasangkan infus vitamin dan memberikan pereda nyeri.

Diagnosisnya jelas, akumulasi stres berat yang memicu kram datang bulan ekstrem.

Kini, hanya ada Max di dalam kamar yang sunyi. Pria itu berdiri di tepi ranjang, menatap wajah pucat Nami yang masih menyisakan jejak air mata.

Perlahan, tangan Max bergerak, menyentuh perut datar Nami yang tertutup selimut.

Ada kekecewaan mendalam yang menyelusup di dadanya, mencabik egonya sebagai seorang pria.

Bulan ini, dia benar-benar menaruh harapan besar. Dia sangat menginginkan anak itu. Sangat.

Namun, kenyataan justru menghantamnya. Saat Max begitu mendambakan kehadiran seorang anak, Nami justru menangis lega dan bahagia karena rahimnya kosong—seolah kegagalan ini adalah sebuah keajaiban baginya.

Dan yang lebih gila lagi... sebelum pingsan, wanita itu dengan histeris mengira dirinya adalah seorang pembunuh.

B 1 TNJ. Max mengepalkan tangannya kuat-kuat di dalam saku celana. Pikiran pria itu berkecamuk hebat.

Nami melenguh pelan, kelopak matanya bergerak sebelum akhirnya terbuka. Pandangannya yang awalnya kabur perlahan mulai fokus.

Namun, begitu menangkap sosok Max yang duduk di kegelapan kursi sebelah ranjang sambil memperhatikannya dengan tatapan tajam, Nami langsung tersentak kaget.

Nami mencoba menjauh, menggeser tubuhnya menjauh hingga jarum infus di punggung tangannya hampir tertarik paksa.

"Mau apa lagi kau?! Pergi! Jangan mendekat!" bentak Nami.

Suaranya serak, matanya kembali berkaca-kaca.

Efek hormon datang bulan membuat emosinya benar-benar tidak stabil dan jauh lebih sensitif dari biasanya.

"Diam dan berbaringlah, Namira," ucap Max.

Suaranya rendah, terdengar dingin namun ada penekanan kuat di setiap kata.

"Kau bisa merusak infusanmu."

"Biarkan saja! Lebih baik aku mati daripada harus berdua di kamar ini dengan pria sepertimu!" tangis Nami pecah lagi, dia memegangi perutnya yang masih terasa ngilu.

"Kau... kau sengaja mendekatiku lewat kontrak sialan ini untuk menutupi kesalahanmu lima tahun lalu, kan?! Kau menjebakku!"

Mendengar tuduhan yang kian melantur, Max tidak bisa lagi menahan diri. Ego dan harga dirinya sebagai pria yang baru saja dihantam kekecewaan kini tersulut api.

Max bangkit berdiri, melangkah mendekat hingga bayangan tubuh tegapnya mengurung Nami di atas ranjang.

"Untuk apa kau mengarang dongeng sekonyol itu hanya untuk menghindar dariku, Namira?" desis Max, menatap Nami dengan kilat mata yang menusuk tajam.

"Dongeng?!" Nami mendongak, menantang tatapan Max meski air matanya terus mengalir.

"Aku tidak bodoh, Max! Aku melihat berkas kecelakaan itu di ruang kerjamu! Mobil mewah hitam berpelat B 1 TNJ di Jalan Metro Pondok Indah! Itu mobilmu! Kau yang sudah menabrak mati ayah dan ibuku!"

Max tertawa sinis, sebuah tawa getir yang menyembunyikan luka di hatinya karena penolakan mentah-mentah dari sang istri.

"Kau benar, mobil itu memang milik keluargaku," Max mencondongkan tubuhnya, mencengkeram sisi ranjang, memaksa Nami menatapnya dari jarak dekat.

"Tapi kalau kau punya otak yang berfungsi dengan baik, Namira... cari tahu dulu siapa yang memegang kemudi malam itu sebelum kau berteriak histeris menuduhku sebagai pembunuh!"

Nami seketika tertegun. Napasnya yang memburu mendadak tertahan di tenggorokan. Jantungnya bertalu hebat mendengar kalimat Max yang terdengar begitu penuh penekanan dan keyakinan.

Siapa yang memegang kemudi malam itu? Kalau bukan Max... lalu siapa?

Melihat Nami yang mendadak bungkam, Max menarik tubuhnya tegak kembali.

Pria itu merapikan kemejanya yang kusut dengan gestur dingin yang angkuh, kembali memasang topeng tak tersentuhnya.

"Istirahatlah," ucap Max, suaranya merendah, terdengar datar namun sarat akan ancaman.

"Besok, setelah kau bisa menggunakan otakmu untuk berpikir jernih, kita akan bicara soal siapa yang sebenarnya sudah mencabut nyawa orang tuamu."

Nami merinding. Tatapan Max malam ini terasa begitu asing dan mencekam.

"Dan satu hal lagi," Max menatap Nami untuk terakhir kalinya malam itu dengan kilat kekecewaan yang disembunyikan rapat-rapat.

"Bulan ini kau gagal memberikan apa yang kuinginkan. Pulihkan tubuhmu secepat mungkin. Karena setelah datang bulanmu selesai, aku tidak akan melepaskanmu sampai kau membayar lunas kontrak kita. Aku tidak menerima kegagalan untuk kedua kalinya, Namira."

Max berbalik, melangkah lebar meninggalkan kamar dan menutup pintu dengan dentuman keras.

1
Antisah Antisah
seru bgtt
Antisah Antisah
lama update yh KA jangan lama² update yh seru cerita yh
Aksara Naura: tungguin yah kakk
total 1 replies
Linzyasila Linzyasila
ceritanya bagus kenapa gak up tiap hari?
Aksara Naura: karena sepi kak wkwk
total 1 replies
Aksara Naura
Akhirnya up lagi! sampai jumpa di next bab yahh💪
Linzyasila Linzyasila
lanjut dong thor
Aksara Naura: tungguin yahh
total 1 replies
Linzyasila Linzyasila
aku selalu menunggumu up lak😍
Aksara Naura: makasih yaaa kak🥺🫶🏻 ak jdi semangat wk
total 1 replies
Aksara Naura
Gimana bab ini???🤭
Risma Arsita
Max udah mulai suka sama dokter Nami🤭
Risma Arsita
Dokter Nami panik🤣
Risma Arsita
Nyimak, sepertinya cerita ini seru
Aksara Naura: makasihh! dan selamat kamu komentar pertama 🤭😭 makasih yaa, tunggu terus kelanjutannya!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!