NovelToon NovelToon
Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Naura

Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.

Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:

"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."

Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?

Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21 - Setelah Semalam

Malam itu, dinginnya pendingin ruangan sama sekali tidak mampu meredam ketegangan yang menguasai ranjang utama kediaman Tanuwijaya.

Nami hanya bisa pasrah, membiarkan dirinya menerima seluruh sentuhan Max tanpa perlawanan lagi.

Menariknya, kehangatan yang menjalar dari kulit Max malam ini sama sekali tidak terasa kaku layaknya barisan pasal di atas kertas kontrak mereka.

Setiap pergerakan pria itu di antara sela-sela napasnya yang memburu, justru terasa begitu intens dan penuh kehati-hatian yang protektif.

Seolah-olah, Max sedang memperlakukan sesuatu yang teramat berharga—sebuah rasa hormat tersembunyi yang lahir setelah ia melihat bagaimana Nami mempertaruhkan segalanya demi menyelamatkan sang ibu.

​Nami yang awalnya mengira malam itu akan terasa seperti transaksi mekanis yang hambar, justru dibuat tak berdaya menghadapi dominasi Max yang posesif namun penuh kehati-hatian.

Batasan-batasan kontrak yang mereka agungkan mendadak lebur, digantikan oleh jalinan intim yang mengikat keduanya dalam keheningan malam yang panjang.

Mereka benar-benar telah melintasi garis batas itu.

***

Keesokan paginya, sinar matahari terik Jakarta menyelinap masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka, membentuk garis terang di atas lantai vinyl kamar.

​Nami perlahan membuka matanya. Rasa letih yang asing langsung menjalar di sekujur tubuhnya, berpadu dengan sensasi hangat dari selimut tebal yang membungkusnya. Ia hendak berbalik, namun tubuhnya tertahan.

​Sebuah lengan kekar melingkar posesif di pinggangnya, menarik tubuh Nami mendekat tanpa celah. Nami menahan napas, menatap wajah pria yang tidur di sebelahnya.

Tanpa kacamata, tanpa tatapan tajam yang mengintimidasi, dan dengan rambut hitam yang sedikit berantakan di atas bantal.

Maxwell Ezra Tanuwijaya terlihat jauh lebih... manusiawi.

​Namun, begitu pandangan Nami turun dan menyadari kemejanya semalam sudah tergeletak asal di lantai, kesadaran tentang apa yang mereka lakukan semalam mendadak menghantam otaknya.

​Potongan-potongan ingatan semalam mendadak berputar tanpa permisi di kepalanya.

Sentuhan panas tangan Max, deru napas pria itu di ceruk lehernya, dan bagaimana ia sendiri akhirnya menyerah pasrah...

​Blush.

Wajah Nami seketika memanas hebat hingga ke area telinga. Jantungnya berdentum begitu keras sampai ia takut suaranya bisa membangunkan Max.

​Dengan panik yang memuncak, Nami buru-buru menyentak tangan Max dari pinggangnya. Ia bergerak mundur dengan kikuk, berusaha memungut kemejanya di lantai dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya menarik selimut tebal sebatas dada untuk membungkus tubuhnya rapat-rapat seperti kepompong.

​Gerakan berisik dan tiba-tiba itu rupanya mengusik tidur nyenyak sang CEO.

​Max melenguh pelan, sepasang mata elangnya perlahan terbuka. Butuh waktu dua detik bagi Max untuk mengumpulkan kesadarannya, sebelum tatapan tajam yang kini tampak lebih dalam itu kembali terkunci pada Nami yang kini duduk tegang di tepi ranjang, meremas ujung selimut dengan jemari gemetar, dan wajah yang sudah merona merah padam.

​Suasana kamar mendadak diselimuti kecanggungan tinggi. Nami bahkan tidak berani melirik ke arah dada bidang Max yang terekspos bebas di balik selimut yang melorot.

​"Kau..." Nami berdeham berkali-kali, mencoba mengontrol suaranya agar terdengar ketus dan profesional, meski ia tahu topeng gengsinya sudah hancur lebur.

"Kewajibanku untuk malam ini... maksudku semalam, sudah selesai. Jangan berpikir kau bisa sembarangan menyentuhku lagi di luar urusan kontrak."

​Max tidak langsung bangkit. Pria itu justru mengubah posisinya menjadi miring, bertumpu pada satu sikunya sembari menatap Nami dengan sudut bibir yang terangkat tipis—sebuah senyuman santai, intim, dan sedikit geli yang belum pernah Nami lihat sebelumnya.

Max tampak sangat menikmati kepanikan wanita itu.

​"Kewajiban?" suara bariton Max terdengar serak khas orang baru bangun tidur, terdengar sangat seksi sekaligus menyebalkan di telinga Nami.

​"Dokter Namira, kau pasti tahu kalau satu malam saja belum menjamin investasiku langsung membuahkan hasil. Mengingat ibuku sudah mulai merenovasi kamar sebelah hari ini, kurasa kita harus lebih sering memastikan proyek ini berhasil."

​Mata Nami membelalak syok mendengar kalimat frontal itu. Tanpa berpikir panjang, ia menyambar bantal di dekatnya dan melemparkannya sekuat tenaga ke wajah Max.

​Bugh!

​Max menangkap bantal itu dengan mudah menggunakan satu tangan, lalu bangkit berdiri dengan santai tanpa beban, melangkah menuju kamar mandi dengan tawa rendah yang tertahan menggema di ruangan.

​"Dasar iblis mesum!" umpat Nami setengah berbisik dengan frustrasi, buru-buru menyandarkan kepalanya di atas lutut yang tertekuk, mencoba meredakan detak jantungnya yang masih berpacu gila-gilaan.

***

​Satu jam kemudian, atmosfer canggung itu terpaksa harus disembunyikan rapat-rapat saat mereka berdua duduk di meja makan ruang tengah.

Nyonya Sofia sudah duduk di sana, menyambut mereka dengan binar mata yang luar biasa cerah.

Di luar jendela, suara ketukan palu dan bor dari para pekerja yang mulai mengosongkan kamar sebelah terdengar konstan.

​"Selamat pagi, anak-anak Ibu," sapa Nyonya Sofia riang, melirik Nami yang duduk agak kaku, lalu beralih pada Max yang tampak sangat segar dengan kemeja kerjanya.

​"Pagi, Bu," sahut Max tenang. Pria itu menatap Nami sejenak, lalu tanpa diduga, tangannya terulur mengambil semangkuk bubur ayam dan meletakkannya tepat di hadapan Nami.

"Makan yang banyak. Kau butuh banyak energi mulai hari ini."

​Nami nyaris tersedak ludahnya sendiri. Ia melirik Max dengan tatapan ingin membunuh, namun pria itu hanya menampilkan wajah datar tanpa dosanya.

​Melihat perhatian kecil dari putranya, senyum Nyonya Sofia semakin melebar penuh arti. Ia meraih tangan Nami, mengusapnya lembut.

"Ibu senang sekali melihat kalian semakin akrab. Kamar sebelah mungkin selesai dalam tiga hari. Ibu sudah tidak sabar melihat kamar itu terisi."

​Nami memaksakan sebuah senyuman manis, meski di dalam hati, dadanya bergemuruh hebat.

Rasa bersalah karena membohongi wanita tua yang baik ini kembali bergesek dengan debaran aneh yang semalam Max tanam di hatinya.

​Di bawah meja makan yang tertutup taplak panjang, jemari Max tiba-tiba bergerak. Pria itu menyusupkan telapak tangannya, menautkan jari-jarinya secara posesif dan menggenggam erat tangan Nami yang terasa sedingin es.

​Nami tersentak, refleks ingin menarik tangannya, namun Max justru mempererat genggamannya tanpa memedulikan penolakan wanita itu.

​Sembari jemarinya mengunci tangan Nami di bawah meja, di atas meja Max tetap memasang wajah lempeng tanpa dosa. Ia bahkan sempat menyesap kopinya dengan tenang, sebelum melirik Nami dari balik cangkirnya dengan tatapan tajam yang sarat akan dominasi.

​Genggaman hangat itu tidak lagi terasa seperti sandiwara biasa di depan sang ibu. Di telinga Nami, suara bor dari renovasi kamar bayi di sebelah mendadak terdengar seperti hitung mundur yang mengerikan.

​Max tidak sedang berpura-pura. Genggaman erat pria itu adalah sebuah peringatan mutlak bahwa apa yang terjadi semalam bukanlah yang terakhir, dan babak baru pernikahan kontrak mereka yang sesungguhnya... baru saja dimulai

1
Linzyasila Linzyasila
lanjut dong thor
Aksara Naura: tungguin yahh
total 1 replies
Linzyasila Linzyasila
aku selalu menunggumu up lak😍
Aksara Naura: makasih yaaa kak🥺🫶🏻 ak jdi semangat wk
total 1 replies
Aksara Naura
Gimana bab ini???🤭
Risma Arsita
Max udah mulai suka sama dokter Nami🤭
Risma Arsita
Dokter Nami panik🤣
Risma Arsita
Nyimak, sepertinya cerita ini seru
Aksara Naura: makasihh! dan selamat kamu komentar pertama 🤭😭 makasih yaa, tunggu terus kelanjutannya!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!