Judul sebelumnya: Obsesi Sahabat Suami.
Regan Han Sebastian dikirim Dady-nya dari Singapura ke Indonesia untuk belajar bisnis di bawah bimbingan Alvero Halim Winata, sahabat sekaligus orang yang paling ia hormati.
Semua berjalan sesuai rencana... hingga Alvero mulai selalu melibatkan kehadiran Regan dalam rumah tangganya.
Kehangatan sebuah keluarga. Tawa seorang anak kecil. Dan perhatian sederhana dari seorang wanita bernama Veyra Alettha, istri dari Alvero.
Regan berusaha menjaga jarak, saat ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan kepada siapapun. Ia bahkan memilih kembali ke Singapura demi melupakan semuanya.
Namun saat kembali ke Indonesia, yang pulang bukan lagi Regan yang sama.
Ia membawa perasaan yang tak pernah ia inginkan.
Perasaan yang perlahan berubah menjadi pengkhianatan terhadap satu-satunya sahabat yang paling ia hormati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Jarak Yang Nyata
Udara Jakarta menjelang siang itu sudah terasa panas. Bau aspal dan bau kendaraan bercampur.
Di lobby, Regan melangkah ke dalam lift. Tapi ia tidak berhenti di ruangannya. Melainkan pergi ke pantry kantor.
Begitu ia masuk, beberapa karyawan antre di depan mesin kopi. Ada juga di depan microwave. Suara mesinnya saling bersahutan.
"Mau bikin kopi?" Tanya salah satu karyawan kepada Regan.
Regan langsung menggeleng. "Bukan, mau ambil uang." Jawabnya.
Karyawan laki-laki itu langsung mendengus. Rasanya menyesal basa-basi kepada Regan.
"Kamu harusnya tahu aku antre di belakangmu. Dan di depanmu ada mesin kopi. Bukan mesin mie." Lanjut Regan.
Karyawan itu akhirnya tertawa hambar. "Saya tidak tahu. Maklum, saya kerja suka sambil tidur."
Mata Regan sedikit melebar. Jawabannya mungkin ngawur, tapi Regan justru merasa dikatain.
Regan hanya terkekeh. Ia melipat kedua tangannya depan dada.
Sambil antre, mata Regan sesekali mengintari seisi pantry. Mencari sosok yang akhir-akhir ini ia anggap sebagai atasannya.
"Kenapa dari pagi gak kelihatan?" Gumamnya.
Setelah selesai membuat kopi. Regan segera pergi dari sana. Kali ini ia menuju ke ruangannya.
Begitu ia masuk, Regan menaruh gelas berisi kopi panas di meja kaca. Lalu ia merebahkan tubuhnya di sofa panjang. Satu tangan di dahinya.
"Kenapa hari ini aku gak lihat Alvero? Apa dia gak masuk?" Tanya Regan pada diri-sendiri. Dia mengambil ponsel di atas meja. Refleks membuka chat Alvero. Tapi ia tidak mengetik atau mengirimkan apa-apa.
Chat terakhir bahkan hampir satu minggu yang lalu. 'Pelajari berkasnya.'
Regan menatap layar beberapa detik, lalu kembali mengunci layar ponsel dan menyimpannya di atas meja.
Pandangannya kini lurus menatap langit-langit. Suasana di dalam sana cukup hening. Hanya suara pendingin ruangan dan napas Regan yang stabil.
Tapi tak lama, keheningan itu pecah oleh suara ketukan pintu. Regan sontak langsung duduk, lalu ia pindah ke kursi kerjanya.
Regan duduk tegak, tangannya membetulkan dasi. Ia berdehem kecil.
"Masuk!" Katanya sedikit berteriak.
Pintu terbuka pelan. Ahsan masuk sambil memeluk laptopnya.
"Regan, saya mau pinjam berkas yang Pak Al berikan." Katanya sambil berdiri di dekat meja kerja Regan.
"Kenapa nggak minta langsung ke Pak Al?" Tanya Regan dengan ekspresi dibuat datar.
Ahsan mendesah pelan. "Hari ini Pak Al nggak masuk. Saya mau ada meeting sebentar lagi."
Regan membeku satu detik. "Oh," jawabnya sambil mengambil map merah. Lalu di berikan ke Ahsan.
"Terima kasih." Ahsan mengambilnya. Ia segera berbalik dan kembali keluar. Seolah tidak ada apa-apa.
Padahal, kedatangannya barusan seperti membawa kabar untuk Regan.
"Nggak masuk? Kemana?" Gumam Regan pelan. Tatapannya kosong ke arah pintu yang sudah tertutup lagi.
Perasaannya mendadak aneh. Seperti mulai sadar, kalau jarak diantara mereka sudah benar-benar nyata.
Biasanya, masuk atau tidaknya Alvero. Kemana perginya dia. Regan pasti jadi orang pertama yang tahu. Entah itu Alvero langsung mengatakannya, atau melalui chat.
Tapi sekarang, tidak ada notifikasi itu semua. Regan mengetahui Alvero tidak masuk bahkan dari orang lain.
Yang terbesit di pikirannya, Regan bukan karena takut jarak ini benar-benar nyata. Tapi ia takut, Alvero akan menyuruhnya jaga jarak juga dengan Veyra ataupun Renzio.
Regan membuang napas. Ia kembali pindah ke sofa, duduk bersandar sambil terpejam.
...****************...
Suasana di lantai bawah rumah Veyra jauh lebih ramai daripada malam. Suara orang-orang berteriak memesan barang. Suara knalpot meraung, dan klakson yang saling bersahutan.
"Pak Farhan, belanjaan saya sudah dihitung?" Tanya salah satu pelanggan Pak Farhan yang sudah lama.
"Sebentar ya, Bu. Beresin dulu punya yang lain," jawab Pak Farhan sambil tersenyum ramah.
Elea ikut sibuk membantu mengambil barang yang di sebut pelanggan. Walaupun ia sering lupa dan malah asal ambil barang. Tapi semua itu selalu tidak menjadi masalah besar. Karena Farhan, sudah terbiasa pelayani sambil terus mengingatkan Elea.
"Aduhhh, anak siapa itu. Lucu banget." Salah satu pelanggan mencolek pipi Renzio yang sudah putih oleh tepung.
"Cucu saya itu!" Teriak Elea dari dalam. Ia sambil tertawa.
"Anak Veyra, ya?" Tanyanya lagi.
"Bukan, anak temennya kali!" Jawab Elea lagi.
Veyra dan pembeli itu hanya saling menatap, seolah sama-sama paham.
"Udah berapa tahun, Vey?" Kali ini suaranya jauh lebih pelan.
"Tiga tahun lebih, Bu." Jawab Veyra sambil mengelus kepala Renzio.
Pelanggan itu hanya mengangguk. Pandangannya berubah iba. Lalu, beralih ke perut Veyra. "Wahh, udah mau punya adek ternyata."
Veyra refleks mengelus perutnya. Ia tersenyum, "iya, Bu."
"Bu, belanjaannya sudah siap!" Teriak salah satu karyawan Pak Farhan.
"Saya duluan ya, Vey. Pangling banget lihat kamu," pamitnya sambil mengelus lengan Veyra. Setelah itu, ia melangkah keluar.
Orang-orang berbelanja terus berdatangan. Alvero membantu menaikkan barang belanjaan ke mobil pelanggan yang belanjanya cukup banyak.
Sekarang, Renzio duduk di atas kursi plastik. Bersebelahan dengan satu karyawan Pak Farhan lagi, ia sedang menimbang tepung terigu.
"Pak Farhan, saya mau cokelat batangan lima, ya." Kata pelanggan yang baru saja datang. Ia berdiri di depan etalase.
"Bentar, ya!" Jawab Farhan. Jarinya bergerak cepat di atas kalkulator.
Tapi tak lama, Veyra datang sambil membawa pesanan pelanggan baru itu.
Farhan menoleh sebentar. Bibirnya tersenyum tanpa sadar. "Masih ingat tempatnya." Gumamnya.
"Masih dong." Jawab Veyra sambil menghitung dan memasukkan cokelat ke dalam plastik.
Setelah selesai, Veyra langsung memberikannya."ini ya, Bu." Katanya sambil tersenyum.
"Veyra, ya ampun. Ibu kira bukan kamu loh," kata pelanggan itu sambil mengambil plastik dari tangan Veyra.
"Maklum, Bu. Banyak orang gini suka gak ngeh," jawab Veyra, ia tertawa kecil.
Menjelang siang ini, mereka benar-benar disibukkan oleh para pembeli. Setelah sekian lama, Veyra kembali bisa membabtu melayani lagi.
Dan Alvero, yang biasanya duduk berhadapan dengan taptop di ruangan ber-AC. Hari itu, dia mengangkat barang-barang di bawah panasnya sinar matahari. Suara riuh orang-orang dan aroma bensin, debu jalanan dan kendaraan berlalu lalang.
Sementara Mbak Rini, dia beralih profesi menjadi asisten rumah tangga dulu. Bukan lagi pengasuh Renzio untuk hari itu.
hati-hati lidah tak bertulang vey
kebanyakan suami kan ga suka istrinya dekat dengan pria lain walaupun sahabatnya sendiri