NovelToon NovelToon
Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Dokter / Tamat
Popularitas:294.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.

Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30

Surya tidak berhenti pada klarifikasi ayah.

Keesokan paginya, Yayasan Anggraini mengirim undangan konferensi terbatas kepada media kesehatan, media bisnis, perwakilan rumah sakit, dan beberapa pengamat hukum. Lokasinya bukan hotel mewah, melainkan aula lama Yayasan Anggraini yang baru direnovasi.

Di depan aula, tidak ada karpet merah.

Hanya meja registrasi, papan nama yayasan, dan deretan kursi yang disusun rapi.

Dimas datang tanpa undangan khusus. Ia datang sebagai perwakilan Mahendra Health Group yang masih terikat transisi pasien. Rendi ikut di belakangnya, tampak jauh lebih hati-hati daripada biasanya.

Bu Ratna ingin ikut.

Dimas menolak.

"Kamu malu pada Mama?" tanya Bu Ratna pagi itu.

"Aku mencegah Mama mempermalukan diri sendiri lagi."

Bu Ratna menangis. Dulu tangisan itu cukup untuk membuat Dimas mengalah. Hari itu, ia tetap pergi.

Clara juga datang, memakai masker dan kacamata hitam. Ia duduk di bagian belakang, membawa map foto Sari dari Cakradinata. Ia tidak yakin kapan harus menggunakannya. Pria Cakradinata hanya berkata, tunggu momen ketika Surya bicara tentang keluarga.

Raka datang belakangan.

Ia tidak duduk di depan. Lagi-lagi memilih sisi dekat pintu. Ratih Wiratama tidak terlihat, tetapi Hanif menerima beberapa pesan dari keluarga dan menghapus ekspresinya setiap kali membaca.

Pukul sepuluh tepat, Surya naik ke panggung bersama Naira.

Kamera langsung menyala.

Naira memakai setelan biru gelap. Surya memakai jas hitam seperti yang ia minta kemarin. Di antara mereka, ada kursi kosong dengan foto Dr. Sari Anggraini di atas meja kecil.

Itu bukan dekorasi.

Itu pernyataan.

Surya membuka konferensi.

"Kemarin saya bicara sebagai ayah. Hari ini saya bicara sebagai pendiri kembali Yayasan Anggraini dan kepala keluarga Atmadja."

Ruangan diam.

"Selama bertahun-tahun, nama putri saya tidak kami tampilkan karena alasan keamanan keluarga. Ada konflik internal, ada ancaman terhadap penelitian Sari, dan ada keputusan pribadi Naira yang kami hormati."

Dimas menunduk.

Keputusan pribadi.

Itu cara halus menyebut lima tahun pernikahan yang membuat Naira menyembunyikan hidupnya.

Surya melanjutkan, "Mulai hari ini, tidak ada lagi ruang abu-abu. Dr. Naira Salsabila Atmadja adalah putri kandung saya dan Dr. Sari Anggraini. Ia juga pewaris utama keluarga Atmadja untuk unit yayasan kesehatan, portofolio riset, dan hak paten yang berkaitan dengan karya Anggraini."

Suara kamera meledak.

Beberapa wartawan langsung mengangkat tangan, tetapi Surya belum selesai.

"Ini bukan hadiah setelah perceraian. Ini bukan kompensasi. Ini haknya sejak lahir."

Naira berdiri diam di samping ayahnya.

Ia tahu kalimat itu ditujukan kepada publik, tetapi sebagian menembus dirinya juga. Haknya sejak lahir. Bukan sesuatu yang ia rampas dari Dimas. Bukan sesuatu yang ia dapat dari Raka. Bukan sesuatu yang perlu ia kecilkan agar laki-laki di sekitarnya merasa besar.

Wartawan pertama berdiri. "Pak Surya, apakah ini berarti Dr. Naira akan mengambil alih seluruh keputusan riset Yayasan Anggraini?"

Surya menoleh kepada Naira.

Naira mengambil mikrofon.

"Saya akan memimpin unit riset dan audit arsip Dr. Sari. Untuk keputusan yayasan yang lebih luas, ada dewan dan mekanisme hukum. Pewaris bukan berarti bekerja tanpa akuntabilitas."

Perwakilan media bisnis bertanya, "Bagaimana dengan Mahendra Health Group yang selama ini memakai paten terkait?"

"Transisi pasien berjalan sesuai perjanjian," jawab Naira. "Untuk kerja sama komersial baru, belum ada."

Dimas merasakan semua mata menoleh sekilas kepadanya.

Ia tidak bersembunyi.

Ia hanya menunduk sedikit, menerima.

Pertanyaan berikutnya datang dari wartawan gosip yang berhasil masuk dengan kartu media bisnis. "Dr. Naira, apakah status sebagai pewaris Atmadja akan memengaruhi proses perceraian Anda? Ada kabar keluarga Mahendra akan meminta bagian."

Maya yang duduk di depan langsung menatap tajam.

Naira menjawab, "Harta bawaan, hak paten, dan aset yayasan memiliki dasar hukum masing-masing. Proses perceraian saya tidak mengubah fakta kepemilikan."

"Apakah keluarga Mahendra tahu selama ini?"

Naira berhenti sebentar.

Dimas mengangkat wajah.

Bu Ratna tidak ada di ruangan, tetapi bayangannya terasa.

"Sebagian hal pernah saya sampaikan," kata Naira. "Sebagian tidak pernah mereka tanyakan. Saya tidak akan membahas rumah tangga lebih jauh."

Jawaban itu tidak menyerang, tetapi cukup untuk membuat orang mengerti.

Dimas merasa lebih sakit karena Naira tidak mempermalukannya penuh. Ia justru meninggalkan ruang bagi orang untuk menyimpulkan sendiri.

Di belakang ruangan, Clara menggenggam mapnya.

Momen keluarga.

Ini momen yang dimaksud Cakradinata.

Ia berdiri.

"Saya ingin bertanya."

Semua menoleh.

Dimas langsung tegang. "Clara..."

Naira menatapnya.

Surya juga.

Clara melepas masker, memperlihatkan wajah pucat tapi dibuat berani. "Pak Surya, Dr. Naira, kalian berbicara seolah Dr. Sari korban. Tapi bagaimana dengan foto ini?"

Ia mengangkat foto lama Sari di Puskesmas Aruna Timur.

Beberapa kamera langsung mengarah.

Clara melanjutkan, "Di foto ini ada stempel investigasi pelanggaran etik. Bukankah sebelum menuduh sponsor, publik berhak tahu apakah Dr. Sari sendiri yang memulai uji ilegal itu?"

Ruangan pecah.

Maya berdiri. "Pertanyaan itu memuat tuduhan serius."

Clara menatap Naira. "Saya hanya meminta transparansi. Kalau Dr. Naira menuntut semua data dibuka, kenapa takut pada foto ini?"

Dimas berdiri. "Clara, duduk."

Clara menoleh. "Mas, kamu juga berhak tahu. Selama ini kamu disudutkan karena dianggap meremehkan keluarga hebat. Bagaimana kalau keluarga hebat itu menyembunyikan dosa?"

Kalimat itu membuat beberapa wartawan mulai bicara bersamaan.

Raka bergerak dari sisi pintu, tetapi Naira mengangkat tangan.

Ia mengambil mikrofon lagi.

"Boleh saya lihat fotonya?"

Clara ragu.

Naira turun dari panggung dan berjalan ke arahnya. Semua kamera mengikuti. Clara akhirnya menyerahkan foto itu, mungkin karena terlalu banyak mata untuk menolak.

Naira melihat foto tersebut.

Sari berdiri di depan puskesmas. Di belakangnya ada anak-anak. Stempel investigasi memang ada, tetapi posisinya terlalu rapi. Terlalu baru.

Naira menatap Clara.

"Kamu dapat dari siapa?"

"Sumber yang peduli kebenaran."

"Nama."

"Saya punya hak melindungi sumber."

Naira mengangguk. "Baik."

Ia mengangkat foto itu ke arah media.

"Foto ini benar. Ibu saya memang pernah di Aruna Timur."

Ruangan hening.

Clara hampir tersenyum.

Naira melanjutkan, "Stempel ini palsu."

Clara membeku.

"Bagaimana Anda tahu?" tanya wartawan.

Naira menunjuk sudut bawah foto. "Karena foto ini diambil tahun ketika Puskesmas Aruna Timur masih memakai logo lama dinas kesehatan. Stempel investigasi yang ditempel di sini memakai format baru yang baru digunakan dua tahun setelah ibu saya hilang."

Beberapa wartawan langsung memperbesar foto.

Prof. Hadi yang duduk di baris depan berdiri. "Saya bisa mengonfirmasi perubahan format stempel itu. Dokumen lama fakultas juga memilikinya."

Maya mengambil foto dari tangan Naira dan menyerahkannya kepada tim legal. "Ini akan masuk sebagai bukti penyebaran dokumen palsu."

Clara mundur setengah langkah.

Dimas menatapnya, wajahnya benar-benar kehilangan sisa pembelaan.

"Clara," katanya pelan, "siapa yang memberimu foto itu?"

Clara tidak menjawab.

Surya mengambil mikrofon.

"Terima kasih, Dr. Clara Larasati."

Semua menoleh kepadanya.

Surya tersenyum tipis. "Anda baru saja membantu kami membuktikan bahwa pihak yang sama masih aktif memalsukan bukti terhadap Sari."

Clara seperti kehabisan darah.

Naira kembali ke panggung.

Surya berdiri di sampingnya.

"Mulai hari ini," kata Surya, "siapa pun yang memfitnah putri saya atau istri saya akan kami hadapi dengan hukum. Bukan dengan teriakan. Bukan dengan rumor. Dengan bukti."

Naira menatap Dimas di baris tengah.

Ia tidak melihat kemenangan di wajahnya.

Hanya penyesalan yang semakin berat.

Konferensi berakhir dengan kekacauan terkendali. Media mengejar Clara, tetapi Maya dan petugas hukum lebih dulu menahannya untuk dimintai keterangan. Clara tidak ditangkap, tetapi ia tidak bisa pergi begitu saja.

Dimas mendekati Naira setelah ruangan mulai kosong.

"Aku minta maaf."

"Untuk apa kali ini?"

"Karena dulu pernah menyebut ayahmu... dan ibumu..."

Ia tidak sanggup menyelesaikan.

Naira menatapnya. "Minta maaf tidak mengubah fakta. Tapi setidaknya jangan ulangi."

Dimas mengangguk.

Raka berdiri beberapa meter dari mereka, diam.

Surya melihat Raka, lalu Naira, lalu Dimas. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu yang tajam, tetapi Naira lebih dulu berkata, "Papa."

Surya mengangkat tangan. "Papa diam."

Bagas di belakangnya hampir tersenyum.

Hari itu, publik tahu dua hal.

Naira bukan perempuan yang dipelihara siapa pun.

Dan keluarga yang dulu mengira ia datang tanpa apa-apa, ternyata pernah hidup di atas milik seorang pewaris.

1
Priskha
ini knp sih kok diulang2 bikin bingung bacanya
Priskha
aq tadinya ngantuk berat tp setelah baca novel ini ngantukku jd ilang dan pingin baca trs krn penasaran dan senang dg tokoh wanitanya yg tegas
Priskha
baru baca sdh bikin esmosi.... lanjut thor....
SediaKala
Quotes lagi weh.. ini keren sih kata2nya
SediaKala
Mendadak jadi detektif klo baca cerita ini.. beh mantap sekali
Otak berputar terus ini
Good job author🤏
SediaKala
Quotes hari ini
Mr T
👍
Anonim
Nani heri Upitarini
semakin membaca,semakin mumet....
Nani heri Upitarini
kaku sekali bahasax....
Nani heri Upitarini
terulang LG episode sebelumx
Reni Setia
makasih untuk novelnya ya
Night Watcher
tau ah.. bingung di bab ini..
ada yg diulang2, ada dimas yg ikut nimbrung.
naira yg cucunya dilarang masuk, tp stlh bisa masuk, tau2 dimas jg ada disitu. aneh & membungungkan.
Tangsah Jagad
diulang lagi ulang lagi
Tangsah Jagad
karakter tangguh keren Dokter naira👍👍👍👍
Tangsah Jagad
mantapppp👍👍👍
Tangsah Jagad
tbah seruuuuu👍👍👍👍👍
Tangsah Jagad
smart thor👍👍👍👍
Tangsah Jagad
Clara km gak punya malu banget
Tangsah Jagad
kereeeen👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!