Sebuah dunia masa depan, dimana patung-patung para dewa jatuh dari langit, dan hanya dengan mengucapkan nama dewa/kisah dewa seseorang akan memperoleh warisan para dewa, dan juga tentang kengerian semesta, dimana para jenius dari seluruh alam semesta akan memperebutkan Takhta Kaisar Agung!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rlll0411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Beberapa saat kemudian, Yun Xian'er menceritakan tentang kepergian sang Guru, dan juga alasan yang disampaikan oleh Guru untuk tidak memberitahu mereka agar mereka tidak terlalu berat dengan kepergiannya.
"Uaaa, hisk, hisk...."
"Kalian jahat, kenapa tidak memberitahuku, aku bisa datang lebih awal tadi~ hisk, hisk...."
Chu Qingcheng menangis dengan keras, dan kemudian ia berlari menuju kamarnya, Qian Yu hanya melihat kepergiannya, tanpa berkata sepatah katapun.
Saat ini di ruang tamu, hanya tersisa Qian Yu dan Yun Xian'er yang masih terlihat sedih, terasa berat ditinggalkan oleh sang Guru, yang sudah dianggap sebagai ayah sendiri bagi mereka.
"Kak, apa aku harus menenangkan senior Qingcheng, agar dia tidak terlalu sedih?"
"Pergilah, mungkin dengan kamu di dekatnya Qingcheng bisa lebih tenang."
Yun Xian'er tersenyum lembut dan menyetujuinya, sambil menghapus air matanya sendiri.
Meskipun saat ini Yun Xian'er juga sangat terpukul, tapi sebagai yang tertua ia harus berpura-pura kuat, agar para juniornya tidak terlalu terpukul dengan kepergian sosok Guru yang mereka anggap sebagai ayah sendiri.
Mendapatkan persetujuannya, Qian Yu kemudian berdiri dan berjalan menuju kamar Chu Qingcheng.
Sesampainya di depan pintu kamarnya, Qian Yu ragu sejenak, tapi akhirnya ia mendorong pintu kayu tersebut, dan masuk kedalam kamar Chu Qingcheng.
Aroma wangi seperti campuran bunga mawar dan melati menusuk hidung Qian Yu, hampir sama seperti bau tubuh Chu Qingcheng, tapi menurut Qian Yu lebih wangi Chu Qingcheng sendiri.
Qian Yu melihat Chu Qingcheng yang memeluk kedua lututnya dan membenamkan kepalanya, sambil terus terisak-isak.
"Baiklah kakak Chu, jangan terus menangis, di alam sana Guru pasti akan ikut bersedih jika melihat Kakak Chu jika seperti ini."
Qian Yu kemudian naik ke atas ranjang tempat tidur Chu Qingcheng, dan mengelus kepalanya sambil mencoba menenangkannya.
Merasakan Qian Yu yang mengelus kepalanya dengan lembut, Chu Qingcheng mendongak dan melihat wajah tampan Qian Yu yang tersenyum tipis.
Tiba-tiba Chu Qingcheng langsung memeluk Qian Yu, dan terus menangis dalam pelukannya.
Qian Yu merasa tidak berdaya, sambil membalas pelukan Chu Qingcheng ia berbicara dengan lembut,:"Baiklah, ayo tidur saja, aku akan menemanimu."
"Benar-benar?" Chu Qingcheng langsung menatap wajah Qian Yu, di wajah imutnya, kiri terukir senyuman yang indah.
"Um.." Qian Yu hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali, sambil tersenyum.
"Rentangkan tangan kananmu."
Qian Yu hanya bisa menurutinya, dan kemudian Chu Qingcheng tidur di atas lengan Qian Yu sambil terus memeluknya dengan sikap manja.
Beberapa jam kemudian, Qian Yu merasa lengan kanannya kesemutan, dengan perlahan ia mengangkat tangannya, dan memindahkan kepala Chu Qingcheng dengan lembut ke bantal.
"Baiklah, tidur yang nyenyak kak."
Qian Yu berbisik pelan, dangan hati-hati dirinya turun dari ranjang, dan menyelimuti tubuh Chu Qingcheng dengan perlahan.
Setelah ragu-ragu sejenak, akhirnya Qian Yu tidak tahan dan kemudian ia mencium kening Chu Qingcheng dengan lembut.
Cup...
'Qian Yu! Kenapa kamu melakukan hal tersebut! Sialan' Qian Yu memarahi dirinya sendiri, dengan perlahan ia keluar dari kamar Chu Qingcheng, dan menutup kembali pintunya.
Di dalam kamar, saat ini wajah Chu Qingcheng memerah, saat ini dirinya belum terlelap, dan menyadari tindakan Qian Yu terhadapnya yang mencium diri-Nya.
"Qian Yu terasa sangat berbeda hari ini, tidak seperti sebelumnya, tapi aku suka..."
Chu Qingcheng bergumam, dengan malu dirinya mengambil bantal guling dan memeluknya erat-erat, ia sangat malu karna ini pertama kalinya ia pernah dicium seseorang, apalagi kali ini Qian Yu pelakunya.
Kejadian hari ini, ia akan terus mengingatnya, dan juga akan menyombongkan nya kepada para saudari.
Saat ini Qian Yu menuju ke ruang tamu, dirinya ingin menemui Yun Xian'er, dan membicarakan beberapa hal.
"Kak Xian'er,"
"Eh, Xiao Yu? Kamu mau kemana?"
Yun Xian'er bertanya dengan bingung saat melihat Qian Yu yang membawa tas di tangannya.
"Um, aku mau pulang, ingin menemui ayah."
"Kenapa tidak menginap disini saja semalam, banyak kamar yang kosong disini jika kamu mau, dan kakak akan menyiapkannya untukmu."
"Aku belum berbagi kabar gembira dengan ayah, jadi aku akan pulang terlebih dahulu, besok pagi aku akan kesini lagi."
Qian Yu memberitahukan alasannya, karna sudah beberapa hari ia tidak menemui ayahnya, meskipun baik Qian Yu yang saat ini atau pendahulunya membenci ayah tidak berguna itu.
Tapi sebagai pemilik baru Qian Yu penasaran seperti apa wajah asli Ayah yang tidak berguna itu, dalam ingatannya, bahkan ia tidak pernah menemui putra kandungnya sendiri selama berada di Sasana Bela Diri Tiān jiàn (Pedang Langit).
Pendahulu Qian Yu sering di ajak tidur bersama oleh para senior wanitanya, tapi selalu menolak dengan keras, bahkan pernah di ajak mandi bersama oleh para senior, tapi pendahulunya memberontak menolak.
Qian Yu hanya bisa berdecak lidah, betapa bodohnya pendahulunya, beruntung kini ia digantikan dirinya yang dari masa depan sehinga tidak membuang-buang sumber daya alam.
Mungkin sekarang para senior wanita tidak akan mengajaknya mandi bersama lagi, karna pernah ditolak dengan keras oleh pendahulunya, tapi Qian Yu yang saat ini akan mencari kesempatan yang bagus di masa depan.
"Baiklah kak, aku sudah memesan taksi barusan, aku pulang dulu."