NovelToon NovelToon
Istriku Memiliki Dua Wajah

Istriku Memiliki Dua Wajah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:814
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

BAB 30: ELENA TIDUR DI SAMPINGKU, TAPI ONLINE

"Kalimat itu dulu hanya sekadar lelucon atau keluhan pasangan zaman sekarang. Tapi bagiku, kalimat itu berubah menjadi definisi paling mengerikan dari kenyataan hidupku. Dulu aku mengira dia ada di sampingku, raga dan jiwanya utuh milikku. Namun ternyata, meski matanya terpejam dan napasnya teratur di bantal sebelah... pikirannya, hatinya, dan seluruh hidupnya sedang terhubung ke dunia lain. Dia ada di sini, tapi tidak benar-benar ada. Dia milikku, tapi selalu terhubung dengan orang lain."

Di tengah keheningan yang menyakitkan di ruangan vila itu, di tengah jurang pemisah yang makin lebar di antara mereka, ingatan Arka tiba-tiba terseret mundur ke ribuan malam yang telah berlalu. Malam-malam yang dulu ia anggap paling damai, saat hari yang panjang berakhir, saat lampu dipadamkan, dan ia bisa berbaring berdekatan dengan wanita yang dicintainya, merasa menjadi pria paling beruntung di dunia.

Namun kini, dengan segala kebenaran yang terbongkar, kenangan-kenangan itu berubah menjadi siksaan yang tajam. Satu kalimat yang pernah ia dengar atau baca entah di mana, tiba-tiba berputar kencang di kepalanya, menghantam dada dengan rasa sakit yang tak terlukiskan: "Elena tidur di sampingku, tapi online."

Dulu, Arka sering tersenyum sendiri melihat pemandangan itu. Di atas kasur besar mereka, di bawah selimut hangat, Elena sudah berbaring miring memunggunginya. Matanya terpejam, napasnya terdengar pelan dan teratur, seolah sudah terlelap pulas ke dalam mimpi. Tapi kalau Arka menengok sedikit ke samping, ke arah meja kecil di sisi tempat tidur... layar ponsel wanita itu masih menyamar samar. Lampu indikatornya berkedip-kedip pelan, tanda bahwa perangkat itu masih terhubung, masih hidup, masih berkomunikasi dengan dunia luar.

Arka sering berpikir, "Ah, dia lupa mematikannya. Atau ponselnya rusak, tidak mau mati sendiri. Kasihan, dia sudah sangat lelah sampai tidak sadar ponselnya masih menyala."

Ia akan bangkit pelan, mengambil benda pipih itu, mematikan layarnya, meletakkannya menghadap ke bawah agar cahayanya tidak mengganggu tidur istrinya. Lalu ia akan kembali berbaring, merangkul pinggang wanita itu dengan lembut, merasa damai karena kini tak ada lagi gangguan, kini hanya ada mereka berdua dalam kegelapan dan keheningan malam.

Tapi malam ini, di hadapan wajah Claire yang basah air mata dan tubuh Adrian yang hancur lebur, Arka akhirnya mengerti makna sesungguhnya dari pemandangan yang berulang itu.

Elena tidak lupa mematikan ponselnya.

Elena tidak terlalu lelah.

Elena... masih terhubung.

Wanita itu berbaring di sampingnya, bersandar di bahunya, membiarkan dirinya dipeluk dan dicium. Bibirnya terkatup rapat, seolah sudah berhenti bicara untuk hari itu. Tapi di balik kelopak mata yang terpejam itu, di balik ketenangan wajah itu... pikirannya sedang sibuk. Jari-jarinya yang tersembunyi di balik bantal atau di bawah selimut, mungkin baru saja mengirim pesan terakhir, mengirim kode, mengirim laporan, atau menerima perintah.

Dia ada di sini secara fisik.

Tapi jiwanya, waktunya, perhatiannya... sedang online. Sedang terhubung ke Bandung. Sedang terhubung ke Adrian. Sedang terhubung ke dunia rahasia, ke dunia kejahatan, ke dunia di mana Arka hanyalah karakter sampingan yang harus dijaga agar tidak mengganggu jalannya cerita utama.

"Kau ingat tidak, Le?" suara Arka terdengar parau, memecah keheningan yang panjang. Matanya menatap lurus ke wajah wanita itu, namun pandangannya seolah menembus masa lalu, melihat ribuan malam yang tertipu itu. "Berapa ratus malam kita lewati seperti itu? Kau tidur di sebelahku, napasmu menyentuh tengkukku, tanganku melingkar di pinggangmu... tapi kau sedang terhubung. Kau selalu terhubung. Bahkan saat tidur pun, kau tidak pernah benar-benar memutus hubungan itu."

Claire mengangkat wajahnya perlahan. Matanya melebar karena kaget, karena ketahuan satu lagi rahasia kecil yang ia kira tidak berarti, yang ia kira tidak akan pernah disadari oleh siapa pun, apalagi oleh suaminya yang polos. Air mata baru kembali menggenang, kali ini bukan karena rasa bersalah atas kejahatan besar, tapi karena rasa malu yang paling dalam.

"Mas... aku... aku tidak tahu Mas..."

"Kau pikir aku tidak tahu?" potong Arka pelan namun tajam. "Aku melihatnya setiap malam, Le. Ponselmu selalu ada di situ. Selalu menyala. Selalu terhubung. Dulu aku pikir itu hal sepele. Dulu aku pikir mungkin kau menunggu pesan dari teman, atau menunggu berita keluarga. Dulu aku pikir... begitulah kebiasaan orang zaman sekarang. Selalu terhubung, selalu dekat dengan dunia maya."

Arka menggelengkan kepalanya perlahan, senyum pahit mengembang di bibirnya.

"Tapi sekarang aku tahu. Setiap kali layar itu menyala, setiap kali lampu indikator itu berkedip... itu pesan dari dia, bukan?" Arka menunjuk ke arah Adrian yang masih diam tertunduk. "Laporan harian. Kabar bahwa aku ada di sini, bahwa aku percaya, bahwa aku tidak curiga. Atau perintah baru. 'Besok lakukan ini. Besok bilang begitu. Besok alasanmu begini.' Kau berbaring di sebelahku, mendengarkan detak jantungku, sementara kau menyusun rencana untuk hidupku bersama orang lain."

Claire menangis lagi, kali ini menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya berguncang hebat menahan isak tangis yang tertahan. Kata-kata Arka menembus jauh ke dalam, menyentuh bagian paling intim dari kepalsuan yang ia bangun. Bagian yang paling menyakitkan, bagian yang paling membuatnya merasa kotor dan hina.

"Maafkan aku... Maafkan aku, Mas..." isaknya tertahan. "Aku tidak berani mematikannya. Aku tidak berani memutuskan hubungan itu, bahkan sedetik pun. Adrian selalu bilang: 'Kau harus selalu ada. Kau harus selalu bisa dihubungi. Kalau ada apa-apa, kalau ada pertanyaan, kalau ada bahaya... kita harus langsung berkomunikasi.' Aku harus selalu siap, Mas. Bahkan saat makan, saat bicara sama Mas, saat tidur... aku harus selalu memastikan aku masih terhubung ke dia."

Claire mengangkat wajahnya kembali, menatap Arka dengan pandangan yang hancur.

"Di samping Mas... di saat-saat yang seharusnya paling pribadi dan rahasia... aku tidak pernah benar-benar sendirian berdua sama Mas. Selalu ada orang ketiga. Selalu ada Adrian. Dia ada di ponsel itu. Dia ada di setiap pesan. Dia ada di setiap pikiranku. Dia selalu ada di antara kita, Mas. Bahkan saat kita berpelukan, bahkan saat kita berciuman... aku selalu berpikir: 'Apakah dia tahu aku sedang begini? Apakah dia akan marah? Apakah dia akan curiga?'"

Arka merasakan perih yang luar biasa di dadanya. Ia teringat kembali momen-momen itu. Saat ia membelai rambut istrinya dengan penuh kasih sayang, saat ia berbisik kata-kata cinta di telinganya, saat ia merasa menjadi orang yang paling beruntung memiliki wanita secantik dan sebaik Elena... Wanita itu justru sedang gelisah, sedang berharap pesan tidak masuk, sedang berusaha menyembunyikan ponselnya agar tidak terlihat, sedang berusaha memainkan perannya sebaik mungkin agar tidak dicurigai.

"Jadi begitulah rasanya ya..." gumam Arka lirih. "Punya istri di sebelahmu, tapi hatinya dan pikirannya sedang sibuk dengan orang lain. Punya istri yang terlihat tidur damai, tapi sebenarnya sedang menjaga koneksi dengan kekasih dan tuannya."

Arka menatap tajam ke arah Adrian. Pria itu kini mengangkat wajahnya sedikit, matanya merah dan lelah, namun ada kilatan pengakuan pahit di sana.

"Kau tahu apa yang paling kejam dari semua ini, Adrian?" tanya Arka keras. "Kau tidak hanya mencuri identitasnya, tidak hanya mencuri hartanya, tidak hanya mencuri masa depannya. Kau juga mencuri momen-momen kecil kami. Kau mencuri malam-malam kami. Kau mencuri keintiman kami. Kau selalu ada di situ, lewat benda kecil itu, mengawasi, mengatur, memastikan bahwa dia tidak pernah benar-benar menjadi milikku sepenuhnya, bahkan sedetik pun."

Adrian menghela napas panjang, mengangguk pelan seolah mengakui kejahatan terbesarnya itu.

"Itulah cara kerja kami, Pak Arka..." jawab Adrian lirih. "Kepercayaan itu hal berbahaya. Kebebasan itu hal berbahaya. Kalau kami memutus hubungan, kalau kami membiarkan dia hidup sepenuhnya sebagai Elena... kami takut dia akan lupa siapa dirinya. Kami takut dia akan mulai menyukai hidupnya bersamamu. Kami takut dia akan benar-benar jatuh cinta padamu dan meninggalkan kami. Jadi... kami selalu terhubung. Selalu ada ikatan. Selalu ada kendali."

Adrian menatap Claire dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara kepemilikan dan keputusasaan.

"Selama dua tahun, setiap malam... saat kau tidur di sebelahnya, Pak Arka... aku tahu. Aku tahu dia ada di sana. Aku tahu dia sedang berpura-pura tidur. Aku tahu dia sedang menunggu pesanku atau memastikan semuanya aman. Bagi kami, itu bukan tidur bersama suami. Itu bagian dari tugas. Itu bagian dari menjaga penyamaran."

Kata-kata itu menghancurkan sisa-sisa harapan yang masih ada di dada Arka. Ia menatap Claire, menatap wanita yang dicintainya, wanita yang ia kira miliknya seutuhnya.

"Jadi aku tidak pernah punya kamu ya, Le?" tanya Arka pelan, suaranya pecah. "Meskipun kamu tidur di sebelahku setiap malam. Meskipun kita berbagi bantal dan selimut yang sama. Meskipun aku memelukmu setiap kali aku bangun tidur... aku tidak pernah benar-benar punya kamu. Karena kamu selalu online. Kamu selalu terhubung ke dunia lain. Kamu selalu punya tuan lain."

Claire menggeleng kuat-kuat, air mata makin deras membanjiri wajahnya. Ia merangkak sedikit mendekat, meski jarak pemisah itu masih terasa lebar.

"Bukan begitu, Mas! Bukan begitu!" serunya lirih namun penuh penekanan. "Ada saat-saat... ada detik-detik kecil di mana aku lupa ponsel itu ada. Ada malam-malam di mana aku terlalu bahagia, terlalu nyaman, terlalu merasa aman di samping Mas... sampai aku lupa memeriksa pesan. Sampai aku lupa aku harus terhubung. Ada momen di mana aku benar-benar menjadi milik Mas. Di mana aku benar-benar tidur di sebelahmu, raga dan jiwaku ada di situ, dan aku bahagia karenanya."

Claire menggapai tangan Arka, menggenggamnya erat dengan tangannya yang dingin dan gemetar.

"Tapi detik-detik itu selalu berakhir buruk, Mas. Selalu ada bunyi dengung pelan. Selalu ada cahaya samar. Selalu ada pesan masuk yang mengingatkanku: 'Kembalilah. Ingat siapa kamu. Ingat di mana tempatmu.' Dan saat itulah... saat itulah aku sadar lagi. Bahwa aku tidak boleh bahagia. Bahwa aku tidak boleh benar-benar menjadi milik Mas. Bahwa meskipun aku ada di sini, tidur di samping Mas... aku harus tetap online. Aku harus tetap terhubung ke neraka tempat asalku."

Arka diam. Ia merasakan genggaman tangan wanita itu, merasakan ketulusan rasa sakit di matanya. Ia mengerti sekarang. Ia mengerti makna mendalam dari kalimat sederhana yang dulu terdengar biasa saja itu.

"Elena tidur di sampingku, tapi online."

Itu bukan sekadar soal gawai atau teknologi.

Itu adalah definisi paling menyedihkan dari hubungan mereka.

Itu adalah bukti bahwa selama ini, yang ada di sampingnya hanyalah cangkang kosong.

Bahwa wanita yang dicintainya... selalu hidup terbelah dua.

Bahwa cinta yang ia beri begitu tulus dan utuh... selalu disambut oleh hati yang hanya ada separuh, sementara separuhnya lagi sibuk melayani orang lain, sibuk menjaga rahasia, sibuk menyembunyikan kejahatan.

Dan malam ini, di ruangan yang penuh kebenaran ini, Arka akhirnya paham sepenuhnya.

Mereka tidur berdampingan selama dua tahun.

Tapi mereka tidak pernah benar-benar tidur bersama.

Karena Elena... selalu, selalu saja online.

Dan kenyataan itulah yang kini menjadi siksaan terakhir, menambah lebar jurang pemisah di antara mereka, menjelaskan mengapa jarak itu tak pernah bisa dipersempit, dan mengapa... meskipun semuanya sudah terbongkar... rasanya tetap tak ada yang bisa diperbaiki lagi.

— BERSAMBUNG.......

1
Key Kastara
✨🔥😍
MayAyunda
bagus👍
Ana Dww
aku tertarikkk
sena himura: iya,kak😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!