Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Keesokan harinya, tubuh Valeska sudah dilap dengan air hangat oleh mamanya. Entah sudah berapa hari Delina tidak masuk kantor, namun semua ini dilakukan demi sang anak, sekaligus sebagai cara untuk menebus kesalahan di masa lalu.
Di depan sana, Girga duduk menanti kedatangan dokter Rijal yang akan memeriksa kondisi putrinya. Di dalam pelukan Delina, Valeska tampak tersenyum dengan wajah berseri, merasakan kehangatan dari ibu yang selalu ia idam-idamkan. Sesekali, matanya terpejam, menikmati sentuhan lembut tanga sang mama yang mengusap rambutnya dengan penuh kasih.
Delina tak bisa menahan senyum ketika tangan Valeska terangkat dan dengan lembut memegang pipinya. Kesekian kalinya, Delina membenarkan posisi selang oksigen yang melintang di wajah putrinya, memastikan semuanya aman.
Tak lama kemudian, pintu terbuka, dan Dokter Rijal masuk bersama seorang perawat. Sebelum melangkah ke tempat tidur, dia menyapa Girga dengan ramah. Langkah tenang dan penuh perhatian, Dokter Rijal pun menempelkan stetoskop di dada Valeska, lalu memberi instruksi untuk mengganti botol infus yang hampir habis.
"Pelan-pelan saja, jangan sampai membuat pasien terkejut," ujar Dokter Rijal, menyarankan agar proses pergantian botol infus dilakukan dengan hati-hati, karena beberapa pasien bisa merasa kaget akibat perubahan aliran cairan yang cepat.
Valeska menutup matanya, merasakan ketidaknyamanan saat cairan mengalir melalui pembuluh darahnya. Delina, yang tak pernah jauh dari putrinya, merasakan jemari Valeska menggenggam tangannya dengan lemah.
Girga yang melihatnya, merasa tak tega dan jika bisa, dia ingin menggantikan beban sakit itu, agar putrinya bisa lebih baik seperti anak seusianya. Dokter Rijal kemudian mengusap lembut tangan kiri Valeska dan berkata.
"Maaf ya, barusan perawat mengganti botol infus dengan yang baru."
Valeska, yang paham maksudnya, hanya mengangguk pelan. Setelah pemeriksaan selesai, Dokter Rijal dan perawat pun meninggalkan ruangan, membiarkan pasien beristirahat tenang.
"Adek harus makan dulu, supaya ada tenaga. Dari kemarin belum ada makanan yang masuk ke perut adek," ujar Delina, sambil menyodorkan satu sendok bubur ke hadapan Valeska.
"Adek nggak mau, Ma ..." jawab Valeska dengan suara pelan, tak bersemangat.
"Tapi adek harus makan, ini waktunya minum obat juga," Delina membujuk, matanya penuh harapan meski bubur di mangkuk masih utuh.
"Satu sendok aja, Ma."
"Lima sendok, gimana?" tanya Delina, sedikit menggodanya.
"Nggak mau, itu kebanyakan," jawab Valeska, sambil dengan pelan menyingkirkan mangkuk dari hadapannya.
"Ya sudah, adek buka mulutnya, ya. Daripada nggak makan sama sekali," Delina berkata lagi.
Akhirnya Valeska pun membuka mulutnya, namun segera merintih kesakitan.
"Nelennya sakit, Mama," ujarnya dengan suara serak, hampir menangis.
Setelah Valeska meminum obat, Delina kembali memeluk tubuh putrinya dengan penuh kasih sayang. Ia mengusap lembut leher Valeska, tempat yang dikeluhkan sakit.
"Bagian sini yang sakit, sayang?"
Valeska hanya mengangguk pelan, tubuhnya lemas, tak mampu berkata banyak.
***
Malam pun tiba, dan ruangan yang beberapa jam lalu terlihat sepi kini sudah terisi oleh anggota keluarga.
Hari ini Girga ada meeting dan terpaksa meninggalkan putrinya, namun beruntung, dia bisa pulang lebih cepat berkat manajernya yang pintar dalam mengelola waktu.
Sementara itu, Kaivandra baru saja pulang dari kampus. membawa beban tugas yang menumpuk. Delina mulai membiasakan diri merawat Valeska yang begitu rapuh. Dia harus ekstra sabar saat penyakit kembali menyerang tubuh Valeska. Dan dia pun harus paham betul apa yang dibutuhkan olehnya. Jika tadi pagi Valeska dipeluk oleh sang mama, malam ini ia ingin dipeluk oleh papanya.
"Adek nyaman?" tanya Girga, yang langsung dijawab anggukan oleh Valeska.
Sudah satu jam Valeska bersandar di dada bidang papanya, merasa aman dalam pelukannya, karena berada dalam pelukan cinta pertama.
"Papa ..."
"Iya, Nak. Kenapa?" tanya Girga, sambil mengusap surai putrinya yang kian menipis.
Valeska mendongak menatap wajah papanya, kemudian berkata dengan suara pelan, "Adek pengen punya keluarga utuh lagi. Kalian bisa rujuk kembali?"
Girga terdiam, karena bingung, begitu pula dengan Delina yang sedang duduk di sofa.
"Rujuk? Adek kenapa tiba-tiba minta itu?" tanya Girga, tampak kebingungan.
"Kalau nanti adek udah nggak ada di dunia ini, abang nggak akan merasa sendirian. Dan satu lagi, tolong buatkan dedek bayi juga, buat nemenin abang di saat Mama dan Papa sibuk bekerja," kata Valeska, membuat hati siapa pun yang mendengarnya langsung sesak.
"Adek bicara apaan sih? Nggak ada yang pergi di antara kita semua. Kita akan terus bersama-sama sampai kapanpun," sahut Kaivandra, dengan suara yang bergetar hebat.
Valeska memberi isyarat agar mereka mendekat ke tempat tidur, lalu meraih tangan orang tuanya juga Kaivandra.
"Adek capek ... nggak ada yang harus dipertahankan lagi dari tubuh yang rusak ini. Di saat monster datang, adek takut menyerah. Setidaknya kalau adek nggak ada, Mama dan Papa bersatu, dan abang nggak akan kesepian karena ada dedek bayi," ucapnya dengan napas yang sesak, dibarengi isak tangis.
"Waktunya istirahat, Nak. Kebetulan Papa ada beberapa berkas yang perlu ditandatangani," ujar Girga, berusaha mengalihkan pembicaraan karena tidak sanggup mendengarnya lebih lama lagi.
"Jangan! Papa jangan pergi!" teriak Valeska, sekuat tenaga, tak ingin melepaskan pelukan papanya.
"Papa jangan pergi, adek mau sama Papa." Racau Valeska.
"Ada berkas yang harus Papa tandatangani, Nak. Lepas dulu ya ... Adek sama Mama dulu."
Delina berusaha mengambil alih Valeska, sekaligus meredamkan isak tangisnya.
"Kamu pergi aja, biar adek aku yang urus," ucap Delina pada Girga.
Kaivandra pun ikut menenangkan Valeska yang masih menangis karena keinginan agar orang tuanya rujuk dan punya adik bayi. Niat Valeska baik, dia tidak ingin mereka terus terjebak dalam kesedihan.
***
"Delina."
Girga menemui istrinya di taman rumah sakit, tempat yang beberapa hari ini sering mereka temui bersama. Langkahnya mantap, mendekat dan meminta izin untuk duduk di sampingnya.
Kacamata yang bertengger dihidung mancungnya, warisan yang dia berikan pada kedua anaknya didorong sedikit, seolah memberi ruang untuk segala yang belum terucap. Delina tidak menyangka bahwa pertemuan ini harus terjadi kembali dengan pria pemilik ego tinggi yang pernah jadi bagian dari hidupnya.
"Kenapa ke sini?" tanya Delina, suaranya datar.
Girga terdiam sejenak, tak langsung menjawab pertanyaan itu.
"Kamu masih cinta sama saya?" Girga memecah keheningan dengan pertanyaan yang sedikit menggoda.
Delina terdiam, merasa kata-kata itu sulit untuk keluar. Matanya sesekali melirik pada Girga, lalu kembali memandang langit malam yang bertabur bintang.
"Pertanyaan macam apa itu?" ujarnya pelan, namun ada nada cemas di balik kata-katanya.
"Tentu saja, saya bertanya begitu, karena saya yakin kamu masih menyimpan perasaan itu, Delina. Begitu pun saya. Waktu itu saya mencoba membangun hubungan dengan seseorang, tapi nggak bisa," ujar Girga,menatapnya dalam-dalam.
"Jadi?" Delina hanya mengerutkan alis, kebingungan.
"Meski kamu sudah tidak merasa seperti itu lagi, saya rasa tidak masalah. Karena, menurut saya, perasaan itu bisa tumbuh kembali, asal kita sudah terbiasa bersama lagi."
Girga melanjutkan, tanpa memberi kesempatanuntuk Delina bicara, seperti ingin mengatakan semua yang selama ini terpendam. Sebenarnya, kata "perceraian" tak pernah keluar dari mulut Girga. Bahkan surat perceraian pun tak pernah ada di pengadilan mana pun.
Delina, yang memutuskan untuk meninggalkan Girga, merasa bahwa pria ini terlalu dibebani oleh egonya. Tapi, bagaimana dengan status mereka sebagai mantan suami istri?
"Seharusnya dulu kamu nggak meninggalkan saya begitu saja,"
Girga melanjutkan, suaranya pelan namun penuh penyesalan. Delina terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Rasanya perasaan ini sudah terpendam begitu lama, dan kini semuanya kembali menguat.
"Keadaan yang memaksa kita berpisah, Mas. Padahal kita berdua tidak benar-benar ingin berpisah. Saya sibuk berusaha melupakan kamu, tapi apa yang terjadi? Kamu tak pernah mencari keberadaan saya. Hingga akhirnyaTuhan mempertemukan kita lagi, dalam kondisi yang rapuh, karena putri kita sedang sakit."
Delina tak bisamenahan air matanya lagi. Semua kebingungannya kini meluap begitu saja.
"Sekarang kamu paham, Mas? Kenapa adek membuat grup keluarga, padahal yang dia tahu kita sudah berpisah. Keinginan Adek kuat sekali. Dia ingin kita bersatu kembali. Namun, Tuhan memberikan jalan ini dengan cara yang tak terduga."
Delina berbicara dengan suara tercekat, penuh kesedihan yang terpendam. Girga tertegun mendengarnya. Bahkan dia merutuki dirinya sendiri. Kenapa selama ini dia tak memahami keinginan anaknya? Kenapa baru sekarang mereka menyadari hal ini, di saat putri mereka sudah berada di ambang kehidupan yang rapuh?
"Kita mulai dari awal, ya? Kita dengar apa yang diinginkan abang dan adek. Apa kamu bersedia?" tanya Girga dengan ragu, berharap Delina akan memberikan kesempatan.
Tanpa banyak berpikir, Delina menjawab dengan lembut, "Bersedia, Mas. Maafkan aku atas semua kesalahanaku selama ini."
"Jangan menyalahkan diri sendiri. Kita mulai dari awal, beri anak kita kenyamanan yang dia butuhkan. Terima kasih, sayang, sudah mau bekerja sama dalam hal ini," jawab Girga dengan tulus.
"Sama-sama, Mas," jawab Delina dengan pelan, namun ada kehangatan di dalam suaranya.
Di bawah langit malam yang penuh bintang, mereka mulai menulis kenangan baru. Canda tawa pun mulai terdengar, merangkai kembali momen-momen kecil yang pernah hilang. Esok hari, mereka akan memberitahukan anak-anak tentang keputusan ini.
"Sekarang paham kan, kenapa dunia ini disebut fana? Karena, kita tidak bisa menduga apa pun ke depannya akan seperti apa."
***
"Nggak! Ini pasti kalian bohong!"
"Nggak mungkin adek pergi begitu saja tanpa ada gue di sampingnya, minggir kalian! Gue bilang, minggir!"
"Adek!"
Kaivandra berteriak, dan terbangun dari sebuah mimpi buruknya. Kaivandra memeluk lututnya sendiri. Bahkan wajahnya dipenuhi oleh keringat dingin, rasa kesedihan akibat mimpi buruk, menimbulkan rasa sesak di dada. Dia benar-benar takut kehilangan adiknya. Dan mimpi itu, sudahmengganggu waktu istirahatnya.Dia pun mengambil jam tangan pemberian dari sang papa yang kebetulan di simpan di atas meja samping tempat tidur.
Jam menunjukan pukul tiga dini hari, Kaivandra melirik ke samping mencari letak handphone, dan ternyata berada di atas meja ruangan sebelah. Begitu mau beranjak dari tempat tidur, tiba-tiba papanya pun datang.
"Abang kenapa teriak? Yang lain lagi pada istirahat, bang." Belum sempat Kaivandra menjawab, Girga sudah berkata lagi, "Dan ini? Kenapa banyak sekali keringat, padahal ini ruangan ber AC."
"Pa, kondisi adek baik-baik aja'kan?"
"Baik, adek lagi istirahat ditemenin Mama." Jawab Girga, dan segera duduk di dekat putra sulungnya.
Beberapa saat kemudian, Girga mengusap keringat yang bercucuran di kening dan pelipis Kaivandra.
"Sebenarnya apa yang abang takutkan? Abang mimpi buruk atau gimana?" tanya Girga, perhatian.
Kaivandra mengangguk, "Abang mimpi buruk terkait adek, Pa. Abang takut Pa ... abang takut kalau Adek ninggalin kita semua, abang nggak mau itu terjadi," ucapnya seraya terisak pelan.
"Astaga, bang. Jangan berpikiran negatif, adek nggak akan kenapa-napa, adek bakal sehat, minta sama Tuhan untuk kesembuhan adek. Ya udah, Papa temenin kamu tidur di sini, mau minum dulu?"
Kaivandra mengangguk, tidak lama setelahnya, Girga memberikan botol air minum yang berada di samping tempat tidur. Mereka pun kembali tidur, malam ini, Kaivandra dan Girga tidur di satu kamar yang sama. Sedangkan Delina, dia tidur di samping Valeska. Setiap 3 jam sekali, Delina pasti saja terbangun karena takut cairan infusan habis.