"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI BAWAH LANGIT JOGJA, AKU MEMILIHMU
Malam di Yogyakarta selalu punya cara untuk melunakkan hati yang paling keras sekalipun. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan wangi melati yang mekar di sudut halaman rumah Habib Abdullah. Setelah melewati hari-hari yang penuh dengan kedamaian di rumah mertuanya, Zaid merasa malam ini adalah waktu yang tepat untuk menanggalkan semua topeng keangkuhan yang selama ini ia pakai.
Zaid mengajak Khadijah ke balkon lantai dua yang menghadap langsung ke arah hamparan sawah yang gelap dan kerlip lampu kota di kejauhan. Ia sudah menyiapkan dua cangkir susu jahe hangat yang masih mengepul, diletakkan di atas meja kecil di antara dua kursi kayu panjang.
Khadijah keluar dari pintu kamar dengan langkah anggun. Ia mengenakan gamis tidur berwarna biru muda, rambut panjangnya yang hitam legam ia biarkan terurai bebas, hanya tertutup pashmina tipis yang disampirkan di bahu untuk menghalau dinginnya udara malam. Tanpa cadar, wajahnya tampak begitu bersinar di bawah sinar bulan yang temaram—kecantikan yang selama ini hanya bisa Zaid bayangkan, kini ada nyata di depannya.
"Sini, Khadijah," Zaid mengulurkan tangannya, membantu istrinya duduk.
Zaid tidak langsung bicara. Ia menyandarkan punggungnya, menatap langit malam Jogja yang bertabur bintang. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Zaid merasa hatinya benar-benar tenang. Tidak ada lagi kemarahan, tidak ada lagi rasa bersalah pada masa lalu, yang ada hanyalah rasa syukur yang meluap karena wanita di sampingnya tidak pernah menyerah padanya.
"Khadijah," panggil Zaid pelan. Suaranya rendah dan dalam, penuh getaran yang belum pernah didengar Khadijah sebelumnya.
"Iya, Mas?" Khadijah menoleh, mendapati Zaid sedang menatapnya dengan tatapan yang begitu dalam, seolah sedang membaca setiap inci jiwanya.
Zaid meraih tangan Khadijah, menggenggamnya dengan kedua tangan kekarnya yang biasanya kasar, namun kini terasa begitu lembut dan protektif.
"Selama ini aku selalu bilang kalau pernikahan kita adalah wasiat. Aku selalu bilang aku menjagamu karena amanah dari Bang Farhan. Aku bohong jika aku bilang aku tidak merasa terpaksa di awal," Zaid memulai dengan kejujuran yang pahit namun perlu.
Khadijah terdiam, matanya menatap lekat pada jemari Zaid yang bertautan dengan jemarinya.
"Tapi malam ini, di bawah langit Jogja ini..." Zaid menghela napas panjang, ia berlutut di depan Khadijah, menatap langsung ke dalam mata bening istrinya yang mulai berkaca-kaca. "Aku ingin menarik semua kata-kataku tentang keterpaksaan itu. Aku ingin kamu tahu satu hal yang sudah lama kusimpan sendiri."
Zaid membawa tangan Khadijah ke dadanya, tepat di atas jantungnya yang berdegup kencang, seolah-olah ia sedang memacu motornya dalam kecepatan penuh.
"Dengar ini, Khadijah. Jantung ini berdetak bukan lagi karena adrenalin di jalanan. Jantung ini berdetak karena kamu. Kamu bukan lagi sekadar amanah bagiku. Kamu adalah tujuanku. Kamu adalah rumah yang selama ini kucari namun tidak pernah kutemukan di mana pun."
Air mata Khadijah luruh seketika, membasahi pipinya yang kemerahan.
"Aku mencintaimu, Syarifah Khadijah Al-Eydrus," ucap Zaid dengan penekanan di setiap kata. "Bukan karena wasiat, bukan karena kasihan, tapi karena dirimu sendiri. Aku mencintaimu dengan cara yang tidak pernah kubayangkan bisa kulakukan. Aku ingin menjadi imammu, bukan hanya karena aku harus, tapi karena aku ingin menghabiskan sisa hidupku menjagamu."
Khadijah menarik napas dalam, mencoba menenangkan isaknya. Ia mengusap pipi Zaid yang kini ditumbuhi jambang tipis dengan penuh kasih. "Mas Zaid... aku sudah mencintaimu sejak pertama kali aku melihat ketulusan di balik kemarahanmu. Aku mencintaimu karena kamu adalah laki-laki yang berani melawan egomu sendiri demi kebenaran."
Zaid tersenyum, sebuah senyuman yang begitu tulus hingga lesung pipinya terlihat sempurna. Ia bangkit dan duduk kembali di samping Khadijah, menarik wanita itu ke dalam pelukannya yang hangat dan kokoh. Khadijah menyandarkan kepalanya di bahu Zaid, menghirup aroma maskulin suaminya yang kini terasa seperti aroma surga baginya.
"Berjanjilah satu hal padaku," bisik Zaid di atas kepala Khadijah.
"Apa itu, Mas?"
"Jangan pernah tutup wajahmu di depanku lagi jika kita sedang berdua. Aku tidak ingin melewatkan satu detik pun tanpa melihat bidadari yang dikirim Tuhan untuk menyelamatkanku."
Khadijah tertawa kecil di sela air mata bahagianya. "Iya, Mas. Hanya untukmu."
Malam itu, di bawah saksi bisu kota Yogyakarta, Zaid Al-Idrus benar-benar telah menanggalkan mahkota kegelapannya. Tidak ada lagi bayang-bayang Farhan di antara mereka. Hanya ada dua jiwa yang saling menemukan di persimpangan takdir yang tak terduga. Mereka tetap di sana, berpelukan lama, menikmati detik-detik di mana cinta akhirnya menang atas segala keraguan.