Kehamilan yang selama ini mati-matian disembunyikan Anisa akhirnya terbongkar. Ironisnya, orang pertama yang mengetahui rahasia itu justru Reinhart—dokter magang di kampus tempatnya menimba ilmu.
Sejak hari itu, hidup Anisa berubah. Semakin ia berusaha menghindar, semakin sering takdir mempertemukan mereka. Tatapan penuh rasa ingin tahu dari Reinhart perlahan berubah menjadi kepedulian yang sulit diabaikan.
----------------------------
"Siapa ayah dari bayimu?"
"Itu bukan urusan Dokter."
"Kalau begitu... izinkan saya menjadi ayah untuk bayi itu."
Anisa hanya tersenyum getir.
"Maaf. Saya menolaknya."
-----------------------
Namun, sampai kapan rahasia itu bisa disembunyikan? Dan ketika kebenaran akhirnya terungkap, apakah cinta Reinhart masih cukup kuat untuk menerima Anisa... beserta luka dan masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang Rumit
"Iya, Bu. Saya sudah kenal dengan Anisa. Saya dokter magang di kampus Anisa."
Dengan bangganya Reinhart memperkenalkan dirinya di depan Rahayu.
"Oh, kebetulan sekali ya. Apa Anisa merepotkan Dokter?" Rahayu antusias bertanya pada Reinhart.
"Ummm, tidak sih, Bu. Hanya saat pas awal masuk kuliah saja. Anisa ... sempat pingsan saat upacara."
"Hah?!" Rahayu tampak terkejut mendengarnya. Anisa tidak pernah bercerita tentang hal itu padanya.
"Bu, dokter Reinhart mau pulang. Jangan ditanya-tanya lagi." Anisa menatap horor Reinhart seolah memintanya segera pergi.
Reinhart berpamitan pada Rahayu dan memilih untuk segera pergi. Ia tak ingin Anisa makin marah padanya dan memutus komunikasi.
Anisa bernapas lega usai Reinhart pergi dari rumahnya. Anisa duduk lemas di sofa ruang tamu.
"Kenapa kamu gak cerita sama Ibu kalau kamu pingsan di kampus? Pasti karena kehamilan kamu kan?"
Anisa mendesah pelan. Tanpa dijawab pun, Rahayu tahu jika apa yang dikatakannya sendiri adalah benar. Awal-awal kehamilan biasanya adalah masa tersulit bagi seorang wanita, apalagi Anisa masih sangat muda untuk jadi seorang ibu.
"Jadi, dokter itu tahu kalau kamu sedang hamil?" Kini Rahayu menanyakan hal yang lain.
Anisa mengangguk pelan. Rahayu tampak ikut terkejut. Apakah ini akan jadi masalah untuk Anisa? Begitulah pemikiran seorang Ibu yang khawatir dengan masa depan putrinya. Anisa sudah berhasil masuk jadi mahasiswi kedokteran, sungguh sesuatu yang membanggakan untuk Rahayu sendiri, tapi kini masa depan Anisa juga dipertaruhkan karena ada yang mengetahui kehamilannya.
"Nak..." Rahayu mengusap lengan Anisa.
Anisa menatap Rahayu dengan wajah cemas. "Bu... Aku mohon jangan dekat-dekat dengan dokter Reinhart. Jangan menerima bantuan apapun lagi dari dia."
Dahi Rahayu berkerut. "Kenapa, Nak? Dia kan orangnya baik."
"Aku tahu, Bu. Tapi ... sebaiknya kita hindarin dia. Ya?"
"Katakan alasannya! Apa ada yang kamu sembunyikan?"
Anisa menghela napas lelah. Lelah sekali menghindari Reinhart, tapi semesta seakan selalu mendekatkan mereka berdua. Lelah menghadapi sikap Reinhart, yang semakin ditolak malah semakin mendekat.
"Dokter Reinhart adalah adiknya Pak Rendra."
Rahayu terdiam beberapa saat untuk mencerna apa yang barusan putrinya katakan.
"Ibu paham kan sekarang? Kalau sampai dokter Reinhart tahu kalau aku adalah istri siri kakaknya, maka ...." Anisa tak bisa melanjutkan kalimatnya. Terlalu sulit dan rumit.
"Astaghfirullah..." Rahayu menutup mulutnya. Ia menatap sendu putrinya. Kehidupan Anisa jadi sulit sejak dirinya sakit-sakitan dan kini harus berkorban banyak untuknya.
"Maafkan Ibu, Nak..." Rahayu memeluk Anisa. Suasana yang sempat riuh karena kehadiran Reinhart, kini menjadi sunyi karena ibu dan anak itu tak mengatakan sepatah katapun lagi selain saling memeluk untuk menenangkan hati masing-masing.
Dari layar datar yang ada di depannya, Raya melihat semuanya. Ia sungguh tak percaya jika Anisa mengenal Reinhart dan sudah tahu jika Reinhart adalah adik Rendra.
Raya menghela napas kasar. Jika saja ia bisa mencegah Raisa untuk berbuat begini, maka semuanya tidak akan rumit. Namun, saat itu Anisa juga butuh bantuan untuk operasi Rahayu.
Raya mengacak kasar rambutnya. Penampilannya yang terbiasa dengan gaya gemulai kini berganti dengan gaya pria macho yang sesungguhnya.
"Hidup kalian sungguh sangat rumit." Raya mematikan laptop dan bersiap pergi. Ia akan menemani Raisa yang akan pergi ke pulau terpencil untuk mengasingkan diri untuk sementara waktu.
***
Reinhart tiba di kampus Avicenna untuk mengikuti perkuliahan dokter spesialis yang diambilnya. Langkah tegapnya tiba-tiba terhenti saat melihat seseorang yang dikenalinya.
"Kak Ruby? Aku pinjam tugas yang dari Ibu Aurel dong." Seorang mahasiswi menyapa pria yang sedang berjalan ke arah laboratorium.
"Oh, boleh boleh." Ruby tampak membuka tas punggungnya dan memberikan bukunya pada si mahasiswi.
"Waaah, Kak Ruby emang baik banget deh. Nanti sore ke kafe yuk, aku traktir deh."
"Widih, boleh banget tuh. Kafe yang depan sana kan?"
"Iya, Kak. Ya udah kalau gitu aku duluan ya, Kak." Si mahasiswi melambaikan tangan.
Reinhart berdecak kesal melihat tingkah genit Ruby yang katanya adalah suami Anisa.
"Emang ada yang gak beres disini. Aku harus selidiki." Reinhart mengepalkan tangan kemudian berlalu dari sana.
***
Dengan koneksi yang dimilikinya, Reinhart berhasil mendapat data tentang Ruby yang berkuliah di kampus Avicenna. Ruby merupakan mahasiswa kedokteran semester akhir.
Reinhart mengusap dagunya. "Semua biaya kuliahnya dibayar oleh Ridho Ilahi. Namanya kayak gak asing." Reinhart berusaha berpikir keras. "Tapi disini tertulis kalau Ridho hanya walinya saja dan bukan orang tua Ruby."
Reinhart mengusak rambutnya. "Kenapa semua tentang kamu terasa sangat misterius sih, Anisa?" seru Reinhart kesal sendiri.
"Dan kenapa juga lo yang ikutan pusing soal masalah hidup orang lain, Rein?" Riyan melempar keripik kentang ke arah Reinhart. "Santai dulu dah, Bro. Lo terlalu stres akhir-akhir ini. Ntar cepet tua lho."
Reinhart melempar bantal ke wajah Riyan. "Yan, bantuin gue sekali lagi ya? Gue harus bisa temukan benang merah dari semua ini."
"Apaan lagi sih? Udah jelas-jelas Anisa itu nolak lo. Lo nya aja yang keras kepala. Heran dah gue!" Riyan geleng-geleng kepala.
"Yan, Anisa itu sekarang tinggal di apartemen ini. Di lantai 15. Lo sadar gak sih ada yang aneh disini?"
Riyan terperanjat. "Serius lo? Anisa tinggal disini? Kayak lo gitu?"
Reinhart mengangguk yakin.
"Dia itu terdaftar sebagai mahasiswa penerima beasiswa. Mana mungkin dia bisa tinggal di tempat mewah begini?" Riyan bicara dengan berapi-api.
"Makanya gue mau selidikin ini."
"Kayaknya masalah hidup lo berat, Rein. Gue cabut dulu aja ya. Ikutan pusing gue kalau mikirin masalah Anisa. Bye!" Riyan melenggang pergi meninggalkan Reinhart.
***
Saat tiba di lobi apartemen Reinhart, mata Riyan dikejutkan dengan sosok yang mirip dengan seseorang yang dikenalnya.
"Itu ... bukannya Kak Raisa? Kok dia ada disini? Katanya lagi di luar negeri." Arah mata Riyan terus mengikuti Raisa yang melangkah bersama Raya yang baru keluar dari ruang tunggu lobi.
Meski sudah mengubah penampilan agar tidak dikenali, tapi Riyan masih bisa mengenali sosok Raisa. Apalagi Riyan adalah salah satu penggemar Raisa dan banyak mengoleksi foto Raisa dengan berbagai pose.
"Mereka barusan abis ketemu siapa di ruang tunggu?" Riyan menunggu beberapa saat hingga akhirnya muncul sosok yang sangat dikenali Riyan.
"Anisa?!" Riyan membekap mulutnya. "Gimana ceritanya Kak Raisa bisa kenal sama Anisa? Wah wah wah, emang ada yang gak beres disini." Riyan geleng-geleng kepala. "Gue harus selidiki dulu sebelum gue bilang sama Reinhart."
***
"Ibu!" Panggilan itu membuat Rahayu menoleh. Terlihat sosok Reinhart berjalan menghampiri Rahayu.
Seketika Rahayu ingat dengan apa yang dikatakan Anisa waktu itu. Ia harus menghindari Reinhart.
Rahayu berjalan lebih cepat bahkan berlari kecil.
"Ibu!" Reinhart terus memanggilnya.
"Tunggu, Ibu!" Akhirnya Reinhart berhasil mengejar Rahayu.
"Maaf, saya sedang buru-buru." Rahayu kembali menghindar.
"Ibu, ada apa ini?" Reinhart menghadang langkah Rahayu.
"Tolong jangan ganggu kami, Dokter," pinta Rahayu.
"Kenapa? Saya ... hanya ingin memberikan ini untuk Ibu."
Rahayu menatap tangan Reinhart yang memegang bungkusan.
"Ini cuman vitamin aja kok. Buat kesehatan Ibu kalau Ibu merasa sering pegal-pegal. Tolong terima ya, Bu," ucap Reinhart dengan wajah memelas.
Tak tega melihat Reinhart yang bersikap tulus, Rahayu pun menerima pemberian Reinhart.
"Terima kasih, Dokter."
Reinhart membungkuk hormat kemudian berlalu. Rahayu menghela napas lelah melihat bungkusan di tangannya.
"Sulit sekali menolak pesonanya. Dia itu baik dan tulus, mana mungkin aku mengabaikannya."
***
-Kampus Harapan Bangsa-
Raut wajah Reinhart terlihat tak bersahabat sejak datang ke kampus. Ia harus menemui Anisa dan bicara dengan gadis itu.
Saat tiba jam istirahat, Reinhart langsung pamit pada Ranti. Langkah kaki Reinhart sengaja diperlebar agar cepat sampai di kelas Anisa.
Beruntung gadis itu masih di dalam kelas dan yang lainnya sudah keluar dari kelas.
"Bagus sekali kamu ada disini."
Dahi Anisa mengernyit dalam melihat Reinhart masuk ke kelasnya. Seketika Anisa panik karena takut ada Rhea atau fans Reinhart yang lain.
"Dokter mau apa datang kemari?" Anisa mulai panik karena Reinhart berjalan mendekatinya.
"Ikut dengan saya sekarang juga atau kita bicara disini!"
Anisa menelan ludahnya. Sungguh ini bukan seperti Reinhart yang ia kenal selama ini. Haruskah Anisa ikut dengan Reinhart yang terlihat sedang dikuasai amarah?
daebaklah! karya baru terus pkoknya!🤸