Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10 semakin jelas
Menjelang sore, suasana kantor mulai sedikit lebih tenang. Sebagian besar rapat telah selesai, dan para pengacara mulai fokus menyelesaikan pekerjaan masing-masing sebelum jam pulang.
Vania masuk ke ruang kerja Nadia tanpa mengetuk, sesuatu yang sudah biasa ia lakukan sejak bertahun-tahun lalu.
Nadia yang sedang membaca berkas hanya melirik sekilas.
"Kamu nggak pernah belajar mengetuk ya?"
Vania langsung tertawa kecil lalu menjatuhkan dirinya ke kursi di depan meja Nadia.
"Kalau aku mengetuk, nanti bukan aku namanya."
Nadia hanya menggeleng pelan sambil kembali melihat dokumen di tangannya.
Beberapa detik kemudian Vania memperhatikan wajah sahabatnya dengan saksama.
"Kamu masih kelihatan capek."
Nadia menghela napas pelan.
"Banyak kerjaan."
"Kebohongan yang buruk."
Vania menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Lagian kemarin anniversary pernikahan kalian, harusnya hari ini malah lagi bahagia."
Kalimat itu membuat tangan Nadia berhenti sesaat di atas berkas.
Ia segera melanjutkan membaca seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ngomong-ngomong..."
Vania tersenyum jahil.
"Apa hadiah dari Adrian?"
Nadia mengangkat kepala.
"Hadiah apa?"
"Anniversary."
Vania mengangkat kedua alisnya.
"Jangan bilang belum dipamerin."
Nadia hanya tersenyum tipis.
Senyum yang terasa dipaksakan.
"Aku nggak dapat apa-apa."
Jawaban itu keluar begitu saja.
Vania yang semula santai langsung mengernyit.
"Hah?"
Nadia kembali menatap dokumennya.
"Memang nggak ada hadiah."
Kali ini Vania benar-benar bingung.
"Tunggu dulu."
Ia duduk lebih tegak.
"Kamu serius?"
Pikirannya langsung kembali pada kejadian dua hari sebelumnya.
Saat itu ia sedang berada di pusat perbelanjaan untuk menemui klien.
Secara tidak sengaja ia melihat Adrian keluar dari sebuah butik perhiasan mewah yang cukup terkenal.
Bahkan Vania masih ingat kantong belanja eksklusif yang dibawa pria itu, Mustahil ia salah lihat.
Karena mereka sempat saling menyapa.
Saat itu Vania langsung berpikir hadiah tersebut pasti untuk Nadia.
Apalagi anniversary mereka memang sudah dekat.
Tidak ada alasan lain yang terlintas di kepalanya.
Karena itu sekarang ia justru merasa heran.
"Sekarang belum dikasih mungkin?" tanyanya hati-hati.
Nadia menggeleng.
"Entahlah."
Jawaban itu terdengar datar.
Terlalu datar.
Dan Vania mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
Untuk beberapa saat ruangan menjadi sunyi.
Nadia pura-pura fokus pada pekerjaannya.
Sementara Vania memandangi sahabatnya dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.
Jika perhiasan itu bukan untuk anniversary Nadia...
Namun mengingat Bianca yang semakin sering muncul di divisi Adrian, mengingat bagaimana wanita itu selalu tampak nyaman berada di sekitar para partner pria, dan mengingat Adrian yang keluar dari toko perhiasan mewah beberapa hari lalu...
Untuk pertama kalinya, Vania merasakan kegelisahan yang tidak bisa dijelaskan.
Sementara Nadia di balik meja kerjanya tetap terlihat tenang.
Namun jauh di dalam hatinya, setiap informasi kecil yang ia dengar hari ini terasa seperti potongan puzzle yang perlahan mulai membentuk gambaran yang tidak ingin ia lihat.
Dan semakin banyak potongan itu terkumpul, semakin takut Nadia terhadap kebenaran yang mungkin sedang menunggunya.
Nadia yang sejak tadi berusaha terlihat tenang akhirnya meletakkan berkas di tangannya.
Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, perhatiannya benar-benar teralihkan.
Ia mengangkat kepala dan menatap Vania.
"Toko perhiasan?"
Vania mengangguk.
"Iya."
"Dua hari lalu aku lihat Adrian di mall."
Nadia berusaha menjaga ekspresinya tetap datar.
Meski jantungnya mulai berdetak sedikit lebih cepat.
"Perhiasan apa?"
tanyanya pelan.
Vania berpikir sejenak.
Lalu menjawab dengan santai.
"Kalau nggak salah Dior."
Hening.
Sesaat ruangan terasa begitu sunyi. Nadia tidak langsung bereaksi. Namun jemarinya yang berada di atas meja perlahan menegang.
Dior.
Bukan toko perhiasan biasa.
Bukan pula tempat yang dikunjungi seseorang hanya untuk melihat-lihat.
Selama lima tahun menikah, Nadia sangat mengenal kebiasaan suaminya.
Adrian bukan tipe pria yang suka membeli barang mewah tanpa alasan.
Bahkan ketika Nadia beberapa kali menunjukkan tas atau aksesori yang ia sukai, Adrian sering menganggapnya tidak penting.
Bukan pelit.
Hanya saja Adrian selalu merasa barang-barang semacam itu bukan prioritas.
Karena itu mendengar nama Dior justru terasa semakin janggal.
"Kamu yakin?"
Suara Nadia terdengar lebih pelan dari sebelumnya.
Vania mengangguk.
"Yakin."
"Aku bahkan sempat nyapa dia."
Nadia merasakan sesuatu perlahan tenggelam di dalam dadanya.
Perasaan yang sejak beberapa hari terakhir terus ia tekan.
Terus ia sangkal. Terus ia paksa untuk tidak dipercaya. Namun kini mulai semakin sulit diabaikan.
Kalau hanya pulang larut malam...
Masih bisa dijelaskan.
Kalau hanya sering bersama rekan kerja Masih bisa dimaklumi. Kalau hanya lupa anniversary...
Masih bisa dianggap kelalaian. Namun sekarang semuanya mulai saling terhubung. Wanita misterius yang dikira dirinya. Barang-barang mewah yang menurut ibu mertuanya sering dibelikan Adrian.
Dan dirinya yang tidak pernah menerima apa pun.
Nadia menundukkan pandangan.
Berusaha mengatur napasnya agar tetap stabil.
Sebagai pengacara, ia terbiasa menghadapi fakta buruk.
Namun anehnya, ketika fakta itu menyangkut rumah tangganya sendiri, semuanya terasa jauh lebih menyakitkan.
"Nad?"
Suara Vania membuyarkan lamunannya.
"Kamu nggak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja."
bahkan Vania tahu itu bukan senyum yang tulus.
Setelah Vania keluar dari ruangannya, Nadia tetap duduk diam.
Tatapannya kosong mengarah ke jendela kaca besar di belakang meja kerja.
Namun di dalam dirinya, sesuatu mulai berubah.
Karena sampai kemarin, semua ini masih berupa kecurigaan.
Masih berupa dugaan. Masih berupa kemungkinan Tetapi sekarang...
Untuk pertama kalinya Nadia merasa bahwa dirinya tidak lagi sedang membayangkan sesuatu.
Ada sesuatu yang benar-benar disembunyikan Adrian.
Dan apa pun itu, nilainya sudah tidak bisa dianggap kebetulan lagi.
Yang paling membuatnya sakit bukanlah perhiasan Dior itu.
Melainkan kenyataan bahwa Adrian rela membeli sesuatu yang begitu mahal untuk seseorang...
sementara wanita yang telah menemaninya berjuang selama lima tahun pernikahan bahkan tidak pernah menerima perhatian yang sama.
Sepulang kerja, Nadia tidak langsung kembali ke apartemen.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melakukan sesuatu yang biasanya tidak pernah ia lakukan.
Mobilnya berhenti di depan butik Dior yang berada di salah satu pusat perbelanjaan mewah Jakarta. Dari luar, toko itu terlihat elegan dengan etalase yang dipenuhi perhiasan dan aksesori berkilauan di bawah cahaya lampu.
Nadia berdiri beberapa saat di depan pintu kaca.
Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Sebagian dirinya merasa ini berlebihan.
Sebagian lagi merasa ia berhak mengetahui kebenaran.
Pada akhirnya, ia tetap melangkah masuk.
Suasana butik begitu tenang dan eksklusif.
Seorang staf langsung menyambutnya dengan ramah.
Nadia mencoba bersikap santai meski pikirannya sedang kacau.
Setelah berbasa-basi beberapa menit, ia perlahan mengarahkan pembicaraan ke hal yang sebenarnya ingin ia ketahui.
"Tadi saya dengar suami saya sempat datang ke sini beberapa hari lalu."
Staf tersebut tetap tersenyum profesional.
"Saya minta maaf, Bu. Kami tidak dapat memberikan informasi mengenai pelanggan lain."
Nadia sudah menduga jawaban itu.
Butik seperti ini tentu memiliki aturan privasi yang ketat.
Beberapa menit kemudian Nadia akhirnya keluar.
Namun rasa kecewa masih tertinggal di dalam dadanya.
Saat berjalan menuju area parkir, langkahnya tiba-tiba melambat.
Dari kejauhan, ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya.
Bianca.
Wanita itu baru saja memasuki butik Dior.
Nadia langsung berhenti, Tubuhnya membeku.
Matanya mengikuti setiap gerakan Bianca dari balik kerumunan pengunjung.
Beberapa menit berlalu.
Lalu Bianca keluar sambil membawa sebuah kotak kecil berwarna khas Dior yang tersimpan di dalam tas belanja eksklusif.
Nadia merasakan jantungnya berdetak semakin keras.
Mungkin itu tidak berarti apa-apa.
Bianca mampu membeli barang mewah dengan uangnya sendiri.
Namun setelah semua yang terjadi beberapa hari terakhir, pemandangan itu terasa sulit untuk diabaikan.
Nadia menunggu hingga Bianca menghilang dari pandangan.
Kemudian ia berbalik dan masuk kembali ke dalam butik, kali ini dengan tujuan berbeda.
Staf yang tadi melayaninya masih berada di sana.
Nadia tersenyum sopan.
"Saya ingin melihat koleksi perhiasan terbaru."
Beberapa kotak perhiasan kemudian dikeluarkan satu per satu.
Kalung.
Gelang.
Anting.
Cincin.
Semuanya ditunjukkan dengan pelayanan terbaik.
Nadia memperhatikan setiap detail dengan saksama.
Sampai akhirnya matanya tertuju pada sebuah kalung
Dan entah kenapa ia langsung teringat pada kotak yang dibawa Bianca beberapa menit lalu.
"Yang ini cantik."
Ia menunjuk kalung tersebut.
"Saya ingin melihatnya."
Nadia yang semula sudah berniat pergi akhirnya menghentikan langkahnya.
Entah karena rasa penasaran atau karena naluri yang selama ini membantunya memecahkan berbagai perkara hukum, ada sesuatu yang membuatnya kembali mendekati etalase perhiasan tersebut.
Ia tersenyum sopan kepada staf yang sejak tadi melayaninya.
"Tadi teman saya baru saja ke sini," ucap Nadia setenang mungkin. "Sepertinya dia mengambil pesanan khusus."
Staf itu langsung mengangguk seolah memahami yang dimaksud.
"Oh, yang kalung custom itu, Bu?"
Jantung Nadia berdetak sedikit lebih cepat.
Namun wajahnya tetap tenang.
"Kalau tidak salah."
Staf tersebut tampak antusias menjelaskan.
"Itu memang pesanan khusus. Bahkan desainnya tidak tersedia di butik Indonesia."
Nadia merasakan jemarinya perlahan menegang.
"Dipesan dari luar negeri?"
"Ya, Bu. Material dan desain awalnya didatangkan langsung dari Hong Kong sekitar seminggu yang lalu."
Kurang lebih waktu yang sama ketika berbagai kejanggalan mulai ia sadari.
Namun ia tetap mendengarkan.
"Awalnya desainnya berbeda," lanjut staf itu.
"Ada perubahan?"
"Iya."
Wanita itu tersenyum kecil sambil mengingat proses pemesanannya.
"Awalnya model standar koleksi eksklusif. Tapi kemudian pelanggan meminta modifikasi pada bagian tengah."
Nadia menatapnya.
"Modifikasi seperti apa?"
"Penambahan inisial."
Untuk sesaat dunia di sekitar Nadia terasa sedikit menjauh.
"Inisial?"
ulangnya pelan.
Staf itu mengangguk.
"Modelnya cukup romantis sebenarnya."
Wanita itu membuka katalog digital di tablet.
"Bagian tengah berbentuk simbol hati kecil."
Nadia berusaha mempertahankan napasnya tetap stabil.
Lalu staf itu melanjutkan dengan nada santai.
"Di dalamnya ada dua huruf inisial."
Nadia tidak tahu kenapa dadanya tiba-tiba terasa begitu berat.
Padahal ia belum mendengar apa pun.
Belum mengetahui apa pun.
Namun ada perasaan buruk yang perlahan muncul.
Perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
Seolah hatinya sudah mengetahui sesuatu sebelum pikirannya mampu menerimanya.
"Saya juga tertarik kalau desain seperti itu."
Nadia memaksa dirinya tersenyum.
"Saya sedang mencari ide hadiah."
Staf tersebut langsung terlihat senang.
"Tentu, Bu."
"Kalau misalnya saya ingin desain serupa?"
Wanita itu mulai menunjukkan beberapa contoh desain di tablet.
Lalu tanpa sengaja memperlihatkan sketsa pesanan yang baru saja selesai diproduksi.
Mata Nadia langsung terpaku.
Di tengah desain berbentuk hati kecil itu terdapat dua huruf.
B.
A.
BA.
Nadia membeku.
Seketika.
Napasnya seperti tertahan di tenggorokan.
Pikirannya kosong selama beberapa detik.
Tidak mampu memproses apa yang baru saja dilihatnya.
Karena hanya ada satu nama yang langsung muncul di kepalanya.
Bianca.
"Bu?"
Suara staf itu terdengar jauh.
"Apakah desainnya sesuai keinginan?"
Nadia masih menatap layar tablet, huruf-huruf itu terlihat sederhana, hannya dua inisial.
Namun saat ini terasa lebih tajam daripada bukti apa pun yang pernah ia temukan dalam kariernya sebagai pengacara.
Pikirannya mulai menghubungkan semuanya.
Bianca yang semakin sering berada di divisi Adrian.
Kalung khusus yang dipesan dari Hong Kong dengan inisial BA.
"Bu?"
Staf itu kembali memanggilnya, barulah Nadia tersadar, Ia segera mengalihkan pandangan.
Memaksakan senyum tipis.
"Oh... cantik."
Hanya itu yang mampu ia ucapkan. Namun pikirannya sudah melayang jauh. Bahkan ia tidak lagi benar-benar mendengar penjelasan staf mengenai kadar emas, berlian, atau proses pemesanannya.
Karena saat itu hanya ada satu pertanyaan yang terus berulang di dalam kepalanya.
Apakah BA berarti Bianca?
Atau...
Apakah dirinya sedang melihat bukti pertama bahwa semua kecurigaannya selama ini ternyata benar?
coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah