Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.
Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Pergi Saat Aku Baru Menemukanmu
Backstage ballroom perlahan mulai sepi. Para kru membereskan perlengkapan, dan beberapa orang termasuk Tania dan Rike sudah mulai meninggalkan tempat. Sebenarnya Rike mau bertahan, menunggu Joyce. Namun Tania mengajaknya pergi, karena merasa jika dua orang itu butuh untuk saling bicara.
Lampu-lampu panggung satu per satu dipadamkan. Namun Joyce dan Ardian masih berdiri di tempat yang sama. Terpisah hanya beberapa langkah. Dan dipisahkan oleh begitu banyak hal yang tidak terucapkan.
Beberapa saat kemudian, akhirnya
"Aku nggak tahu harus marah ke siapa."
Suara Joyce terdengar lebih pelan sekarang. Lebih lelah. Dia terlihat tidak memiliki semangat, sangat berbeda dengan penampilannya di stage beberapa menit yang lalu.
"Aku bahkan nggak tahu siapa yang salah."
Ardian mengembuskan napas perlahan, kemudian.
"Aku juga sedang mencari jawabannya."
Joyce tertawa hambar. Tapi suara tawa itu seperti sebuah sarkas, sebuah sindiran.
"Masalahnya, kamu tetap bagian dari keluarga itu."
“Dan untuk sementara waktu, aku tidak mau dekat dengan keluarga itu. Termasuk kamu.”
Kalimat itu menghantam Ardian tepat di tempat yang paling sakit. Karena ia tahu Joyce benar. Seberapa besar pun ia ingin memisahkan diri dari masa lalu keluarganya... darah Mahendra tetap mengalir di tubuhnya.
"Aku nggak bisa mengubah siapa keluargaku."
“Karena aku tidak bisa memilih harus terlahir dari keluarga mana.” kata Ardian pelan.
"Tapi aku bisa memilih siapa yang ingin aku lindungi Joyce."
“Aku memilih untuk melindungimu.”
“Trust me..”
Mata Joyce langsung berkaca-kaca mendengar perkataan Ardian yang terdengar tulus.
"Jangan." Bisiknya.
"Jangan baik sama aku sekarang."
"Kenapa?"
"Karena aku takut mulai bergantung."
"Bergantung dengan keluarga Mahendra.”
Hening. Sangat hening. Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal, Joyce mengungkapkan ketakutan yang paling dalam. Selama ini ia selalu kuat sendiri. Selalu mengandalkan dirinya sendiri. Dan sekarang... kehadiran Ardian mulai menjadi sesuatu yang ia tunggu. Sesuatu yang ia butuhkan. Dan itu menakutkan. Sangat menakutkan. Dia ingin melepaskan itu semua.
Ardian melangkah sedikit mendekat. Tidak memaksa. Tidak terlalu dekat. Hanya cukup untuk membuat Joyce tahu bahwa ia mendengarkan.
"Joyce."
"Hm?"
"Aku nggak akan memintamu mempercayaiku malam ini."
Mata mereka bertemu. Hati Joyce serasa bergolak
"Tapi aku akan tetap ada."
"Akan tetap ada, sampai kapanpun.”
"Aku nggak tahu sampai kapan aku bisa bertahan."
"Pergilah Ardian.. menjauhlah dariku.”
"Aku tidak mau sakit lagi Ardian.., pahami aku."
Suara Joyce bergetar. Namun Ardian malah semakin mendekat, kemudian..
“Meskipun aku diusir, aku akan tetap bertahan”
“Aku akan membantumu melewati semua.”
"Aku benar-benar lelah Ardian."
“Aku ingin memejamkan mataku selamanya.”
„Melupakannya, dan terlahir lagi. Kemudian aku kehilangan ingatan semuanya.”
Tatapan Ardian melembut. Dia merasakan kesedihan mendalam pada gadis yang sangat berarti untuknya.
"Kalau begitu istirahat."
“Dan jangan terlalu banyak berpikir.”
“Cukup, hanya istirahat.
"Aku nggak bisa."
"Kenapa?"
Air mata kembali menggenang.
"Karena kalau aku berhenti bergerak..."
Suaranya pecah.
"...aku harus menghadapi semuanya."
Dan untuk pertama kalinya Ardian benar-benar memahami. Joyce tidak bekerja karena ambisi. Joyce bekerja karena takut sendirian dengan pikirannya sendiri. Dia ingin memeluk erat gadis rapuh di depannya itu. Namun.. Ardian tidak kuasa melakukannya.
“Sudahlah.. aku akan mengantarmu pulang.”
„Tidak.., aku masih mau disini.”
Ardian tersenyum lembut, dan melihat ke sekeliling yang sudah mulai sepi. Beberapa lampu sudah mulai padam.
“Keberadaan kita mengganggu orang lain Joy.., mengertilah.”
Joyce tersentak, dan melihat ke arah sekeliling. Melihat ada beberapa crew yang tampak masih menunggunya, akhirnya gadis itu tanpa bicara langsung melangkahkan kakinya. Ardian mengikuti di belakang. Sampai akhirnya di lobby.
“ikutlah denganku, Raka sudah menunggu..”
“Aku akan pulang sendiri.”
Joyce masih mencoba untuk bertahan. Tidak diduga tanpa banyak bicara, Ardian tiba-tiba mengangkat Joyce dan memasukkan ke mobil yang sudah ada di depannya. Dia tidak kuasa menolak, dan seperti sudah mendapatkan perintah, Raka langsung mengunci pintu mobil, dan membawanya pergi membelah malam.
***************
Malam itu mereka pulang tanpa banyak bicara. Tidak ada percakapan sepanjang jalan. Hanya sepi, dan Raka juga tidak berani untuk mengganggu. Dia tahu bagaimana boss nya sangat peduli pada Joyce. Dan mungkin sudah jatuh cinta padanya.
Namun sebelum Joyce masuk ke apartemennya, Ardian berkata pelan,
"Kamu nggak harus lari."
“Diamlah.. jalani keseharianmu.”
“Waktu yang akan menghapus semua lukamu.”
Joyce tersenyum kecil. Senyum yang sangat sedih.
"Kadang lari adalah satu-satunya cara bertahan hidup."
“Hal itulah yang selalu menjadi solusi terbaikku.”
Dan Ardian tidak pernah tahu betapa seriusnya kalimat itu. Sampai punggung Joyce masuk ke dalam unitnya, Ardian tidak menyadari makna kalimat itu.
***********
Dua minggu kemudian. Tidak ada yang berubah. Atau setidaknya itulah yang terlihat dari luar. Joyce tetap bekerja. Tetap menjadi MC. Tetap menghadiri acara demi acara. Tetapi jauh di dalam dirinya... sebuah keputusan mulai terbentuk. Keputusan itu hanya dia sendiri yang tahu. Bahkan Rike dan Tania, dua orang sahabat terdekatnya juga tidak mengerti apapun. Raka juga tidak melaporkan hal ganjil pada Ardian.
Perlahan. Diam-diam. Joyce punya rencana sendiri, yang dirahasiakan dari orang-orang terdekatnya. Dan semakin hari semakin kuat, untuk mewujudkan keputusannya itu.
**********************
Suatu malam.
Setelah menyelesaikan sebuah konferensi internasional, Joyce duduk sendirian di depan laptop. Beberapa saat dia berpikir, seperti mempertimbangkan sesuatu. Sejenak, seakan ada pergolakan dalam dirinya. Sedangkan pada layar laptop menampilkan sebuah situs resmi.
Global Communication Fellowship Program
Singapura, Thailand, Vietnam. Satu tahun. Program internasional untuk komunikasi publik, media, dan event management. Peserta terpilih akan mendapatkan visa kerja, pelatihan profesional, dan peluang karier di luar negeri.
Joyce menatap layar itu lama. Sangat lama. Lalu membuka formulir pendaftaran.
“Aku akan mencoba untuk menyendiri.”
“Mungkin satu tahun, dua tahun, atau bahkan untuk waktu yang tidak bisa aku tentukan sendiri.”
Sesaat Joyce terdiam, namun jari jemarinya sibuk mengetik, mengisi formulir yang ada di depannya. Dia terlihat fokus, dan sudah siap dengan segala konsekuensi akan tindakannya.
“Tidak ada alasan aku pergi.”
“Aku hanya ingin menyudahi kekacauan ini.”
“Sambil menata hati, menyiapkan diri untuk menghadapi semuanya.”
Tidak ada alasan yang menyedihkan, saat dia membuat keputusan itu. Bukan karena ia membenci Jakarta. Bukan karena ia membenci pekerjaannya. Dan bukan karena ia tidak peduli pada Ardian. Justru sebaliknya. Karena semuanya terasa terlalu berat. Ibunya. Masa lalunya. Keluarga Mahendra. Ardian.
Semuanya bercampur menjadi satu kekacauan yang membuatnya sulit bernapas. Dia ingin melegakan semua pikirannya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya... Joyce ingin pergi. Jauh. Sangat jauh.
Ke tempat yang tidak mengenalnya.
Ke tempat yang tidak memiliki kenangan.
Ke tempat yang tidak menyimpan luka.
Setelah berpikir untung rugi, akhirnya Joyce memilih negara Vietnam sebagai tujuan. Memilih Vietnam untuk belajar selama satu tahun adalah keputusan strategis karena negara ini menawarkan biaya hidup yang sangat terjangkau, sistem pendidikan yang berkualitas tinggi, serta peluang membangun koneksi internasional di salah satu pusat ekonomi Asia yang sedang berkembang pesat.
“Aku yakin di negara ini aku akan cocok. Vietnam memiliki lanskap alam yang sangat beragam, mulai dari pegunungan dramatis hingga perairan eksotis.”
„Perlahan aku akan bisa melupakan semuanya.”