Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.
Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”
Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 JANGAN!
Suasana ruang tamu tiba-tiba sunyi. Salam perkenalan itu memang hanya terjadi beberapa detik. Tapi bagi Satria, rasanya seperti terhenti di 18 tahun lalu.
‘Putri dari Nimas Ayu.’
Kalimat itu terus terngiang-ngiang di pikiran Satria. Hingga obrolan antara Miss Panda dan Mbah Sekar sama sekali tidak terdengar di telinganya. Tatapan mata Satria hanya terfokus pada Dira.
“Dira, apakah obatnya sudah diminum lagi?” tanya Miss Panda sambil meraba punggung tangan Dira.
“Sudah, Miss. Dua jam lalu.”
“Telapak tangan kamu dingin. Sedangkan tubuhmu teraba semakin demam. Miss antar ke rumah sakit, ya?”
Miss Panda mencoba menawari pertolongan untuk Dira. Sedangkan di sudut matanya yang lain. Miss Panda merasa aneh dengan sikap Satria yang tidak seperti biasa.
“Mas, kenapa berdiri saja? Ayo cepat duduk,” pinta Miss Panda sambil menarik tangan Satria.
Karena fokus kedatangan Miss Panda hanya untuk menjenguk Dira. Membuat Miss Panda mengalihkan diri dari rasa curiga yang menyelimuti hatinya.
Kini, Satria hanya duduk sambil terus memperhatikan Dira. Sedangkan Miss Panda menahan pertanyaan di pikirannya.
“Dira, Miss antar berobat ya?” tawar Miss Panda kembali karena tahu keadaan Dira membutuhkan penanganan.
Obat yang baru saja dikonsumsi hanya bereaksi sebentar. Suhu tubuh Dira masih tetap tinggi. Justru sekarang semakin tinggi.
Kata yang sebelumnya sempat turun, ternyata hanya sebentar saja. Hal itu membuat Miss Panda semakin panik.
“Kamu pusing gak? Ada mual muntah?”
Dira hanya mengangguk pelan. Tatapan matanya tampak lemah.
“Wajah dan juga bibir kamu pucat. Miss antar kamu ke rumah sakit sekarang, ya?”
“Terima kasih banyak sudah mengkhawatirkan Dira, Miss. Tapi, Dira masih bisa…”
“Demam seperti ini gak boleh dianggap remeh. Yang kamu khawatirkan apa, Dira?” potong cepat Miss Panda.
“Biaya pengobatan?” tanya Miss Panda cepat yang membuat Dira diam saja.
“Kamu gak perlu khawatir tentang masalah itu. Biarkan Miss aja yang membayar semuanya.”
“Jangan Miss. Dira tidak mau punya hutang budi ke Miss Panda.”
Penolakan Dira membuat Satria yang mendengar nelangsa. Hidup dalam keterbatasan membuat Dira tetap kekeh dengan pendiriannya. Sifatnya sama persis seperti…
‘Diriku,’ batin Satria.
“Siapa bilang punya hutang budi. Yayasan memiliki dana kesehatan untuk peserta didik dan kamu berhak atas itu.”
“Tapi, Mbah gak bisa menjadi penanggung jawab Dira. Karena harus menjaga Ibu di rumah. Jadi, siapa yang akan menjadi penanggung jawab Dira.”
Kata ibu yang keluar dari mulut Dira. Langsung memfokuskan Satria ke kamar belakang.
Sosok sayup-sayup bayangan seseorang di balik pintu. Menjadi perhatian Satria. Di rumah itu hanya ada 3 orang. Dira dan Mbah Sekar kini duduk di hadapannya. Maka, sosok bayangan itu sudah bisa dipastikan adalah Nimas.
“Biarkan saja…”
“Izinkan Bapak yang menjadi penanggung jawabmu,” jawab Satria cepat sebelum Miss Panda menyelesaikan ucapannya.
Ucapan Satria apalagi menyebut dirinya sebagai seorang bapak. Jelas mencuri perhatian Miss Panda dan juga Mbah Sekar. Apalagi ada kata penekanan yang dilakukan Satria.
Satria yang sadar mendapatkan tatapan penuh pertanyaan baik dari Miss Panda maupun Mbah Sekar. Langsung mencari alasan tepat agar tidak ada kecurigaan.
“Kalau Panda keberatan,” ucap Satria yang membuat kening Miss Panda semakin mengerutkan dalam.
“Aku sama sekali tidak keberatan menjadi penanggung jawab Dira. Tapi, karena Mas Satria sudah menawarkan diri. Ya gak apa-apa biarkan Mas Satria saja penanggung jawab Dira.”
Kini Dira tampak bingung. Keduanya sama-sama baik di matanya.
“Ikut berobat sama Miss Panda saja, Nduk. Mbah percaya pada Miss Panda dan juga Nak Satria akan menjagamu dengan baik.”
Entah kenapa kata-kata Mbah Sekar seperti hujaman langsung ke dada Satria. Sangat tajam hingga kembali mampu menghentikan nafas Satria sejenak.
Jika Nimas bukanlah perempuan yang Satria cari. Semua akan aman karena menganggap Satria orang bertanggung jawab.
Namun, jika memang benar Nimas sosok perempuan yang Satria cari 18 tahun yang lalu. Maka, habislah hidup Satria saat ini juga.
Tidak hanya dibenci oleh keluarganya sendiri dan membuat rasa kecewa Kakek Wirawan maupun Miss Panda. Namun, Satria akan kehilangan segalanya. Kepercayaan keluarga, hancurnya karir yang dibangun selama puluhan tahun, serta yang tidak kalah menyakitkan kehilangan harapan.
“Dira pamit sama Ibu dulu ya, Mbah. Takut kalau sampai Ibu cariin Dira.”
“Iya, ayo Miss temani.”
Panda yang sebelumnya pernah melihat secara langsung sosok Nimas. Kini ingin kembali melihatnya.
Kecantikan serta perjuangan hidup yang dialami Nimas. Membuat Miss Panda merasa salut sekaligus kagum. Meskipun ada luka sekaligus noda menyertai perjalanan itu.
“Mas, tetap disini saja. Jangan ikut masuk!” ucap penuh peringatan Miss Panda. Sebab, Miss Panda tahu penyebab trauma yang dialami oleh Nimas.
Dira yang baru masuk ke ruang tengah, tampak kaget melihat Nimas duduk di lantai membelakangi tembok.
“Ibu.”
“Em,” jawab Nimas.
Suara lembut Dira untuk Nimas. Menimbulkan kenyamanan yang Satria rasakan. Matanya tidak lepas sedetikpun dari sosok bayangan Nimas.
“Dira izin berobat dengan ditemani Miss Panda dan juga Bapak…”
Dira tidak melanjutkan ucapannya, karena baru menyadari Satria tidak mengucapkan sepatah katapun saat memberi salam. Membuat Miss Panda yang ada di tempat tersebut membisikkan nama Satria.
“Namanya Mas Satria, Dira.”
“Ditemani sama Bapak Satria. Apakah Ibu mengizinkan?”
Saat nama Satria disebut. Secara otomatis Nimas mengingat kejadian 18 tahun yang lalu. Bayang-bayang papan nama dada sebelah kanan tertulis sama persis dengan seseorang. Membuat Nimas menggenggam erat pergelangan tangan Dira.
“Satria?” gumam Nimas bertanya-tanya dengan pandangan mata tidak tenang serta ketakutan.
“Benar, apakah Ibu memberikan…?”
“Jangan,” ucap singkat penuh larangan Nimas sebelum Dira menyelesaikan ucapannya.
Mbah Sekar yang mendengar langsung mendekati Nimas. Apalagi genggaman tangan kuat yang diberikan oleh Nimas.
“Nimas, Dira sedang sakit. Harus diperiksa dokter. Ada Miss Panda dan juga Nak Satria ingin mengantar Dira berobat. Mereka orang baik, jadi kamu tidak perlu khawatir.”
“JANGAN!” teriak Nimas histeris semakin menggenggam lebih erat tangan Dira.
“Nimas,” ucap Mbah Sekar khawatir.
Jika sebelumnya hanya genggaman erat. Kini Nimas justru menarik Dira untuk masuk ke kamar. Melepaskan genggaman tangan Miss Panda di tangan Dira.
“LEPAS!”
BRAK!
Pintu kamar tertutup sangat keras akibat bantingan yang dilakukan Nimas. Meninggalkan Mbah Sekar dengan tatapan tidak enak hati ke Miss Panda.
“Maafkan putriku, Miss Panda,” ucap Mbah Sekar.
“Sejak Nimas mulai mengenal Dira sebagai putrinya serta keadaan kejiwaannya semakin membaik. Nimas berlebihan dalam memandang seseorang. Mungkin takut Dira kenapa-napa. Hal sangat lumrah untuk seseorang yang pernah mengalami trauma,” ucap Mbah Sekar.
“Tidak apa, Mbah. Kami coba mencari jalan lain.”
Miss Panda jelas tidak ingin memaksakan kehendaknya. Lagipula Nimas memang lebih berhak atas diri Dira. Jelas mencari jalan aman adalah pilihan tepat untuk saat ini.
Saat pikiran Miss Panda tiba-tiba tumpul. Kini tatapan matanya ke arah Satria, mencoba meminta bantuan kakak satu-satunya yang dianggap cerdas dalam hal apapun.
“Mas, coba cari jalan lain. Panggil dokter pribadi keluarga kita atau bagaimana. Dira harus mendapatkan penanganan saat ini juga. Aku gak mau dia kenapa-napa,” pinta Miss Panda.
Tidak hanya Miss Panda yang mengalami kesulitan berpikir. Dirinya pun juga mengalami hal sama. Apalagi saat bayang-bayang tragedi menyelimuti.
“Mas.”
“Iya, aku hubungi dokter keluarga kita sekarang juga.”
Satria jelas masih kepikiran dengan ucapan Nimas. Kata “Jangan” dari Nimas benar-benar menghantam Satria untuk bisa mendekat ke keluarganya.
Saat itu dirinya masih mengenakan seragam PDH lengkap dengan nama SATRIA tersemat di bagian kanan. Jika keadaan saat itu Nimas sadar duluan dibandingkan dirinya. Jelas Nimas mengenali namanya.
Hufff…
Hembusan nafas terdengar cukup kencang di telinga Miss Panda. Hal asing yang dilihat dari sosok kakak kebanggaan.
Di dalam kamar, Nimas hanya menangis di balik pintu. Mendengar nama Satria, entah kenapa membuat dadanya terasa sesak.
Dira dengan keadaan tubuh lemah mencoba mendekati Nimas. Tahu betul trauma itu masih ada dan belum sembuh sepenuhnya.
“Jika Ibu tidak memberikan izin Miss Panda dan Bapak Satria untuk Dira diperiksa dokter. Tidak apa-apa, yang penting Ibu merasa nyaman,” ucap Dira sambil mengusap lembut punggung tangan Nimas.
Telapak tangan teraba dingin dan kulit terasa demam. Langsung menghentikan tangisan Nimas. Menatap Dira dengan penuh kekhawatiran.
“Demam, Dira.”
“Dira gak apa-apa. Dira baik-baik saja asal Ibu merasa nyaman,’ ucap Dira sambil mencoba tetap tersenyum. Meskipun wajah pucat Dira semakin terlihat jelas.
Nimas yang tahu Dira demam. Langsung berlari menuju meja tempat gelas berisi air. Menuangkan isinya ke sapu tangan di samping ranjang.
“Dira demam. Dira harus sehat,” ucap Nimas sambil mengompres kening Dira.
Perhatian kecil yang ditunjukkan oleh Dira. Sudah kemajuan luar biasa dari Nimas. Dira yang melihat perkembangan sangat pesat itu hanya bisa meneteskan air matanya.
Disaat Dira ingin sekali memeluk tubuh Nimas. Justru tubuhnya masih lemah.
“Dira gak boleh sakit. Dira harus tetap sehat,” ucap Nimas khawatir lalu berlari menuju ke pintu kamar.
BRAK!
Pintu kamar yang kembali terbuka. Mengalihkan pandangan semua orang tanpa terkecuali.
“Dira sehat. Dira tetap harus sehat.”
Sambil bergumam memikirkan kesehatan Dira. Nimas mengambil air dalam keadaan gemetaran di ruang tamu tanpa memperdulikan orang-orang di tempat itu.
Entah untuk mengompres karena sapu tangan sebelumnya sudah mulai kering, atau untuk minum Dira sebagai salah satu cara menurunkan suhu tubuh. Fokus Nimas hanya satu. Dira harus tetap sehat.
Dari sudut lai ruang tamu. Satria yang bisa melihat Nimas secara langsung. Tidak mampu berkata-kata.
Meskipun bayang-bayang perempuan itu tidak terlalu jelas. Tapi, wajah gugup dan air mata yang saat ini terlihat di wajah Nimas sama persis. Membuat kaki Satria terasa lemah hingga harus menggenggam apapun di sekitarnya.
“Nimas,” lirih Satria yang tenggorokan terasa tercekat.
Dadanya terasa nyeri saat hujaman kenyataan itu menembus relung hatinya. Kenyataan tentang sosok yang diketahui sudah meninggal dunia 18 tahun lalu. Ternyata masih hidup dengan kondisi jiwa terganggu.
Ceritanya keren 👍