NovelToon NovelToon
Istriku Memiliki Dua Wajah

Istriku Memiliki Dua Wajah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:238
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

BAB 22: PERTEMUAN RAHASIA

"Di balik pintu tertutup, di balik tirai rapat, di balik segala alasan dan kebohongan... tersimpan pertemuan yang menjadi pusat dari segala pusaran. Pertemuan yang bukan sekadar temu kangen, melainkan momen di mana dosa-dosa mereka dihitung, rencana kejahatan disusun, dan nasib orang lain ditentukan dengan santai seolah membicarakan harga barang dagangan."

Arka dan Daniel turun perlahan ke pekarangan belakang vila yang luas dan gelap. Tanah di sini tertutup rumput tebal dan dedaunan kering, membuat langkah mereka tak bersuara sedikit pun, seolah mereka adalah dua bayangan yang menyusup masuk ke wilayah terlarang. Di kejauhan, dari balik dinding kaca ruang tengah yang diterangi cahaya hangat, suara musik dan percakapan samar kembali terdengar, makin jelas kini mereka berada di dalam pagar.

Arka mengintip diam-diam dari balik jendela samping yang sedikit terbuka karena celah ventilasi. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena rasa cemas atau ragu, tapi karena ketegangan menatap langsung sumber dari segala penderitaannya.

Di dalam sana, pertemuan rahasia itu sedang berlangsung sepenuhnya.

Elena—atau lebih tepatnya Claire—duduk bersila di atas sofa besar, tubuhnya bersandar nyaman di lengan Adrian, kepalanya disandarkan di bahu pria itu. Adrian sendiri duduk dengan santai namun berwibawa, satu tangannya melingkar erat di pinggang wanita itu, sementara tangan lainnya memegang segelas minuman beralkohol yang kini sudah hampir tandas. Di meja depan mereka, berserakan kertas-kertas dokumen, buku catatan tebal, dan alat tulis mahal.

Pemandangan itu indah dan mesra di mata orang luar. Pasangan yang serasi, kaya raya, penuh kasih sayang. Tapi bagi Arka, pemandangan itu adalah neraka yang nyata. Setiap sentuhan, setiap senyum, setiap bisikan... semuanya dibayar mahal dengan kebohongan, pencurian, dan darah orang yang telah mereka bunuh.

"Semua berjalan mulus, Adrian," suara Claire terdengar renyah dan percaya diri, nada bicaranya tajam dan berwibawa, jauh berbeda dari nada manja dan polos yang biasa ia pakai di Jakarta. "Dua tahun ini tidak ada yang curiga. Bank, notaris, teman-teman, tetangga... semuanya percaya aku Elena Wijaya yang sah. Dan suamiku... ah, dia adalah mahakaryaku yang paling hebat. Dia mencintaiku begitu buta sampai-sampai kalau aku suruh dia terjun ke jurang, dia akan lakukan dengan senyum."

Adrian tertawa rendah, suara berat yang penuh kesombongan. Ia mencium puncak kepala Claire dengan bangga.

"Kau memang jenius, Sayang. Aku tidak salah memilihmu. Kau memerankan gadis lugu itu lebih baik dari aktor profesional sekalipun. Menikah dengannya adalah langkah paling cerdas yang pernah kita ambil. Identitas Elena kini tak tergoyahkan lagi. Ada akta nikah, ada suami sah, ada kehidupan sosial yang lengkap. Tak ada satu pun polisi atau penyidik yang akan menggali masa lalu lebih dalam lagi sekarang ini."

Claire tersenyum miring, senyum yang dingin dan penuh penghinaan. Ia mengambil selembar kertas dari meja, kertas yang Arka kenal betul... itu halaman buku tabungan miliknya yang pernah ia lupa simpan di meja kerja rumah.

"Lihat ini. Gajinya kecil, tabungannya sedikit. Dia bekerja keras setiap hari hanya untuk memberi nafkah kepadaku. Dia bangga sekali bisa membelikanku hadiah-hadiah murah yang dia kira mewah. Dia pikir aku senang. Dia pikir aku berterima kasih. Dia tidak tahu... uang makan yang dia berikan kepadaku sebulan, tidak cukup bahkan untuk membayar satu kali cuci mobilku di sini."

Claire dan Adrian tertawa berbarengan. Tawa yang menusuk langsung ke dada Arka, tawa yang merendahkan, tawa yang menganggap hidupnya, kerja kerasnya, dan cintanya hanyalah lelucon murahan.

"Dan dia tidak pernah bertanya soal uangku," sambung Claire, matanya berkilat jahat. "Uang warisan orang tuaku yang katanya 'masih dikunci notaris'. Dia percaya saja. Dia pikir aku wanita sederhana yang tidak mau bergaya. Dia tidak tahu, di rekening pribadiku ada miliaran uang hasil penjualan aset keluarga Wijaya yang kita cairkan diam-diam. Uang itu milikku sepenuhnya, Adrian. Milik kita."

Arka mengepal tangannya kuat-kuat hingga kuku menancap ke daging. Di dalam sana, wanita yang ia beri makan, ia beri tempat tinggal, ia beri cinta kasih... sedang membicarakannya seolah ia adalah semut kecil yang tak berarti. Semua pengorbanan, semua kejujuran, semua ketulusan... dibalas dengan cemoohan dan penghinaan.

"Tapi kita harus bergerak cepat," suara Adrian berubah menjadi serius, berat dan penuh perhitungan. Ia menunjuk tumpukan dokumen di meja. "Semua aset sudah dijual, tanah-tanah sudah berpindah tangan, perusahaan penampung kita sudah bubar dan bersih dari jejak. Tinggal satu langkah terakhir."

Adrian mengambil botol kaca kecil yang dulu Arka lihat malam itu, botol berisi racun mematikan. Ia meletakkannya di atas meja, tepat di depan mata Claire.

"Menghapus jejak terakhir. Suami dari Elena Wijaya."

Suasana di dalam ruangan berubah seketika. Musik klasik yang mengalun pelan seolah ikut berhenti. Claire menatap botol itu, senyumnya perlahan menghilang digantikan ekspresi yang sulit dimengerti. Campuran antara ketegasan, keraguan kecil, dan ambisi yang besar.

"Apakah benar harus begitu, Adrian?" tanyanya pelan, jarinya menyentuh kaca dingin botol itu. "Dia tidak pernah menyakiti siapa pun. Dia benar-benar baik padaku. Kalau aku tinggalkan saja dia, bercerai dengan alasan apa pun... bukankah itu cukup? Identitasku sudah aman tanpa dia."

Adrian mengerutkan kening, wajahnya mengeras. Ia mencondongkan tubuhnya mendekat, menatap tajam ke mata kekasihnya itu.

"Kau ragu, Claire? Kau lupa apa yang sudah kita lakukan untuk sampai ke sini? Kau lupa api yang kita nyalakan di rumah itu? Kau lupa siapa yang mati terbakar di sana? Selama dia masih hidup, selama dia masih menjadi suamimu... ada hubungan yang mengikat. Ada jejak yang bisa ditelusuri. Kalau suatu saat dia bertemu orang yang salah, kalau dia bertanya pada orang yang benar... semua yang kita bangun lima tahun ini akan runtuh dalam sekejap."

Adrian mengangkat tangan Claire, menggenggamnya erat.

"Kejahatan tidak mengenal ampun setengah hati, Sayang. Kau tahu itu. Kita sudah berjalan terlalu jauh untuk berhenti hanya karena kau merasa kasihan pada pria bodoh itu. Dia adalah kunci yang bisa membuka pintu masa lalu. Dan kunci itu harus dipatahkan, dibuang, dan hilang selamanya."

Claire diam saja. Wajahnya berubah gelap. Di matanya, bayangan wajah Arka melintas lagi. Wajah yang selalu menatapnya dengan kekaguman. Wajah yang selalu memaafkan. Wajah yang tadi pagi menatapnya dengan rasa sakit yang mendalam namun tanpa kebencian.

"Tadi pagi..." suara Claire terdengar hampir berbisik. "Dia tahu, Adrian. Dia tahu ada sesuatu yang salah. Dia menyebut namaku... nama asliku. Claire Nathania."

Adrian tersentak hebat. Wajahnya berubah pucat lalu merah padam menahan amarah.

"Siapa yang bilang padanya? Siapa?!" bentaknya rendah namun mengerikan.

"Tidak ada," jawab Claire cepat. "Dia menyimpulkannya sendiri. Dia mulai menyambungkan benang merah, seperti yang kau khawatirkan. Dia cerdas, Adrian. Lebih cerdas dari yang kita kira. Dan dia... dia mengikutiku ke sini. Aku melihatnya di luar. Di balik semak-semak."

Adrian bangkit berdiri kasar, napasnya memburu, matanya menyala marah sekaligus waspada. Ia melangkah cepat ke jendela, menarik tirai sedikit, mengintip ke kegelapan malam. Arka dan Daniel menekan tubuh mereka makin rendah, bersembunyi di sudut mati jendela.

"Kalau dia sudah sampai di sini, kalau dia sudah tahu nama itu... dia memang harus mati malam ini juga," ucap Adrian dingin, kembali berjalan ke meja dan mengambil botol racun itu, lalu menyodorkannya ke tangan Claire. "Tidak ada tawar-menawar lagi. Kau undang dia masuk. Kau pikat dia. Kau buat dia percaya kau terancam olehku, kau butuh pertolongan. Lalu kau berikan ini. Selesai sudah masalah kita. Besok pagi, kita kabarkan dia meninggal mendadak di sini karena sakit jantung. Tidak ada yang curiga. Dan kita bebas."

Claire menggenggam botol itu erat. Tangannya sedikit gemetar.

"Dan setelah itu?" tanyanya lirih.

"Setelah itu..." Adrian tersenyum kembali, senyum kemenangan yang paling murni. Ia memeluk bahu Claire, menatapnya dengan pandangan penuh janji. "Kita tinggalkan Indonesia. Kita pergi ke Eropa, hidup dengan nama baru, hidup dengan semua kekayaan ini. Kau bukan lagi Elena Wijaya. Kau bukan lagi Claire Nathania. Kau akan menjadi siapa saja yang kau inginkan. Dan kau akan menjadi milikku sepenuhnya, tanpa ada bayang-bayang suami bodoh itu lagi."

Claire mengangguk pelan. Topeng dinginnya kembali menutup rapat. Keraguannya dibuang jauh-jauh. Di sini, di pertemuan rahasia ini, keputusan akhir telah ditetapkan.

Arka mendengar semuanya. Menyaksikan semuanya. Jantungnya terasa remuk, namun matanya makin tajam dan jernih.

Di dalam sana, pertemuan rahasia itu telah selesai. Rencana pembunuhan telah ditandatangani. Nasibnya telah diputuskan oleh dua orang yang hidupnya telah ia habiskan untuk cintai dan percayai.

Mereka berpikir mereka berkuasa. Mereka berpikir mereka aman. Mereka berpikir pertemuan rahasia ini hanya milik mereka berdua.

Tapi mereka lupa.

Dinding punya telinga.

Dan malam ini, telinga itu adalah Arka.

Arka mundur perlahan dari jendela, menatap Daniel dengan pandangan yang tegas dan tak tergoyahkan.

"Mereka sudah menjatuhkan hukuman mati pada saya, Pak Daniel," bisiknya tanpa emosi, dingin seperti baja. "Sekarang giliran kita. Kita akan masuk ke sana. Dan kita akan hadirkan pertemuan rahasia ketiga... pertemuan antara mereka dan keadilan."

Daniel mengangguk, wajahnya serius. Ia mengeluarkan alat perekam yang sudah merekam seluruh percakapan itu dengan jelas dan jernih.

"Semua sudah ada buktinya, Pak Arka. Rencana pembunuhan, pengakuan penipuan identitas, pengakuan pencurian harta... semuanya terekam. Sekarang saatnya kita masuk dan menagih semuanya kembali."

Di dalam ruangan, Adrian dan Claire bersulang dengan gelas beradu, tertawa gembira seolah masa depan cerah sudah ada di genggaman tangan.

Mereka tidak tahu pintu sudah terbuka.

Mereka tidak tahu tamu tak diundang sudah mendengar segalanya.

Mereka tidak tahu bahwa pertemuan rahasia mereka... adalah pertemuan terakhir mereka dalam kebebasan.

Malam ini, kebohongan akan berhadapan dengan kebenaran.

Dan pertemuan itu... akan menjadi hal yang paling mengerikan yang pernah mereka alami.

— BERSAMBUNG.......

1
Key Kastara
✨🔥😍
MayAyunda
bagus👍
Ana Dww
aku tertarikkk
sena himura: iya,kak😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!