NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Iblis

Istri Kontrak Sang Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Transmigrasi ke Dalam Novel / Romansa Fantasi
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: flowy_

Terjebak dalam tubuh karakter figuran yang sakit-sakitan, seorang wanita harus bertahan hidup di dunia novel sebelum maut menjemputnya. Demi mendapatkan obat dan perlindungan dari keluarganya yang manipulatif, ia mengajukan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Axion, pria berjuluk "Iblis" kekaisaran.

Namun, pernikahan ini menjadi rumit karena setiap anggota keluarga menyimpan rahasia besar. Axion ternyata menyimpan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang penuh dendam, sementara putra angkat mereka adalah sosok misterius yang aslinya bukan berasal dari dunia manusia.

Meski awalnya penuh ketegangan dan instruksi untuk hidup saling mengabaikan, sikap sang suami perlahan berubah drastis. Pria yang semula dingin itu kini menjadi sangat protektif dan tidak segan bertindak kasar pada siapa pun yang merendahkan istrinya. Hubungan yang seharusnya berakhir dalam setahun kini berubah menjadi ikatan keluarga yang rumit namun tak terpisahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dewi Reltasia.

"Jadi, semuanya akan selesai jika aku pindah ke kediaman utama?"

"Benar."

Awalnya ia berniat menolak tanpa ragu, namun karena ini menyangkut Luceran, situasinya menjadi berbeda. Gabriella akhirnya mengangguk pelan.

"Baiklah, aku mengerti."

"Ibu mau ke mana?"

Luceran yang sejak tadi menyimak pembicaraan itu bertanya sambil menarik-narik ujung baju Gabriella.

"Ibu akan pindah ke tempat kita yang dulu bersama Luceran. Di sini terasa jauh lebih sempit di bandingkan tempat itu, kan?"

"Tidak!"

Luceran menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Luceran senang karena bisa bersama Ibu!"

Melihat senyum ceria Luceran, hati Gabriella terasa hangat. Ia pun mengusap lembut kepala putranya itu.

"Luceran, karena Ibu masih belum pulih dan belum bisa keluar, boleh Ibu minta bantuanmu?"

"Bantuan apa?"

"Tolong keluar sebentar, lalu beri tahu siapa pun yang ada di sana untuk membantu Ibu mengemas barang-barang."

"Luceran bisa melakukannya!"

Luceran mengepalkan tinju kecilnya dengan penuh semangat, lalu berlari pergi dengan langkah yang berisik.

Begitu Luceran keluar, seketika ruangan itu menjadi sunyi, bahkan terasa sedikit canggung. Setelah keheningan singkat, Gabriella akhirnya angkat bicara.

"Aku berharap kesempatan ini bisa membuatmu benar-benar menyayangi Luceran seperti anak kandung sendiri."

Perintah untuk membantu mengemas barang tadi hanyalah alasan. Gabriella sengaja membuat Luceran menjauh agar anak itu tidak mendengar percakapan serius mereka.

"Kau tidak perlu khawatir."

Axion menatapnya datar.

Sebagai orang yang telah membaca karya aslinya, Gabriella langsung paham dan mengangguk.

"Kalau begitu, aku akan berusaha untuk mulai menjaga jarak dengan Luceran secara perlahan."

'Perceraian dalam setahun adalah masa depan yang sudah di tentukan. Aku tidak boleh membiarkan Luceran terlalu nyaman denganku, atau dia akan sangat terluka saat aku pergi nanti.'

Bagaimanapun, orang yang akan menjadi keluarga Luceran di masa depan adalah Axion, bukan dirinya. Jika menginginkan kebahagiaan Luceran, maka pergi secara diam-diam sesuai kontrak adalah jalan yang paling benar.

"Tapi perlu ku ingatkan, soal bagaimana cara mendekati Luceran, itu urusanmu sendiri. Lakukanlah sesukamu."

Gabriella masih bertanya-tanya apa alasan pria itu tiba-tiba memintanya pindah ke kediaman utama.

Gabriella pun menarik kesimpulannya sendiri.

'Dia pasti ingin aku menjadi jembatan antara dirinya dan Luceran.'

Namun, Gabriella tahu betul betapa dinginnya sikap Axion kepada Luceran selama ini. Ia sama sekali tidak berniat membantu pria itu secara cuma-cuma.

"Aku juga akan berusaha menjauh dari Luceran dengan caraku sendiri," tegas Gabriella.

"Akan aku pertimbangkan."

Axion merasa tidak nyaman melihat sikap Gabriella yang terus-menerus menarik garis pembatas di antara mereka. Padahal, saat ini ia memiliki tugas yang sangat mendesak.

Yaitu mendekati Luceran.

Sebaliknya, Gabriella justru harus mulai menjauh dari anak itu secara perlahan.

......................

Larut malam.

Setelah pindah ke kediaman utama, Gabriella akhirnya harus mengatakan 'hal itu' kepada Luceran.

"Mulai malam ini, kita tidurnya sendiri-sendiri, ya."

Deg.

Luceran menatapnya dengan mata berkaca-kaca, seolah dunianya baru saja runtuh.

"Kenapaaa?"

'Aku harus menjawabnya dengan benar.'

Gabriella menelan ludah, lalu mencoba berbicara dengan hati-hati.

"Luceran mau jadi orang dewasa yang hebat, kan?"

"Eung!"

Luceran mengangguk mantap. Dia juga sudah pernah mengatakannya di depan Axion waktu itu. Katanya, dia ingin tumbuh jadi besar dan sangat kuat!

"Orang dewasa yang hebat itu tidurnya tidak bersama Ibu lagi."

Luceran tersentak, mulut kecilnya ternganga karena syok. Tiba-tiba saja, dia merasa tidak ingin menjadi orang dewasa yang hebat lagi.

"Tapi, orang dewasa yang hebat bisa saja tetap mau tidur bersama Ibu, kan?"

"Orang dewasa yang hebat itu..." Gabriella sedikit merendahkan suaranya, seolah membocorkan rahasia besar. "Harus bisa tidur sendiri. Itu syaratnya."

"Syarat?"

"Iya. Salah satu kualifikasi untuk menjadi orang dewasa yang hebat adalah berani tidur sendirian."

Sebenarnya, menjaga jarak dari Luceran secara bertahap tidaklah sesulit itu. Secara alami, anak-anak akan menjadi mandiri dan lepas dari orang tua seiring bertambahnya usia.

Apalagi sekarang di kediaman utama ada banyak orang dewasa yang bisa menemaninya bermain. Seharusnya hanya masalah waktu sampai porsi kebersamaan mereka berkurang dengan sendirinya.

'Tapi, jalan-jalan atau bermain itu beda dengan tidur malam. Melatih anak tidur terpisah harus di lakukan perlahan.'

Luceran mengerjapkan matanya pelan dengan raut wajah sedih. Melihat itu, Gabriella ikut merasa cemas.

'Bagaimana kalau dia malah bilang tidak mau jadi orang dewasa yang hebat lagi?'

Ada rasa tidak enak di hati Gabriella. Ia takut ucapannya yang asal-asalan itu justru membuat Luceran yang baik malah tumbuh menjadi anak nakal.

"Eung! Luceran mengerti."

Namun, di luar dugaan, Luceran justru mengangguk dengan sangat dewasa.

'Luceran harus jadi orang dewasa yang sangat hebat supaya bisa melindungi Ibu!'

Luceran tersenyum lebar tanpa beban.

"Luceran bisa tidur sendiri!"

"Anak pintar. Tapi, bukan berarti Ibu akan langsung meninggalkan Luceran sekarang."

Memisahkan anak secara paksa bukanlah cara yang baik.

"Kalau nanti Luceran sempat terbangun dan tidak melihat Ibu, jangan takut ya. Ibu akan ada di balik pintu."

"Eung!"

Reaksinya sungguh luar biasa hingga Gabriella merasa sangat bangga sekaligus tersentuh. Kini, ada satu tugas lagi yang harus Gabriella lakukan untuk putranya yang hebat itu.

"Mau Ibu bacakan buku?"

"Mau!"

Tugasnya adalah menidurkan anak yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mengantuk ini. Luceran, yang sangat menyukai cerita seru selain jalan-jalan, langsung berlari menuju rak buku.

"Ini! Bacakan yang ini!"

Luceran memilih buku dengan sampul yang menurutnya paling bagus.

Gabriella segera berbaring di samping Luceran dan membuka buku itu, ia berharap bisa menidurkannya dengan cepat. Awal cerita dongeng itu terasa familiar.

"Dahulu kala…."

Sebuah bintang raksasa jatuh dari langit.

Duarr!

"Bintang itu jauh lebih besar dari pada rumah, bahkan lebih besar dari pada gunung."

"Berantakan sekali," gumam Luceran sambil menunjuk ilustrasi di buku tersebut.

"Benar. Tempat jatuhnya bintang itu jadi berantakan."

Tiba-tiba, Luceran memiringkan kepalanya dengan bingung.

"Tapi bintang yang aku lihat kecil sekali."

"Itu karena bintangnya sangat jauh, jadi terlihat kecil."

Gabriella mengepalkan tangannya dan mendekatkannya ke depan mata Luceran.

"Tangan Ibu besar sekali, kan?"

"Eung!"

"Kalau tangannya menjauh seperti ini…."

"Wah, jadi semakin kecil!"

"Bintang juga sama seperti itu."

Sungguh menakjubkan bagi Luceran. Matanya berbinar-binar sambil mengangguk mengerti.

Saat halaman berikutnya dibuka, tempat jatuhnya bintang itu telah berubah menjadi hitam karena terkontaminasi energi sihir. Energi sihir hitam yang menggenang itu mengalir layaknya sebuah sungai.

Itulah Gehenna, sungai yang mengalir di wilayah Argenta.

"Luceran tahu ini! Ini sesuatu yang menakutkan!"

"Benar. Ini adalah sesuatu yang menakutkan karena bisa mencabut nyawa orang," sahut Gabriella pelan sambil membacakan bait berikutnya.

"Bintang itu adalah sang dewi, Reltasia."

Reltasia, sang dewi kehidupan dan kematian yang berwujud seorang wanita. Di keningnya tertanam permata kecil yang bersinar seperti bintang.

Gabriella sangat mengenal cerita dongeng ini. Sebab, ini adalah mitologi kuno yang sudah diceritakan bahkan jauh sebelum kekaisaran berdiri.

Dan yang mengejutkan, leluhur Axion muncul dalam mitologi ini.

"Itu Paman Axion!"

Rambut hitam.

Mata merah.

Di sana terlukis sosok pria dewasa dengan kesan yang dingin. Karena gaya gambar buku dongeng yang sederhana, sekilas sosok itu memang terlihat mirip dengan Axion, padahal bukan.

"Bukan Paman, itu kakek buyut Paman dari masa lalu."

"Kakek buyut?"

Penguasa pertama Argenta.

Dia adalah manusia yang mencoba melawan dewa.

'Dasarnya memang antagonis.'

Kejahatan pertama yang bahkan muncul dalam buku dongeng anak-anak. Keluarga Argenta memang berawal dari kegelapan.

"Sang Dewi, Reltasia, sangat murka dan memberikan hukuman padanya."

"Kau telah berbuat jahat, maka kau harus hidup dalam kebajikan seumur hidupmu!"

"Terperangkaplah dalam energi sihir dan burulah monster sampai mati!"

Persis seperti penyihir yang mencoba menjebak kakak beradik yang tersesat namun berakhir terkurung di dalam tungku.

Atau seperti gadis yang membohongi neneknya dan memakai sepatu merah ke kuil, hingga akhirnya di paksa menari selamanya.

Keluarga Argenta yang melawan dewa pun harus menerima ganjaran atas dosa mereka.

Turun-temurun, dan selamanya....

......................

Sementara itu, di waktu yang sama.

Ada seseorang yang sedang menunggu Gabriella.

Dia adalah Axion.

"Sudah jam berapa sekarang? Kenapa dia belum kembali juga?"

Mulai hari ini, Axion seharusnya tidur di kamar yang sama dengan Gabriella.

"Hans, apa kau tahu di mana Gabriella sekarang?" tanya Axion yang sengaja memeriksa dokumen di ruang kerjanya hingga larut malam.

"Sepertinya beliau masih di kamar Tuan Muda," jawab Hans dengan nada lelah.

"Kudengar dia sudah bersama anak itu sepanjang hari, sepertinya rencana untuk menjaga jarak itu gagal."

Padahal sebelumnya Gabriella sudah menegaskan bahwa dia tidak butuh bantuan Axion untuk menjauh dari Luceran. Namun, karena Gabriella orang yang lembut, sepertinya proses itu tidak berjalan mulus.

"Mungkin sekarang terlihat seperti itu, tapi Nyonya pernah bilang, beliau akan mulai menambah waktu Tuan Muda bersama para pelayan secara bertahap."

Hans segera menyangkal dugaan Axion.

"Beliau juga sedang mencoba melatih Tuan Muda untuk tidur terpisah."

"Tidur terpisah?"

"Benar. Karena paviliun yang dulu sangat sempit, selama ini Tuan Muda selalu tidur bersama Nyonya. Tapi bukankah beberapa hari ini kondisi Nyonya sedang kurang sehat?"

"Memang benar."

"Karena tidak mungkin membiarkan anak kecil tidur satu ranjang dengan orang sakit, Tuan Muda terpaksa tidur sendiri di kamarnya. Hal itu membuatnya merasa sangat gelisah."

Dalam semalam saja, anak itu bisa terbangun berkali-kali sambil menangis dan mencari Gabriella.

"Mendengar hal itu, sepertinya Nyonya sudah memantapkan niatnya."

"Tapi sepertinya belum ada hasilnya."

"Segala sesuatu butuh proses, tidak bisa langsung berhasil dalam semalam," bela Hans.

Jika itu dulu, Axion pasti sudah menegur sikap Hans yang berani membela orang lain. Namun kali ini, alih-alih memarahi pelayannya, Axion malah beranjak dari tempat duduknya.

"Tuan mau ke mana?"

"Ke kamar Luceran."

"Apa Tuan tahu di mana kamarnya?"

Langkah Axion terhenti sejenak, ia merasa agak tersindir.

"Kurang lebih tahu."

Itu berkat ingatannya dari kehidupan sebelumnya.

"Kau boleh beristirahat sekarang."

"Ya, ya," jawab Hans seadanya.

Sambil meninggalkan Hans, Axion keluar dari ruangan dan berjalan menuju kamar Luceran.

'Kalau tidak salah, di sini.'

Ia nyaris mengetuk pintu seperti kebiasaannya, namun tiba-tiba berhenti. Suasana di balik pintu terasa sangat sunyi.

Setelah ragu sejenak, Axion akhirnya membuka pintu perlahan tanpa mengetuk.

1
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪🍊
Mita Paramita
tuh kn keluarga Valencia masuk aja gangguin hidup Gabriela 😈😈😈
Mita Paramita
untung aja topeng kejahatan Grayson ketauan 🤣🤣🤣 rasain tukang bohong ngaku2 jadi ayah nya Gabriela
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
@Biru791
kapan up pagiii
@Biru791
thour kapan upp lagi
lady parasol: author up besok ya, bbrp hari ini lagi drop hihi, makasih udh baca 🤍
total 1 replies
@Biru791
thour semngagt yukk up lagi💪
@Biru791
semngatt truss double upppp💪
@Biru791
cemungutt up
lady parasol: sambil nunggu up, baca novel terbaru berjudul Violetta : Menulis Ulang Akhir Hidupku 😄

di jamin seru
total 1 replies
@Biru791
cepat capatt uppp seruuu abiss
Mita Paramita
keluarga bahagia 🤣🤣🤣tapi sayang Gabriela umur nya pendek 😭
lady parasol: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Mita Paramita
lanjut Thor🔥🔥🔥
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Mita Paramita
lanjut Thor sering update 🔥🔥🔥💪💪💪
@Biru791
gk ada niat lanjut kah
Mita Paramita
axion masih gengsi aja kalo naksir sama Gabriella 🤣🤣🤣
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
@Biru791
semngatt dong kapan upp
Mita Paramita
axion simpati dikit sama Gabriella 🤨 obatin penyakitnya 😭 umur ny gak lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!