Keiko Hartono punya rahasia.
Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.
Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.
Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.
Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.
Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.
Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.
"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."
Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29 - Panggilan Bagas
Tapi tidak biru.
Keiko menatap layar ponselnya lebih lama daripada yang perlu. Jam di sudut layar sudah lewat pukul sebelas malam. Biasanya, jika Kelvin tidak ingin bicara, dia tetap membaca pesan. Kadang tidak membalas. Kadang hanya mengirim titik. Namun centang dua abu-abu itu tidak berubah, seolah sengaja dibiarkan menggantung.
Keiko mengetik satu kalimat lagi.
**Keiko**: Kalau sudah sampai, balas satu huruf saja.
Dia menunggu.
Tidak ada balasan.
Bu Tuti mengetuk pintu kamar dengan semangkuk bubur kecil. "Nduk, obatnya diminum dulu."
Keiko menutup layar. "Iya, Bu."
Malam itu obat terasa lebih pahit dari biasanya.
Keesokan paginya, balasan Kelvin akhirnya masuk saat Keiko baru sampai lobby sekolah.
**Kelvin**: S.
Satu huruf.
Keiko berdiri di dekat pot tanaman lobby, menatap huruf itu sampai Anisa menepuk bahunya.
"Keiko? Kamu nggak masuk kelas?"
Keiko menyimpan ponsel. "Masuk."
Di kelas, Kelvin sudah duduk di bangkunya. Wajahnya tampak biasa, terlalu biasa. Buku fisika terbuka, pulpen di tangan, ponsel bekasnya tertelungkup di sudut meja. Ketika Keiko duduk, dia menggeser botol air hangat ke arahnya.
"Kemarin kamu ke mana?" tanya Keiko pelan.
"Pulang."
"Kenapa tidak baca pesan?"
"Ketiduran."
Keiko menatapnya.
Kelvin menulis angka di buku. Angka itu miring.
"Kelvin."
"Aku di sini," katanya, seolah kalimat itu cukup untuk menutup semua pintu.
Untuk pelajaran pertama sampai ketiga, tidak ada yang terjadi. Aji tidak muncul di gerbang. Tidak ada motor berisik di belakang sekolah. Bahkan Bagas sempat menyatakan bahwa mungkin ancaman kemarin hanya gertakan anak sok jago yang kehabisan panggung.
Dimas tidak terlihat percaya.
Kelvin juga tidak.
Saat kelas tambahan sore selesai, Kelvin menutup buku lebih cepat dari biasanya.
"Keiko, pulang lewat lobby depan. Bu Tuti jemput, kan?"
Keiko merapikan tas. "Iya."
"Jangan lewat gang belakang."
"Aku tidak pernah pulang lewat sana kalau tidak dengan kalian."
"Hari ini jangan menunggu juga."
Keiko berhenti. "Kamu mau ke mana?"
"Ada urusan."
Bagas langsung berdiri dari belakang. "Urusan yang namanya Aji, kan?"
Kelvin menatapnya. "Lu pulang."
"Enak aja."
Dimas memasukkan buku ke tas dengan tenang. "Aku ikut."
"Gue bilang pulang."
"Kami dengar," kata Dimas. "Tidak setuju."
Fajar yang baru masuk untuk mengambil jaket berhenti di pintu. "Ada apa?"
Bagas menunjuknya. "Lu pulang lewat depan. Kalau ada guru, bilang kami masih di kelas."
"Ini terdengar sangat ilegal."
"Justru makanya lu jangan ikut."
Keiko berdiri. "Kelvin, jangan pergi."
Kelvin melihatnya. Suaranya turun. "Kalau aku nggak datang, dia bakal datang lagi ke warung. Ke sekolah. Mungkin cari kamu buat mancing."
"Kalau ada ancaman, lapor Pak Arif."
"Dan besok dia cari anak SMP lain buat dipukul karena gue ngadu?"
Keiko tidak punya jawaban cepat.
Kelvin mengambil helm hitam, lalu meletakkan helm pink di meja Keiko, bukan di tangannya.
"Pulang. Aku nanti kabari."
"Kamu bilang begitu kemarin."
Wajah Kelvin berubah sedikit.
Untuk sesaat, Keiko kira dia akan menjelaskan. Namun Kelvin hanya berkata, "Kali ini aku kabari."
Dia pergi bersama Bagas dan Dimas lewat koridor belakang.
Keiko berdiri di samping meja, menatap helm pink yang ditinggalkan di sana. Benda itu biasanya berarti Kelvin akan mengantarnya pulang. Hari ini, benda itu terasa seperti cara Kelvin memastikan dia tidak ikut.
Pak Arif muncul di pintu beberapa menit kemudian. "Keiko, belum pulang?"
Keiko menoleh. "Pak..."
Kalimatnya berhenti.
Dia bisa melapor sekarang. Harusnya melapor. Tetapi dia tidak tahu posisi Kelvin, tidak tahu apakah itu akan membuat Aji berpindah tempat, tidak tahu apakah Bagas dan Dimas akan sempat ditahan guru atau malah sudah pergi terlalu jauh.
Pak Arif melihat wajahnya, lalu helm pink di meja. "Ada masalah?"
Keiko menggenggam tali tas. "Saya... boleh pinjam telepon sekolah kalau nanti ponsel saya lowbat?"
Jawaban itu bukan jawaban.
Pak Arif menatapnya lebih lama, tetapi sebelum beliau bertanya lagi, ponsel Keiko bergetar.
**Kelvin**: Pulang.
Pesan itu masuk.
Keiko langsung membalas.
**Keiko**: Kamu di mana?
Tidak ada jawaban.
Keiko menunggu sampai layar ponsel meredup sendiri. Ketika tetap tidak ada balasan, dia menekan ikon panggilan.
Nada sambung berjalan lama, lalu terputus.
Dia menelepon Bagas. Tidak diangkat.
Dimas juga tidak menjawab.
Rasa dingin naik dari ujung jarinya ke siku. Keiko menoleh ke koridor belakang yang sudah mulai sepi. Di ujung sana, suara murid pulang hanya tinggal gema jauh.
"Keiko," kata Pak Arif.
Keiko menggenggam helm pink di meja. Benda itu terlalu ringan untuk membuat tangannya setenang yang dia inginkan.
"Kalau ini berkaitan dengan Kelvin," lanjut Pak Arif, suaranya lebih rendah, "kamu bisa bicara sekarang."
Keiko membuka mulut.
Di saat yang sama, ponselnya bergetar lagi. Bukan Kelvin. Bu Tuti.
**Bu Tuti**: Bu sudah di depan, Nduk. Jangan lama, nanti hujan.
Keiko menatap pesan itu, lalu menatap Pak Arif. Kalau dia melapor, Pak Arif mungkin akan memanggil guru piket, satpam, semua orang dewasa yang benar. Namun Kelvin sudah pergi beberapa menit. Aji bisa berpindah tempat. Bagas dan Dimas bisa terseret lebih jauh karena menunggu bantuan yang salah arah.
"Saya pulang dulu, Pak," kata Keiko akhirnya, nyaris berbisik. "Kalau Kelvin kembali ke kelas..."
"Saya akan cek area belakang," kata Pak Arif.
Keiko mengangkat wajah.
Pak Arif sudah mengambil ponselnya. "Kamu pulang lewat depan. Sekarang."
Keiko mengangguk, tetapi langkahnya terasa tidak utuh. Dia membawa helm pink ke lobby, seperti membawa sesuatu yang seharusnya ada di tangan Kelvin.
Di gang belakang, udara berbau tanah basah dan oli bengkel. Warung kemarin sudah ramai, tetapi Kelvin tidak berhenti di sana. Dia berjalan melewati warung, melewati lapangan futsal kecil, menuju jalan sempit yang diapit tembok kosong dan pagar seng.
Bagas mengumpat pelan. "Kel, ini bego."
"Makanya lu pulang."
"Gue bilang ini bego, bukan bilang gue pulang."
Dimas berjalan di sisi lain Kelvin, matanya mengamati ujung gang. "Ada motor."
Lima motor terparkir melintang di depan mereka.
Aji bersandar di salah satunya, jaket hitam kemarin masih sama. Kali ini dia tidak hanya membawa dua orang. Ada delapan, mungkin sembilan anak lain, sebagian masih berseragam, sebagian sudah memakai hoodie. Salah satu memegang helm di tangan. Yang lain menutup jalan belakang.
Bagas berhenti. "Anjir."
Aji tersenyum. "Datang juga."
Dimas melihat ke atas tembok, ke ujung gang, lalu ke kamera CCTV kecil di pojok bengkel yang lampunya mati. Wajahnya tidak berubah, tetapi suaranya turun.
"Kel, ini bukan tempat ribut. Ini jebakan."
"Telat sadar," kata salah satu anak Aji sambil tertawa.
Bagas merogoh saku, mungkin hendak mengambil ponsel. Seorang anak lain langsung melangkah mendekat.
Aji mengangkat dagu. "Jangan main rekam-rekam. Gue cuma mau ngobrol."
"Ngobrol bawa rombongan?" Bagas membalas.
"Biar ramai."
Kelvin melangkah satu kali ke depan, menempatkan tubuhnya sedikit di depan Bagas dan Dimas. "Urusan lu sama gue."
"Kemarin iya." Aji mendorong tubuh dari motor. "Hari ini gue berubah pikiran. Teman lu banyak bacot."
Bagas maju. "Maksud lu gue?"
Dimas menariknya. "Diam."
"Lucu," kata Aji. "Yang satu galak, yang satu jadi rem."
Kelvin tidak melihat Bagas. "Kalau mau mukul, sini. Jangan sentuh mereka."
"Masih sok ngatur."
Gerakan pertama datang dari sisi kanan, bukan dari Aji. Seorang anak dengan hoodie abu-abu mendorong Bagas keras ke tembok. Dimas langsung menarik Bagas kembali, tetapi dari sisi lain, helm melayang mengenai bahu Kelvin.
Setelah itu semuanya pecah terlalu cepat.
Kelvin menahan satu pukulan, membalas pendek ke perut lawan, lalu menendang kaki orang yang mencoba menarik tas Dimas. Dalam satu lawan satu, gerakannya tetap tajam. Masalahnya, mereka tidak datang satu per satu. Ada tangan dari belakang, lutut dari samping, dorongan yang membuat punggungnya membentur pagar seng.
Bagas berteriak, marah dan panik bercampur. Dimas mencoba membuka jalan keluar, tetapi dua orang menahannya. Salah satu motor roboh dengan bunyi keras.
Aji akhirnya maju ketika Kelvin sudah terdorong ke sisi tembok.
"Katanya masih hebat?" katanya.
Kelvin meludahkan darah tipis dari sudut bibir. Matanya tetap menatap Aji.
"Sendirian aja kalau berani."
Aji tertawa. "Gue bukan lu. Gue nggak butuh terlihat keren di depan cewek."
Nama Keiko tidak disebut, tetapi Kelvin bereaksi.
Itu cukup.
Aji memukulnya.
Bagas berhasil lepas sesaat. Dia merogoh ponsel dengan tangan gemetar, hampir menjatuhkannya karena seseorang mendorong bahunya. Dimas meneriakkan namanya, menyuruhnya lari, bukan ikut masuk lagi.
Bagas berlari dua langkah ke balik motor yang roboh, menekan kontak paling atas yang ada di daftar panggilan terakhir.
Di depan lobby, Keiko baru saja duduk di mobil Bu Tuti. Helm pink ada di pangkuannya karena dia membawanya pulang tanpa tahu harus bagaimana.
Bu Tuti melihat helm itu lewat kaca spion. "Kelvin nggak ngantar?"
"Ada urusan."
Jawaban Keiko terlalu cepat. Bu Tuti tidak langsung menjalankan mobil. Beliau memutar badan sedikit, memperhatikan wajah Keiko yang pucat.
"Nduk, tarik napas dulu."
Keiko mencoba. Udara masuk, tetapi tidak sampai penuh. Tangannya menekan sisi helm pink, merasakan permukaan plastik yang dingin.
"Sebentar, Bu."
Ponselnya berdering.
Nama Bagas muncul di layar.
Keiko langsung mengangkat. "Bas?"
Di seberang, yang terdengar pertama adalah napas putus-putus, suara benturan jauh, lalu Bagas yang biasanya paling berisik terdengar seperti kehilangan seluruh suaranya.
"Kei..." Suaranya gemetar. "Kelvin..."