Spion Off "Tuan Muda Amnesia"
Di hari yang seharusnya menjadi momen terindah, kabar buruk menyergap kediaman Alexander. Calon mempelai putra sulung mereka menghilang, tanpa jejak, tanpa pesan.
Namun, upacara tetap disiapkan, tamu tetap berdatangan, akan tetapi kursi di samping Liam Alexander kosong. Liam bersikeras menunggu, meski semua orang mendesaknya untuk menerima kenyataan.
Semakin lama Liam bertahan, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tak beres, dan hilangnya calon istrinya bukanlah kejadian kebetulan
Follow instagram @Tantye untuk informasi seputar novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah Rocky
Arumi langsung menoleh dan terkejut mendapatkan sebuah kecupan di kening. Ia yang hendak berteriak malah merengut.
"Bikin takut saja, aku kira tadi penyusup," omel Arumi yang tadinya sudah memegang gunting, beruntung belum dia ayunkan pada sang kekasih.
"Penyusup setampan ini memangnya nggak sayang kalau dipukul hm?" Duduk bersandar pada meja kerja Arumi dan terus menatap wajah cantik sang kekasih.
Sayangnya wajah cantik itu sedikit lelah mungkin karena pekerjaan yang menumpuk.
"Cantiknya mas kalau lelah istirahat, apa-apa jangan dipaksakan."
"Mau bagaimana lagi sudah tanggung jawabku." Arumi mengerucutkan bibirnya, bersandar pada paha Liam.
"Salah satunya pasti karena mas kan? Kamu lembur soalnya tadi pagi sampai siang sama mas terus."
"Nggak."
"Kata Sevia gitu."
"Loh?" Arumi membulatkan matanya.
"Sebenarnya nggak langsung bilang sih, cuma tadi pas mas bertemu di bawah. Katanya kamu lembur karena pekerjaan menumpuk."
"Huh, kirain Sevia ngadu sama mas. Hampir saja aku cemburu."
Liam tergelak, ia mengelus pucuk kepala wanitanya. Pria itu menarik kursi dan duduk di samping Arumi. Membantunya beberapa hal agar lebih cepat selesai.
"Sayang, ini jadwal kamu besok kan? Kok nggak bilang sama mas?" tanya Liam yang menemukan jadwal padat Arumi. Pria itu menatap sang kekasih yang masih fokus pada layar laptop.
"Masa mau keluar kota nggak bilang dulu. Mas kan bisa mengosongkan ...."
"Syut." Arumi langsung membungkam mulut Liam dengan jarinya. Pria itu jika tidak dihentikan akan terus bicara. "Justru aku nggak bilang karena tahu mas pasti bakal permasalahin."
Terdengar helaan napas panjang dari Liam, seolah pria itu berat membiarkan kekasihnya pergi jauh. Jujur di dalam lubuk hatinya paling dalam ia masih menyimpan trauma akan kecelakaan malam sebelum pernikahannya.
"Mas."
"Hm." Liam mengerjap perlahan ketika merasakan genggaman hangat sang kekasih.
"Mas nggak bisa egois Rum? Tetap di sini dan jangan bepergian terlalu jauh."
Liam memejamkan matanya melihat gelengan Arumi, ia berusaha menekan rasa takutnya.
"Janji ya pulang tepat waktu?"
"Iya mas, lagian aku perjalanan bisnis bukan mau perang."
Hening, Liam yang semula cerewet kini diam dan hanya memperhatikan berkas-berkas Arumi. Sesekali menyuapi wanita itu cemilan yang berada di atas meja.
Detik dan menit berlalu dalam keheningan dan pekerjaan Arumi pun akhirnya rangkum. Mereka berdua meninggalkan studio tanpa adanya kecerewetan Liam seperti biasanya.
Di dalam mobil, Arumi mengenggam tangan kanan sang kekasih dan merasainya sangat dingin.
"Mas sakit? Tangannya kambuh lagi?" tanya Arumi dan dijawab gelengan oleh Liam.
"Mas nggak apa-apa kok, cuma tiba-tiba lemas saja."
"Harusnya kalau lemas pulang mas, bukan malah ikut lembur sama aku. Kebiasan banget deh maksain diri."
"Maunya sama kamu."
Liam beralih menyandarkan kepalanya dipundak Arumi, kemudian memejamkan mata.
....
Berkali-kali Arumi menarik napas panjang usai menerima telepon dari adiknya bahwa Liam masuk UGD karena lemas sepanjang hari.
"Apa ini karena aku? Apa aku terlalu egois?" pertanyaan itu terus berputar di kepalanya sampai tidak fokus bekerja.
Arumi sampai mengulang beberapa pose foto kliennya dan memakan waktu lebih dari yang diperkirakan.
Tapi ia bagai buah simalakama sebab pekerjaan juga Liam sama-sama penting dalam hidupnya. Membatalkan perjalanan karena urusan pribadi sama saja tidak profesional dalam bekerja. Namun, keputusannya tersebut malah membuat Liam masuk rumah sakit.
"Bu Arumi baik-baik saja?"
"Hm."
"Kata Arthur, Tuan Liam sudah sadar. Mungkin akan segera pulang."
Arumi hanya mengangguk, ia cuma mencicipi beberapa hidangan dan kembali bekerja. Mengejar waktu yang tersisa agar bisa pulang tanpa menginap di perjalanan.
Jam 3 dini hari, barulah Arumi tiba di rumah orang tuanya. Itu pun dia langsung tidur tanpa melakukan apapun sakin lelahnya. Mengejar waktu dan pikiran bercabang kemana-mana benar-benar menguras tenaga.
"Mbak, ayo sarapan dulu," ujar seorang wanita di balik pintu. Gendoran pun terdengar sesekali membuat pemilik kamar mau tidak mau membuka kelopak matanya.
"Sarapan dulu, setelah itu lanjut tidur kalau memang mengantuk." Suara itu semakin dekat dan Arumi merasakan rambutnya dibelai sangat lembut.
"Mas Liam sudah pulang?" gumamnya yang berpindah tidur di pangkuan sang ibu.
"Sudah."
"Salah aku lagi kan Bu? Mas Liam trauma karena aku, dan sekarang mas Liam masuk rumah sakit karena aku memicu traumanya."
"Bukan Sayang." Ibu Alea mengeleng. "Sudah ibu bilang nggak ada yang bersalah dengan tragedi malam itu. Baik kamu atau pun Liam. Cinta kalian sedang diuji dengan cara berbeda."
"Sudah jangan awali pagimu dengan pikiran melelahkan, ayo sarapan sama ayah."
Arumi mengangguk, segera beranjak ke kamar mandi kemudian menyusul ibu dan ayahnya yang berada di meja makan.
"Vina dan Vino sudah berangkat?"
"Sudah, mereka sangat sibuk setelah jadi maba. Apalagi Vino, hm segala kegiatan diembat." Alea mengelengkan kepalanya.
"Namanya juga remaja Bu, apa-apa pasti pengen dicoba." Arumi tertawa dan sesekali melirik ayahnya yang fokus sarapan. Tidak heran, ayah Rocky memang kaku pembawaannya.
"Ayah nggak kerja?"
"Nggak, mau jalan-jalan sama ibu."
"Kemana?"
"Kanada."
"Serius Kanada? Ih Arumi mau ikut tapi banyak pekerjaan." Arumi memanyungkan bibirnya.
"Nggak boleh ikut, ayah mau berduaan sama Ibu," jawab Ayah Rocky dengan ekspresi datarnya.
"Iya-iya nggak kok, lagian nggak mungkin di izinin sama mas Liam." Arumi mengulum senyum.
Setelah sarapan, Arumi hendak meninggalkan rumah tetapi saat akan melewati pintu namanya malah dipanggil oleh sang ayah. Alhasil, Arumi terdampar di bangku taman depan rumah. Duduk berdua dan memperhatikan penghuni kompleks yang kebetulan melintas.
"Kenapa Yah?" tanya Arumi.
"Ayah hanya mau duduk berdua," jawab Rocky.
"Arumi nggak bakal tersinggung apapun ucapan ayah, jadi nggak usah ragu," ujarnya yang menyadari aura tidak enak di antara mereka.
"Kalau hubungannya mulai nggak sehat dan menyakiti satu sama lain, nggak ada salahnya untuk berhenti. Mungkin perasaan diantara kalian bukan cinta, tapi sebuah kewajiban penetapan janji masa kecil yang mengikat."
Arumi menoleh dan menatap ayahnya dengan kening mengerut. Dia tidak tahu kemana arah pembicaraan ayah Rocky. Jika itu tentang hubungannya dengan Liam, dia merasa jalinan mereka masih sehat dan tidak menyakiti satu sama lain.
Dan Arumi yakin perasaan di hati masing-masing itu cinta, bukan ikatan sebuah janji.
"Ayah nggak setuju kalau Arumi sama mas Liam? Tapi kenapa? Dulu ayah nggak pernah permasalahin sama siapa dan dengan siapa Arumi menjalin hubungan."
"Ayah hanya memberitahu mbak, bukan melarang. Dilihat dari masuknya tuan muda ke rumah sakit mungkin awal dari kontrol hidupmu. Antara rasa bersalah dan kehidupanmu. Ayah hanya mau mbak bahagia itu saja."
Arumi menunduk sembari meremas jemarinya.
"Apa yang mbak lakukan akan dianggap egois oleh beberapa orang."
....
Ayah Rocky dengan logikanya
terlalu lama hiatus nya 😂😂
Lanjut donk.. 🥰🥰💙💛💙😘😘😘
terimakasih thor biar langsung ending tapi masih nyambung
Aq sdh dpt notif buku baru nya author 👍👍💪💪
trima ksih thor
Alea bijak banget sih jadi Ibu