karya pertama ini sedikit tidak layak untuk di baca, takutnya kalian baca malah jadi pening kepala 😅
"kamu itu hanya istri keduaku, jadi jangan banyak bertingkah"
perasaanku hancur seketika mendengar ucapan suami ku sendiri.
mengapa takdir seolah ingin mempermainkan ku.
apa istri pertama nya tau bahwa suaminya telah menikah lagi, bagaimana perasaan nya kalau tau suaminya telah menikah dengan ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bima
Di kediaman keluarga Bimantara, Laras tidak henti-hentinya menangis Danu yang melihat nya merasa kesal dengan kelakuan cengeng milik istrinya itu. sementara Tias dengan wajah ketakutan dan perasaan gelisah membuatnya tidak tenang. sementara gadis berambut panjang dengan tenang duduk di kursinya mengagumi kemegahan ruang tamu di hadapannya tanpa memperdulikan siapapun.
Oma bejalan menghampiri cucu-cucunya, menatap ke arah wanita yang berada di samping Tias.
"siapa namamu?" tanya Oma menatap perempuan yang baru ia lihat di rumahnya.
"Siska ayunindya" jawab Siska sambil tersenyum ramah ke arah Oma.
"siapa yang membawa Siska ke sini?" tanya Oma sambil menatap Danu dan Tias.
Danu menatap Tias berharap adiknya mau menjelaskan semuanya.
di tatap seperti itu oleh kakaknya Tias menundukkan kepalanya tidak berani berbicara.
"Danu?" kali ini oma menatap Danu meminta jawaban.
"Tias Oma?"
"Tias" Panggi Oma.
namun Tias masih tidak berani menatap Oma, dan masih menundukkan kepalanya.
"Oma tidak suka menunggu Tias" dengan nada tidak suka.
setelah mengumpulkan keberaniannya Tias menatap mata Oma.
Tias bercerita Secara singkat.
"Tias melakukan kawin kontrak secara siri, Siska bodoh tidak pakai KB dan dia hamil" ucap Tias sedikit sebal menatap Siska.
"seenaknya bilang aku bodoh, kamu yang tidak menyuruh ku'' bela Siska.
"salah aku menikah dengan bocah ingusan seperti mu" kesal Tias memalingkan mukanya dari Siska.
"aku tidak menyuruh mu untuk menikah dengan ku"
"Tias kamu itu kepala rumah tangga, Oma tidak suka mendengar ucapan mu yang seperti bocah itu. urus tanggung jawab mu sebagai ayah dari anak yang di kandung Siska" Oma memberi perintah pada cucu nya.
"tapi oma ayah pasti marah kalau tau...." ucapan Tias menggantung karena Oma lebih dulu memotong.
"bagaimana pun caranya, Oma tidak ingin tahu bulan depan kamu harus sudah menikah"
Danu melihat Laras yang sedang serius menonton adegan di depannya, lihat bahkan dia sudah berhenti dari tangisnya.
"emang begitu ya, wanita hamil selalu merepotkan apalagi dengan cemburu yang tidak jelas" batin Danu.
"Oma, Danu dan Laras pamit ke luar sebentar" Oma menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
dengan cepat Danu menarik lengan Laras untuk meninggalkan ruangan itu.
"kenapa kamu menangis"
Laras diam tidak menjawab karena rasa malunya.
"perasaan dulu aku menikah dengan wanita yang mandiri dan tangguh, tapi lihat sekarang kamu cengeng sekali dan cemburu berlebihan" setelah ucapannya selesai, Danu melihat ke arah Laras yang nampak akan marah.
"dan mudah marah" tambah Danu.
Laras memalingkan wajahnya dari Danu, diam seribu bahasa tidak ingin terpancing ucapan suaminya.
"kamu harus banyak jalan, sebentar lagi lahiran kan?" tanya Danu memastikan.
Laras masih marah tidak menjawab ucapan Danu, berjalan mengelilingi taman belakang.
"kalau sudah lelah istirahat lah, mas harus kembali ke kantor" ucap Danu sambil mengelus kepala istrinya.
"hati-hati mas" dengan wajah lelah nya Laras tetap tersenyum menatap suaminya.
Danu mengangguk dan pergi meninggalkan Laras.
"udah ah cape" ucap Laras pada dirinya sendiri dan berjalan menuju kamarnya.
setelah membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian Laras berjalan ke depan, mencari Oma.
"Oma" panggil Laras sambil berjalan ke arah Oma yang sedang membaca majalah di tangganya.
"mau kemana ? sudah rapi begini" tanya Oma sambil tersenyum ke arah Laras.
"Laras pingin jalan-jalan sebentar Oma boleh?" tanya Laras kembali
"boleh, tapi hati-hati yah" Laras tersenyum dan memeluk Oma.
"terimakasih Oma, Laras sayang Oma. Laras pergi dulu Oma"
siang itu Laras menikmati makanannya di sebuah restoran khas sunda.
"author jadi laper🤭"
"Laras.... eh betul kan Laras?"
Laras menoleh ke arah suara yang memanggil namanya.
"mas Bima" ucap Laras senang sambil memeluk laki-laki yang ada di hadapannya.
"kamu kemana aja sih tau-tau ngilang" ucap Bima sambil mengelus jilbab Laras.
"berani sekali dia berpelukan dengan pria lain" batin seseorang yang sedang memperhatikan Laras dan Bima dari kejauhan.
"maaf Laras gak pamit waktu itu" ucap Laras sambil melepaskan pelukannya.
Laras meraih tangan Bima.
"duduk dulu mas"
Bima mengangguk dan duduk di hadapan Laras.
"mas Bima ko bisa ada di sini?"
"kebetulan ada kerjaan" jawab Bima masih memandang wanita yang sangat ia rindukan.
"kamu sedang mengandung ras?" tanya Bima terkejut melihat perut Laras yang besar.
"maaf mas" wajah Laras penuh dengan rasa penyesalan.
"kamu ngingkari janji kita?" tanya Bima memastikan.
"maaf aku terpaksa menikah dengan pria lain" nampak rasa penyesalan di wajah Laras.
"mas kira kamu bakal nunggu mas, sesuai janji kamu" wajah kecewa Bima membuat Laras merasa tidak enak.
"Laras yakin, mas pasti bertemu dengan perempuan yang lebih baik dari Laras" Laras mencoba menghibur bima, dengan menggenggam tangan Bima yang berbeda di atas meja.
"berani sekali dia menggenggam tangan pria lain" batin Danu.
"batalkan pertemuan nya" ucap Danu dingin pada sekertaris nya dan berjalan pergi meninggalkan restoran dengan rasa kesalnya.