NovelToon NovelToon
Pemilik Hati Ku

Pemilik Hati Ku

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Angst / Tamat
Popularitas:174.3k
Nilai: 5
Nama Author: shalsyalala

Follow Ige author : Shalsyala


"Apa kamu lupa? aku menyetujui pernikahan ini hanya untuk menyelamatkan kehormatan keluarga ku dari rasa malu kak..?"
Livia Gunawan Baskoro.

"Aku tidak pernah mengingat apapun itu, yang aku ingat kamu sekarang adalah istriku, dan kamu sangat mencintaiku sejak dulu, tapi sekarang kenapa aku tak lagi melihat cinta itu?"
Anggara Wisnu Hutama

Dua anak manusia itu terikat hubungan persahabatan sejak kecil dan di kehidupan sekarang keduanya terikat dalam sebuah pernikahan tanpa rencana yang dilakukan Angga dalam menyelamatkan Livia dari rasa malu.

Mampukah mereka mempertahankan mahligai rumah tangga yang berlandaskan cinta yang berlimpah dari Livia namun tidak untuk Angga yang hati dan cintanya masih dimiliki orang lain?



Yuuuk merapat langsung baca yaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shalsyalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Suara ketukan pintu kembali terdengar saat Angga hampir saja tertidur. Ia memicingkan matanya sebentar, kepalanya sudah tak lagi pusing dan berputar. Ia menegakkan duduknya, bersiap menyambut tamunya yang akan datang.

"Masuk!"

Terlihat Akbar disusul Dipta dibelakangnya memasuki ruangan. Kedua laki laki itu mendudukkan diri di sofa.

"Kenapa datang mendadak sekali?" Tanya Angga.

"Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan mu." Akbar melirik ke arah Dipta yang sudah siap siaga menyerahkan berkas berkas ke arah Angga. Angga pun mulai membaca isi dari berkas itu.

"Bagaimana menurut mu dengan penempatan model model furniture yang akan kita ikutkan tender? Apa sesuai dengan konsep yang kau pilih?" Akbar melempar pertanyaan pada Angga.

Ketiga laki laki itu pun larut dalam obrolan bisnis seputar rencana projek yang akan diikutkan tender beberapa Minggu lagi. Akbar dan Dipta terlihat berkonsentrasi membahas satu persatu poin penting dalam dokumennya, namun berbeda dengan Angga.

Saat otaknya ia paksa bekerja keras, rasa pusing kembali menghantam dirinya hingga sekelilingnya terasa kembali berputar. Ia lalu kembali menyandarkan kepalanya di punggung sofa dan memejamkan mata.

"Kau kenapa?" tanya Akbar.

Angga hanya menggeleng. Terlihat dadanya naik turun berulang menghela nafas yang terlihat sungguh berat.

"Sepertinya kau sedang tidak sehat."

"Apa perlu saya panggilkan dokter untuk kemari memeriksa anda, pak Angga?" Dipta menawarkan.

"Tidak perlu. Aku hanya kelelahan dan sebentar lagi akan membaik. Kalian lanjutkan dulu, aku istirahat sebentar saja." Angga kembali menghembuskan nafas.

"Sudahlah lebih baik kau pulang dan beristirahat di rumah, aku akan kembali lain waktu." Akbar meletakkan map yang ada di tangannya.

Belum sempat Angga menanggapi ucapan Akbar, suara ketukan dari pintu terdengar dan terlihat Nisya membawa nampan berisikan cangkir minuman. Ia melempar senyum pada Akbar saat laki laki itu terus mengawasinya dari ujung kaki ke ujung kepala. Akbar menatap dingin pada Nisya, sama sekali tak membalas senyum cantik Nisya.

"Silahkan." Ucap Nisya setelah meletakkan cangkir teh di meja. "Saya permisi." Dirinya beranjak undur diri, namun sebelum itu ia juga masih sempat tersenyum menggoda ke arah Akbar yang terus mengamatinya.

"Aku menaruh curiga pada sekertaris mu itu." Ucapan Akbar membuat Dipta terlihat terkejut.

"Kenapa kau mencurigainya kak?" Angga masih memejamkan mata. Tak bergeser dari tempatnya.

"Entahlah. Hanya saja aku punya firasat yang tidak baik pada wanita itu." Akbar meraih cangkir yang diberikan Nisya tadi, ia tidak lantas meminumnya dan malam mengamati permukaan dan isi dari cangkir itu.

Angga yang sedikit membuka matanya, terkekeh melihat Akbar. "Kau pikir Nisya menaruh racun dalam gelas teh itu? Dia memang punya sedikit sifat perayu yang handal hanya dengan mengulas senyum untuk mendapatkan mangsanya."

"Kau menyadari itu kan?"

"Iya kak. Tapi dia tidak pernah sekali pun berusaha menggoda ku. Dia hanya menunjukkan kinerja yang bagus selama ini. Jadi tidak ada alasan untukku memecatnya, selama dia tidak membuat scandal apapun dengan relasi bisnis ku. Lagi pula, itu juga rekomendasi dari Dipta."

Akbar menatap tajam ke arah Dipta yang terlihat gugup membetulkan kaca matanya. "Saya hanya menjalankan sesuai standart perekrutan pak." Dipta mencoba membela diri.

"Apa kau akan mengajaknya membahas tentang tender yang akan kita ikuti?" Akbar masih terlihat tak puas. Instingnya mengatakan jika Nisya punya niatan tidak baik. Tapi ia tak ingin terlalu gegabah untuk menuduh dan memojokkan orang lain tanpa bukti.

Angga menghembuskan nafas berat. "Ayolah kak! Dia sekretaris ku. Lalu apa gunanya aku mendapatkan sekertaris tapi tidak aku gunakan untuk membantu ku."

Akbar hanya mengangguk samar. Wajahnya terlihat masih berfikir. Sesaat suasana menjadi hening, sebelum kemudian suara dering dari ponsel Angga memecah keheningan. Ia lantas membuka mata lalu menerima panggilannya.

"Halo Bi."

"Halo Tuan. Saya Bi Sarah. Itu Tuan..ehmmm..itu.."

"Kenapa Bi? Katakan saja, ada apa?"

"Itu Tuan, Non Livi.."

Mendengar nama Livi, Angga membuka mata dan menegakkan duduk dengan waspada. "Kenapa Livi Bi?" Ucapan Angga membuat Akbar juga Dipta memusatkan pandangan ke arah dirinya.

"Nok Livi mengemasi barang barangnya ke dalam koper tuan. Bibi tidak tahu non Livi mau pergi kemana kok sampai bawa koper. Beliau buru buru sekali tuan."

"Apa Livi menangis?"

"Tidak tuan, hanya buru buru saja."

"Dimana dia sekarang? Tahan dia Bi supaya tidak pergi dari rumah sebelum aku datang!"

"Ba-baik Tuan."

Angga segera mematikan ponselnya lalu tergopoh gopoh meraih jasnya.

"Apa yang terjadi? Ada apa dengan Livi." Tanya Akbar yang penasaran melihat kepanikan Angga.

"Livi akan pergi dari rumah Kak, aku harus menahannya. Aku pergi dulu!" Ucapnya lalu berlari keluar ruangan tak peduli dengan panggilan dari Nisya yang juga terlihat kaget dengan langkah terburu buru Angga.

Sedang Akbar, laki laki itu hanya bersedekap sambil menggelengkan kepala. Tak habis pikir dengan rumah tangga sahabatnya itu. "Kapan mereka akan berdamai dan saling membuka hati?"

...💮💮💮💮...

Mobil berhenti tepat di halaman rumah Livi. Wanita itu turun dengan mempercepat langkah menuju kamarnya. Suara ketukan highhels yang beradu dengan anak tangga terdengar nyaring saat langkahnya terburu buru.

Livi segera membuka pintu kamar lalu melangkah menuju lemari, mengambil koper lalu memasukkan beberapa baju kedalam koper. Ia melihat jam di tangannya, waktu untuk keberangkatannya tinggal sebentar lagi.

"Bi Sarah!" Teriaknya sambil merapikan baju baju dalam koper.

Tak lama wanita paruh baya itu muncul. "Iya Non, ada yang bisa Bibi bantu?" Bi Sarah tampak bingung mengamati gerakan Livi yang buru buru.

"Astaga! Hape ku juga mati." Livi memberikan ponselnya pada Bi Sarah. "Bibi tolong charge hape ku, terus bantu aku masukin peralatan make up ku kedalam koper ya Bi. Aku mau mandi dulu. Cepetan ya Bi!" Perintahnya sambil berlari menuju kamar mandi.

Bi Sarah sesaat mematung mengamati Livi yang menghilang di kamar mandi, bergantian ia memandang koper di atas ranjang lalu menatap ponsel di genggamannya.

"Non Livi mau pergi kemana?" Gumamnya pelan. Ia pun kemudian segera merapikan alat make up Livi ke dalam tas make up kecil lalu ia masukkan ke dalam koper. Setelah selesai, Bi Sarah keluar dari kamar Livi, dan saat menuruni tangga ia teringat akan sesuatu. "Apa tuan Angga tahu dengan kepergian Non Livi?" Gumamnya. Otaknya memutar kejadian pertengkaran majikannya beberapa hari lalu. Ia pun segera berlari menuruni tangga lalu meraih telfon rumah.

"Halo tuan. Saya Bi Sarah."

...💮💮💮💮...

Angga melajukan mobilnya secapat mungkin. Ia terus menghubungi nomor Livi yang tidak aktif. Betapa frustasinya Angga saat ini. Antara panik dan takut kini mengepung dirinya. Laju kendaraan yang sudah berada diambang batas kecepatan tinggi, sama sekali tidak terasa cepat. Malah terasa lama sekali untuk segera sampai di rumahnya.

Tak lama akhirnya Angga sampai di rumah. Ia segera berlari masuk ke dalam rumah. Saat hendak menaiki tangga ia melihat Bi Sarah sedang berdiri di depan pantry. Wanita itu terlihat sedang menunggu dirinya.

"Livi dimana Bi? Apa dia sudah pergi?" tanya Angga panik.

"Non Livi masih dilamarnya tuan, Bibi sudah..." Ucapan Bi Sarah terputus saat Angga tiba tiba berlari menaiki tangga. Bi Sarah hanya menghela nafas melihat kondisi rumah tangga majikannya.

"Semoga semuanya baik baik saja." Gumamnya.

...💮💮💮💮...

Anga sudah berada di depan pintu kamar dan ia segera meraih gagang pintu. Dan sebelum ia mendorong pintu, pintu lebih dulu terbuka dari dalam. Ia melihat istrinya yang berada di balik pintu.

"Kak Angga." Livi mematung di tempatnya melihat suaminya yang tiba tiba muncul dengan nafas terengah. Terlihat buliran keringat mengembun di kening Angga.

Angga sendiri juga terdiam, melihat wajah Livi bergantian melihat koper yang ada di samping istrinya. Tanpa aba aba ia segera merangsek, merengkuh tubuh Livia kedalam pelukannya.

"Jangan pergi! Aku mohon jangan pergi. Maafkan aku Livi, maafkan aku. Jangan meninggalkan ku." Ucapan Angga terdengar sangat mengiba. Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Livi seolah benar benar tak akan melepaskan wanita itu walau sejengkal saja.

Livi yang terkejut berusaha mencerna atas situasi ini. Ia nampak bingung dengan tindakan Angga. Kenapa suaminya tiba tiba berbuat seperti ini?.

"Kak! Lepaskan aku dulu." Ucapnya yang merasa sesak di tubuhnya.

Angga menggelengkan kepala. "Tidak! Aku tidak akan melepaskan kamu. Kamu akan pergi kemana? Kamu akan meninggalkan ku Liv?" Ucapnya sungguh sungguh.

"Kak! Aku tidak bisa nafas. Lepaskan aku!" Livi memukul punggung Angga. "Aku akan pergi ke kota X kak. Waktu ku tinggal sebentar lagi."

Angga menghela tubuh Livi. Ia melihat wanita itu tengah menghirup udara dalam dalam. "Kamu akan pergi meninggalkan ku?" Tanyanya dengan geram dengan sorot mata tajam dan mengancam.

"Aku akan melakukan perjalan bisnis Kak. Aku harus ke kota X untuk meninjau pabrik cabang di sana." Ucap Livi sambil menepuk nepuk dadanya yang terasa masih sesak akibat pelukan kasar suaminya.

Mendengar ucapan Livi, tubuh Angga melemas seketika di penuhi kelegaan luar biasa. Jantungnya yang semula memukul rongga dadanya dengan keras kini mulai berirama teratur.

"Livi tidak meninggalkan ku. Dia tidak meninggalkan ku."

"Kamu kenapa pulang jam segini?" Livi bertanya.

"Kenapa tidak memberitahu ku jika akan melakukan perjalanan bisnis?" Angga menjawab dengan melempar pertanyaan.

Livi menyodorkan ponselnya di depan wajah Angga. "Hape ku mati."

"Kenapa kak Angga sepanik ini? Sudah Livi, jangan berharap lagi, jangan berharap. Sikapnya tidak punya arti apa apa. Sadarlah Livi, sadarlah!!. Livi

"Aku harus berangkat kak. Jadwal penerbangan ku sebentar lagi." Livi bersiap menarik gagang kopernya.

"Berapa hari kamu disana?" Pertanyaan Angga menghentikan langkah Livi.

"Mungkin seminggu." Ia mengulas senyum melihat suaminya. "Aku berangkat." Ia melanjutkan langkah menuruni anak tangga.

"Laki laki itu bersama mu?"

Pertanyaan Angga menghentikan langkah Livi. Ia menoleh kembali ke arah Angga. "Dia punya nama, namanya Vero. Ini urusan bisnis, sudah sewajarnya dia akan mengikuti ku." Livi memberi jeda sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya kembali. "Kamu tidak perlu khawatir kak, aku akan menjaga sikap ku selama dengan Vero, jadi kamu tidak perlu malu lagi jika orang lain melihat ku dengan Vero."

Degg!!!

Ucapan Livi menancap tepat di hati Angga. Ia kembali menyesal dengan ucapannya tempo hari saat pertengkarannya.

"Aku berangkat kak."

Satu senyuman penuh arti yang Livi berikan begitu menyembilu hati Angga. Senyum itu memperlihatkan kesedihan sang istri akibat ulahnya sendiri. Ia melihat Livi berjalan sambil menyeret koper keluar dari rumahnya.

Kenapa rasanya seolah Livi benar benar pergi selamanya dari hidupnya. Dan rasanya kenapa sesakit ini?

...💮💮💮💮...

1
senja indah
torrr...apa g ada pgn bikin cerita ank kembar mereka hhh
senja indah: penasaran kisah mereka...LunaYumi
total 3 replies
Kaira Caem
aku yg gc nyambung apa cerita nya yaaa,,,kok tiba2 uda nikah aja gimana sih
AZura Hasan
👍👍👍👍👍
AZura Hasan
makin seru aj
AZura Hasan
perasaan gk bisa di paksakan
Regita Regita
kita tidak bisa menghujat atau menyalahkan Angga,karena kita ridak bisa memaksa atau mengatur perasaan oranglain.Angga yang sudah sangat lama berada dalam zona persahabatan dan menganggap Livi sebagai adiknya yang selalu ingin Angga lindungi,mesti merubah perasaannya menjadi cinta kepada Livi sementara Angga sangat mencintai Alya walaupun Angga juga sadar kalau sudah tidak mungkin untuk memiliki Alya.Angga ada pada titik bingung memastikan perasaannya pada Livi. seperti apa yang Akbar bilang pada Alya,seandainya Akbar jadi menikah dengan Livi,mungkin keaadaannya akan sama seperti Angga,Angga akan tetap mencintai Alya walaupun sudah menikah dengan Livi. ya...akhirnya kembali bahwa kita tidak bisa mengatur atau memaksa perasaan orang lain untuk memilih.kita kembalikan kepada Allah yang Maha membolak balikan hati manusia. karena ini dunia halu,kita kembalikan pada AUTHOR yang mengatur segalanya.semangat Author...ceritamu The Best.tetap semangat,semoga makin banyak yang baca.bunga dan kopi meluncur....💖💖💖
Shalsyalala: Huuu terharuuu kalau ada pembaca kayak kakak giniiii❤️❤️
total 1 replies
Regita Regita
sepertinya Vero,Nisya dan Dipta berkomplot untuk mengahancurkan rumahtangga Angga dan Livi...
Regita Regita
ceritanya bagus,tapi yang baca masih sedikit padahal udah lama ya? apa belum banyak yang menemukan judulnya,sama kaya aku yang baru menemukan dan langsung mampir.semangat kak...semoga makin banyak yang baca.
senja indah
ini cerita super keren tpi kok like y g ada ratusan....oh no...tetap semangat berkarya otor soleha
senja indah: aku.baca udah 2 kli torr...superrr keren...tpi sedih bgt...knpa readers y dikit bgt yaaa
total 2 replies
ani suchaeni
bagussss, alur ceritanya
Shalsyalala: makasih kak udah mau baca😍😍
total 1 replies
Fransiska Siba
makan itu kebodohan mu Livia, coba kau tidak memberi cela Vero dlu maka tidak akan sepeti itu
Fransiska Siba
itulah Alya ga peka perasaan org lain, pengen dia yg dimengerti terus
Shalsyalala: Jangan lupa baca kisah Alya juga ya kak 😘
total 1 replies
Fransiska Siba
untung Livia tidak salah dalam pergaulan di luar negeri ya krn tidak mendapat sandaran hidup. ini yg aku suka dari Livia dia bisa membatasi diri dalam bergaul dan dia mempunyai cita2 sederhana yaitu menjadi ibu yg baik dan istri yg baik, dia tidak mau mengulangi kesalahan org tuanya dikemudian hari, dia tidak mau menjadi seperti org tuanya, dia tidak mau anak2 nya merasakan apa yg dirasakan olehnya dlu.
Livia hidup kesepian tanpa arahan org tuanya, tp dia tahu arahan hidupnya menjadi lebih baik
Fransiska Siba
tp jujur aku lebih suka Livia dibandingkan dengan Alya, Alya banyak teman tp kesan murahan dan kurang peka perasaan org sekitarnya.
sedangkan Livia tidak banyak teman tp dia memantapkan hati pada satu hati dan dan dia benar2 pilih yg tulus padanya, meskipun dia harus merelahkan laki2 yg ia cintai bersama sahabatnya.
aku lebih suka sifat Livia
Mega Chai
ortua yg keras n memaksa anak untuk jadi no 1 seperti ortua livia adalah ortua yg akan membuat anak nya frustasi, didunia nyata utk org2 yg sudah jadi ortua,semoga kita semua tidak menjadi ortua seperti ortua livia,mw prestasi anak seperti apa pun kita harus ttp memberikan anak semangat utk menjadi lbh baik lagi bukan malah memaksa anak,krn sebagai anak pun mereka sudah berusaha utk mendapatkan prestasi yg terbaik,kita pun pernah diposisi anak kita dulu sebagai pelajar,
Shalsyalala: hai kakak salam kenal. Makasih ya sudah mau baca karyaku🤗
total 1 replies
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
❤️❤️❤️❤️💜💜💜💜💙💙💙💙
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙
Shalsyalala: makasih dukungannya kak
total 1 replies
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!