NovelToon NovelToon
Menertawakan Diri Sendiri

Menertawakan Diri Sendiri

Status: tamat
Genre:Komedi / Romantis / Dosen / Patahhati / Teen / Contest / Tamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: CAPEK

Semua berawal pada malam itu di saat pertunangan seorang teman. Dipertemukan dengan keadaan yang tidak bisa di mengerti. Entah itu duka atau suka di masa depan nanti. Dia terlihat cantik pada malam itu, seperti kunang-kunang di bawah bulan purnama. Entah harus senang atau malu pada saat itu. Kepercayaan cinta pada pandangan pertama tidak mengalahkan pada rasa kewaspadaan; sehingga menganggap setiap hal adalah jenaka semata. Di sisi lain, ada rasa beruntung. Laki-laki mana yang tidak beruntung bertemu dengan makhluk indah di antara makhluk lainnya. Hingga dari fase ke fase, rasa ingin memiliki semakin sulit. Namun tetap merasa beruntung, dengan begini bisa merasa tetap ada dalam hidupnya. Meskipun begitu, kepercayaan pada "usaha tidak mengkhianati hasil" masih teguh nan kokoh di dalam dada. Hingga sebuah kalimat terlontar dari bibir, "Terimakasih pernah menulis buku sejarah indah. Meski harus berakhir seperti ini;)"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CAPEK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hanya Perlu Tertawa

..."Doaku sederhana...

...Sehatkan raga yang lelah...

...Kuatkan hati yang rapuh...

...Dan tertawa hahahaha..."...

Daun-daun berguguran. Orang-orang menggunakan jas dinginnya. Mereka tampak menikmati musim saat ini dengan ekspresi mereka yang berbeda-beda. Kami berdua baru saja sampai dari kampus, dengan cindera mata tugas yang menumpuk. Kulihat ke bawah dengan tubuh yang lemas. Sesekali taxi lewat dan berhenti menurunkan tumpangan, dan mereka berdua baru saja sampai di apartemen kami.

Beko telah satu negara dengan kami, tapi tidak dengan Adan yang baru saja di terima kerja di salah satu instansi negara. Dia telah menjadi joki di cafenya, Hanna. Kebetulan ayah Hanna sedang mencari orang yang memiliki pengetahuan kopi, dan Beko memiliki itu walau yang ia tau tentang kopi Aceh. Dia merekomendasikan sanger di Spanyol karena di Aceh sangat banyak peminatnya, berharap sanger cocok di lidah orang-orang sini.

Fadel baru saja menerima kiriman dari ayahnya. Katanya, ia ingin sekali kopi Aceh karena kopi di sini kurang cocok dengan lidahnya. Belum lagi dengan Beko, aku sudah menunggunya sedari tadi, karena aku ingin menyangkol rokoknya. Bagaimana tidak, ia memiliki rokok kretek yang harganya sangat mahal di negara ini.

Aku masih terbaring lemas di kasur. Menghadap jendela, melihat orang-orang dengan tujuan berbeda-beda. Beko sedang mengambil alih dapur untuk membuat kopi yang baru saja ia pesan dari saudaranya. Sedangkan Hanna sedang mengeluarkan sesuatu untuk di makan. Dan Fadel masih saja sibuk dengan laptop barunya.

"Nonton bokep ngajak-ngajak donk" kata Beko hingga mengejutkan Fadel.

"Kepala otak kau tuh bokep semua. Prosesor gagal produk, inilah orangnya" ketus Fadel pada Beko.

"Heheh... jangan gitulah. Nih... ngopi dulu, biar gak gila" Beko menyodorkan secangkir kopi.

Tiba-tiba Hanna bertanya padaku, "Bokep itu apa?" Hanna yang baru-baru saja bisa bahasa Indonesia.

"Film jorok..." jawab Fadel. Kepala Hanna miring, ia tampak tak mengerti. "Alah Beko... kau jelasin aja deh—kalau bagian itu." kata Fadel pada Beko. "Hanna... ini orang yang tepat untuk pertanyaanmu" katanya pada Beko. Fadel pun melanjutkan tugasnya.

"You understand Bokep, kan?" (Kamu paham bokep, kan?) tanya Beko. Aku dan Fadel terpingkal-pingkal dengan bahasa Inggris Beko yang berlepotan. Dan saking perut ini sakit, ia mengucap tiap kalimat itu dengan rasa penuh percaya diri di depan wanita pirang itu. Hanna geleng kepala. Beko mencoba berpikir bagaimana caranya untuk menjelaskan pada Hanna dengan sederhana. Dengan wajah serius Beko berkata, "Bokep is it Film Blue. Artinya Film Biru"

"You mau stand up comedy, Beko?" (kamu mau melawak, Beko?) tanya Hanna dengan tertawa.

"No.. no.. no. You listen me" (Bukan.. bukan.. bukan. Dengarkan aku) kata Beko. Lagi-lagi aku dan Fadel terpingkal-pingkal mendengar ucapannya. "Woiii... BISA DIAM GAKK..!?" Dalam sekejap kami terdiam. Wajahnya terlihat sangat kesal akan tingkah kami. Lalu Beko kembali mencoba menjelaskan hal itu pada Hanna. "Bokep it's BF. Blue Film. Pokoknya film mantap-mantap" kata Beko tampak kesal dengan Hanna yang belum paham.

"Ohhh... yes I know" (Ohh... ya, aku tau) kata Hanna pada Beko.

"No..."

"So, what is that?" tanya Hanna heran.

"I like u..." (Aku suka kamu) Beko tersenyum iblis.

"But, i like him" (Tapi, aku suka dia) canda Hanna menunjukku.

"Fucek-lah...! Bule pukimak" kata Beko. Kami tertawa geli melihat Hanna yang tidak tau arti Fucek. Selain itu, Beko yang baru-baru saja mengerti bahasa Inggris membuat Hanna dan kami berdua tak kuat menahan tawa.

Mata yang tadinya terasa berat, kini melek dan terasa segar. Bukan karena setelah minum kopi yang baru saja dibuat Beko, tapi percakapan Beko dengan Hanna. "Beko...aku baru kali ini dengar bahasa Inggris rasa Aceh. Alias bahasa Inggris medok Aceh" aku menjahilli Beko.

"Mungkin ini sebuah kekurangan. Tapi kekurangan ini pula yang bisa menghibur hati-hati yang rapuh" kata Beko bak Mario Teguh.

"Anjay...! Siap paduka" kata Fadel menahan tawa.

Setiap orang ada rasa minder terhadap sesuatu. Pada satu hal berani melakukan hal tersebut, namun tidak pada lain hal (begitu juga dengan sebaliknya). Kekurangan sudah pasti di miliki setiap manusia, dan menjadi sebuah alasan untuk tidak ingin menjadi diri sendiri. Dengan paksa beberapa orang harus menjadi orang lain untuk menutupi kekurangannya. Pun tidak heran yang sering di lihat, berpura-pura agar di terima dalam kalangan. Yang sebenarnya, kita hanya perlu menerima apa yang ada, bukan ada yang apa. Mencintai diri sendiri, bukan mencintai menjadi orang lain.

Terkadang orang tampan dan cool, sesekali ingin di terima oleh kalangan orang-orang funny. Membuat beberapa lolucon untuk membuat sebuah tawa. Namun mereka tidak bisa karena minder/malu. Karena untuk melakukan hal tersebut harus berani di sangka gila atau bahkan mesum. Begitu juga sebaliknya dengan orang pelawak seperti Beko yang tidak bisa diam (lasak), ia tidak bisa seperti suami Cut yang cool dan tampan, yang pastinya harus menjaga sikap dan tentunya modal yang banyak. Jadi banyak yang tidak menyadari, beberapa di antara golongan juga ingin memiliki kekurangan orang lain, semata hanya ingin membuat orang tertawa atau terkesima. Yang pasti, kekurangan itu akan menjadi kelebihan selama mencintai diri sendiri.

Pada hari ini, kami kembali berkumpul. Kami berencana mengunjungi salah satu tempat yang menakjubkan, Masterpiece Gaudi. Lebih mudah disebut Bangunan Gaudi. Setelah searching di internet, kemarin kami langsung memutuskan untuk piknik ke sana, tapi sayangnya Hanna tidak ikut karena ia telah berjanji dengan sang kekasihnya. Jadi terpaksa kami hanya menggunakan google map dan modal tanya doank agar tidak tersesat.

"Hanna gak ikut" tanya Fadel padaku.

"Hanna udah janji duluan dengan kekasihnya, kalau malam ini kekasihnya mengajak Hanna berkencan" jawabku.

"Kencan?" sela Beko.

"Kenapa...? ada yang salah?" tanyaku pada Beko. Dia terlihat bingung.

"Hempp... pasti prosessornya mulai lagi deh servernya beralih ke situs deep web" jawab Fadel.

"Maksudnya?" tanyaku.

"Gimana ya aku ngejelasinnya..." Fadel sejenak berfikir. "Bahasa sederhananya, situs berbahaya. Dan di situ termasuk situs bokep. Dan otak si kawan kita sedang beralih server sekarang. Hahhahahahaha..." Fadel tertawa. Dan aku juga.

"Jadi,  kok berkencan?" Beko bertanya lagi. Taxi pun berhenti.

"Ya katanya gitu" jawabku. Dan kami mulai masuk ke dalam taxi.

"Hemppp..." Fadel dengan memang gayanya selalu melipat tangan. Dan berkata, "—Wajar kalau kita orang Indonesia Barat kata berkencan itu terdengar tabu. Kalau disini disebut kencan, di sana disebut ngelonte. Padahal yang di maksud disini, ya... berpacaran, atau sekedar berdansa dan makan malam dan hal-hal lain yang sewajarnya."

"Ohh... gitu rupanya" jawab Beko baru mengerti. "Terus siapa nama pacarnya?" tanya Beko padaku yang sedang fokus dengan google map.

"Asep," jawabku singkat.

"Emang ada orang Spanyol bernama Asep? Aku baru tau nih. Soalnya orang Spanyol itu biasa Do Do gitu ujung namanya" tanya Beko terlihat tenggang.

"Mana aku tau, Nyet...! Kepo banget sih urusan orang" jawabku kesal karena mengganggu konsentrasi.

"Kalau Adan tau, mungkin hatinya hancur saat ini" katanya dengan melihat ke atas.

"Hahahaha... iya. Kayak hati si kawan kita" kata Fadel melirik ke arahku. Aku kembali fokus pada map beserta foto-foto yang tertera di google map, memukau.

Akhirnya kami tiba di tempat tujuan. Ramai, namun tidak memadati jalan seperti wisata di kotaku, mungkin karena kawasannya yang luas. Setiba di tujuan, aku langsung di hadang dengan panorama yang memukau mata. Menurutku, tempat ini adalah surganya bagi para pencinta seni. Tidak heran, orang-orang di yang berkunjung kebanyakan pelukis atau arsitektur.

Fadel izin pergi untuk mencari beberapa makanan. Kebetulan kami juga lapar setelah perjalanan yang membingungkan ini. Hot dog menjadi pilihan untuk mengganjal perut kami. Kembali berjalan menyusuri kemegahan sejarah Sagrada Familia. Tubuh terpaku, melihat sepasang kekasih yang sedang berduan. Gaun merah dan seorang pria bertas gitar di punggungnya. Langkah terhenti seketika, dalam sekejap suara lenyap begitu saja.

"Ayo... masih banyak yang harus kita lihat dan di abadikan" teriak Fadel dari kejauhan.

"Andai saja aku—mungkin aku bisa mengajaknya ke sini," aku membatin. Kembali tertawa kuda...

Di saat yang mereka berdua sedang berlagak di depan kamera. Aku kembali membuka sebuah catatan kecil.

..."Padahal kaki telah jauh melangkah. Negeri Matador adalah tempat hati bertapa . Menepis semua rasa yang pernah ada dengan pesona kotanya. Telah sejauh ini bayanganmu masih saja mengikuti. Apakah karena kau masih mengingatku? Kita hanyalah kepingan sejarah pada waktu yang memaksa lupa"...

Menatap langit cerah. Memejamkan mata. Dengan dalam menarik napas panjang. Sebuah kebiasaan untuk mengikhlaskan sesuatu yang berat dan pesan tersebut berubah menjadi origami burung; berharap langit selalu cerah yang tidak semendung hatiku.

Kami pun beranjak mencari tempat lainnya. Melihat-lihat apa yang menarik untuk di pandang. Di saat kami menikmati jalanan, tampak sosok pria dengan pakaian yang sedikit lusuh. Rambut panjangnya sampai menutupi telinganya. Terlihat waras, ketika orang menyapanya. Mungkin orang tersebut sudah terkenal di sini.

Seseorang mengajaknya berbicara dengan bertukar kabar. Namun yang ia jawab lain, "Hanya ada satu perbedaan antara orang gila dan diriku. Orang gila berpikir dia waras. Aku tahu aku gila" begitu katanya dalam bahasa Spanyol. Aku terus memperhatikan ia saat teman-teman sedang mengantri membeli minuman. Lalu ia kembali menjawab dari pertanyaan si pria berdasi tersebut, "Saya tidak aneh. Saya hanya tidak normal. Dan... Aku tidak menggunakan obat-obatan. Akulah obatnya. Hahahaha..." ia tertawa besar dengan menerima uang dari si pria berdasi.

Aku pun bertanya pada salah satu pribumi Sagrada Familia tentang pria tersebut. Setelah mendengar penjelasan; pria tersebut gila, namun ia mengerti dengan bahasa waras. Konon katanya pria tersebut memiliki perusahaan dan restoran yang sangat maju. Dulunya ia sangat baik dan pula dermawan. Rumor mengatakan, yang membuat ia seperti ini di tinggal oleh istri dan anaknya karena perusahaan dan restorannya bangkrut. Barang-barang mewahnya habis sampai hutangnya menumpuk di sebuah bank. Ia dulunya juga pemakai narkoba berat, dan pernah dinyatakan mati OD sebelum masuk penjara. Meskipun ia seperti itu sekarang, orang-orang di sini tetap menghormatinya. Bukan hanya kebaikannya dulu, tapi karena jenius; meskipun sesekali jawabannya gak nyambung, namun apa yang di katakan adalah nasihat dan motivasi.

Kami pun kembali berjalan menghabiskan waktu. Kembali teringat lelaki berpakaian lusuh tadi. Ternyata waras tidak belum tentu seseorang itu bahagia, bahkan gila pun merasa bahagia. Pastinya kagum, bukan hanya karena tempat yang kami pijak, tapi orang-orang yang baru aku temui. Sekarang aku yakin, jalan yang berlubang akan rata dengan tanah dan batu. Begitu pula hati manusia yang kosong.

Bila mengingat tentang kenangan indah yang pernah aku lalui, kini tidak begitu menyakitkan lagi seperti hati dulu yang luka. Aku bahkan bisa tersenyum, terlebih musim gugur. Daun boleh saja gugur, tapi tidak dengan hati ini. Masih panjang perjalanan yang harus di lalui. Masih banyak yang harus di lihat. Masih banyak yang harus di rasakan. Masih yang harus di ketahui, terutama tentang diri sendiri. "I love myself... more than anything," kataku dalam hati.

Percuma harus sekuat tenaga memegang erat pondasi, kalau diri sendiri juga lelah untuk menopangnya. Tidak hanya tubuh yang butuh istirahat, hati juga demikian. Manusia terlalu naif, untuk sebuah cinta yang menjamin jiwa bahagia, merelakan diri hatinya di hancurkan. Jika ibaratkan; demi buah yang akan matang, rela bergantung pada ranting yang rapuh. Bukankah harus mencintai diri sendiri, baru mencintai seseorang?

Banyak yang menganggap konflik adalah sebuah ketidakcocokan dari sepasang hati. Saling menghakimi, menyudutkan, dan terus mencari siapa yang salah. Berkata-kata bahwa dirinya benar, padahal untuk berbicara kebenaran harus mengakui kesalahan diri sendiri. Kebanyakan orang saat beradu argumen mencari siapa yang salah, bukan apa yang salah. Namun saat orang mencari kebenaran, orang terlalu gengsi mengakui dirinya salah. Banyak contohnya, seperti orang berselingkuh. Memang selingkuh itu salah, tapi apakah si korban pernah bertanya pada diri sendiri apa yang kurang dalam dirinya hingga sang kekasih berpaling? Namun yang sering di lihat; orang yang melakukan selingkuh karena telah menemukan lebih sexy dan tajir. Bukankah begitu...?

Kulit telah merasakan setiap musim yang berganti. Hari hari tetap berjalan norma 24 jam seperti biasanya, pastinya tetap ada siang dan malam.

Menertawakan seseorang memang dapat membuat rasa bahagia, namun menertawakan diri sendiri lebih menyenangkan tanpa perlu ada yang terlukai. Cukup mengakui pada diri sendiri, membandingkan diri yang dulu dan yang sekarang. Mungkin banyak yang di temukan ke alay-an yang harusnya tidak perlu untuk di lakukan, entah itu update status galau di story media atau stalking si doi yang telah pergi dengan yang baru. Mengejar bayangan seseorang itu tidak enak, apalagi berjalan di bawah bayangan orang. Manusia hanya perlu berjalan ke mana matahari terbit dan terbenam, sehingga bayangan-bayangan itu terus mengikuti raga.

Saat wanita yang cintai benar-benar telah meninggal pergi, apa yang aku benci telah menjadi rindu. Apa yang membuat hati ini hancur pada malam itu, aku terus mengutuknya di setiap malam menjelang. Padahal jauh di lubuk hati yang dalam masih menginginkan dia kembali, meskipun hati sangat hancur jika pun masih bisa berjalan bersama. Terdengar kalau itu terlalu naif, jika tidak; mana mungkin di sebut cinta itu buta. Saat hati hancur ketika ia pergi, yang terdengar di telinga hanyalah ia yang bisa menyatukan kepingan yang telah hancur. Dan itu belum tentu terjadi seperti di film bollywood. Di saat seperti itu, raga hanya perlu bermain gaplek untuk mengisi jiwa yang kosong, bersulang kopi dengan teman untuk menyamarkan hati yang lecet. Mungkin menertawakan luka yang sempat ada dengan beberapa kebodohan yang pernah di lakukan.

Hal yang menyakitkan ketika pamit bukan hanya luka, tapi tanda tanya. Bertanya-tanya mengapa ia melakukan seperti itu. Memang saat seperti itu rasanya seperti mati rasa. Hal yang perlu di yakini, hujan turun menandakan dunia masih bernapas.

Dewasa itu butuh waktu. Menemukan apa yang salah, mengakui kesalahan diri sendiri, lalu memaafkan diri sendiri. Yang salah hanya perlu di maafkan, bukan membenci atau pun membalas. Manusia hanya perlu menertawakan diri sendiri atas kesalahannya dan hal-hal bodoh yang pernah melintas. Di perpustakaan saat menemukan orang yang sama sepertiku, aku pun berkata, "Gak masalah... Kita hanya manusia biasa, wajar masih banyak salahnya. Manusia lebih banyak warasnya dari pada gilanya. Manusia hanya butuh beradaptasi, sampai kau meyakini bahwa gila lebih menyenangkan dari pada sebuah ciuman." Rebecca tertawa dengan Hanna hingga mereka berdua di marahi sang penjaga library.

"Pssiittss.. Agam?" bisik Hanna. Aku berpaling. "Rebecca mengundang kamu makan malam di rumahnya."

"Gak bisa.." jawabku menyilang tangan. Wajah Rebecca berubah murung.

"Ayolah.." Hanna merayuku. Lalu kulihat Rebecca menggenggam kedua tangannya (memohon).

Aku sejenak berpikir. "Bolehkah aku ajak mereka juga?" tanyaku.

"Who is that?" tanya Hanna.

"They are my crazzy friend" kataku. Seketika wajah Rebecca berubah aneh.

Aku telah selesai mencari tugas di perpustakaan, termasuk Hanna dan Rebbeca.

"Hanna... After this, where are you going?" (Hanna... Setelah ini, kamu mau kemana?) tanya Rebbeca.

"I don't know. If you?" (Enggak tau. Kalau kamu?) Hanna tanya balik.

Rebecca membuka selembar kertas kecil. Dan berkata, "Look at this..!" Hanna pun kaget melihat list tersebut.

"And... Taadaaa..." Rebecca kembali menampakkan tulisan besar 30% di kertas tersebut.

Wajah Hanna berubah histeris. "Oh my god..!!" kata Hanna terlihat kaget.

Entah apa yang mereka bicarakan, aku tidak mengerti. Mungkin ini yang disebut wanita sulit di mengerti. Aku pun kembali melihat agenda hari ini di layar kaca.

"Agam..?"

"Agam..?"

Kulihat wajah Hanna sudah merah padam. "Iya.. Ada apa sih berisik-berisik..?" jawabku. Aku masih melihat-lihat agenda.

"Don't be rude to him, Hanna" (Jangan kasar padanya, Hanna) kata Rebecca dengan suara serak basahnya.

Hanna menjelaskan pada Rebbeca, "I don't like disrespecting women. That's really not a real man" (Aku tidak suka pria tidak menghargai wanita. Itu sungguh bukan pria sejati).

Aku merasa tidak enak pada Hanna. Aku bertanya, "Okey.. okey.." Aku pun menyaku ponsel. "So, what do you want from me?" (Jadi, apa yang kamu inginkan dariku?).

Hanna menjawab, "You—"

"Where are you going after this?" (Setelah ini, kamu akan kemana?) tanya Rebecca menutup mulut Hanna.

Aku menginyit dagu. "Emp... Maybe, drink coffe" (Emp... Mungkin, minum kopi) jawabku.

Hanna sontak melepas tangan Rebecca yang membuatnya kesulitan bernapas. Wajahnya terlihat kesal pada Rebecca. Namun Rebecca berkata untuk tenang. Lalu mereka berbisik-bisik kembali.

"Do you like coffe, Agam?" (Agam... kamu suka kopi?)  tanya Rebecca.

"Ya..."

"How about I take you somehere?" (Bagaimana kalau aku membawamu ke suatu tempat?) Rebecca menawarkan sesuatu. "—I think, you like it" (Aku rasa, kamu akan suka) sambungnya. Rebecca melirik Hanna.

"Where?" (Dimana?) tanyaku yang timbul rasa penasaran.

"Secret" (Rahasia) jawabnya.

Kami beranjak keluar kampus. Tampak arah jalan gerbang ramai dengan pejalan kaki lainnya. Di pertengahan jalan, Rebecca berpisah dengan kami. Tinggal aku dan Hanna yang sedang tertawa dengan gawainya.

Tiba-tiba sebuah mobil berwarna putih berhenti di sebelah kami. Jendelanya mulai terbuka. Dan ternyata itu Rebecca. "Lets go..!" ucapnya. Hanna lebih dahulu masuk, sedangkan aku masih linglung.

"Kenapa?" tanya Hanna.

"Nothing.." jawabku seadanya.

Setengah perjalanan, banyak sekali perumahan yang harus di lewati. Seperti di film-film barat yang dulunya hanya bisa dilihat di tv-tv. Tidak lama kemudian melewati bundaran yang terdapat stasiun kereta api di sebelahnya.

Rasa penasaran itu hilang, karena...

"Rebecca..?" panggilku. Ada sesuatu yang sedang beranjak dari dalam.

Namun mereka sedang asyik dengan lagu sedang hits saat ini. "How-how you like that? You gon' like that, that-that-that-that, that, that, that, that..." Mereka bernyanyi dengan bergairah. Saking senangnya, mereka berteriak seperti wanita kecopetan alat make-up.

"Hanna...?" Aku kembali memanggil mereka—dan ada beberapa kali. Namun kali ini gas yang ada di perut mulai terasa panas hingga ke tenggorokan.

Namun suara musik mengalahkan suaraku yang rintih. Di tambah dengan suasana hati mereka yang terpesona lagu korea tersebut. Oh siall..!

"Rebecca..?" Aku menyentuh pundak Rebecca yang sedang menyetir, tapi tidak ada respon.

Beberapa saat kemudian, mata melotot, seketika tangan dengan refleks menutup mulut. Cairan asam meledak melewati tenggorokan, tapi aku masih bisa menahannya. Lambat laun, cairan itu memenuhi seisi mulut. "Brruk.. Brruk.. Bruck!!" Aku menggedor-gedor kaca jendela mobil—saking sesaknya volume yang bertambah.

"Buuk.. Buk.. Buuk!!"

"What happen.!?" kata Rebecca panik. Ekspresi Hanna berubah kaget dan langsung mengisyaratkan Rebecca untuk menekan tombol yang ada di sebelah kirinya. Namun yang terjadi Rebecca malah mengurangi kecepatan dan memberhentikan mobil di pinggir jalan.

"Uuwaarrkkk.. Uuwaarrkkk..." Keluarlah yang hijau bercampur kuning.

Mobil kembali mengaspal. Suasana hening dengan rambut yang di sayup-sayup sang angin. Tidak ada musik seperti tadi, hanya ada expresi tegang dari wajah mereka berdua.

"Haaa... gini kan enak" ucapku. Tidak ada respon apa pun. Aku pun bertanya, "What's wrong with you?" (Ada apa dengan kalian?). Lagi-lagi tidak ada respon dari mereka. Kami pun terdiam sejenak.

Rebecca mengubah posisi kaca spionnya. "Have you eaten?" (Apakah kamu sudah makan?)

"Ya.."

"So, why are you vomiting?" (Jadi, kenapa kamu muntah?) tanya Rebecca.

"It... Its—"

"It's because he can't stand the AC" (Itu karena dia tidak tahan AC) Hanna langsung menyambar.

"You sure?" (Kamu serius) tanya Rebecca. Aku hanya menanggapi dengan cengiran.

"Yeah.. I forget to tell you to open the window" (Yeah.. Aku lupa memberitahumu untuk membuka jendela) kata Hanna.

Rebecca berkata, "This is the first time i've met someone like him" (Ini pertama kali saya bertemu orang sepertinya). Seketika Hanna tertawa besar. Sedangkan sedikit merasa malu pada Rebecca. Sang Supir menatapku melalui spion mobil. "I'm sorry, Agam. I didn't know you ware someone like that" (Saya minta maaf, Agam. Aku tidak tau kamu orang yang seperti itu) ucap Rebecca merasa bersalah.

"Iya.. iya.. Hehe.. Don't worry about it" (Iya.. iya.. Hehe.. Jangan terlalu dipikirkan) balasku merasa tidak enak.

Benar-benar nyaman. Angin sepoi membelai rambut, siapapun yang memjamkan mata akan merasa kebebasan. Di tambah kecepatan laju mobil nan santai, jiwa benar-benar tenang seperti melayang ke udara. Apalagi sambil menikmati permandangan yang indah. Melewati pandang rumput menguning di bias matahari, seolah-olah tidak hanya langit memiliki senja, bumi juga.

Sekitar 1 km lebih menempuh perjalanan, hingga beberapa saat kami telah sampai pada tujuan. Banyak rumah-rumah yang berhimpitan, seperti perumahan subsidi di Indonesia. Yang membedakan nuansanya benar-benar seperti di film-film klasik.

Ada kesulitan saat berhenti. Tampak mobil berjejeran di sepanjang jalan. Rebecca tampak kesulitan saat memarkir mobil, di karenakan tempat yang kami singgahi tidak memiliki lahan parkir. Hingga beberapa saat, Rebecca memutuskan memarkir mobil sedikit jauh dari caffe tersebut.

"Aku suka tempat ini" ucapku.

Rebecca bertanya, "What do you think?" (Apa yang kamu pikirkan?)

Aku menjawab, "Like in the movies." (Seperti di film-film)

"Btw... I know this place" (Ngomong-ngomong, aku tau tempat ini) ucap Hanna tersenyum sinis. Pandanganku mengarah pada Hanna. Sedangkan wajah Rebecca berpaling dari sumber suara. "Rebecca..?" panggil Hanna. Namun Rebecca tidak merespos. "—Did you bring me here two years ago?" (Apakah kamu pernah membawaku ke sini dua tahun lalu?) tanya Hanna.

"I don't think so" (Aku kira tidak pernah) ucap Rebecca tanpa melihat Hanna. Kami hening sejenak.

Beberapa saat Hanna berkata, "Haa...! But, I did remember something" (Tapi, aku teringat sesuatu).

"Apa itu? From your face, i think its fun" (Dari wajahmu, kayaknya seru) kataku.

Hanna berkata, "At that time she failed dat—" (Saat itu dia gagal berken—). Seketika mulutnya di bungkam oleh Rebecca.

"Agam, please don't listen to her" (Agam, tolong jangan dengarkan dia) ucap Rebecca terdengar seperti orang merasa malu.

"Hehe... No problem. And, I know how you feel" (Hehe... Tidak masalah. Dan, aku paham perasaanmu) kataku. Aku pun menepuk pundaknya. Dan berkata, "You have a past, Hanna have a past, and so do i. So... isn't that cool teacher a thing of the past?" (Kamu punya masa lalu, Hanna punya masa lalu, begitu juga aku. Jadi, bukankah guru keren itu adalah masa lalu" Rebecca hanya diam tanpa berani menoleh. Kamu terus berjalan. "—at least you already know, what kind of guy you want" (Setidaknya kamu sudah tau, pria seperti apa yang kau inginkan) kataku.

Sesampai di cafe tersebut, aku dan Hanna duduk setelah menemukan meja yang cocok. Sedangkan Rebecca pergi untuk memesan beberapa menu. Awalnya sempat mengira ada pelayan yang menawarkan menu kepada kami seperti di Aceh. Ternyata di sini menerapkan sistem pick-up spot ; dimana pelanggan memesan menu melalui website dan mengambilnya sendiri di bar.

Di sela hening Rebecca pun bertanya padaku, "Can I find out about Aceh from you?" (Dapatkah aku mengetahui tentang Aceh darimu?).

"Is my story still not enough?" (Apakah cerita dariku belum cukup?) sambar Hanna.

"I.i.. it's not like that" (Bukan seperti itu) jawab Rebecca terlihat panik.

"We've been friends for a long time. Any secrets are known" (Kita telah berteman lama. Segala rahasia telah saling mengetahui) ucap Hanna. Namun Rebecca seperti merasa bersalah dan menjelaskan bahwa tidak seperti apa yang di pikirkannya. "—I don't want any explanation" (Saya tidak ingin penjelasan apa pun) ucap Hanna seperti menyembunyi sesuatu.

Melihat mereka sedang memperjuangkan sesuatu, aku hanya tersenyum dengan kekonyolan yang terbentuk. Rebecca yang tidak ingin menyakiti temannya, sedangkan Hanna paling suka menjahili temannya tersebut. Dan aku, hanya sebagai penikmat dari drama yang mereka peran.

"Rebecca.. stop it. If it continues like this, she can cry," kata Hanna. Namun, ia terlihat seperti menahan senyum.

"I just want to hear his point of view" (Aku hanya ingin mendengar sudut pandangnya) ucap Rebecca pada Hanna.

Aku mulai bercerita tentang Indonesia, terutam tentang tanah kelahiran. Aku juga mencelaskan infrastruktur setiap kota di sana. Salah satunya yang membuatnya terkejut adalah di Aceh tidak ada kreta api atau jalan tol seperti yang pernah di lewati tadi. Aku juga mengatakan, kalau di sana tidak ada bar atau diskotik. Dan itu yang membuat Rebecca geleng-geleng kepala.

Rebecca berkata, "Here they relieve stress or have fun with whiskey" (Disini mereka menghilangkan stres atau bersenang-senang dengan minuman beralkohol).

"So?"

"How do they want to have fun?" (Bagaimana cara mereka bersenang-senang?) tanya Rebecca.

Aku menjawab, "There is a lot of fun there. It's not just what you meant" (Di sana banyak hal yang menyenangkan. Tidak hanya dengan cara seperti yang kamu maksud). Rebecca tidak mengerti apa yang aku maksud. Aku pun mengambil posisi duduk rileks dan membakar rokok. "Rebecca, there are unique facts that you should know. In Aceh there is no entertainment place like here. By drinking coffee—they are happy." (Rebecca, ada fakta unik yang harus kamu tau. Di Aceh tidak ada tempat hiburan seperti di sini. Hanya minum kopi—mereka sudah bahagia) kataku.

"You know? The coffee in Aceh was great. And gayo coffee that I like the most." (Kau tau? Kopi di Aceh sangat enak. Dan kopi gayo yang paling aku suka) tambah Hanna. Aku sejenak menikmati kopi.

Beberapa saat aku berkata, "And there is one more thing you should know, even Hanna didn't know." (Dan ada satu hal lagi yang harus Anda ketahui, bahkan Hanna pun tidak tahu).

"What is that?" (Apa itu?) tanya Hanna. Terlihat Rebecca menjadi pendengar terbaik di sini.

Aku menjawab, "Marijuana is illegal in Aceh, not like here. But marijuana in Aceh is the best in the world" (Ganja ilegal di Aceh, tidak seperti di sini. Namun ganja di Aceh terbaik di dunia). Dan mereka berdua kaget mendengar itu.

Dan mereka tidak menyangka apa yang terdengar. Sesuatu yang boleh-boleh saja, namun tidak di bolehkan di beberapa bagian belahan Bumi.

Aku kembali bercerita segalanya, dan salah satunya adalah adat. Awalnya Rebecca tidak percaya kalau di Indonesia banyak sekali suku dan adat yang bebeda. Bahkan aku berkata bahwa dalam satu provinsi aja memiliki bahasa yang berbeda. Aku juga bercerita tentang kebiasaan orang Aceh.

Aku berkata, "If you are on vacation there, come during the month of Ramadan. And you will have a wonderful moment. So.. It is not legal to go to Aceh if you haven't visited the Baiturrahman Mosque or Sabang Island" (Jika kamu berlibur ke sana, datanglah pada bulan Ramadhan. Dan kamu akan mendapatkan moment yang menakjubkan. Jadi... Tidak sah pergi ke Aceh kalau belum mengunjungi Mesjid Baiturrahman atau Pulau Sabang)

Ada sekitar 2 jam lebih mereka mendengarkan cerita. Matahari juga sudah mulai turun dari puncaknya. Hingga rumah-rumah tampak terbakar oleh matahari. Yang menakjubkan—meski terlihat panas, namun udara di sini tetap sejuk.

Rebecca bertanya, "Have you ever fallen in love" (Pernahkah kau jatuh cintah?)

"Ya" jawabku.

"What do you feel?" tanya Rebecca. Aku hening sejenak.

Aku menjawab, "Beko once said, "Falling in love is not as beautiful as falling on the asphalt"" (Beko pernah berkata "Jatuh cinta itu tidak seindah jatuh di jalan aspal).

"Your feel. Not her feelings" (Perasaanmu. Bukan perasaannya) tegas Hanna.

"Hahaha... Sorry." Aku tertawa. Sedangkan Rebecca mencoba meredakan Hanna. Aku berkata, "Falling in love is like building a house, it breaks down over time. If destroyed, they are no longer the same shape." (Jatuh cinta seperti membangun rumah, akan rusak seiring waktu. Jika hancur, bentuknya tidak lagi sama).

"Intinya..?" tanya Hanna.

"Jatuh cinta adalah rawat. Di rawat dan merawat—harus terus barengan. Jangan maunya terawat doank" kataku.

"What do you say?" (Apa yang kamu katakan?) tanya Rebecca. Aku terdiam karena merasa bersalah.

Aku pun sejenak diam—memikirkan kosa kata. "Empp... Aaa.. Fall.. Alah, Hanna tolong katakan seperti yang aku katakan tadi. Aku udah pusing." ucapku dengan kepala yang telah buntu.

Kami beranjak dari tempat menenangkan. Kembali pulang bahwa tubuh butuh rebahan. Ada yang berbeda dalam perjalanan pulang. Angin sore lebih terasa dari sebelumnya. Dan akhirnya tersadar, perlahan atap mobilnya terbuka.

"Sorry... I forget to you" ucap Rebecca membuka atap mobil. Mungkin dia takut kalau aku muntah dalam mobil.

Setelah mengantar Hanna kerumah, mobil kembali melaju melewati jalan lurus yang panjang dan di himpit oleh padang rumput nan luas. Namun di pertengahan jalan, mobil kembali berhenti. Dan kaget. Di tambah melihat sekitaran jalan sepi. Hanya lampu jalan yang menerangi gelap.

Dia membuka pintu. Dan berkata, "Please sit up front. I'm having a hard time talking to you." (Silakan duduk di depan. Saya kesulitan berbicara denganmu).

Roda kembali berputar. Melaju santai di bawah malam yang tenang. Kami saling diam; aku yang terus melihat langit malam dan dia terus fokus pada jalan. Di saat seperti ini, ada rasa canggung di antara kami.

Aku mencoba mengisi suasana kaku. Dan bertanya, "Is it still far?" (Apakah masih jauh). Dia hanya diam.

Beberapa saat ia berkata, "What Hanna said was true. I failed to date at that cafe." (Apa yang dikatakan Hanna benar. Saya gagal berkencan di kafe itu). Aku hening ketika ia mengatakan itu. "—maybe I still remember him, until I take you there" (mungkin aku masih mengingatnya, hingga aku membawamu ke situ).

Aku membakar rokok dengan meminjam mancis mobilnya. "You don't have to give up. There are still many men out there waiting for your day to open up for him" (Kamu tidak perlu putus asa. Masih banyak laki-laki di luar sana yang sedang menunggu hatimu terbuka untuknya) kataku. Di saat itu pula ia mulai bercerita asal mula ia gagal berkencan.

Kini aku mulai mengenali jalan yang sedang di lalui. Dan itu bertanda tujuan kami sudah dekat. Atap mobil kembali tertutup sebelum memasuki perkotaan.

"Talk about being betrayed, it doesn't feel good. Therefore, I understand your feelings" (Bicara tentang dikhianati, rasanya tidak enak. Oleh karena itu, aku memahami perasaanmu). Dan aku mulai bercerita sedikit tentang diriku. Dan aku bertanya, "Do you want to continue like this?" (Apakah kamu ingin terus seperti ini?). Rebecca hanya terdiam mendengar pertanyaan dariku.

Akhirnya kami sampai di depan apartemen.

Aku pun turun dari mobil dengan melambaikan tangan. Dan anehnya Rebecca juga turun dari mobilnya. Dan berkata "Thank you." Dia berdiri begitu dekat.

"To?"

"At the cafe, I felt ashamed of you. But you understand not to—" (Di kafe, aku merasa malu padamu. Tapi Anda mengerti untuk tidak—).

"Ohh itu! Haha... it's nothing. I should have said that. We just have to laugh." (Haha... itu bukan apa-apa. Saya seharusnya mengatakan itu. Kita hanya perlu tertawa.) kataku.

"Why?" (Kenapa)

"Cause you have been feeding and drinking for me." (Karena kamu telah memberi makan dan minum untukku) jawabku seadanya. Aku kaget. Dengan seketika ia mengecup pipiku. "Why?" tanyaku.

Rebecca menjawab, "It's because... I've never heard a man talk like that before." (Itu karena ... Aku belum pernah mendengar pria berbicara seperti itu sebelumnya). Dia pun pamit meninggalkan senyum sebagai pengganti terimakasih.

Tidak terasa pukul telah menunjukkan 09.30 pm. Kembali membuka gawai, melihat beberapa agenda yang mungkin belum terselesaikan. Sambil berjalan, setiap lorongnya tampak sepi. Menaiki anak tangga rasanya seperti ingin segera merebahkan tubuh.

Pun mengerti, setiap hal butuh jeda. Butuh sejenak menghela napas dari cepatnya bumi berputar. Ada udara panas saat mengehela napas, maka dari itu—diri hanya butuh tertawa (seperti bumi membutuhkan hujan). Namun apalah arti tertawa? Pun orang akan menganggap itu gila di tengah jalan. Dan apakah orang mengerti lelah di setiap orang? Mereka tidak mengerti. Mereka tidak mengerti setiap batasan manusia. Mereka hanya akan mengatakan, dasar sinting..!!

Ada yang diam ketika di tertawakan. Ada pula yang tertawa ketika di tertawakan. Dan setiap orang berbeda-beda. Sama halnya dengan patah hati, hanya perlu tertawa ketika sukma tergores. Namun beberapa orang memilih diam atau menangis. Bahkan yang mirisnya, ia menutup hati pada siapapun.

Seseorang pernah berkata, "Kita pernah bersatu karna cinta. Lalu berpisah karna luka." Dan yang menyakini kalimat itu pernah di kecewakan. Siapa yang tidak sakit ketika merasa kecewa? terlebih di khianati. Dan semuanya tau, buah dari harap adalah kecewa.

Suara anak tangga begitu terasa gema, menandakan hanya kesunyian yang tersisa. Hati berkata lirih, "Begitu melelahkan..."

Sesampai di atas, aku membuka pintu. Kulihat mereka sedang menonton film drama Korea. Kali ini mereka tampak akur. Tidak seperti biasanya, mereka seperti kucing dan tikus.

Mata sedikit berat. Aku langsung merebahkan tubuh di tempat tidur. Tanpa mengganti baju, aku langsung menarik selimut.

Ketika membuka selimut, tiba-tiba mereka ada di hadapan. Aku pun kaget melihat wajah mereka yang dingin. "Ada apa?" tanyaku.

"Dari mana kau?" tanya Beko. Suasana menjadi tegang dengan nada dingin darinya. Dan pun sebelumnya, aku belum pernah melihat Beko seseram ini.

"I..i..iya pulang kuliah" jawabku.

Fadel bertanya, "Kuli atau kuliah?" Aku hanya diam. "Emang ada kuliah sampai malam begini?" tanya Fadel.

Aku pun menjelaskan apa yang terjadi sampai pulang terlambat. Awalnya mereka tidak percaya. Mungkin karena mereka sedikit kesal telalu menungguku pulang.

"Kami hampir mengunci pintu. Tapi kami masih ingat teman masih ada di luar" kata Beko.

Aku merasa menyesal atas perbuatanku. Dan seharusnya aku mengabari mereka jika aku pulang terlambat. Sampai Fadel menyangka kalau aku telah di culik atau telah terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Dan saat ini aku hanya bisa minta maaf.

Dengan rasa kesal dan menyesal, suasana menjadi tegang dan hening. Tiba-tiba...

"BUAAHAHAHA...!!" Seketika ruangan meledak. Suasana berubah terbalik.

Beko tertawa meledak, sampai ia harus duduk. Terlihat di sudut sana Fadel menutup mulut (menahan tawa). Sedangkan aku merasa aneh melihat tingkah mereka yang berubah 180°.

"K..ka..kalian kenapa?" tanyaku ragu-ragu.

"Uwu.. uwu.. uwu.." kata Beko yang melonjongkan mulutnya. Dengan itu, Fadel yang sedang mencoba menahan tawa, tertawa geli hingga ia tersungkur.

Fadel menghadap ke sebuah poster Maudy Ayunda. "Beko..! Coba lihat aku." katanya. Beko pun melihat. "—Kayak gini, ya?" Fadel menyinjit dan mencium poster tersebut dengan dramatis.

"Huuahahaha... iya iya. Benar tuh. Tapi itu ciuman orang sangekk, Atok" kata Beko.

"Jadi gimana?" tanya Fadel pada Beko.

"Gini.." Beko pun menghampiri Fadel dan mendekati poster tersebut. Dan berpraga suatu adegan. Dia berjalan lenggak-lenggok seperti model fasihon show (terlihat lebay seperti orang hilang tulang belakang). Dan berkata, "Terimakasih, ya? Untuk malam ini. Ummuuacchh..."

"NAJIS ANJAYY...!!" jawab Fadel dengan spontan.

Aku masih tidak mengerti dengan tingkah mereka. Yang biasanya mereka berdua selalu beradu mulut, entah kenapa kali ini lebih salut.

"Sebentar... Kali ini coba lihat aku" kata Fadel pada Beko. Lalu ia berjalan mendekati Beko. Fadel mengusap wajah Beko dengan jarak pandang yang sangat dekat. Dia berkata, "Mata kau lebih indah dari terang bulan malam ini, sayang." Wajahnya pun mendekati bibir Beko (hendak mencium).

Beko tersentak kaget melihat tingkah temannya. "Sex terpendam kau bangsatt..!!" katanya.

"Gimana akting-ku? bagus gak?" tanya Fadel.

"Kepala otak kau baguss...! Terlalu dramatis, tau" jawab Beko.

Lagi-lagi aku tidak mengerti. Yang awalnya tegang tak menentu, berubah drastis menjadi receh.

"Udah deh... ngaku aja. Itu wanita cantik pake banget" kata Fadel.

"Woy... Beruntung kali hidupmu? Kau bagi dulu aku satu" kata Beko.

"Maksudnya?" tanyaku yang masih tidak mengerti.

"Kau pulang tadi, di antar oleh cewek, kan? Hayo ngaku?" tanya Beko. Aku hanya mengangguk.

"Mobilnya keren. Gara-gara itu, aku di suruh searching mobil itu" kata Fadel menatap tajam pada Beko.

Beko berkata, "Giliran bawa cewek cantik, kita gak di ajak. Kalau ngutip sampah, kita baru di ajak."

Aku menjawab, "Bukan gitu, Beko. Tapi—"

"Tapi, apa?" bantah Beko yang terlihat kesal. "Katanya kau udah janji, kalau ada cewek cantik—aku di bawa juga."

Aku pun merasa bersalah. "Ini cuma kebetulan. Lagian Hanna memohon untuk aku ikut juga"

"Hanna..!?" kata mereka serempak.

"Iya..."

Beko berkata, "Tega si Hanna gak memperkenalkan aku pada bidadari Spanyol."

Fadel memberi cermin pada Beko. "Lhoeh droe ile gam" (Ngaca diri sendiri dulu). Mendengar itu, aku tertawa.

"Jangan ngomong gitu—" kata Beko. Dia memegang dagu, dengan sedikit menyipitkan matanya. "Tampang mirip Lee Min Hoo ini—aku begitu percaya diri, kalau aku mampu menaklukan hatinya." Aku hanya cengir ketika mendengar itu.

Fadel menggeleng-gelengkan kepala, dan menatap tajam ke arah Beko. Dan berkata, "Itu menjijikkan, teman."

Beko meminta aku bercerita sedari aku pulang kampus. Fadel sedang meracik teh hangat dan beberapa roti tawa untuk menemani cerita malam ini.

Setelah setengah jam lebih bercerita, Beko geleng-geleng kepala. Dia tidak percaya kalau Rebecca adalah teman dekatnya Hanna. Dan itu membuatnya kaget dan tidak tau sama sekali.

Fadel berkata, "Meskipun kamu mau dekati Rebecca, belum tentu kamu dapat ciuman darinya. Seperti Rebecca mencium Agam."

Mendengar itu, Beko menjadi lesu. "Enaknya jadi mahasiswa. Banyak cewek-cewek cantik" katanya.

"Kan ada juga tempat kamu kerja" kataku.

"Iya... Dari sekian wanita cantik yang pernah aku lihat. Hanya Rebecca yang paling cantik. Apa lagi dia terlihat cantik ketika turun dari mobil sport-nya" kata Beko. Kami hening sejenak.

Udara di luar mulai dingin. Aku pun menutup jendela yang sempat di buka.

Tiba-tiba Beko berdiri dengan gagah. "Tapi gak masalah" katanya. Kami bingung melihat tingkahnya. "Meski aku hitam legam, tapi potongan wajahku seperti Lee Min Hoo. Meski tinggi tubuhku tidak seperti Lee Min Hoo, tapi goyanganku selincah Messi" katanya. Kami hanya diam. Mendengar itu. "Krik.. Krik.. Krik"

"Ngomong apaan sih, Nyet?" kata Fadel.

"Halu..." kataku sekadar.

Pada malam ini, kami bercerita panjang. Tertawa tanpa merasa di tertawakan—dan itu sangat menyenangkan. Hingga pada akhirnya; Tidak peduli pada sang malam senyap. Tidak peduli pada kegundahan dalam dada. Tidak peduli pada apapun yang terjadi. Dan, apakah ini yang disebut dengan bahagia?

Kami sering seperti ini. Dikala salah satu di antara kami tidak ada agenda di esok hari. Bercerita tentang mimpi, merokok sampai pagi, dan kopi menjadi dingin.

"Agam..." panggil Fadel. Dia mengeluarkan secarik foto dari gawainya. Dan aku...

DUA TAHUN BERLALU...

Di sebuah sekolah menengah atas, tepatnya di dekat stadion kota. Kemarin aku menerima tawaran Bu Farida pada jam kelasnya, dan beliau salah satu guru Biologi SMAN 1 Langsa. Kebetulan saat itu aku menerima proyek dari atasan untuk memantau pembangunan labotarium.

"Pak saya mau tanya" salah satu siswi mengangkat tangan. "Pak... usia bapak 26 tahun. Status bapak, apa?"

"Panggil Bang aja ya? saya belum punya anak" kataku. Sontak seluruh yang ada di ruangan tertawa.

Siswi tersebut kembali bertanya, "Pak, kami tanya-tanya tentang pribadi bapak, gak apa-apa kan?".

"Silahkan... Ada yang ingin bertanya?" aku melihat-lihat siswa yang mengangkat tangan. Dan ternyata banyak juga.

Salah satu siswa bertanya dengan mata elangnya, "Ijin pak, saya mau bertanya... Apa pandangan bapak tentang cinta?"

"Sepertinya kamu paling kritis disini" kataku. Seluruh pasang mata ke siswa tersebut. Aku menjawab, "Cinta bagi saya... Hemmpp... Cinta seperti sebuah bangunan, bisa jadi tempat pulang atau tempat singgah." Siswa tersebut hening dalam diamnya. "—Ada yang lain?" tanyaku.

"Pak..." salah satu siswa mengangkat tangan. "—pernah mengalami masa terindah atau semacam jatuh cinta?" tanya satu siswi yang sedikit cabi pipinya.

"Hmpp... kamu manis ya?" Lalu aku sejenak berpikir. "—Empp... saya tidak bisa menyebut nama orang tersebut. Ada seseorang yang pernah ada dalam hati saya. Singkatnya, ketika dia datang dalam hidup saya seperti sebuah rumah klasik yang di isi lampu pijar" jawabku. Menit ke menit, pertanyaan begitu banyak yang datang.

"Bang, kalau ceweknya itu cerewet, terlalu melarang ini itu. Terus kalau yang namanya cemburuan dan selingkuh itu, gimana sih Bang?" tanya salah satu siswa yang rapi di antara lainnya. Dia terlihat sangat bersemangat.

"Sebelum saya jawab pertanyaan kamu, saya ingin berbicara sebelum saya tutup sesi pertanyaan. Terserah yang mana bisa di ambil. Dan ini penting semua" aku melihat seluruh siswa yang seketika wajah mereka terlihat serius. "Ketika saya berdiri disini, saya merasakan seperti seorang guru. Ternyata beginilah rasa menjadi seorang guru atau dosen, seru" aku tersenyum, namun mereka heran. "Kalian gak percaya? kalau saya menjadi seorang guru, saya lebih senang membahas tentang hal lain dari pada membahas tentang pelajaran. Kalian tau kenapa?" tidak ada yang tau dari mereka. "Karena itu membosankan..." seluruh siswa tertawa serentak. Aku pun berdeham, merasa tidak enak dengan Bu Farida. "Kalian percaya gak kalau kita akan lebih fokus dengan sesuatu hal yang kita sukai? Pada dasarnya manusia hanya bisa fokus 15 menit dan selebihnya otak akan ambyar. Balik lagi, karena itu; jika saya menjadi guru saya lebih senang membahas lain dari pada membahas tentang pelajaran.

"Permisi Bang..." salah satu siswa menyela pembicaraan.

"Mau kemana" tanyaku pada siswa yang merintih tersebut.

"Saya harus melapor..." kata siswa tersebut terputus. Truusstt... Seluruh ruangan tertawa. Teman yang di sebelahnya kesal. "Kode alam Bang" siswa itu langsung lari setelah melihat aba-aba dariku. Aku menghela napas seraya menahan tawa dengan tingkahnya.

Aku pun minum sejenak untuk membasahi tenggorokan.

"Kembali lagi... Berbeda dengan di Amerika. Ketika seorang anak menginjak usia 17 tahun, ia telah dianggap dewasa. Ada tiga yang tidak di ajari dalam sekolah; berbisnis, cara hidup,  minced (pola pikir), dan sex (cinta). Kita bahas tentang cinta saja, berhubung waktunya terbatas." aku pun menggoreskan garis di papan. "Suatu saat kalian akan satu langkah lebih dewasa. Kalian yang cewek, saat ini kalian akan mencari cowok yang ganteng dan keren, tapi suatu saat kalian akan mencari cowok yang baik budi dan lumayan bodohnya. Saat ini mungkin kalian akan mencari yang tajir, tapi satu saat bukan tajirnya yang kalian cari, tapi suatu saat kalian akan mencari tanggung jawabnya" kataku. "Kalian yang cowok, saat ini kalian mencari yang bening-bening, percayalah satu saat kalian akan mencari wanita sebagai tempat kamu pulang dimana saat dunia tidak menerimamu. Gak hanya cantik bisa menipu, manjanya yang di anggap kasih sayangnya bisa jadi tidak ada namamu terbentuk indah di hatinya. Jadi... kalian semua, carilah seseorang tersebut sebagaimana ia memperlakukan orang, baik atau burukkah? Mungkin dengan caranya memberi, menerima atau caranya berbicara. Ada satu hal yang harus di ketahui. Kalian yang cowok, wanita itu lebih menggunakan perasaannya ketimbang logikanya. Tidak heran cewek akan cemburu meskipun ia tau kalau wanita tersebut adalah teman kita. Kalian yang cewek, pria itu lebih menggunakan logikanya ketimbang perasaannya. Jadi gak usah heran kalau pria kebanyakan tidak cemburuan, karena lebih cowok lebih ingin mendengar penjelasan lebih dahulu. Dan hal itu bertolak belakang dengan wanita" kataku.

Aku pun kembali membasahi tenggorokan.

"Saya tidak tau ini kategori apa, namun ada tiga manusia: berpasangan, bergebetan, dan jomblo. Bagi yang telah memiliki pasangan; perlakukan pasangan kalian seperti pasir. Jangan menggenggam terlalu kuat, ia akan jatuh. Jangan pula terlalu renggang, ia kana tumpah. Jadi penggangnya pakai perasaan. Bagi kalian yang punya gebetan; langsung saja nyatakan, jangan takut di tolak. Namun harus ada yang diingat, jangan pernah berharap kalau kamu akan di terima. Dengan begitu kalian tidak terlalu sakit hati. Nahh... bagi yang jomblo seperti saya. Kalian jangan takut kalau tidak memiliki pasangan. Biasanya, wanita yang benar-benar luar biasa, akan datang sendiri meminta nomor wa kamu. Di antara ketiganya, yang paling saya sukai fase jomblo. Kalian percaya gak? kalau jomblo itu akan lebih sukses di antara yang lain" tanyaku.

"Kenapa pak?" mereka masih tampak masih mendengar dengan serius.

"Karena jomblo lebih banyak waktu untuk hal yang luar biasa. Jomblo itu seperti bunga mangga yang akan menjadi buah, telah banyak yang menantinya. Kalian yang jomblo, terus belajar, perbanyak teman, lakukan apa yang kalian suka, dan jangan lupa pulang" kataku.

"Kok jangan lupa pulang, Pak?"

"Kamu jomblo, ya?" candaku. Siswa tersebut tertawa kuda. "Sesukses apa pun kamu di luar sana, tanpa orangtua kamu tidak ada apa-apanya. Dan satu lagi sebelum saya tutup. Jangan hanya pada pasangan, perlakukan orangtua kalian seperti raja" di saat itu pula aku menutup acara.

Waktu telah habis. Sudah saatnya untuk kembali beristirahat.

Tidak ada yang berubah dari kamar yang kusam. Berbaring di antara bantal-bantal, menikmati Bang Haji sedang konser, poster.

Seperti lirik lagu "Kalau cinta sudah melekat, gula jawa rasa coklat". Manusia sering lupa kalau cinta bukan hanya tentang manis saja. Hahahaha... Aku tertawa membandingkan aku yang dulu dengan yang sekarang. "Mengapa aku terlalu bodoh untuk jatuh cinta?", kata hati. Aku pun menyadari, membangun kembali pondasi rumah yang lapuk bukan hal yang mudah. Di sudut lain aku percaya, mungkin ini bukan jalannya.

Sejenak berkeliling mencari angin. Terlihat kembali tempat yang sering mengecap pahit, tertawa, berkeluh kesah, dan masih banyak hal lainnya. Rasanya seperti bernostalgia pada tahun-tahun beralalu. Tidak ada yang berubah, hanya orang-orang bertambah ramai.

Jangan kau coba-coba

rayu-rayu...

Jangan bisikkan angin segar...

Aku tak suka-suka

janji-janji...

Kalau hanya di bibir saja

Itulah yang terdengar di sebuah warkop yang telah lama tidak aku temui. Pejuang rupiah itu tetap melenturkan pinggang mengikuti irama. Dengan tertawa bisa sejenak menepis beban yang sempat berat di pundak. Karena cinta tidak hanya soal perasaan, tapi juga materi.

Tertawa itu menyenangkan, terlebih dengan teman ngopi. Dulu aku bisa di katakan sering menertawakan orang yang galau. Memang rasanya tidak enak, hanya saja tidak mengerti. Kini telah paham arti yang sebenarnya patah, entah karena sedikit lebih dewasa atau rasa pahit melebih dari sebelumnya. Setelah dari itu, aku pun mengajak Acol untuk menertawakan hal yang bisa membuatnya bodoh ketika jatuh cinta, dan berkata "Hisap rokok ini dulu. Coba amati peminum kopi..! Mereka tidak pernah merintih getir. Padahal yang ditelannya rasa pahit".

"Di tengah malam itu, di mana kita bisa mengetahui permasalahan yang mengganggu hati. Gudang jiwa itu mudah di akses ketika tengah malam. Jika ingin setiap hari bahagia. Sebelum tidur, maafkan orang-orang yang telah menyakitimu. Sesimple itu..." sebuah kalimat dosen Bimbingan Konseling dari Cot Kala yang pernah aku tulis di buku catatan pribadi.

Saat itu, mengartikan maaf adalah balas dendam. Dengan dendam terbalas, impaslah kesalahan yang di perbuat. Mungkin dengan cara mencari pengganti yang lebih sexy atau manis dapat terbalas setelah ia merasa kesal atau menyesal. Atau pun seperti kata orang, balas dendam terbaik dengan menjadi lebih sukses dari sebelumnya. Setelah kembali teringat kalimat itu, baru saja menemukan yang sebenarnya. Maaf adalah melupakan keburukannya terhadap diri sendiri, dan mengingat kebaikannya terhadap diri sendiri. "Mungkin berat. Coba dengan mencampurkan sedikit dengan tawa. Semua terasa mudah..."

Tidak ada yang salah bila pengangguran disebut sebagai mimpi buruk, terutama bagi kaum lelaki. Pada zaman nenek-nenek masih memperjuang hak asasi manusia; ras, suku, sumber daya manusia dan lainnya—menjadi satu pertimbangan untuk menjalin sebuah hubungan. Namun seiring berganti generasi, tidak di herankan pada zaman sekarang, pekerjaan, ijazah sarjana, salah satu syarat agar di terima sebagai menantu. Di sisi lain, tidak bisa juga di salahkan orangtua. Yang namanya orangtua tidak mau anaknya makan batu, bukan? Dulu zamannya barter. Sekarang zamannya uang. Dulu tanpa ijazah pun bisa memberi makan anak orang daging rusa hanya menukarkan dengan sekantong garam (barter). Sekarang? tanpa ijazah atau pekerjaan, harus dengan apa memberi makan kalau bukan apa-apa sekarang karena uang? Namun sering kali kalau lelaki tidak menyadari, pengangguran itu sebuah fase yang akan menjadi filter untuk wanita mana saja yang mau menerima lelaki semasa gembel. Memang seperti inilah kenyataan dunia yang harus di terima. Tidak perlu berkecil hati. Hanya perlu tertawa...

Ada masanya yang hal yang pernah digalaukan akan menjadi sebuah tawa. Dimana dendam berubah menjadi memaafkan. Semuanya butuh waktu. Semuanya butuh proses yang panjang, dimana saat itu jiwa baru saja berganti kulit dan menertawakan kulit yang lama. Bukan mengejek, tapi karena kita pernah alay/berlebihan untuk hal tidak penting. Namun yang paling utama, menertawakan itu salah satu cara memaafkan yang balik efektif untuk mengikhlaskan.

Gober mengeluarkan kertas tebal yang telah di desain cantik dan terikat akan pita. Dan berkata "Ini dari dia..."

 

- - -

'Dunia terlalu waras untuk mereka yang mengejar uang seperti satwa langka. Pekerjaan mapan menjadi sebuah syarat agar di terima mertua. Pendidikan menjadi sebuah nama belakang. Kita hanya perlu tertawa untuk sejenak melupakan luka lara. Meneguk kopi tanpa ragu, dan berkata "Kita bukan alat pemuas. Orang gila juga bahagia tanpa di puaskan. Mari bersulang dan hahaha.....'

***

"Lama gak jumpa?"

"Namanya aja demi ilmu"

"Demi ilmu atau demi dollar?" tanyanya. Aku hanya tersenyum.

"Atau demi wanita?"

"Atau demi hati yang patah?"

"Ah udahlah... kita sudah berewokan masih tentang cinta-cintaan. Kayak anak SMP aja" jawabku kesal.

1
Author SUPERSTAR
Tnp mengurangi rasa hormat, kalau boleh sy kasih saran jgn terlalu panjang satu babnya. Lebih baik dibuat jd beberapa bab. Semangat trs thor
Author SUPERSTAR: 💪💪💪💪💪
total 3 replies
zahwa maysura
💓
Nanda Madridista
pengen ngajak si Agam ngopi...
Sambil Menertawakan Diri Sendiri Karna Manusia Terlalu Waras Menjalankan Hidup..

Wahahahahaha
capèk: Ah siap Boss ku. sabar aja yg kedua.
total 1 replies
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🎋AniN🩷❀∂я
semangat up Thor....
Aris
gak tau bilang. Pokok nya gak mau nangis
capèk
Gimana enggak. Naskahnya dari 2018 😔
capèk
karna buaya sesungguhnya itu laki2. meski ada jenis betina
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🎋AniN🩷❀∂я
baru ini baca cerita yg panjaaaaangg beud... but i like it...

next up thor
capèk
makasih buggy
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
up kk, menarik ❤️😘❤️😘❤️👍
capèk
ku menangisss....
Vieneze
Bahasanya puitis banget y.
Vieneze
semangat selalu Thor.
RN
keren 2 jempol buat mu😍
intip playboy mengejar cinta❤😘 yuk
Nndya_kun
saoloh kak,aku baru baca...dan tulisannya tu puitis bgt,kek nyesek aja dihatieeee...uhuk..(batuk gw sorry)
dah lah,gw paporit in dlu ye,mksih dah bikin cerita ini,kek sedikit melambangkan tentang jiwaku,huaaaa😭😭😭,sayangnya gw cewek 😭
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
💯💯💯😘❤️👍
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
👍🙏💯❤️ paket komplit! ada lucu ada puitis 😘😘😘
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
Aku jarang nemu yang seperti kisah kk ini, good job ❤️💯🙏👍
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
👍😘🙏💯❤️
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
aku suka semua quote kk 😘😘👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!