Ayda adalah wanita muda berusia 30 tahun yang mempunyai sifat lembut dan penyayang. Ia menerima pinangan pria bernama Fattah dan menjalani kehidupan yang bahagia.
Hingga sebuah kekecewaan Fattah dan kehadiran wanita dalam kehidupan mereka membuat keadaan rumah tangganya jauh dari kata harmonis. Ayda merasa Fattah semakin jauh darinya dan lebih dekat dengan Anita.
Akankah Ayda mampu menerima keadaan baru itu dan apakah Fattah mampu mengembalikan keutuhan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TRIO A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Ayda berusaha tak menunjukkan sikap marah atau kecemburuan di hadapan Bu Minah.
Ayda berusaha bisa menghindar dari Bu Minah dan segera berpamitan dengannya.
" Maaf Buk ... , saya harus segera pulang , kasihan nenek sendirian " ujar Ayda berusaha menghindar dari Bu Minah.
" Bukannya di rumah ada Bara ?" .
Perkataan Bu Minah seolah menghalangi kepulangan Ayda.
" Iya Buk ... , tapi hari ini Bara masuk pagi " jelas Ayda.
" Gak pa pa kita ngobrol-ngobrol dulu , lagian kalau jam segini Nenek Yati juga masih tiduran , dia kan biasa bangun pagi , maklum sudah tua pasti sering bangun tengah malam " Bu Minah berusaha membujuk Ayda untuk mendapatkan sebuah informasi atau apapun yang bisa jadi bahan perbincangan.
" Maaf Buk Minah , kebetulan masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan ... , saya duluan Buk , permisi ".
Ayda segera menuju keluar ruangan meninggalkan Buk Minah yang sebenarnya masih ingin mengorek informasi dari Ayda.
Seorang ibu seumuran Bu Minah berjalan ke arahnya , merasa penasaran karena sempat mendengar perkataan Bu Minah tentang Fattah.
" Eh, Buk Minah ... , memang benar yang saya dengar tadi , kalau Fattah itu ada main sama cewek lain di luar " .
" Jadi , Bu Wati dengar perkataan saya tadi ... ? " Bu Minah bertanya balik pada Bu Wati.
" Iya Bu , makanya saya jadi penasaran dan tanya sama Bu Minah " ujar Bu Wati.
" Mari Bu, kita cari tempat yang enak buat ngobrol sambil kita minum yang segar - segar " . Bu Minah mengajak Bu Wati ke sebuah tempat tidak jauh dari tempat posyandu , sebuah warung kecil menjual aneka minuman dan juga snack .
" Saya traktir Bu Minah " ujar Bu Wati.
Bu Wati pesan 2 jus mangga sedikit es.
Sambil menunggu jus jadi , mereka melanjutkan obrolan yang belum selesai.
" Terus gimana kelanjutannya Bu Minah ?".
" Itu Bu Wati , informasi yang saya dapat Fattah membonceng seorang perempuan cantik menuju ke sebuah cafe , dan mereka tampak akrab banget " . Bu Minah menjelaskan dengan gaya mulutnya yang sangat meyakinkan.
" Kok bisa sampai segitunya , padahal kita lihat rumah tangga Ayda dan Fattah sangat harmonis bahkan tak pernah ada kabar mereka bertengkar atau ribut ya Bu ... " ungkap Bu Wati yang merasa terheran dengan berita terbaru yang ia dengar dari Bu Minah.
****
Sesampainya di rumah , Ayda langsung masuk ke kamar , ia duduk terdiam terpaku ,hatinya merasa sakit hingga tak terasa menetes air matanya.
Nissa yang mengekor di belakang Ayda melihat tetesan air mata masih membekas di pipi mamanya, ikut terdiam.
Nissa mengambil selembar tisu dan mengeringkan air mata mamanya yang membasahi pipi mama kesayangannya.
" Mama kok sedih , menangis ... " ucap Nissa pelan.
" Enggak sayang ... , Mama cuma kelilipan debu, tadi pas perjalanan pulang ada debu yang beterbangan mungkin ada yang masuk ke mata Mama Nak ... ".
" Beneran ... , Mama gak bohong sama Nissa " . Nissa selalu memperhatikan mamanya seolah ia tak percaya perkataan mamanya.
" Nissa ... boleh Mama minta tolong ? " .
" Temani adek Ana bermain dulu ya Nak ... , Mama pengen sendiri dulu ".
" Iya Ma ... " .
Tanpa berkata lebih , Nissa menurut permintaan mamanya.
Nissa keluar kamar dan menutup pintu kamar pelan - pelan.
" Deek ... ayo main sama Kakak Nissa " .
" Aku mau sama Mama ... " Ana merengek.
" Adek ... Kakak punya permen , kamu mau ? " Nissa mencoba merayu Ana , karena Nissa tahu permen adalah kesukaan Ana.
" Iya , mau Kak ..." sahut Ana dengan riang.
Sementara Ayda di dalam kamar , mengunci pintu rapat - rapat.
Ayda mengambil guling menggigitnya sekuat mungkin, berteriak dalam gigitan guling. Tak seorangpun mendengar , sedikit lega rasa sesak di dada.
****
Fattah pulang lebih awal dari hari kemarin, ia masuk rumah dan tak melihat Ayda di ruang tengah.
Ucapan salam Fattah hanya terbalas oleh Nenek Yati yang sedang duduk di dipan kamarnya.
Fattah berlalu ke kamar mandi segera membersihkan diri dan menuju ke kamar mencari keberadaan istri juga anak - anaknya.
bersambung